Sabtu, 27 Juni 2015

Buang



Makan? Kau bilang makan? Memang sambungnya kehidupan manusia sebagian besar dapat dipengaruhi oleh itu. Namun, tak seluruhnya. Karena saat kau makan, kau tak dapat menghindar dari berak beberapa saat kemudian. Apa yang kau makan dan seperti apa kotorran yang keluar dari tubuhmu memiliki korelasi yang sangat erat. Semakin banyak jenis makanan yang kau santab dalam sekali tenggak, maka semakin berat pula kandungan kotoran yang akan keluar dari tubuhmu.
Jangan kau salah pahami dulu. Aku hanya ingin menjagamu dalam ketiadaanku dalam anganmu. Kalau kau masih terus saja menganggap aku tak ada, aku rela menjadi seperti angin yang berhembus. Memberikan kesegaran kepadamu, meski kau tak pernah melihat dan menganggapku. Tak masalah!
Banyak, terutama dari kalangan remaja, sepertimu. Ketika mereka tak memiliki sesuatu, mereka berusaha mencarinya. Ketika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka cari, mereka menyepelekannya seperti tak menganggapnya. Namun ketika sesuatu itu lenyap, ia berusaha mencarinya kembali. Bukankah itu konyol? Aku harap kau tak seperti demikian. Toh kau juga sama sekali tak pernah mengharapkanku ketika aku tiada, ketika aku ada kau juga tak pernah menganggapku. Dan ketika aku menghilang... Ah, sudahlah.
Mereka berebut mencari kekasih, jika mereka sudah mendapat kekasihnya masing-masing – entah itu karena benar-benar atas dasar cinta, atau hanya sekedar metode agar tak dinisbati jomblo--- mereka bersenang-senang dengan itu. Ketika berselang lama, ada sebagian dari mereka yang merasa bosan, atau juga merasa sadar dari mimpi kelamnya, mereka melepaskannya, lalu menangis, merana lama kelamaan mereka terbiasa kehilangannya.
Sama seperti saat mereka makan. Mereka mencari makanan yang paling mereka sukai. Lalu mereka memakannya dengan penuh meresapi kenikmatannya. Namun, jika mereka terlalu sering mengonsumsinya, lama kelamaan mereka merasa bosan, lalu tak mencari makanan yang disukainya dulu. Puncak dari memasukkan makanan kedalam perut adalah keluarnya pula sebagai tinja. Dan hanya orang bodoh yang menyesali larutnya tinja dalam sebuah kloset. Jangan-jangan kau termasuk orang yang seperti itu? Janganlah!
Aku saja makan sesuap rejeki dari Tuhan cukup untuk membuatku tak makan selama sisa hidupku. Lalu, kau bagaimana? Apa juga demikian? Atau kau malah lebih ekstrem dengan tanpa sekalipun meminta kepada Tuhan untuk memberimu rejeki? Asalkan kau tahu, kehidupan ini sesungguhnya tak jauh beda dengan metodemu makan sesuatu. Kau bekerja, mencari makan. Kau mendapatkan makanan, lalu kau memasaknya, lalu memakannya dan pada akhirnya makanan itu kau buang dalam bentuk tinja.
Jangan berpikir yang liberal dulu. Bukankah memang seperti demikian adanya? Kita hidup di dunia ini, mencari sesuatu yang pada akhirnya akan kita buang. Namun jika kau mau lebih dalam lagi memikirkan hal itu, sebenarnya yang demikian itu bukanlah wujud konsep “mencari untuk membuang”. Itu semua merupakan konsep perputaran. Perputaran pada lingkaran tak ada hentinya. Kecuali jika ada setitik saja bagian dari lingkaran itu terputus, lahirlah kematian.

Aku bukan hanya manusia yang mengejar kematian dengan dibuntuti bayangan di belakangku. Siapa pun tahu, kalau manusia itu tetap harus berusaha menyambung hidupnya sampai akhirnya mentok pada kematian.

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...