Kamis, 27 September 2018

Si Penyabar Porsi Jumbo


Cerita malam ini, aku membuka dan membaca beberapa pesan singkat kita dulu. Ternyata aku memang pamarah sekali ya, meluapkan emosiku padamu dan kamu hanya bisa berkata "sabar dulu..". Tapi mungkin sifat pemarahku masih jadi kebiasaan sampai detik ini. Banyak hal yang mungkin tak kita sadari sudah lama berlalu dan tidak kita jadikan pelajaran, padahal kita berjanji untuk belajar dari pengalaman namun ketika kita sudah mampu melewati pengalaman tersebut, kita secepat kilat melupakannya. Mengulangi lagi, berkata seperti itu lagi dan seperti itu terus. Yah, pada kenyataannya sabarmu lebih banyak dariku. Aku beruntung sekali, karena kamu bukan lelaki pemarah atau lebih parah lagi seperti lelaki yang suka main fisik jika emosi dan yang pasti akan sangat aku takuti. Kamu itu jauh lebih seperti sahabat, mengerti, paham meskipun kamu harus mencoba terus mengerti dan memahami lalu kamu dipaksa menerima. Maaf ya.. Perempuanmu ini masih sering berlomba-lomba dengan ego dan emosi, menomorsatukan mereka tanpa sedikit mengerti. Kamu laki-laki yang mempunyai stok sabar yang jumbo, menghadapiku, memberitahuku, mengajarkanku dan menerimaku sejauh ini. Sabar jadi salah satu ciri khas darimu, aku tidak bisa menjelaskan sebenarnya tapi yang pasti jika aku diharuskan memilih lelaki tersabar dan hampir tidak pernah marah-marah aku pasti memilihmu. Setiap kali aku berulah, kamu satu-satunya manusia yang memperhatikanku, lalu memberitahuku begitu pelan. Meskipun terkadang kamu kurang menyadari apa saja hal yang aku tak suka darimu, hingga kamu merasa semuanya sedang baik-baik saja padahal hatiku sedang porak-poranda. Tak apa, aku sedang tak mau membahas kekuranganmu, aku ingin malam ini khusus menulis tentang kesabaranmu yang jumbo itu. Agar aku selalu bersyukur karena adanya kamu. Kita manusia yang berbeda, jauh dari keluarga yang tak sama, kebiasaan yang bertolak belakang, sifat, sikap dan masih banyak lagi ketidaksamaan kita ini. Namun di usia kita saat ini, kita tidak dituntut mencari apa saja yang sama, namun lebih mencari bagaimana yang tidak sama bisa saling melengkapi. Seperti itulah kita, kanan dan kiri bukanlah sesuatu yang sama kan? namun kamu pasti tau jika burung tidak mampu terbang dengan sayap kanan dan kanan atau kiri dengan kiri, sebab burung hanya bisa terbang dengan sayap kanan dan kiri. Pahamilah kekurangan kita, lalu sandingkan dan terimalah dengan lapang dada apa saja dari kita yang berbeda. Mungkin jika sudah kamu sandingkan, kamu akan menemukan manusia yang saling menyempurnakan.
Terimakasih atas porsi sabarmu selama ini.
Selamat tidur selamat beristirahat.

Selamat malam..
♥️

Minggu, 16 September 2018

Si Melankolis

Mungkin akulah perempuan yang terlalu melankolis, sering bingung, menangis, meratapi nasibku sendiri. Berlebih-lebihan dalam mengungkapkan kata sayang. Tapi nyatanya aku tak bisa sederhana perihal rasa, aku perempuan yang seperti ini adanya. Jika aku memilihmu maka aku akan menumpahkan sejuta puisiku padamu, mengatasnamakan kamu sebagai judul puisiku. Dan itu juga resikonya mencintai perempuan seperti ku, kamu akan lebih bermuak-muakan dengan puisiku. Kamu harus dipaksa bahagia ketika menerimanya, kamu harus menahan muntah untuk itu, harus dipaksa mengerti setiap kata yang aku tulis. Aku benar-benar sadar jika yang aku mampu ketika sedih adalah menangis dan pasti ada puisi yang menodai kertas putih di sebelahku. Ketika hatiku benar-benar galau gundah gulana, aku tidak bisa menghitung berapa banyak puisi yang aku ciptakan. Lagi-lagi kamu jadi orang yang terpaksa membacanya, mengikuti alurnya membuat kepalamu serasa ingin pecah. Hmmm.. menulis jadi salah satu cara aku meredam emosi ku, menumpahkan nya dalam bentuk kata lalu kau akan dibuat pusing membacanya. Berpusing-pusinglah menghadapiku, kamu sedang berhadapan dengan resiko mencintai dan dicintai olehku. Terimalah dengan lapang dada. Jangan terlalu keras menghadapiku, sebab aku bisa lebih keras darimu. Dan jangan pula terlalu lembut menghadapiku, sebab aku mampu lebih lembut hingga tak bisa kau jamah. Pintar-pintarlah menghadapiku, terlebih dengan sifatku yang ini. 

Rasa tergadaikan

Ketika perasaanku tergadaikan
Terombang ambing mencari dahan
Menangis sendiri dengan pikiran dan perut yang kosong
Meratapi nasibnya sendiri
Hanya ikut kemana angin pergi
Tanpa bisa melawan
Ia pernah tersangkut pada dahan
Ia memberikan aku tempat ternyaman
Yang saat ini jadi alasan aku terluka
Dadaku sesak
Air dimataku pecah
Dia mengalir ke ulu hati
Menciptakan perih yang aku sendiri tidak mengerti
Aku hanya bisa seperti ini
Tidak bisa menolak
Tidak bisa mengajukan permohonan
Supaya selamanya dia tinggal
Tapi ternyata perasaanku sudah tergadaikan.

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...