Kamis, 10 November 2016

Tak Bisa Hidup Tanpamu~D'masiv

Telah habis kata terangkai
untuk membuatmu kembali mengingat
semua apapun janjimu

aku mohon dengan sangat kepadamu
waktu bersama denganmu
tak sebanding dengan
hancur hatiku begitu
membekas di hidupku

aku mohon dengan sangat
kepadamu...

Kembalilah...wahai sayangku
hanya itu yang membuat aku tenang
Kembalilah...kembali padaku
aku takkan pernah bisa hidup
tanpamu...

Kembalilah...wahai sayangku
hanya itu yang membuat aku tenang
Kembalilah...kembali padaku
aku takkan pernah bisa hidup
Kembalilah...wahai sayangku
aku takkan pernah bisa hidup
dengan dia...
dengan dia...
dengan dia...

Senin, 07 November 2016

Teras Dan Jarak


Jatuhan hujan, pelukis suasana yang mahir di antara teras jarak ini.
Semakin jatuh, semakin bertubi tubi tetesannya seperti menabuh tabuh pintu sendu.
Aku diam di depan pintu, mengamati tingkahnya yang tengil sekali membuat kenangan berhanyutan di sela sela dingin.
Aku dan kamu, jejak jejak yang belum sempat kita ringkas. Masih saja jauh, saling tuduh di mana rindu akan disemayamkan, di mana rindu akan kita bungkus berdua, sama sama kita bawa pada tempat yang tak lagi bertemu jarak.
Tatkala aku buka kembali setiap lembar dari foto-foto kita berdua, semuanya begitu sangat cepat berlalu, hingga tak sempat aku merapikannya, hanya airmata membacanya dengan tekun. 
Ku kira selama ini kau tau, aku perempuan yang punya harapan besar padamu. 
Aku harap ini hanya gurauan darimu, aku harap ini hanya candaan darimu, aku harap ini hanya tipuan darimu. Aku harap ini hanya kejutan yang nantinya kau berikan untukku. 

Aku hanya berharap, seperti harapan seekor burung dara betina yang senang tiasa tanpa lelah berharap burung dara jantang kembali kerumahnya, tanpa pergi mencari, sebab ia takut jika burung jantan kembali ia tak ada dalam rumah dan membuatnya pergi terbang lagi, ia menunggu dan terus menunggu tanpa ada lelah diawal dan diakhirnya. 

Aku bukan perempuan yang pandai berharap dengan harapan besar, yang aku tau aku hanya berharap pada waktu agar segera mengembalikanmu. Aku kira ini kejutan untukku, aku tak memikirkan hal itu sama sekali, hal yang buruk terjadi padamu. Aku tak bisa mamberikan apapun padamu saat ini, hanya sesuling do'a yang bisa ku berikan. Cepatlah kembali penyejuk hatiku, cepatlah datang penyembuh lukaku, cepatlah pulang cahaya mataku, cepatlah sembuh belahan jiwaku. Tak ada yang kunanti lebih dari ku menantikanmu, tak ada, selamanya tak akan ada. Aku merasa lemah, tak bisa apa apa, semangatku hilang seperti gula gula terguyur air hujan, hilang tanpa bekas bahkan hambar rasanya. Baru kemarin pagi aku dengar suara tawamu, tapi hari ini kau guyurkan air di celah mataku.

Aku tau cinta selalu ingat dimana dia harus pulang, cinta tau dimana rumahnya.

Get well soon dear.... Aku masih diteras ini, menunggumu (lagi). 

QiTa

Kamis, 15 September 2016

Tanda Baca


Jika kata adalah wujud representasi diri, maka aku adalah sebuah tanda tanya dalam sebuah kalimat. Tapi anehnya, tanpa perlu kau mengerti seakan kau sudah paham semua jawabannya, bahkan tanpa mengejaku.

Dan engkau adalah titik yang mengakhiri semua kalimat, menghentikan bacaan, dan menyelesaikan semua yang dituliskan. Titik juga lah yang mengharuskan semua kata untuk berhenti bercerita.

Dan pada akhirnya aku yang seharusnya dipahami sebagai tanda tanya, harus memahamimu dan mengurungkan niat untuk meneruskan kisah yang kutuliskan.

Kau mendefinisikan sebuah keegoisan, atau aku yang kurang paham apa maksud dari cerita yang kau hentikan dipertengahan paragraf?
Entah apa yang membuatmu ada diantara barisan pertanyaan yang telah ku rangkai sedemikian rupa, berharap kau akan menjawab hal yang ku nanti dan mengakhirinya dengan titikmu agar semua indah tanpa ada koma lagi di hadapan jawabanku.

Namun lagi harapku hanya sebatas harapan sang tanda tanya. Yang hanya bisa mencari tau, tanpa berharap jawaban yang sesuai inginku. Kau lebih berberhak menghentikan atau meneruskan kisah ini. Aku hanya sang pencari yang terus mencari karena akulah sang tanda baca yang harusnya bertugas seperti itu.

Rabu, 31 Agustus 2016

Tuhan, tolong jangan buat aku bosan.

Suatu hubungan tidak selamanya mulus. Pasti ada saat dimana kedua belah pihak tidak tahu harus melakukan apa dan berkata apa, karena keduanya juga melakukan hal yang sama secara berulang. Tapi pasti salah satu bahkan mungkin keduanya bingung apakah ada salah satu dari mereka yang bosan atau tidak. Apa jalan keluarnya? Itulah yang saat ini dipikirkan olehku. Aku tidak berharap lelah, aku masih akan bertahan dan terus bertahan. Tidak ada kesalahan yang ku simpan rapat, semua itu nyaris terkisis dimakan sang waktu. Aku hanya bisa berdoa pada Tuhan untuk tidak membuatku bosan, karena aku tak pernah ingin merasakan bosan.

Q

Minggu, 31 Juli 2016

Membiasakan Diri Tanpamu

Awalnya memang terasa berat untukku
menyegarkan hari

Sungguh terasa seperti kejanggalan
Ketika ku memilih mengubah rute perjalanan ini

Memang tak seperti biasanya karena mungkin
terlalu lama pernah ku rendam waktuku
denganmu

Dan kini aku benar2 merasa menjadi orang asing
ditempatku berhenti

Tapi aku bersyukur masih bisa ku diterima disini
Dan sekali lagi bersyukur masih bisa ku siasati
keadaan ini

Apa yang sempat menahan langkahku dimasa lalu
Kini tak ku risaukan lagi

Meski tak seindah disebuah cerita dulu
Tapi kertas kehidupanku saat ini
Bahagia itu seperti datang silih berganti temani aku disini

α®α

Minggu, 19 Juni 2016

Lebih Kuat Untukmu.

Satu, dua, tiga jam, bukan lagi hal yang mendebarkan. Aku yang kerap kali memaklumi apapun kesibukanmu, kini malah seakan ingin membrontak. Aku yang sudah akrab dengan tembok kamar, kini mulai bosan. Aku hanya memandangi ponselku yang tertidur, berharap ujung lampu kecil yang ada dikeningnya itu menyala, sebab itu tanda kau telah membaca pesanku dan kau membalasnya.

Aku merasa lelah sendiri, isak tangis sudah kau hiraukan, bahkan aku sakitpun kau? Ah sudahlah, mungkin kali ini kau ingin aku lebih mandiri.

Sendiri, yaa aku akan berteman lebih akrab dengannya. Kau tak usah lagi khawatirkan aku, do'akan saja semoga aku jadi perempuanmu yang lebih kuat.

Jujur, hal sepele darimu itu lebih aku nantikan. Apa aku ini terkatagorikan perempuan egois? Jika iya, katakan aja.

Jangan takut, aku tidak akan membiarkan laki-laki lain menghapus air mata ini. Akan ku biarkan dia kering sendiri, menumpahkan segala penat di hati. Percayalah, pipiku akan lebih akrab dengannya.

Jika aku tak bisa mengerti setiap kesibukanmu, berarti aku masih gagal, kau juga bisa mengatakan jika aku ini perempuan egois. Tapi aku harap kau tau, aku ingin kau nyaman denganku, aku yang selalu tersenyum untuk menjawab pesan pamitmu. Ketahuilah jika luka lebam, luka ditangan, dan luka goresan pedang dapat ditutup dengan perban, aku percaya luka dalam ini dapat disembunyikan oleh senyuman. Dan yang pasti dapat membuatmu nyaman diperjalanan sampai kembali pulang.

Aku belum jadi perempuan yang tegar kurasa. Maka aku mohon..
"Do'akan aku jadi perempuanmu yang lebih kuat"

Laili,

Jumat, 10 Juni 2016

Semoga Kau Membacanya.

Sudah malam lagi. Seperti biasa, mataku masih berkedip-kedip, aku belum menguap, aku belum mengantuk. Seperti biasa, aku masih terjaga. Aku pamit tidur memang pergi menarik selimut dan beranjak tidur, tapi dengan hati yang tak berhenti meminta.

Aku rasa rinduku terlalu bodoh. Rinduku tak pandai berhitung. Ia tak bisa mengurang, membagi. Hanya bisa menambah dan menggandakan. Pun ia tidak bisa membaca hari, tak kenal tanggal dan tidak tahu waktu. Terlalu rajin karena tidak pernah absen barang sehari saja.


Aku merasa semua masalah, semua beban, semua yang menggangguku, kini berglayutan di bahu. Entah kenapa aku bisa selabil ini. Barangkali kau mau menghiburku membuatku merasa lebih baik (mungkin). Tapi tidak dulu untuk kali ini.


Aku minta maaf untuk semua ketidakstabilanku belakangan ini. Aku juga tak tahu mengapa. Jika aku punya penyakit darah tinggi, mungkin tidak heran mengapa aku mudah marah. Namun karena kita berdua tahu seringnya darah rendah yang menengokku tapi mudah marah kini malah ikut datang tanpa ku undang. Aku sendiri juga jadi bertanya-tanya, aku sering membuatmu lelah, aku sering berubah-ubah. Aku harap kau masih punya stok kesabaran untuk menghadapiku. Aku hanya sedang lelah. Lelah berlari-larian.

Aku sangat menghargai caramu menghadapiku. Tidak pernah sekali pun kau marah dengan sifat kekanakanku belakangan ini. Kau selalu dengan sabar tersenyum, meminta maaf karena sikapku padamu, padahal ini sama sekali bukan kesalahanmu. Kadang aku membodohkan diriku sendiri atas semua sikapku. Ya, aku masih sangat kekanakan. Mental age-ku tidak sesuai dengan umurku, nampaknya. Bertahanlah. Aku tidak ingin kehilanganmu....


Mungkin menyendiri adalah hal paling baik, anggap saja ini surat pamit dariku. Aku tidak mau menjadikan kau sebagai tumbal atas ketidaksetabilanku. Semoga kau membacanya, dan tau sebabnya kenapa aku tak menghubungimu. Aku mungkin punya seribu cara untuk bahagia, tapi untuk kali ini satu diantara ribuan cara itu tak ada yang mampu membuat energi baru menganti energi lama, lagi-lagi untuk kali ini. Aku pamit, jika sudah reda aku akan segera menghubungimu. Jangan khawatir, aku tidak akan pergi tanpa pamit.

Aku hanya butuh waktu untuk sendiri.






PS : All of me love all your edges. Love all your perfect imperfections.

Rabu, 18 Mei 2016

Pertemuan?


Siapa bilang pertemuan itu membunuh rindu? Ia hanya melipatgandakannya lalu diam-diam menikammu dari belakang. Kamu terhunus dalam bahagia. Lalu kamu menahan tangismu setelah ia kembali pergi. Kamu ingin hari itu berjalan lebih dari 24 jam. Tapi kamu pura-pura tersenyum. Punggungnya menyapamu untuk terakhir kali sebelum tubuhnya tak menyisakan bayangan. Kamu seperti bermimpi. Tapi itu nyata.

Ah, mereka bilang pertemuan itu pangkal rindu. Tapi bagimu ia tunas untuk lahirnya rindu-rindu yang terus bereplika. Kamu sempat lupa bahwa pertemuan bukan berarti harapanmu boleh tumbuh. Ah, kamu protes. Apakah bahagia tak juga diizinkan? Kamu hanya bahagia karena mimpimu menjadi kenyataan dalam sekejap. Kamu hanya teringat tahun-tahun sebelum hari itu, pertemuan macam itu harus kamu bayar dengan sebuah kekecawaan ketika kamu terbangun. Hanya mimpi.

Kamu tak peduli lagi apa kata mereka tentang pertemuan. Kamu hanya tahu, pertemuan itu membahagiakanmu walaupun di saat bersamaan menikammu. Walaupun harus dibayar dengan rasa sesak melihatnya kembali pergi, pertemuan tetaplah hadiah  bagimu. Walaupun harus membunuh harapan yang diam-diam menumbuh, pertemuan tetap saja jawabanmu atas berbagai harapan. Walaupun harus memeras lagi air matamu oleh lipatan rindu, pertemuan tetap saja pengukir senyum yang terlalu lama kamu nanti. 

Bukankah kamu bahkan sudah menjauh dari harapan tentang pertemuan? Tapi Tuhan membawa langkahmu ke sana–tanpa sepengetahuanmu. Ketahuilah, barangkali pertemuan, yang walaupun tanpa banyak kata apalagi tatap, adalah hadiah atas kesabaranmu menata rindu. Seperti hadiah Tuhan pada Ibrahim atas keikhlasannya melepas Ismail untuk-Nya. Barangkali begitulah hadiah sebuah keikhlasan. Maka berhentilah berharap apa-apa pada pertemuan singkatmu itu. Karena bisa jadi, selain hadiah, pertemuan sebenarnya adalah ujian terindah Tuhan untukmu.

Kutipan buku dari Ahimsa Azaleav yang berjudul "Pertemuan" 

Benar adanya, jika pertemuan singkat hanya akan membawa belenggu baru untuk kita. Penyadaran atas ketidak ber-hak-an kita akan raganya (sekarang). Sia-sia sekali jika selama ini aku masih bermanja membayangkan pertemuan, sedang tanpa sadar dia adalah pupuk untuk tanaman yang sering kau sebut "KERINDUAN"

.........

Senin, 16 Mei 2016

Romeo pun juga punya masa lalu. :)


Sebelumnya. Aku tahu, aku sadar siapa aku. 




Kadang mendengar kau dan masa lalumu membuat hatiku tergigit. Sakit, sedikit. Tentang dia, dia dan dia. Aku mencoba tersenyum melihat, mendengar apapun dari masa lalumu itu, dengan hati yang sedang ku bujuk-bujuk untuk tidak menunjukkan ekspresi tidak suka, dalam bentuk apapun. Aku harus tetap netral. Aku harus menjagamu tetap di zona nyaman "kita". Ya, karena aku tidak ingin kehilanganmu.


Aku sangat amat sadar tentang keterjadian kita. Pun aku paham, apa arti dia yang sebelumku. Aku mengerti dan MEMANG HARUS mengerti. Bukankah tidak bisa digugat tentang siapa yang kau cintai sebelum kau bersamaku ? Ya, aku tidak bisa merubah segala sesuatu. Aku masih bisa bersama kamu hari ini, adalah suatu anugrah. Jadi adakah gunanya meruntuk pertemuan kita yang kurasakan sebagai keterlambatan ?

Tidak. Harusnya aku tidak merasa bahwa ini keterlambatan. Tuhan tahu bukan, kapan saat yang tepat mempertemukanku denganmu ? Jika aku bertemu kamu sebelum ini, mungkin akan beda ceritanya. Jika kau bertemu aku yang dulu, mungkin lain ceritanya. Tapi terlepas dari semuanya, aku merasa beruntung dan berterima kasih pada Tuhan. Berterima kasih karena Ia mengirimkan kau untuk kukenal, untuk mengisi hari-hari, untuk membagi apapun yang kita punya.

Aku tidak bisa disamakan dengan dia-mu yang lalu. Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu, karena dia punya tempatnya sendiri di hatimu. Aku tidak berharap banyak. Aku hanya berharap aku bisa memperbaiki hari-harimu, membuatmu tertawa bahagia dan memberimu senyum serta pelukan tertulus yang ku punya.

Karena cintaku buta. Tidak memandang siapa kamu. Karena cintaku tuli. Tidak mendengar apapun yang dikatakan orang tentangmu. Karena cintaku gila. Tidak terkontrol. Karena cintaku adalah kamu.

Maaf atas ketidakwajaran sikapku tadi, kemarin dan kemarinya lagi. Aku harap kamu tidak kelelahan atas segala sikapku ini. Kamu bersedia disini itu sudah lebih dari cukup, aku tidak mau rasa cukupku kembali jadi rasa kurang karna ketidakperdulianmu padaku. 



NB : marahlah padaku, sesukamu. Tapi aku mohon tetap letakkan aku di zona nyaman "kita".

Laili ®

Thanks for All, dear..


Hey, selamat malam.

....aku hanya tahu kau datang tanpa ku minta. Tanpa ku tunggu. Tanpa ku duga. Kau datang begitu saja, menebar tawa dan menghapus duka.

Sebelum mengenalmu, aku menghabiskan hari-hariku bersamanya.

Iya, cinta membuat mata kadang kabur saking mabuknya. Seperti aku. Bukan, tidak kukatakan bahwa aku salah mencintai. Aku hanya merasa aku membuang waktu untuk bersama orang yang kurang tepat (lagi). Ya, membuang waktu, karena mencintai orang yang bahkan tidak mengerti arti menghargai. Tapi bukankah tanpa ini aku tidak akan belajar ?


Samar tergambar dalam benak tentang hari-hari mendung yang ku lewati untuk mencintai dan membahagiakannya. Yang penuh dengan segala pernak pernik usaha untuk membuatnya (sekedar) tertawa. Masa dimana satu hari aku bahagia, dan beberapa hari selanjutnya hanya diisi dengan rasa lelah menghadapi keacuhannya. Ya, hari bahagianya tidak sebanding dengan hari kurang bahagianya. 


Lalu semua memburuk dan membuatku lebih sering bergulingan tersedu. Tumpukan tisu, menyusut air mata, adalah hal biasa yang mampir tiap hari. Namun entah karena apa (atau entah mengapa?) aku masih bertahan. Dungu, kataku pada diri sendiri. Mereka bilang bahwa ini tidak pantas. Mereka bilang sudah waktunya mengemasi segala atribut cintaku untuk makhluk itu. Herannya aku sangat bebal. Aku bertahan dalam kubangan rasa sakit yang tidak berkesudahan. Ah, betapa bodohnya.


Untunglah manusia punya rasa lelah. Ketika semua tempelan di dinding itu telah terlepas dari tempatnya, saat itu pulalah rasaku ikut lenyap. Ku remas semua potongan kenangan yang (mungkin) sudah terlalu lama menempel itu. Ku lempar semua sampah kenangan itu ke keranjang sampah, ku tinggalkan tanpa menoleh. Sudah terlalu lama aku menjadi perempuannya (mungkin, jika dianggap). Aku mengajukan pensiun dini secara mendadak. Ya, aku hanya ingin pensiun dini. Mencari pekerjaan baru. Membahagiakan orang lain, karena umurku terlalu berharga disiakan, untuk sekedar bersamanya. 

Tapi sungguh, aku tidak menyesal sedikitpun dengan masa laluku. Dia juga termasuk gerbang menujumu. Salah satu petunjuk Tuhan untuk bisa mengenalmu, bahkan lebih. 

Entah mungkin Tuhan merasa kasihan padaku, atau memang waktunya kita dipertemukan, kau datang. Kau dengan segala hal yang sederhana. Kau yang dengan penuh minat mendengarkan aku mengoceh berjam-jam. Kau yang dengan sabar tersenyum dan bilang "Biarkan saja, nanti ada balasannya" untuk semua kekesalanku. Ya, aku mulai terbiasa dengan keberadaanmu. Aku hanya ingin kau tetap disini.


Untuk pijakan kaki yang kau bukakan dengan tanganmu, untuk segala perdebatan dimana-kita-akan-makan-malam-untuk-pertama-kalinya, untuk kau yang tertawa begitu serunya mendengar semua ceritaku, untukmu yang bisa mengoceh berjam-jam hanya untuk menasehatiku, untuk kau yang lebih memilih menghabiskan sisa waktu istirahatmu untuk menemaniku, untuk kau yang selalu mau mendengar deru tangisku. Sudah berapa banyak aku berhutang hari indah padamu? Sudah menumpukkah hutangku? Kau bisa menagihnya besok, untuk sementara tulis saja hutangku di buku memomu. Jangan kau perintah aku untuk menulisnya, sebab memoku tak cukup muat jika harus ku tuliskan deretan hutang hariku padamu. 

Sayaang.. Terimakasih untuk semua..

Laili, ®

Sabtu, 07 Mei 2016

Kepada Kamu yang bermukim di jiwa.

Mungkin kamu sedang menerka-nerka esok hari akan kau jatuhkan hatimu dengan pasrah pada siapa, jika saat itu tidak ada senyumku menyapa pagimu. Sebab aku yakin kamu seperti manusia biasa pada umumnya, tak pernah tahu kapan semesta membuka kotak kejutan yang berisi jawaban dari rahasia waktu.

Perihal hari-hari kemarin yang berisi langkah kaki pencarian melelahkan, mengembalikan keyakinan yang sempat hancur untuk kembali utuh, dan memantapkan arah hati untuk menuju pada satu tujuan. Pada akhirnya bukan lagi kita temukan koma namun kita akan menemukan titik untuk berhenti.

Siapkah kamu tanpa paksaan mengkehendaki hatimu untuk berhenti padaku dan tak pernah sudi membaginya kepada siapa pun, selain aku?

Siapkah kamu untuk menjatuhcintakan hatimu berkali-kali sampai waktu mengerahkan usaha terakhirnya untuk memisahkan kau dan aku?

Siapkah kamu tersenyum ikhlas saat takdir mempertemukan kita nanti hingga ribuan hari setelahnya kita bertukar senyum, sampai ketika hela napas terakhir salah satu dari kita direnggut oleh ujung usia?

Siapkah kamu membuat Tuhan menggelengkan kepala melihat betapa gigih perjuangan kamu dan aku dalam mempertahankan kita?

Di dalamnya akan kita dapati banyak perdebatan, menorehkan luka yang melahirkan kecewa, bahu membahu menciptakan bahagia, merajut doa, menabahkan dada yang penuh rindu, sampai suatu saat muncul sebuah batas, tapi apakah kamu bersedia menyanggupi diri untuk tidak menghiraukan batas itu?

Siapkah kamu untuk meniadakan kehilangan atas rasa kita?
Kepada kamu yang bermukim di jiwa, semoga jatuh cinta padamu adalah jawaban dari pertanyaan tentang pertemuan apa yang tidak memiliki penyesalan.

Aku bukan sedang tergila-gila, aku hanya sedang mendoakan kamu setiap hari, merinduimu dan memintamu pada penciptamu. Semoga kelak, kita bertemu walaupun saat ini mungkin jalan-jalan kita bercabang

®|_

Sabtu, 30 April 2016

Hmm..

Aku menghela nafas panjang setelah membaca kata-katanya. Ya, sepertinya hatiku harus lebih terbiasa, bahkan ketika orang yang aku cintai tak menghargai apa yang ku perjuangkan. Ya, aku ingin jadi yang terbaik meskipun baik pun masih kesulitan aku ciptakan. Aku tidak boleh seperti anak kecil yang merengek ingin lolipop. Aku sudah besar. Mungkin juga sudah dewasa. Atau mungkin masih belajar dewasa? Entahlah.

Ku pejamkan mataku sejenak. Sedikit tidak mempedulikan pesan singkatnya, mungkin akan membuatku lebih baik. Ya, mungkin.

Aku sudah menganggapnya sebagai peta, aku selalu menemukan dia dimanapun aku ikuti peta itu. Pembuat senyum paling merekah dan pembentur mood paling parah. Seketika musnah apa yang sedang aku imajinasikan. Musnah, hanya dengan sebaris kalimat yang paling ku benci.

Barang kali memang aku perlu di tampar, bahkan tamparan yang membuat lebam pipiku, tamparan yang tak sengaja dia ciptakan, atau pura-pura tak sengaja, mungkin.

Aku tak bisa membuatnya mengerti perempuan secara utuh, aku tau dulu dia tak sehangat ini.

"Untukmu, aku masih tak bisa hindari, aku masih menjadikanmu alasan untuk aku menulis. Jika memang ada kurangku, aku harap kamu tak menyembunyikannya dariku. Ataupun katakan saja dengan jujur, tak perlu kau memaksa dirimu menyukai apa yang aku sukai, menuruti apa yang aku dambai. Tak usah berpura-pura, aku sudah kenyang dengan drama. 

Apa permintaanku terlalu sulit? Terlalu rumit? Apa susahnya kau katakan "ya". Apa kata itu terlalu sulit kau ucap dan lebih mudah menyakiti hatiku?? 

Tak usah repot-repot lagi membahagiakan aku, bahagiakan saja dirimu. Toh aku akan bahagia jika kamu juga bahagia. Dari pada aku bahagia dan kamu.. Kualahan mungkin.

Maaf jika aku banyak menuntut, atau lebih parah dari itu. Untuk malam ini saja, bolehkan aku membenci dirimu? Sebab tak ku dapati nyawamu yang biasa disana.
:'(

Hmm..

Rabu, 27 April 2016

Stalking.


Hay... Selamat siang, tidur ya? Oke, yang nyenyak yaa..

Tak seperti biasa, aku yang doyan tidur siang ini tak memberi kesempatan mataku untuk terpejam. Aku bingung mau apa, jadi... Maaf tadi aku membuka akun facebook-mu. Entahlah, tanpa berfikir panjang aku langsung mengetik nama perempuan itu di pencarian teman. Sampai rasa penasaranku kembali memintaku untuk membuka privasi kalian.

Aku kira kau menghapus semuanya, tapi ternyata tidak semua. Kau membiarkan beberapa postingan itu duduk rapi, seperti menunggu aku membacanya. Aku baca lagi, lagi dan lagi. Kau tau apa yang ku rasakan saat itu?? Aku serasa makan sambal yang pedas, pedasnya membuat aku merasa mulas namun ada satu rasa lagi, ketagihan. Yah, benar aku ketagihan sampai ketika sambal itu habis, aku baru merasakan mulas yang berkepanjangan. hmm.. entahlah, aku tau akibatnya tapi masih saja aku teruskan.

Aku gariskan tanganku, aku menghitung dengan jariku, sudah berapa lamakah postingan beserta kometar itu bermukim disana. Aku bertanya pada diriku "Aku sedang apa saat ini di buat?" Apa aku tengah bersembunyi di balik paru parunya?Sekedar menunggu dia mempersilahkan aku masuk ke dalam hatinya. Tapi aku sadar benar, saat itu sedang ada yang menghuni tempat istimewa itu. Tawa kecil, kasih sayang dan kemesraan mereka umbar hingga sampai ketilingaku. Membuat keputusanku pergi dari paru parunya muncul, akupun pergi tanpa meninggalkan jejak.

Aku sama sekali tidak berharap hatinya kosong, jadi aku membiarkan mereka bertukar kasih. Aku juga membiarkan pintu hatiku yang susah di buka menjadi terbuka dengan lebarnya, aku mempersilahkan siapapun untuk masuk. Saat itu aku yakin bahwa obat manjur dari patah hati adalah jatuh hati lagi. Saat itu hati kami memang sama sama dihuni oleh hati lain. Sampai tiba waktu mengilhami semogaku.

Dan untuk saat ini, dia benar nyata ada di sini, aku menghuni hatinya pun pula dia jadi mukimer disini ❤.
Sama sekali tak terfikir aku yang dulu ndongsong di paru parunya, kini dengan senang hati dia mempersilahkan aku masuk ditempat istimewa itu. Dan tak lupa, ku pastikan saat kali pertama aku duduk, tidak ada yang merasa tersingkirkan, tidak ada yang tersakiti atas undangnya untuku masuk dan jadi penghuni di dalamnya. Aku memastikan betul jika didalamnya sungguh kosong momplong, agar aku bisa duduk dengan senyaman-nyamanya. Aku juga tengok kanan kiri, aku pastikan tidak ada penguni lainya dan benar, tak kulihat perempuanya dulu ada di sini.

Benar, semua bukan rencana kita, semua ini mutlak skenario dari-NYA. Aku hanya perlu waktu untuk mengobati luka lebam ini agar saat kau bangun, semua akan tetap baik baik saja.

Sakali lagi..
Maafkan aku yang lancang..

Perempuanmu,

Laili Novita.

Kamis, 21 April 2016

Jika ini Sebuah Buku, maka ini akan Menjadi Halaman Pertamaku.


Seringnya, aku menulis saat kalut sedang penuh penuhnya mengguncang kesabaranku, saat tak lagi ada telinga untuk mendengarkanku atau saat aku sudah tak mampu lagi menahan imajinasi manis dalam benakku. Tapi kali ini biarkan aku bercerita tentang beberapa malam yang aku lewatkan dengan senyuman bahkan tidur nyenyak dengan mimpi paling indah yang pernah hadir dalam buaian.

Aku masih ingat, malam malam panjang penuh luka karena hilang muncunya bintang. Aku dipertemukan dengan sebuah senyum yang bisa aku katakan berhasil menyita semua perhatianku. Entah dengan bagaimana caranya, sang pemilik senyum ini bisa mencuri perhatian yang biasanya begitu penuh ku curahkan untuk bintang. Dan untuk pertama kali, aku tak takut untuk tak melihat bintang.

Semesta memang tak pernah gagal menjadi sahabat terbaikku. Aku tak pernah menyesal sering menyebutnya dalam tulisanku. Ia memang benar benar berperan penting dalam banyaknya kebahagiaanku. Sekali lagi, ia mempertemukanku dengan kebahagiaanku. Akan sedikit ku ceritakan bagaimana keikut-sertaan semesta membuat senyumku mengembang dengan sempurna.

Aku ini penakut. Pengecut. Aku sering memendam apa yang kurasakan sendirian. Bahkan,  perihal perasaan. Pria ini, entah siapa belum ku tahu namanya, telah mencuri sedikitnya setengah akal sehatku. Aku tak tahu bagaimana bisa ia menjadi magnet sekuat itu, membuatku sering melakukan hal bodoh hanya untuk sekedar melihatnya lebih dekat atau memperhatikannya dengan jelas. Kadang semesta memang selucu itu, membuat udara begitu panas sehingga aku harus bermain main dengan tegukan es teh  dan seyumannya! Yah, inilah bantuan pertama semesta untuk membuatku mengenalnya. Udara panas dan es teh. Ah, aku selalu tersenyum bodoh saat aku mengingat bagaimana aku mematikan sejenak ke-jaim-an dalam diriku hanya untuk mengenal seorang pria, bertanya namanya, mencari tau tentangnya. Sungguh, aku masih belum berani bahkan hanya untuk menatapnya lama, kadang aku hanya melirikkan mataku atau hanya menoleh dengan tatapan malu maluku, takut kegiatan ilegalku ini diketahui olehnya.

Aku masih ingat bagaimana antusiasnya aku saat ku lihat ia hadir, turun dari sepeda, membawa tas hitam, duduk di bangku, memegang hape atau saat ia tersenyum kepadaku. Oh.. Maaf.. Bukan padaku, bukan, karena ia jelas tak mengenalku. Ia tersenyum bukan ke arahku, hanya saja aku yang mengarahkan mataku pada senyum itu. Hanya kata semoga yang ku ucapkan saat itu, sebelum semesta mengabulkan permintaanku untuk lebih dekat dengan pria ini.

Pria ini, yang beberapa Tahun lalu masih tak ku ketahui namanya, pria yang begitu susah untuk ku kenal, pria yang begitu dingin, kini berada di sampingku. Menjadi sesorang yang paling hangat, menjadi seseorang yang begitu mengenalku, menjadi seseorang yang senyumnya masih kutunggu tunggu, menjadi pemilik hatiku. Sebegitu lucunya semesta, dengan kesederhanaannya ia mempertemukanku dengan pria yang senyumnya paling menawan yang paling susah untuk dilupakan.

Aku tak tahu, bagaimana lagi aku harus mengucap syukurku karena dipertemukan dengannya. Pria yang dengan sabarnya meladeni tingkah ke kanak kankanku, pria yang begitu tulus mencurahkan perhatiannya padaku, pria yang takkan membiarkanku menangis sendiri, pria yang takut kehilanganku, pria yang aku cintai. Tak butuh waktu lama untuk membuatku semakin jatuh hati padanya. Tak butuh waktu lama pula untukku mengenyampingkan segala hal yang pernah aku takutkan akan terjadi jika aku bersamanya. Aku ingat bagaimana ia menebas habis rasa takutku tentang semua kurangku, yang aku sendiri kesulitan untuk menerimanya. Tapi ia selalu punya hati seperti batu yang luas, yang kuat, selalu bersedia menerima dan bisa membuat kurangku menari dengan bebas diatasnya. Setidaknya untuk saat ini aku tahu, aku takkan berjuang sendirian.

Selasa, 05 April 2016

JANGAN BERJANJI.

Pintaku, jangan dulu berjanji.
Jangan dulu mengucap janji yang sulit ditepati, seperti janji untuk tidak saling menyakiti.
Karena mungkin di sepanjang perjalanan kita mulai dari detik ini hingga sampai nanti, akan ada banyak rencana yang tidak sempat terpenuhi, dan janji lain yang khilaf
diingkari.

Harapku, jangan dulu berjanji.
Cukuplah mengingatkan diri sendiri untuk tetap berjuang bersama, meski salah satu dari kita tersakiti, atau tanpa sengaja menyakiti.
Ingatkan aku jika ada salah pemikiran dan terlebih tingkahku, kau tau kan sulit aku untuk melihat punggungku. Jadi aku butuh kau, bukan hanya untuk melihat punggungku namun lebih dari itu. Begitu sebaliknya. Jika pada akhirnya kita memilih untuk bertahan, maka bersiaplah untuk menjadi lebih kuat dan saling menguatkan.

Pada kenyataannya memang tidak ada yang sempurna. Maka jika kau mencari seorang kekasih yang sempurna, tentu saja kau seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Karna memang kau hanya punya dua pilihan, bertahan dengan kekurangan kekasihmu yang sekarang atau beranjak pergi mencari kekasih baru dengan kekurangan yang berbeda.

Tapi tunggu, itu bukan berarti aku mengizinkanmu pergi. :D

"Jangan berjanji untuk tidak saling menyakiti, tapi berjanjilah untuk tetap bertahan mesikipun salah satu dari kita tersakiti atau tak sengaja menyakiti"

❤Laili

Sabtu, 02 April 2016

Barang Kali Kau Lupa.. :D

2 hari menjelang Ujian Nasional. 
Jika kau tanya apa yang aku lakukan saat ini, pasti akan ku jawab "Aku sedang menanti". Ada banyak yang aku nanti, salah satunya kau.

Sabtuku rasa senin, sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan padamu. Aku menyimpannya sembari menunggu waktu luangmu, agar bisa dengan leluasa aku ceritakan setiap apa yang ku temui hari ini, kemarin dan kemarinnya lagi. Aku tau, kau masih seperti matahari yang pasti tidak bisa terus menerus menyinariku sebab kau juga punya tugas untuk menyinari bagian bumi yang lain. Tenang, aku percaya padamu, sama seperti aku percaya pada matahari. Meskipun dia pamit pergi, tapi dia selalu berjanji untuk kembali.

Kurasa aku sudah lupa dengan beberapa hal yang terjadi, yang sengaja ingin ku ceritakan padamu. Ada baaanyak sekali hal yang ku anggap menarik untuk kau dengar. Tapi, sepertinya waktu sedang tak terpihak padaku, mungkin memang sudah saatnya aku menanggalkan clotelahanku. Lagipula banyak yang sudah ku lupa, karna mungkin terlalu banyak yang ku kumpulkan dan terlalu lama aku menyimpannya. 

Aku tidak sedang protes dengan apa yang terjadi saat ini. Aku hanya ingin mengingatkanmu saja. Aku sadar, aku tak bisa membantumu sedikitpun, kecuali sedikit menyingkir. Jadi aku rasa tak pantas jika aku protes. Tidak ada yang bisa ku berikan kecuali "Memaklumi kesibukanmu" berhenti sebentar jadi perempuan manjamu. 

Emm.. Yang ku butuhkan sekarang kau jaga kesehatanmu, tidak untukku, tapi untuk dirimu sendiri. Yaa.. :). 

Selamat menyelesaikan tugasmu sayang..
Tak apa kau jadikan aku tugasmu yang kesekian. Akan ku sibukkan diriku dengan bermimpi. :D Maaf yaa.. Jika kau tak suka dengan kata-kataku dan maaf jika tulisanku ini membuatmu keberatan atau sakit hati (lagi). 

Masih dengan orang yang sama,
Dengan rasa yang sama namun semakin besar,
Dengan hati yang sama namun semakin jatuh,
Dan dengan cemburu yang sama pada satu orang yang sama.

Oh iya, aku sayang padamu.
Ku ingatkan lagi, barang kali kau lupa. :)

®|_

Selasa, 29 Maret 2016

Kaca Pembesar.


Bulan masih dengan warna yang sama. Warna sekitanya pun masih hitam pekat, hanya taburan bintang terlihat lebih banyak, kurasa mendung tidak mampir malam ini. Sebenarnya aku bukan sedang galau seperti merindui seseorang, hanya saja aku merasakan apa yang biasa perempuan lain rasakan, resah tanpa tau akar dari hal yang diresahkan. Sudah hamir 2 hari, aku masih meresahkan hal yang sama. Jika resah ini ku ceritakan, kurasa malah akan jadi perbincangan yang tidak berbobot. Bukan aku tak ingin bercerita padamu namun aku rasa ini bukan masalah yang besar, mungkin memang ulahku sendiri yang kemana-mana selalu membawa kaca pembesar, membuat semua yang kulihat dan ku rasa terlihat lebih besar dari bentuk aslinya.

Yaaa, sebenarnya aku sudah tak ingin memikirkan hal itu. Karna memang tidak ada tersangka utama atas masalah ini. Saat ada 2 orang yang jadi satu dalam suatu rumah namun mereka terpisah antara beberapa ruang. Bisa dipastikan apabila salah satu diantara keduanya berbicara, tidak akan sama jelas seperti kedua orang itu saling berhadapan atau dalam satu ruang. Jika hal pertama itu berlangsung? apa yang terjadi? yaaaaaa.. Salah dengar, lalu? Salah tangkap dan berujung? Salah paham. Membuat masalah kecil jadi membengkak, seperti jerawat yang sering membuatku gemas.

Ya. Seperti jerawat kecil yang selalu saja ku pencet terus menerus, berharap cepat hilang. Namun alhasil?? Iritasi dan jerawat itu semakin merajalela. Jangan beranggapan jika aku memberitahu untuk membiarkan jerawat itu sampai kempes sendiri, karena pasti lama dan akan membuat tangan terasa gatal untuk memencetnya. Jangan dibiarkan, sebenarnya kita hanya perlu usaha, mencari solusi yang terbaik. Coba cara tradisional dengan, pelan-pelan memberi daun jambu yang telah dihaluskan dan di tempelkan dijerawat itu sendiri, pelan namun pasti dan dengan izin Alloh jerawat kita akan kempes, tanpa iritasi dan bekas.

Yah, layaknya jerawat, masalahpun juga sama. Kita hanya perlu membicarakan pelan-pelan, mencari induk masalah dan menyelesaikan dengan pikiran dingin. Ahh.. Tapi di masalahku kali ini berbeda, sebenarnya harus kedua belah pihak yang menyelesaikan, tapi berhubung pihak yang satunya sudah terlanjur salah paham yaaa mau bagaimana lagi. Hanya bisa minta maaf dan menjelaskan akar masalahnya pelan-pelan, walaupun tidak di gubris -_- . Dan jika masih belum bisa memaafkan hanya ada satu cara yaitu... "di do'akan saja".

Aku hanya tak mau berlebihan dalam memikirkan masalah, aku tak mau bobot badanku lebih besar dari beban pikiran yang lambat laun terus bertambah.

Sekali lagi..
Ajari aku mengecilkan suatu yang terlihat besar dengan berhenti memakai kaca pembesar milikku ini.

Laili,

Selasa, 22 Maret 2016

Semoga Hanya Bentuknya. ❤

Awal tulisan ini ingin aku arahkan pikiran kalian, jangan pernah berpikir apa yang di tulis adalah apa yang di alami sang penulis.

Ini realita, ini kenyataan dan aku berharap tidak mengalami ini. Aku menulis dan berpikir mungkin ini yang dirasakan setiap dia yang sakit hati hampir setiap harinya. Ini juga hanya pendapatku saat ada yang berbagi cerita kisahnya denganku, jika ditanya "bagaimana perasaannya" ya mungkin ini jawabannya. Tapi percayalah aku tidak berharap jika kisah yang ku tulis ini suatu saat dapat di rasakan siapapun, aku pribadi, kamu atau kalian yang membaca nya, ehehe. :D selamat menikmati :).

Oh.. Dilarang Baper yaa.. :D

Begini,
hatiku sudah tak lagi cantik secantik waktu aku masih kecil, saat aku belum mengenal anugrah besar ini. Hati ini sudah beberapa kali jatuh di tangan orang yang salah. Mereka tak menjaganya dengan baik. Ada beberapa goresan di sana sini.
Warnanya juga tak lagi merah segar. Ada banyak sisi yang tampak biru lebam.
Ada yang pernah memegangnya dengan ceroboh. Diam saja walaupun hatiku terantuk dengan keras, hingga memarnya mustahil hilang tanpa bekas. Ia juga beberapa kali patah. Ada yang dengan sengaja membantingnya hingga terbelah jadi dua. Yang ini membuatku hampir kehabisan darah. Tunggu dulu, itu bukan yang paling parah. Karena ada yang dengan wajah dingin dan tega, menginjaknya hingga hancur tak berbentuk. Aku tak lagi merasakan air asin yang meleleh hingga sudut bibir saat memunguti pecahannya.

Aku memang berhasil menyatukan potongan-potongannya kembali. Jangan tanya berapa lamanya. Aku dengan sengaja tak menghitung hari, aku tak ingin gila. Bentuknya tak lagi sempurna, tapi sudah tak kutemukan lagi sisa pecahannya. Aku tak terlalu memperdulikan bentuknya, yang aku jaga hanya apa yang ada di dalamnya.

Bentuknya memang tak sesempurna saat pertama kali ada. Mungkin ada yang hilang, tak terlihat karena terlalu kecil, atau bisa saja masih tersangkut di sandalnya, atau sepatunya mungkin. Aku tak tahu. Aku tak memaksamu untuk paham. Dengan kondisi seberantakan ini, aku tak sepeka dulu dalam menangkap rasa. Aku tak bisa secepat dulu mengartikan emosi. Ini cinta, atau hanya kagum semata. Ini rindu, atau sekedar ingin bertemu. Aku kesulitan membedakan.

Kondisinya tak memungkinkan untuk jatuh hati secepat angin berlalu. Sebelum memutuskan untuk tinggal, pikirkan baik-baik. Aku tak mau merasakan hal yang sama, meraskan sakit yang sama. Jadi jika kau memang ingin tinggal, tinggal lah saja, jangan tentukan mau seberapa lama kau disini. Tinggal lah disini sekarang, esok biarkan jadi milik waktu. ;).

............



Senin, 21 Maret 2016

Hay Amarah.. ^^

Selamat datang kemarahan..

Hey kita bertemu lagi..

Hari-hari kemarin saya berhasil melewati kamu. Oh iya?! biarpun kamu sempat menang bukan? kamu sempat membuat saya jatuh, itulah masa paling suram. Tapi tidak sesudahnya, saya banyak belajar dari masa itu.

Dan sekarang kamu datang lagi (untuk beberapa alasan yang sama?) Hmmm sudahlah kemarahan, Tidak kemarin, tidak hari ini dan semoga tidak juga besok..

Seperti yang seharusnya..
Kamu tidak perlu menang..!

                   ……..................

Sebuah kenyataan yang lucu bukan?!
Karena pada akhirnya kamu membuat saya banyak belajar.
Saya belajar untuk TIDAK BERTINDAK disaat kamu datang. Belajar berdiri dan menjadi kuat dengan apa adanya saya saja.

Kamu membuat saya mengerti bahwa kamu salah satu dari keterbatasan saya.
Ya kemarahan, kamu salah satu dari banyaknya kelemahan saya.

Tapi, karena kamu bagian dari diri
saya tentu saja kamu boleh datang kapanpun! Saya tidak akan lagi menolak (seperti sebelumnya) apalagi mengusir keras..
Dulu saya hanya punya insting bertahan, sekarang saya mengerti lebih dalam.
Jadi tenanglah kemarahan.. Saya
bukan lagi anak kemarin sore..

Melawanmu juga bukan sebuah tindakan benar, karena hanya akan membuat kami berhutang terlalu banyak pada diri sendiri dan kemudian merasa lemah..(entah atas apa). Karena itu kali ini saya akan belajar sabar menunggu sampai kamu
pergi, baru setelahnya membuat sebuah keputusan yang sehat. Agar nanti kalau kamu kembali, kamu akan datang untuk alasan yang berbeda. Jadi saya bisa belajar hal baru lagi. Bukan begitu ?!

_______________________

Tapi masih ada pertanyaan dikepala saya..
Kemarahan, apakah kamu dihadirkan diam-diam memang untuk mengajarkan kami agar lebih sabar?
menyelesaikan (satu persatu) dengan pelan-pelan saja. Supaya kami merasa cukup tahu diri. Bahwa kami bukan orang yang lahir untuk menganggap sebuah masalah selesai hanya dengan berhenti mengingatnya karena itu artinya tidak ‘benar- benar’ selesai..
Atau jika kami mesti memutuskan untuk menyelesaikan masalah itu sendiri, kami sebaiknya tahu bahwa, "mengendalikanmu haruslah dengan rumus S+A+B+A+R. Dan berfikir jernih jika kau telah berbalik, mengambil apapun yang telah sengaja kau tinggal sebagai pelajaran"

jika memang benar, semoga kamu
juga berhasil menyampaikan pesan ini
pada semuanya..

***

Kamarku, 21 Maret 2016.
Saat sesuatu tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya mau.
Saya lebih memilih diam.


Senin, 14 Maret 2016

Tentang Aku Yang Dibaca Olehmu.


Tuan,
Bagaimana kabarmu hari ini?
Buku apa yang sudah selesai kau baca, sudikah kau sedikit berbagi cerita denganku malam ini?
Aku janji, akan kusiapkan teh digelas kesukaanmu dan aku akan duduk diam disampingmu untuk mendengarkan ceritamu.


Tuan,
Boleh kupilhkan satu buku untuk kau baca esok hari?
Aku ingin memberimu sebuah buku yang berisi tentang aku.
Aku ingin kau membacanya hingga tuntas, agar kau mengerti aku.
Aku perempuan verbal yang menuliskan segala rasa dengan kata-kata.
Terlalu malu jika kata-kataku langsung terdengar oleh telingamu, jadi biarkan jemariku saja yang menindaklanjuti.


Ada beberapa lembar yang sengaja kubiarkan kosong disitu. Ku beri engkau jeda untuk mengerti aku melalui pemahamanmu sendiri. Juga ku beri kau ruang untuk bertanya dan berbicara langsung padaku. Oh iya. Tuan, dihalaman terakhir kutuliskan satu pertanyaan untukmu
“Maukah kamu melanjutkan cerita bersamaku?”
Kuharap jawabanmu tak mengecewakan aku.


Kuharap, kita dapat duduk berdua membaca buku selanjutnya
Bukan lagi buku tentang aku yang dibaca olehmu.
Namun buku tentang kita yang kita tulis bersama.

Laili,

Minggu, 13 Maret 2016

Pertanyaan Absurd.

Selamat petang, Sayang. Ahadku rasa Senin. Setelah hari tenang biasanya yaaa memang seperti ini, ditumpuki soal ujian yang siap menantang.

Bagaimana harimu? Masih merindu? Maafkan bakatku yang terkadang kurang ajar. Ya! Mudah dirindukan. Hahaha terlalu percaya diri ya. Biarkan. Kau mulai terbiasa dengan kenarisisanku kan? Seharusnya tidak menjadi masalah.

Kau tahu? Beberapa waktu lalu aku bertandang ke dalam suatu kelompok diskusi. Ada sesi tanya jawab di sana. Bukan pertanyaan-pertanyaan sulit, yang dimana aku harus menjawabnya dengan sedikit mencontek buku atau reng-rengan yang ku siapkan terlebih dahulu. Hanya saja pertanyaan-pertanyaan yang bisa menggali sisi diriku. Banyak sekali pertanyaan bemunculan, sebagian sisi ku sudah nampak ke permukaan. Aku gagal lagi menjadi perempuan misterius. Haaah, tapi tak apa. Ini kegiatan menyenangkan. Karena ada beberapa orang yang sama denganku. Setidaknya aku tidak merasa aneh sendiri. Hehehe..

Sampai pada pertanyaan ‘Apa hal paling absurd yang pernah kamu alami?’ Kamu tahu apa yang aku jawab? 'Mengenalmu'. Ya, memercayakan sebagian hati untuk kau genggam. Kau jelas tahu, aku perempuan yang cukup sulit membukanya kan? Pun kau juga tau sendiri perjalanan kisahku dulu, membuatku sedikit takut jika terulang lagi. Tapi entah, terhadap orang sepertimu aku bisa percaya-percaya saja. Memersilakanmu masuk, untukku jamu dengan senyum dan dekap yang hangat. 

Ya, bertemu kamu adalah hal paling absurd yang pernah aku alami. Bagaimana bisa aku yang berprinsip tidak akan mudah menaruh hati justru padamu – lelaki yang asal muasalnya saja tidak aku ketahui, ia bersukarela. 

Hatiku membesarkan dirinya sendiri dengan membisikkan ‘Kau tidak jatuh sendiri, ia berusaha untuk tidak membuatmu kecewa seperti yang sudah-sudah.’ 

Setelahnya hanya ada dialog-dialogku dengan hatiku sendiri, mengenai 'bagaimana bisa?' dimana jawabanya yang tumpah ruah tidak terhingga. Dan berkali-kali untuk pertanyaan yang berbeda hatiku hanya menjawab ‘Jalani saja dulu. Jika tidak dijalani, bagaimana kau tahu kisahnya akan seperti apa?’  Akhirnya aku hanya bisa mengamini hatiku yang acapkali Membisikkan harapan-harapan indah.

Esok jika bertemu akan aku tanyakan hal yang sama padamu. Barangkali jawabanmu sama dengan jawabanku, maka aku akan mengejekimu ‘dasar, palagiat!’ Lalu kau hanya bisa menahan gemas. 

Sekali lagi, maaf untuk bakatku yang lainnya ya.. menggemaskan.



Si Kepala Besar,

Kamu-mu.

Kamis, 10 Maret 2016

Kita Dan Kehilangan.



Kita adalah kumpulan kenang di masa lalu yang bergumul di salah satu simpang jalan sebelum akhirnya saling menemukan. Bersamamu aku rasai candu yang membuat seluruh luka bisa ditertawakan dan tak ada yang lebih sendu dari langkah kakimu ketika pulang, Tuan. Dan sendu bagiku ketika jarak bukan saja kilometer yang membuat mual dan sakit kepala berkepanjangan. Namun saat kita bicara tapi tak melihat pada kedalaman mata. Kamu perlahan jadi sesuatu yang kutakutkan jika hilang.

Ketika anak manusia bahagia tidak akan pernah terbesit rasa takut akan kehilangan. Tuan, yang kita butuh lakukan adalah berbahagia sepanjang hari tanpa memikirkan kehilangan-kehilangan. Bukankah kita telah cukup belajar dari masa lalu. Tentang yang datang dan hilang.

Aku sudah mengalami beberapa kehilangan. Sayangnya aku tetap ketakutan. Bukankah hati manusia bisa berubah kapan saja? Dan jika kamu pergi seperti yang lainnya aku harus apa? Jika bagimu berbahagia sepanjang hari mampu menghilangkan takut dan resah, ajari aku bagaimana berbahagia dengan cara tak latah, Sayang.

Mari kita bertukar mimpi setiap malam, berbagi tawa saat pagi datang, siangnya kita saling menulis letupan perasaan, melingkari kalender untuk setiap tanggal yang menghantarkan kita pada pertemuan, menikmati rindu yang sama banyaknya dengan udara, lalu…. saling memafkan jika ada yang berbuat salah, hingga akhirnya tidur dengan harapan akan saling menemukan surat cinta di bawah daun pintu esok hari. Membayangkannya saja aku bahagia Tuan. Bagaimana?

Nona dengarlah, bahkan membayangkannya saja aku bisa tertawa bahagia. Bagaimana kalau kita sepakati bahwa rutinitas ini tak akan pernah berhenti. Hingga masing-masing dari kita telah mati, menyatu pada tanah. Tak peduli sebanyak apa kita akan bertengkar, tak peduli seberapa jauh jarak menjengkal, tak hirau selucu apa kita saat melakukannya.

Dan…. Kamu akan tetap menjadi kamu. Aku akan tetap menjadi aku. Yang disimpul menjadi kita

®|_

Kamis, 03 Maret 2016

Posting.

Saya bingung.
Sebelumnya banyak yang ingin saya tuliskan setelah berpikir dan membaca sebuah buku. Beberapa hari sebelumnya juga ada beberapa ide yang ingin saya tuliskan di halaman ini, tapi ketika saya sudah menyiapkan segala sesuatunya. Saya malah kebingungan apa yang harus saya tulis.
Awalnya saya bingung kalimat pembuka. Hingga akhirnya saya tak bisa menuliskan apa-apa.
Alhasil? Tidak ada... :D

Laili Novita,

Senin, 29 Februari 2016

Setumpuk Berkas yang Diabaikan.


Hal yang sulit untuk dicoba adalah bermanja. Hal yang amat sangat sulit adalah bermanja-manja, kau tau sendiri jika dunia nyataku tak pernah se-drama disini. Belum lagi jika mengingat lingkungan yang ada, maka manja adalah kata ajaib yang sulit diterima. Tapi bukan berarti tidak merasakan apa-apa. Aku tipe sensitif sebenarnya, aku ekspresif jika marah dan jika tak setuju akan sesuatu. Dan aku terkategori gadis manja. Maaf.

Dan surat ini  tetap akan bergabung dalam berkas. Menumpuk dan terlupakan. Surat ini berisi berkas perasaan padamu. Yang timbul tenggelam dalam pikiranku. Yang sebenarnya ku sayang sekaligus aku khawatirkan. Surat ini akan diisi beberapa curhat tentang pengabaikanku atas perasan rindu padamu. 

Sebenarnya aku ingin ditanyai sudah makan atau belum, sudah nyaman atau belum, ditanya apa mauku, dikhawatirkan saat aku belum pulang, di rawat saat kepala sakit atau maagku kumat. Iya, aku ingin dimanja. 
Sayangnya aku memilih mengabaikan keinginanku, ada beberapa pertimbangan yang membuatku angkat tangan. Dan makin hari, kisah di antara kita sudah sempurna memberi sekat. Setiap aku ingin bertanya keadaanmu aku telah lebih dulu melihat plang besar di keningmu "I’m fine". Mungkin begitu juga kamu, setiap hendak bilang maaf ketika kata-katamu kadang menyinggungku, mungkin di mataku terpampang baliho besar, “No Problem”. 
Lama, sampai aku lupa bahwa hatiku butuh nutrisi kasih. Kasih yang tak bisa didapati meski aku dibuatkan puisi atau dibawakan seporsi makanan. Aku hanya ingin kau sadar, aku hanya gadis biasa, pun kadang punya rasa ingin di manja. Dan mengertilah, hatiku bukan terbuat dari baja.

Ah, inilah yang jadi salah satu pertimbangan kenapa aku jauhi keinginanku untuk bermanja. Baru aku mengadu padamu dan lihatlah.. aku bahkan tak bisa meneyelesaikan suratku ini. :(

Zahrotul Laili,

Sabtu, 27 Februari 2016

Timbunan Rindu.


Untuk kamu. 

Hari ini rinduku menguap bersama keringat. Kubiarkan sepetak ruangan remang dilengeketi bau. Salah satu potret tanpa bingkai mengeluh, 

“Ah, lagi-lagi uap rindu yang ditimbun banyak-banyak mengeluarkan bau menyengat. Aku selalu tak suka.” 

Dia bahkan tak pernah paham bahwa mulut kadang bisa hilang fungsi di lain waktu. Mulutku rapat dan hatiku terisi makin penuh. Biasanya rindu menguap atau lebur bersama air dalam tubuhku, berproses lalu jadi keringat. Bisa juga rindu bercampur bersama darah merah yang bolak balik dipompa jantung. Terus hilir mudik, hanya jika kulitku tertusuk jarum pentul maka ia bisa keluar, itu pun sedikit-sedikit. 

Tapi kupikir, pemerhati akan lebih tahu kesalahan objek perhatiannya. Sama seperti potret tanpa bingkai itu. Dia hapal waktu-waktu aku menimbun rindu. Dengan setengah hati dia mencoba menasehati, bahwa rindu sesekali harus diikuti kemauannya. 

“Kau selalu keras kepala dan terlalu gengsi. Berapa lama aku harus berada di sini, menjadi salah sekian dari kado yang tak pernah kau kirimkan. Cobalah sesekali kau baui kami. Busuk!” renggutnya kesekian kali suatu pagi, setelah aku menggali lubang dalam tubuhku untuk menimbun rindu. 

Kemudian, aku mengingat keranjang sampah berwarna biru. Lantas kucungkili timbunan di tubuhku, memindahkannya ke dalam keranjang. 

“Semoga kado-kado itu tak berbaui lagi minimal sampai aku mengirimkannya.” 

Dariku,
Perempuan yang menimbun rindu.

Pancake.

Oke, kali ini ada yang beda dari tulisan saya, karna berhasil, jadi saya putuskan untuk berbagi. Hehehe, entah kenapa hawanya selalu mendorong untuk makan. Faktor cuaca mungkin, atau memang bawaan tamu yang datang. Tapi yang pasti, saya punya cara sendiri untuk menghormati makanan, agar setelah tau rasanya langsung di habiskan tidak langsung di biarkan mubazir atau di buang. Yaitu dengan membuatnya sendiri, sebab tau prosesnya jadi sayang. Karna memang membuatnya mudah sekali, jadi yaaa semangat..!!

Oke, siaap.. Kita buat "PANCEKE".
Saya memang bukan perempuan anggun, tapi tetep bisa masak kok, meskipun sampai sekarang masih belajar..
Next..
Bagi yang minat buat.. Boleh simak tutorial yang amburadul dibawah, walaupun ga minat ya tetep di simak, siapa tau kapan-kapan kepingin buat. Aburadul.. Tapi jangan ragu rasanyaa.. Mantaaapp.. Hehehe

Ini bahan-bahannya, bisa dibeli di warung terdekat..

Ada 200 gr tepung terigu

1/2 cupsusu putih (bisa daity milk / dancow biasa)

1 sdm gula dicairkan

Mentega cair

1 buah telur sudah dikocok

secukupnya Air hangat

1 tsp baking soda

Sebelumnya saya selalu mengayak / menyaring dahulu tepung terigu, baking soda dan susu putih ke wadah. Setelah dipastikan tak ada gumpalan. Campur.

Kocok telur + mentega cair + air hangat secukupnya. Atau bisa saja mentega cairnya yang banyak untuk menggantikan air hangat. Masukkan kocokan tadi ke tepung terigu dkk. Aduk hingga merata dan dapat konsistensi yang pas (tidak cair tapi tidak terlalu kental juga).

Siapkan wajan, bisa tuangkan minyak zaitun sedikit atau mentega lagi, baru tuangkan adonan dalam beberapa kali goreng.


Setelah matang ditandai dengan pancake berubah jadi golden brown, angkat dan sajikan dengan coklat batang yang sudah di lelehkan Atau bila suka. Anda dapat masukkan coklat cair pada campuran kocokan telur dan masukan pada adonan. Enjoy! 😘

Siaaapp...
Semoga bermanfaat..

Laili Novita,


Kamis, 18 Februari 2016

Married?

Pagi ini Pagi yang saya awali dengan sapa dari tuan, dan menunggu angkutan umum yang siap membawa saya ketempat saya biasa menghabiskan setengah matahari. Sekolah!!

Berjalan seperti biasa dan melakukan hal seperti biasa. Sampai waktu istirahat mampir sebentar. Saya duduk diantara teman-teman dan "apa!!! Menikah?" spontan saya kaget seperempat mati, sebab ada yang bilang si fulanah akan "nggawe dino" atau membuat hari baik untuk menikah. Itu berarti dia akan menikah sebentar lagi, dan saya benar-benar tidak berhenti bertanya tentang kebenaran hal itu. 
          "menikah??"
    "iya, menikah. Kenapa??, ada yang salah?" diantara teman saya menjawab pertanyaan yang saya ucapakan cukup keras tadi.
      "Oh. Alhamdulillah..e mmmh.. Endaakk gak kenapa-kenapa.. Hehehe" langsung saya tutupi kegelisahan di dada, sampai lamunan ini membawa saya berfikir tentang Nikah Diumur 18 tahun, muda. Yaa muda.

Apa menikah itu?
Kenapa saya berfikir sampai disitu? Jawabannya, sebab saat ini, di usia yang memang terlalu muda untuk membahas hal ini, tapi saat ini, di umur yang masih labil ini, ada yang mau menjalaninya. Waw..

Saat itu saya benar-benar berfikir tentang menikah muda, mencari tau landasan si fulanan. Kenapa dia tergesa-gesa, sedang umurnya masih muda, orang tuanya masih ada, dan dia termasuk gadis yang pintar pula. Ekonominya pun menjamin. Hah.. Yaa mungkin itu sudah menjadi pilihanya.

Akhirnya, saya putuskan untuk menulisnya di sini, sekedar catatan. Dan saya berterimakasih sekali bila ada yang menyangga catatan ini, jika memang kurang tepat. Kita sama-sama belajar.

Butuh nyali yang besar untuk membuat catatan tentang suatu masalah yang saya sendiri belum punya pengalaman menjalaninya. Tapi, setidaknya saya hanya ingin mencoba menuangkan opini yang ada di dalam kepala. Mudah-mudahan bermanfaat.

Nikah Itu (tidak) mudah. Kenapa saya tulis seperti itu. Karena mudah atau tidak itu adalah persepsi masing-masing, ya, antara mudah mudah sulit lah.
Saya pernah merasakan ingin sekali nikah muda, waktu Aliyah kelas 2, gara-gara khatam membaca buku NPSP nya Salim A Fillah. Sebuah keinginan sesaat, cuma keinginan tanpa didasari ilmu. 
Tapi, kini saya benar-benar menyadari, menikah itu bukan perkara yang terlalu sulit atau terlalu gampang.
Seperti kata guru agama saya dulu, menikah itu indah dalam bayangan, sederhana dalam kenyataan. Menikah itu juga bukan selesai pada urusan yang indah saja, bagi para gadis mungkin seringkali mengidamankan jika menikah maka akan ada yang melindungi, kalau sholat ada yang ngimami (toeng!), atau kalau pergi kemana-mana ada yang menemani.
Hufh, tidak selesai sampai urusan itu saja mbak..

Saya terus teringat petuah ‘mbah' saya. Nikah itu butuh ilmu. Jadi sibukkanlah diri kita dengan mencari ilmunya, Kalau jodohnya, pasti ada, yakin ada. Begitu banyak mereka yang mengatakan siap menikah, padahal belum memenuhi kriteria siap itu, dan banyak yang memutuskan untuk menikah tapi belum siap menjadi orang tua. Nah loh? Maaf, bukan maksud menjudge atau bagaimana, saya mau sharing sedikit.. Dan makin saya pelajari, ternyata memang ilmu saya masih jauh dari kesiapan untuk menikah. 

Menikah itu baik, siapa bilang tidak. Kenapa saya sekaget itu saat mendengar kabar fulanah akan segera menikah. Sedang menurut ceritanya saat curhat ke saya, dia anak yang cukup.. Bahasa Tubannya "mbok-mbok'en" atau masih banyak tergantung pada orang tua. Berfikir saja realistis, berdasarkan ceritanya setiap hari dia belum matang benar dalam berbagai hal tentang menikah. Yaa, apalagi jika kita mencuci pakaian sendiri saja masih malas, lalu ada orang lain yang tiba-tiba datang memberi pakaian kotor kepada kita. Hmm... Saya hanya takut jika hanya pola pikir dan bayangan indah yang ada difikiran, dan membuat seorang gadis tergesa untuk menikah. Tidak memikirkan jika masakan yang asinpun masih terasa meskipun dirasakan dengan CINTA. Rumah kotor akan tetap terlihat kotor meskipun Pun dengan mata CINTA juga. 

Menikah, pasti punya anak. Anak yang akan hadir itu perlu ibu yang pandai dan dapat menjawab setiap pertanyaannya, dapat dan pastinya mampu menjadi madarasah pertama untuknya. Jika kita tidak pandai apa-apa, menjawab pertanyaanpun tidak bisa dan hanya sibuk berkerja. Kalau si anak protes akan di jawab "yang pentingkan bisa makan enak, syukur-syukur ibu bisa menyekolahkan kamu sampai sarjana S S S" dan parahnya tidak ada waktu untuk si anak, karna merasakan enaknya punya uang banyak bisa beli ini itu. Akhirnya berkerja sampai lupa waktu, karna ada uang banyak dan dengan mudah memberi solusi, "banyak uang saja kok, kan bisa sewa pembantu." mau jadi apa investasi akhirat kita jika yang mendidiknya seorang pembantu. Mau kah anak kita punya mental pembantu? Naudzubillah..
yak!! Jadi mumpung masih muda, ayo sama-sama berusaha. Untuk yang sudah terlanjur yaa.. Syukuri saja, dan terus beri yang terbaik.

Tapi, jika memang suratan takdir si fulanah menikah di umur yang muda, yaaa.. Sebagai seorang teman saya bisa apa. Hanya do'a saja yang bisa saya selimutkan. Semoga fulanah tidak berhenti belajar dan mempunyai keluarga yang mawaddah, sakinah, warohmah. Sehidup sesyurga. Amiin..


Peluk hangat untukmu. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu.
Semoga kita bisa bertukar cerita dilain waktu. Kehidupan keluarga kecilmu dan kehidupan keluarga kecilku. 



Zahrotul Laili, 

Rabu, 17 Februari 2016

Sebatas Lamunan.

Jangan biarkan imajinasi mu berlari begitu jauh menggenggam ku. Aku masih nyaman dengan secangkir teh hangat yang sudah sedari tadi menunggu untuk aku teguk. Aku masih mau berlama-lama memandangi air yang menari seirama dengan angin yang bertiup. Menikmati musik yang tercipta diantara malamku. Ketakutan datang ketika petir menggelegar sangar di langit hitam. Menutup telinga pun tak mengurangi rasa itu. Menutup mata pun sama saja. Percuma.

Entah berapa lama lagi aku berada dalam ketakutanku, seseorang datang menyapa dan memeluk ku dengan hangat dan nyaman. Tiba-tiba saja kau menarik tanganku, oh. . Lamunanku saja.
Tersadar jika aku merindukan orang yang jujur dengan segala tindakan yang tak hanya fiksi. Merindukan orang yang menenangkan dan menjaga ku dengan segenap rasa sayang yang teramat. Merindukan mu yang siap mendengar semua celotehanku yang skalanya kadang lebih cepat dari petir yang menyambar-nyambar diatas awan hitam.

Imajinasi yang menjadi sebuah harapan yang selalu ku sirami do'a agar tumbuh menjadi nyata.

ZLN,

Senin, 15 Februari 2016

Mesin Waktu.

Malam ini aku masih saja menyempatkan diri untuk menulis sajak, dengan alasan jenuh. Padahal materi yang akan di ujikan besok sudah menunggu. Siap-siap untuk sarapan deretan soal Biologi dan Matematika. Tapi, membunuh kejenuhan bisa kulakukan dengan membuat coretan. Jangan dibaca jika kau sedang sibuk, sebab aku tak mau kau marah, apalagi kecewa. Gara-gara sajak dibawah ini sama sekali tidak penting dan bisa membuang beberapa menit yang bisa kau gunakan untuk membunuh kesibukanmu itu. Ini bukan sajak sang penulis handal atau kelas atas, ini hanya sajak sang "Bunga Malam".

Mesin Waktu.

Untuk, 
Kau dan Aku.

Ada yang telah dicuri malam. Setelah datang mimpi kesekian, aku menemukan kau yang seketika diam. Benar, aku tak bisa melakukkan hal lain kecuali melihatmu dari kejauhan, bahkan hal itu kulakukan dengan sembunyi-sembunyi. Tapi kau tau? Aku sudah cukup bahagia. Nyatanya aku tak pernah bisa membunuh malam, sebab memang malam yang mengambil rekam ingatan ataupun yang menghapus pahatan senyum diwajahmu.

Pagi nanti, ingin kuajak kau berjalan-jalan. Kita akan melewati labirin yang dindingnya pernah dicoret waktu, menyusuri lorong-lorong yang menyimpan rahasia kita. “lihatlah, itu kau yang pernah tertawa. Lihatlah itu aku.. Dan disana ada kita.. Lihatlah.."

Di sana kau bisa mendengar banyak cerita, sambil mengulang celotehan yang pernah bergaung di kepala, juga merangkai kembali sajak-sajakmu yang tercecer.

Sebab kenangan tak mungkin hilang, maka aku buatkan kau mesin waktu.
Satu-satunya mesin yang akan memanggil ingatanmu sekali lagi, untuk mengembalikan senyum itu kepada pemiliknya, kau.

Tersenyumlah untukku, senyum yang tidak akan ku temukan pada wajah manapun. ❤


Laili,

Jumat, 12 Februari 2016

Sajak Untuk Belahan Jiwa Ayahku,

Kutulis sajak ini, lima tahun setelah kepergianmu.
Teruntuk engkau belahan jiwa ayahku,

Kekasih,
Barangkali bunga kamboja yang pernah aku tancapkan di atas pusaramu kini mulai berbunga, lima tahun sudah, musim terus berganti hingga kembali lagi ke musim penghujan. Aku tak pernah mampu menjadwalkan diri untuk sekedar menengokmu, sekedar berbagi keluh kesah, atau sekedar bertanya tentang keadaanmu. “Kekasih, apa kabarmu?”

Rasanya ingin sekali menyapa, tapi mulut dan degup di dada yang semakin kencang membuatku tidak pernah menanyakan hal itu lagi.

Kekasih,
Jika engkau ingin tahu yang selama ini aku lakukan, barangkali kau akan tetap melihatku seperti yang dulu. Aku yang gembrot, mokong, jarang mandi, dan rambut yang selalu berantakkan. Mungkin karena engkau sudah tidak pernah mengingatkan perihal yang membuatku rapi dan wangi.

Kekasih,
Maafkanlah aku, yang seringkali lupa untuk sekedar mengirimmu doa-doa yang menyejukkanmu, seiring aku yang mulai lupa tentang siapa aku.

Maafkanlah aku, kekasih.
Barangkali engkau masih ingat, bahwa aku sering melukiskanmu seperti pagi dan tetes embun dedaunan, bahkan juga senja dan rona jingganya.

Kekasih,
Kini senja sedang murung, membuatku terhanyut hingga lupa tentang senyumanmu.

Kekasih,
Aku ingin mendoakanmu, semoga di tempatmu kini engkau senantiasa baik-baik saja, meski aku tak lagi menjadi detak di detikmu.

Kekasih..
Maafkan gadismu,

Dariku, ibu dari cucu-cucumu.

Laili,

Kamis, 11 Februari 2016

Sebaik-baiknya Diri.

Beberapa kali pernah aku mengalami keterpurukan. Tidak hanya aku, kau juga pasti pernah, jatuh di titik rendah yang tidak kita kehendaki. Hidup memang begitu, bukan? Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang hidup terasa mudah, kadang begitu sulit untuk dilewati. Kadang manis, kadang pahit sekali. Namun di balik itu, hidup tetaplah hidup, bak pertunjukan. Harus terus berjalan, bagaimana pun keadaan.

Badai pasti berlalu, sering sekali aku menyemangati diriku sendiri seperti itu. Segala yang buruk pasti bisa aku lalui. Seberapapun lamanya pasti akan terlewati. Seberapa payahnya kaki melangkah, jalan yang terjal pasti bisa aku arungi. Semuanya akan baik-baik saja, mungkin tidak kini, barangkali nanti.

Berkali-kali aku membatin apa saja yang baik, tak ubahnya sebagai usaha membangkitkan semangat pada diri. Rencana Tuhan selalu luar biasa, ini yang aku yakini. Ambil saja, hari ini aku diberi kesusahan, besok atau bahkan satu detik kemudian bisa saja aku diberikan kelapangan. Di antara keduanya, usaha, syukur dan doa harus selalu ada.

Aku adalah sebaik-baiknya sorak pandu untuk diriku sendiri. Meneriaki diriku untuk selalu baik hari ke hari. Sekalipun satu hari aku mengalami jatuh bertubi-tubi, yang bisa membangkitkanku adalah aku pribadi. Dorongan dan bantuan dari orang lain bisa saja ada, namun tidak selamanya mereka bersedia. Maka dari itu, jangan terlalu bergantung pada orang lain, terlebih bermanja untuk selalu dibantu. Usahakan sendiri dulu. Sekalipun meminta bantuan, pintalah pada Yang Maha Membantu, pada-Nya kekecewaan bukanlah keniscayaan.

Di paragraf terakhir, aku mengukir sesuatu yang akan menjadi cambukku ketika nanti mengalami hal terburuk lagi;

Aku harus menjadi yang terbaik, minimal untuk diriku sendiri. Katakan kini aku tengah di perjalanan menuju itu, aku tidak akan pernah berhenti. Apa-apa yang sudah dimulai, harus diselesaikan. Jangan pernah memecundangi diri sendiri. Aku bisa, karena aku terlahir untuk menjadi seseorang, yang luar biasa. Sebaik-baiknya diri. Yaa, minimal untuk diriku sendiri.

Laili,

Selasa, 09 Februari 2016

Tulisan Absurd.

Melewatkanmu seharusnya semudah Tuhan menuliskan garis tangan.

Namun sayangnya aku semakin kehilangan cara untuk melakukannya. Seperti tanda titik yang harus ada pada akhir cerita,
Tapi kini, aku justru menemukan koma.

Keputusan kita saat ini tak lagi seperti permainan kata, yang diucapkan tapi tak dilaksanakan. Keputusan kita kali ini benar-benar nyata dan harus dengan terpaksa kita jalani. Sampai tiba saat aku tepat pada posisi paling jenuh lalu semua semakin terasa dingin. Tidak ada selimut penghantar tidur. Kini, yang ada hanya jejak selimut itu sendiri. Yaa, hanya jejak!!

Hari-hari pertama di bulan februari. Aku semakin ingin kamu hadir menghabiskan sepi disini. Memberikan sapa yang serasa sudah sejak lama tak ada.

Entah bagaimana caranya, memoriku ternyata tak lenyap dimakan waktu.

Tuan, yang pernah aku titipkan sebuah rasa. Dan sampai saat inipun masih sama. Sesungguhnya aku terjebak dengan jejak, jejak yang selama ini kita buat tanpa sadar, jejak tentang kita.

Terpaku tanpa tahu arah berlabuh. Menunggu sebuah tanda yang enggan datang menyapa.

Bagiku, bahagia tak harus sebuah tawa.

Cukup aku tau tentangmu, tentangmu yang selalu baik-baik saja.

Dan berjanjilah padaku, semua akan baik-baik saja.

Sakura,

Senin, 08 Februari 2016

Aku Bersabar, Untuk Kita.

Malam ini dingin. Hujan yang sedari siang tadi turun membuat angin yang berhembus menjadi semakin dingin. Tunggu, malam ini rasanya ada sesuatu yang kurang! Ah, itu kehadiranmu. Malam ini dan malam yang akan datang, aku harus terbiasa, sebab tidak akan sama dengan malam-malam kita sebelumnya. Aku bukannya mau menyalahkan keadaan kita ini, tidak juga mau menggerutu dengan posisi kita ini. Bagaimanapun, roda kehidupan kita harus berjalan sendiri-sendiri.

Tapi, tahukah kamu? Aku menyimpan sejuta harap untuk bisa menjalankan roda kehidupanku bersamamu. Aku harap agar suatu saat nanti, jarak atau apapun tidak lagi menghalangi kita. Terlalu tinggi-kah harapku itu? Kurasa tidak. Pengharapanku hanya membutuhkan waktu dan dengan kerjasama-NYA dan kita tentunya, yang akan membawa kita menuju bahagia itu.

Bukankah yang harus kulakukan saat ini adalah bersabar? Kupikir iya. Aku harus sabar menghadapi ego-ku sendiri yang seringkali kalah oleh amarah ketika ada suatu hal darimu yang membuatku kecewa. Aku harus sabar menghadapimu yang dengan segala kurang dan lebihnya kamu, sebenarnya telah kuterima dengan tangan terbuka sejak awal kisah ini dimulai. Aku harus sabar menghadapi keadaan, yang sangat sering menyudutkan kita untuk saling menyalahkan semua sekenarionya. Aku harus sabar dengan segala resiko, rintangan, tantangan, dan apapun yang akan kita hadapi hari ini, besok, dan seterusnya sampai tiba saatnya bahagia itu kita yang miliki.

Seberapa lama aku harus bersabar? Seberapa besar kau inginkanku untuk bersabar? Seberapa kuatkah aku untuk bersabar? Kurasa selama kamu masih menjaga cinta dan sayangmu untukku, selama itu pula aku mampu untuk bersabar. Samudera itu luas, loh! Aku juga menyimpan harap agar kesabaranku bisa melebihi luasnya samudera, tak berbatas.

Untuk itulah, aku berdoa. Untuk itulah, aku berharap. Untuk tetap menjaga ‘KITA’ entah apapun keadaan yang memaksanya untuk berubah menjadi ‘AKU’ dan ‘KAMU’ seperti saat sebelum kisah ini dimulai.
Akan kujaga. Aku harap kau pun setia menjaganya.
Kepadamu, kutitipkan seluruh harap itu :)

Aku, bersabar untuk 'KITA'.
Bismillah..

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...