Pagi ini Pagi yang saya awali dengan sapa dari tuan, dan menunggu angkutan umum yang siap membawa saya ketempat saya biasa menghabiskan setengah matahari. Sekolah!!
Berjalan seperti biasa dan melakukan hal seperti biasa. Sampai waktu istirahat mampir sebentar. Saya duduk diantara teman-teman dan "apa!!! Menikah?" spontan saya kaget seperempat mati, sebab ada yang bilang si fulanah akan "nggawe dino" atau membuat hari baik untuk menikah. Itu berarti dia akan menikah sebentar lagi, dan saya benar-benar tidak berhenti bertanya tentang kebenaran hal itu.
"menikah??"
"iya, menikah. Kenapa??, ada yang salah?" diantara teman saya menjawab pertanyaan yang saya ucapakan cukup keras tadi.
"Oh. Alhamdulillah..e mmmh.. Endaakk gak kenapa-kenapa.. Hehehe" langsung saya tutupi kegelisahan di dada, sampai lamunan ini membawa saya berfikir tentang Nikah Diumur 18 tahun, muda. Yaa muda.
Apa menikah itu?
Kenapa saya berfikir sampai disitu? Jawabannya, sebab saat ini, di usia yang memang terlalu muda untuk membahas hal ini, tapi saat ini, di umur yang masih labil ini, ada yang mau menjalaninya. Waw..
Saat itu saya benar-benar berfikir tentang menikah muda, mencari tau landasan si fulanan. Kenapa dia tergesa-gesa, sedang umurnya masih muda, orang tuanya masih ada, dan dia termasuk gadis yang pintar pula. Ekonominya pun menjamin. Hah.. Yaa mungkin itu sudah menjadi pilihanya.
Akhirnya, saya putuskan untuk menulisnya di sini, sekedar catatan. Dan saya berterimakasih sekali bila ada yang menyangga catatan ini, jika memang kurang tepat. Kita sama-sama belajar.
Butuh nyali yang besar untuk membuat catatan tentang suatu masalah yang saya sendiri belum punya pengalaman menjalaninya. Tapi, setidaknya saya hanya ingin mencoba menuangkan opini yang ada di dalam kepala. Mudah-mudahan bermanfaat.
Nikah Itu (tidak) mudah. Kenapa saya tulis seperti itu. Karena mudah atau tidak itu adalah persepsi masing-masing, ya, antara mudah mudah sulit lah.
Saya pernah merasakan ingin sekali nikah muda, waktu Aliyah kelas 2, gara-gara khatam membaca buku NPSP nya Salim A Fillah. Sebuah keinginan sesaat, cuma keinginan tanpa didasari ilmu.
Tapi, kini saya benar-benar menyadari, menikah itu bukan perkara yang terlalu sulit atau terlalu gampang.
Seperti kata guru agama saya dulu, menikah itu indah dalam bayangan, sederhana dalam kenyataan. Menikah itu juga bukan selesai pada urusan yang indah saja, bagi para gadis mungkin seringkali mengidamankan jika menikah maka akan ada yang melindungi, kalau sholat ada yang ngimami (toeng!), atau kalau pergi kemana-mana ada yang menemani.
Hufh, tidak selesai sampai urusan itu saja mbak..
Saya terus teringat petuah ‘mbah' saya. Nikah itu butuh ilmu. Jadi sibukkanlah diri kita dengan mencari ilmunya, Kalau jodohnya, pasti ada, yakin ada. Begitu banyak mereka yang mengatakan siap menikah, padahal belum memenuhi kriteria siap itu, dan banyak yang memutuskan untuk menikah tapi belum siap menjadi orang tua. Nah loh? Maaf, bukan maksud menjudge atau bagaimana, saya mau sharing sedikit.. Dan makin saya pelajari, ternyata memang ilmu saya masih jauh dari kesiapan untuk menikah.
Menikah itu baik, siapa bilang tidak. Kenapa saya sekaget itu saat mendengar kabar fulanah akan segera menikah. Sedang menurut ceritanya saat curhat ke saya, dia anak yang cukup.. Bahasa Tubannya "mbok-mbok'en" atau masih banyak tergantung pada orang tua. Berfikir saja realistis, berdasarkan ceritanya setiap hari dia belum matang benar dalam berbagai hal tentang menikah. Yaa, apalagi jika kita mencuci pakaian sendiri saja masih malas, lalu ada orang lain yang tiba-tiba datang memberi pakaian kotor kepada kita. Hmm... Saya hanya takut jika hanya pola pikir dan bayangan indah yang ada difikiran, dan membuat seorang gadis tergesa untuk menikah. Tidak memikirkan jika masakan yang asinpun masih terasa meskipun dirasakan dengan CINTA. Rumah kotor akan tetap terlihat kotor meskipun Pun dengan mata CINTA juga.
Menikah, pasti punya anak. Anak yang akan hadir itu perlu ibu yang pandai dan dapat menjawab setiap pertanyaannya, dapat dan pastinya mampu menjadi madarasah pertama untuknya. Jika kita tidak pandai apa-apa, menjawab pertanyaanpun tidak bisa dan hanya sibuk berkerja. Kalau si anak protes akan di jawab "yang pentingkan bisa makan enak, syukur-syukur ibu bisa menyekolahkan kamu sampai sarjana S S S" dan parahnya tidak ada waktu untuk si anak, karna merasakan enaknya punya uang banyak bisa beli ini itu. Akhirnya berkerja sampai lupa waktu, karna ada uang banyak dan dengan mudah memberi solusi, "banyak uang saja kok, kan bisa sewa pembantu." mau jadi apa investasi akhirat kita jika yang mendidiknya seorang pembantu. Mau kah anak kita punya mental pembantu? Naudzubillah..
yak!! Jadi mumpung masih muda, ayo sama-sama berusaha. Untuk yang sudah terlanjur yaa.. Syukuri saja, dan terus beri yang terbaik.
Tapi, jika memang suratan takdir si fulanah menikah di umur yang muda, yaaa.. Sebagai seorang teman saya bisa apa. Hanya do'a saja yang bisa saya selimutkan. Semoga fulanah tidak berhenti belajar dan mempunyai keluarga yang mawaddah, sakinah, warohmah. Sehidup sesyurga. Amiin..
Peluk hangat untukmu. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu.
Semoga kita bisa bertukar cerita dilain waktu. Kehidupan keluarga kecilmu dan kehidupan keluarga kecilku.
Zahrotul Laili,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar