Senin, 15 Februari 2016

Mesin Waktu.

Malam ini aku masih saja menyempatkan diri untuk menulis sajak, dengan alasan jenuh. Padahal materi yang akan di ujikan besok sudah menunggu. Siap-siap untuk sarapan deretan soal Biologi dan Matematika. Tapi, membunuh kejenuhan bisa kulakukan dengan membuat coretan. Jangan dibaca jika kau sedang sibuk, sebab aku tak mau kau marah, apalagi kecewa. Gara-gara sajak dibawah ini sama sekali tidak penting dan bisa membuang beberapa menit yang bisa kau gunakan untuk membunuh kesibukanmu itu. Ini bukan sajak sang penulis handal atau kelas atas, ini hanya sajak sang "Bunga Malam".

Mesin Waktu.

Untuk, 
Kau dan Aku.

Ada yang telah dicuri malam. Setelah datang mimpi kesekian, aku menemukan kau yang seketika diam. Benar, aku tak bisa melakukkan hal lain kecuali melihatmu dari kejauhan, bahkan hal itu kulakukan dengan sembunyi-sembunyi. Tapi kau tau? Aku sudah cukup bahagia. Nyatanya aku tak pernah bisa membunuh malam, sebab memang malam yang mengambil rekam ingatan ataupun yang menghapus pahatan senyum diwajahmu.

Pagi nanti, ingin kuajak kau berjalan-jalan. Kita akan melewati labirin yang dindingnya pernah dicoret waktu, menyusuri lorong-lorong yang menyimpan rahasia kita. “lihatlah, itu kau yang pernah tertawa. Lihatlah itu aku.. Dan disana ada kita.. Lihatlah.."

Di sana kau bisa mendengar banyak cerita, sambil mengulang celotehan yang pernah bergaung di kepala, juga merangkai kembali sajak-sajakmu yang tercecer.

Sebab kenangan tak mungkin hilang, maka aku buatkan kau mesin waktu.
Satu-satunya mesin yang akan memanggil ingatanmu sekali lagi, untuk mengembalikan senyum itu kepada pemiliknya, kau.

Tersenyumlah untukku, senyum yang tidak akan ku temukan pada wajah manapun. ❤


Laili,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...