Semenit setelah ku balas pesan singkatmu, kulihat awan tak lagi biru, ia lebih dominan abu-abu. Kau tau? Ia seperti kehilangan gairahnya. Sedari tadi, aku berjalan seperti mengunakan sedikit tenaga, melangkah dengan nada yang berbeda. Hanya pandangan kosong, namun maksud kaki punya tujuan. Aku duduk diteras aula, ku luruskan kakiku, sedikit mengumpulkan tenaga.
"Hay.." terdengar suara yang tak begitu asing, seperti ditujukan padaku, membuatku dengan reflek memutar pandangan. Ku lihat seorang laki-laki tegap, yang terlihat jelas hanya baju hitam yang ia kenakan lengkap dengan tas slempang hitamnya, sebenarnya aku tau siapa dia, namun aku masih berusaha memperjelas pandanganku. Mata ini masih kesulitan memfokuskan pandangan ke satu titik, membuatku harus berkedip beberapa kali untuk menemukan kejelasan, namun percuma. Konsentrasiku buyar oleh ponselku yang berdering, ada pesan masuk yang berisi,
"Priamu, tunggu aku ditempat ini. Jangan beranjak pergi, aku janji akan membawamu bersamaku. Membawamu enyah pergi dari kehidupamu yang sekarang. Tunggu aku.. Aku mencintaimu" aku tersenyum membaca susunan abjad itu dan menemukan gairah lagi, seperti awan abu-abu yang kembali biru.
Kertas ini malah menjadi pasung kakiku untuk beranjak pergi. Aku tak melanggar perkataannya. Aku menungguinya, tepat ditempat yang ia minta. Aku tersenyum miris memandangi kertas putih di genggaman tangan kiriku, aku menoleh kebelakang lagi lalu menunduk memperhatikan kertas putih ditanganku. Begitu saja, berkali-kali tapi hasilnya tetap sama, dia tidak ada. Sekarang, aku sudah jauh, aku pun tidak tahu saat ini aku berada dimana, semakin ku menerawang, semakin aku merasa suram. Dia benar-benar tidak datang, dia benar-benar melanggar janjinya sendiri.
Ah, kertas putih ini ternyata masih erat dalam genggamanku, terlihat semakin lusuh dan kusut saja, mungkin karena ulahku yang menggenggam sembarangan karena terbawa emosi. Kau tahu? kertas putih yang dari tadi kusebutkan, yang dari tadi ku genggam adalah surat untuk sosok berbaju hitam itu. Surat yang ku buat sebelum aku kembali untuk menepati permintaannya, menunggunya. Surat yang masih ku genggam ketika dia kembali jauh dariku.
Pesan singkat yang baru saja masuk di ponsel ku lagi-lagi membuatku terkejut tanpa terkira, sosok berbaju hitam itu mengirimkan pesan. Lagi-lagi dia menyalahkanku. Dia bilang aku sengaja pergi begitu saja, dia bilang aku bersalah lagi, dia bilang aku menghancurkannya lagi. Tapi bukan umpatannya itu yang ku pikirkan, aku justru senang, berarti dia berusaha mengatakan bahwa tadi dia datang, kan? Oh, berarti dia tak sepenuhnya ingkar janji.
Sekarang, aku merasa sudah sampai di tempat tujuan, aku sudah beristirahat di tempat persinggahan yang seolah menjanjikan rasa nyaman. Di dalam hati seorang pria. Aku genggam lagi, surat yang belum sempat ku beri padanya. Ku bawa lagi cerita ini, ku pendam lagi, rindu yang menghantui. Ku bawa pulang lagi janji yang belum sempat dia tepati.
Lain kali, dia harus datang kesini biar ku beri tahu apa yang ingin dia ketahui. Sesekali dia perlu singgah di tempat persinggahan ini, biar ku beri waktu padanya untuk menepati janji. Dia benar-benar harus kesini, agar surat yang ku genggam ini bisa dengan mudah ku beri.
"Tingg'!!!!"
Aku tersadar, ponselku memang hobi mempermainkan jantungku. Aku terbangun dan sadar yang kulalui tadi hanya mimpi. Ternyata aku tertidur diteras aula saat ku coba luruskan kakiku yang lemas tadi, namun ternyata kantuk datang tanpa ku undang. Ah, mimpiku jalan-jalan kok sampai sejauh jarak aku dan dia. Tapi tak masalah, sedikit mengurai rindu ini dan aku yakin dia akan kembali, dia akan menepati janji. Dia kamatianku.
❤with love, Zahrotul eLeN❤













