Rabu, 18 November 2015

Pemadam Suram.

Ah, siapa yang sanggup mencintaiku seperti kau? Mungkin aku hanya seorang gadis yang butuh obat penenang sebab tingkah yang kadang membuatku tak pantas dikatakan seorang gadis. Ya karna hanya kau yang tidak merasa risih denganku. Aku sadar, aku seorang perempuan biasa, yang gemar bertutur cerita pada siapa saja. Dan kali ini akan kututurkan berupa kisah yang terpenggal di jantung hatiku. Ya, ya, cerita ini bernuansa cinta, seperti cerita-cerita pada umumnya.

Di sini gelap dan aku nyaris terlelap. Kuselami lautan selimut, bersiap menunggu mimpi yang berencana menjemput. Ini tengah malam, tak pantas seorang gadis sepertiku ada diluar, tidur adalah keputusan terbaik.
                Malam, dimana satu titik cahaya akan menjadi begitu berharga, begitu terlihat dan istimewa. Kemudian akan ada hening yang mencekam, membuat kepala pening lantaran syarafku diterkam. "Hay..." terdengar lirih suara tanpa rupa. Oh, rupanya kamu, Sang Pemadam Suram. Bayanganmu telah merayap ke dalam kalam yang hitam sejak dari tadi.
           Izinkan aku menyebutmu pemadam suram. Seperti laki-laki biasa yang tak banyak bicara, kamu juga pendiam. Tapi kamulah ilham, inspirasiku untuk selalu berucap. Kamulah yang berhasil menembus pertahanan kalbu sampai akhirnya aku mengandung rindu yang tak terbendung, untuk kemudian melahirkan ratapan gundah yang penuh gulana prasangka.
          Gulana prasangka? Ahaha, apa-apaan istilahnya. Tapi rasa-rasanya memang begitu. Rindu selalu saja seperti itu. Selalu penuh duga dan penuh curiga. “Adakah gelisah ini dirasakannya juga?”
Memang benar kata temanku, namanya Nur Fajar, kau tak kenal? Maklum kau biasa tidur ketika dia mampir menyapamu, hehe. Dia bilang “Malam adalah ketika ramai diselimuti gelap. Segalanya disekap, diubah kelu, menjadi bisu. Yang ada hanya rindu menggebu pada sosok yang kerap ditunggu.” Nur Fajar selalu tau siapa yang selalu kutunggu, bahkan hebatnya dia selalu tau berapa jumlah hariku menungguimu. 

Mungkin saja. Satu hal yang pasti kamu tidak tahu, semalaman aku memikirkanmu, sampai dua bola mata ini penuh dengan asap rindu.
Karena rindu selalu saja seperti itu, mengendap, tak terucap. Rinduku juga tak kenal kata ambigu, dia hanya kenal kata "kamu". ☺

Salam sayang untukmu yang jauh...
Semoga selalu jadi yang terindah.
❤with love, Zahrotul eLeN❤

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...