Senin, 31 Agustus 2015
KITA, Matahari, Hujan dan Pelangi.
Seperti pagi yang membawa matahari kembali tersenyum, menuju siang meninggalkan embun. Entah kepada siapa aku utarakan rasa yang membuatku sempoyongan saat mengingatmu. Seseorang yang biasa hadir walau sekedar lewat pesan dan hadir lewat bait demi bait. Tapi itu lebih berarti mengingat perihnya menelan kesendirian.
Belajar dari matahari, dia tak pernah sedikitpun berlaku tidak adil pada jagat raya, kecuali satir yang menutup hal itu sendiri. Dia memberi cahaya, bahkan lubang-lubang kecil dapat dia masuki. dapat dengan mudah ia menembus kaca, dapat pula dia menghangatkan jiwa. Bahkan pada jiwa yang menutup diri yang sedang berusaha untuk menyendiri. Begitu juga sebongkah rasa sayang. Dia hadir layaknya mentari yang menawarkan beribu-ribu keajaiban, yang dingin jadi hangat, yang gelap jadi terang dan yang beku jadi mencair, apa salahnya aku menjadi mentari pagi untukmu, boleh kan? Oke, tak usah kau jawab aku sudah mengerti kata apa yang akan kau lontarkan.
Kau sering memanggilku bunga, entah apa yang mirip antara aku dengan bunga. Atau mungkin namaku yang membuatmu terobsesi untuk memanggilku dengan sebutan itu, jika aku bunga, kau juga tau kan? Bunga itu mahluk hidup, dia juga memerlukan matahari untuk mempercantik dia, jadi.. Apa aku salah memintamu untuk jadi mentari pagiku?
Pikirkanku sering melayang, membawaku mengarungi samudra dengan lepas. Kau hanya seorang pria, sederhana saja. Senyummu menyimpan banyak tanda tanya, tatapanmu mengganggu laju kerja otak, dan gerak-gerikmu memaksaku agar tidak melewati setiap inci perpindah kakimu. Lalu, semua terjadi begitu saja. Saat sapa lembutmu menjaring nyata menyentuh gendang telinga, saat percakapan kecil yang tercipta berubah menjadi deretan narasi nyata, aku dan kau, mengalir begitu saja, seperti curah lembut hujan yang jatuh ke permukaan. Sederhana sekali, cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.
Hujan? Entah kenapa menyebut kata itu timbul rasa rindu dihati, pada ribuan tetes air yang jatuh membasahi bumi tempat kakimu dan kakiku menapak meninggalkan jejak. Membahas pasal hujan aku tak melupakn matahari, karna setelah hujan reda pasti akan muncul matahari, maka akan tercipta tarikan warna yang biasa kau sebut pelangi. Dari namanya saja sudah membuat warna warni yang indah dipikiranku, sudah lama hujan tak datang menemuiku, aku sangat merindukan dia. Sama seperti aku merindukanmu. Apa kau tau? Setiap hujan aku selalu keluar rumah, bukan malah menghindar, tapi biasanya aku malah menghampiri. Aku sering berlari, manari dan berputar-putar dibawah ribuan air yang seakan ditumpahkan awan, air yang terjun bebas tanpa pengaman apapun dan sampai sebesar ini, aku masih suka menari dibawah hujan. Entah kenapa aku suka, hujan-hujan adalah salah satu caraku mencuci semua noda seperti bebanku. Jadi jangan heran, ketika pulang sekolah lalu hujan datang dan kebetulan aku membawa sepedah, aku sering memasukkan tas kedalam jok motor agar aku bebas hujan-hujan ditengah jalan, namun lain jika aku harus menanti bus, kalau basah kuyup mungkin pak kondektur ngomel karna air yang tersisa dibajuku membasahi lantai bus dan menganggu penumpang lain. Namun sekarang hujan tak sempat datang karna bertarung dengan musim kemarau saat ini.
Hujan-hujan ditenggah jalan itu lebih dari menyenangkan, entah apa namanya. Tapi itu hal yang ku tunggu-tunggu. Jika teman-temanku cemas memikirkan "bagaimana caraku pulang? Pulang nanti saja!! Tunggu hujan reda. Bagaimana jika bajuku basah?" tapi kalau aku "pulang ya pulang aja! pulang dulu ah nanti hujan keburu reda!! Hujan-hujan aa.. urusan baju basah nanti bisa dicuci" yaa jauh bukan. Inilah hidupku yang kau bilang lain dengan wanita pada umumnya. Hujan selalu menyimpan tanda tanya. Kadang, hujan bisa juga menjadi jawaban. Dia membisu, datang malu-malu, tanpa isyarat dan kata, tiba-tiba dia mengguyur saja sesukanya, seenak hatinya. Seringkali hujan disalahartikan sebagai pembawa duka, sebagai sebab seseorang mengingat kenangannya, sebagai terdakwa yang menyebabkan seseorang takut akan takdirnya. Hujan buatku adalah penenang.
Jadi ingat kau yang jauh disana, yang tak jarang mengajariku banyak hal, cara tertawa dalam kesedihan, cara menghargai perbedaan, cara dekat untuk selalu akrab dan cara bermimpi walau dalam kemustahilan. Seringkali aku ingin menatap, menyelami sejuk matamu, tercebur dalam hatimu, lalu terpeleset dalam aliran darahmu. Aku sangat ingin menjadi bagian dalam setiap detak jantungmu, aku ingin ikut berhembus saat helaan nafasmu. Tapi, apa semua ingin dan harapku akan menyentuh kenyataan?Inilah yang disebut mimpi, selalu terlalu tinggi.
Tahu-tahu, sosok kau menjadi sangat penting dalam setiap bangun pagi hingga tidur malamku. Sedetik, semenit, sejam, seharian, hanya kau saja yang begitu rajin menghampiri otakku. Aku ragu kalau kau tak punya kerjaan lain selain mengganggu pikiran dan imajinasiku.
Ah, kala itu, sayang, cinta serta rindu tak lagi menjelma menjadi sesuatu yang sederhana, berangsur-angsur tingkatannya berbeda, hingga ia menjelma menjadi dua kata yaitu "luar biasa". Perasaan itu tak lagi sekedar teman biasa, tapi kau berevolusi menjadi lebih dari teman biasa.
Kau tau ini semua tentang AKU, KAU, MATAHARI, HUJAN DAN PELANGI.
Zahrotul Laili
Jumat, 28 Agustus 2015
Dialah Musuhmu Yang Sebenarnya.
Malam hampir menjelang dini hari, langit hitam kelam. Tiada bintang yang bertebaran, atau bulan yang bersinar seutuhnya atau hanya secekung sabit, atau pernak-pernik lainnya di langit yang sunyi. Sangat sunyi terasa, sunyi sekali, tanpa apapun, dimanapun kumemandang.
Fenomena yang masih awam untuk saya katakan, bahkan ungkapan. Namun segelintir besit dari benak selalu ingin berbicara. Hati yang Terliyan “Tersingkir”.
Berdiri didalam putaran dimensi waktu seakan membius semua yang ada didalamnya. Kau ada dalam arti wujud, namun dalam rasa kau ‘tawar’ dan taukah apa yang menjadikan semua itu tawar? yang menjadikannya tawar adalah adanya selubung hati. Lantas apa itu selubung hati?
Selubung hati adalah apa-apa yang kau ingini dalam hal urusan duniawi saja atau nafsu yang selalu mengarah untuk urusan dunia, tak adanya sebuah pengendalian.
Sebuah selubung dengan modus yang seakan menawarkan jasa tanpa mengharapkan imbalan yang selalu setia ada memberikan tanpa diminta malahan dia akan selalu memberikan usulan-usulan. Padahal tidak ada pemberian yang tulus lagi ikhlas kecuali pemberian dariNya. Usul-usul (nafsu) yang tiada habis jika kita turuti (hal duniawi). Dibalik itu semua ternyata dia adalah musuh terbesar yang dalam kesempurnaan penyamarannya, dia menjangkiti hati dengan racun-racun yang dapat membuat pikiran lumpuh dan mudah dikendalikan nafsu. Bahkan bisa mematikan pula. Astagfirullah.
Sebenarnya kita sudah disiapkan kacamata sebagai penawar racun itu, apa itu? Itu adalah ajaran para Rasul dan kita mengakui memakainya. Namun kita mengotorinya dengan sampah, kita mencelupkanya ke dalam lumpur, namun kita merasa kaca mata itu tetap bersih, kinclong. Padahal kita tau apa jadinya jika kacamata tercelup dalam lumpur. Kita masih saja percaya diri memakainya.
Semakin jauh hati yang terbawa deras arus pelik nafsu dunia, semakin hati terperangkap dalam penipuan, terasing dan jauh dari ruhnya. Meski rintihan dan jeritan itu sesekali hadir menyeruak dari hati yang terliyan, namun seakan telinga itu dibuat tuli oleh selubung hati yang telah 'ngoyot' diatas gumpalan daging dalam dada.
Apabila didalam hati sudah ada kejelasan hidup, kejelasan untuk selalu dalam bimbinganNya. Maka hatipun akan memberikan senyum manisnya dan akan selalu menemani dengan tawa meskipun kau ada dalam duri kehidupan yang menguras air mata. Akar selubung hati yang mulai terkikis oleh bersatunya hati dan raga. Mengukir langkah dalam kemantapan dan ketenangan yang mewujudkan kejelasan akan arah tujuan. Tidak ada tujuan lain kecuali DIA yang maha besar lagi tinggi.
Tiada ada keraguan lagi. Kiranya sesekali daftar patokan versi bahagia ala dunia itu menawarkan diri, dengan kemantapan yang kau miliki, kau berkata ”maaf! bukan itu yang saya cari" nah disaat itu mulailah hati yang tawar itu memiliki rasanya kembali, semua kan lebih memiliki arti dan tidak sia-sia. Karena keyakinan penuhmu akan jalan yang kau ambil yaitu jalan yang mengantarkan kepada kebenaran, yang tidak ada kerugian jika kita memilihnya.
Mungkin ada yang berpendapat ”wah kalau kayak gitu berarti datar hidupnya. Jadi gak punya nafsu kan?". Itu salah, taukah bahwa pembebasan hati yang terliyan itu sesungguhnya kita seperti berada dalam permainan dengan full ritme bak seismograf, hehe.. sedikit gaya bahasa saya. Nah ritme yang cepat seismograf yaitu gejolak yang menantang yang mengajak kita untuk bertarung. Ya, disitu tidak hanya tenaga dan pikiran yang kita kerahkan. Semua itu seakan pertaruhan nyawa sebagai ganti kemenangan akhir. Sungguh luar biasa bukan?!
Tidak berhenti disitu saja, setelah menang kitapun ditutut untuk memepertahankan kemenangan itu. Seakan perjuangan tanpa akhir yang dilakuakan dan tidakkah kau rasakan nikmat tantangan itu semua. ”pengendalian nafsu itulah arti sebuah kenikmatan hidup”. Sesungguhnya musuh yang paling sulit ditaklukkan dihidup yang singkat ini adalah "hawa nafsu kita sendiri". Semoga kita selalu dalam bimbinganNya sampai dibatas waktu. Amiin..
Salam dariku, untukmu yang jauh disana..
Selasa, 18 Agustus 2015
Untukmu Yang Namanya Masih Terapal Dalam Doa
Hey, sedang apa malam ini kau disana?
Ku bayangkan dirimu sedang berkutat dengan kegiatan malam, melakukan kewajibanmu sampai larut malam, karena waktu siangmu yang entah kau gunakan untuk apa. Aku tak tau, mungkin sekarang kau sedang bercengkrama dengan teman seperjuangan. Bercerita tentang banyak hal tentang kegiatanmu dalam 24 jam. Bayanganku terbang lagi, Ingin sekali aku duduk disampingmmu, menemanimu berharap sesekali kau butuh hiburan aku akan sangat terbuka untuk melakukannya. Karena kau tau? Aku hampir buta dengan semua yang kau kerjakan. Akan aku pandangi raut wajahmu yang sedang serius menatap lurus kedepan layar atau menatap buku dengan raut wajah yang fokus, sampai kau risih dengan tatapanku dan memilih membalas tatapan mata yang sama. Apa kau tau? Kau mungkin tampak lebih gagah saat sedang serius seperti itu? Ingin rasannya aku membisik di telingamu bahwa aku sangat bahagia.
Aku yang suka memanggilmu dengan sebutan yang tak pernah menetap, namun kau harus tau bahwa itu adalah panggilan sayang dariku. Setiap malam aku selalu berdoa, akan tiba waktunya kita di pertemukan dengan cara yang indah. Aku memikirkan bagaimana pertemuan kita nanti, apakah lucu, romantis, atau seperti kucing dan anjing yang berebut makan siang karna aku dan kau yang sudah terbiasa dengan kata2 kasar bukti sayang antara kau dan aku yang tanpa satir sama sekali. Aku ingin selalu melibatkan namamu dalam setiap bisikan mesraku terhadap Tuhan. Karena kau tau? Aku sangat mengharapkan waktu itu terjadi nyata.
Bukankah kenyataan itu lebih indah?
Ingin rasanya mendengar berbagai cerita tentang keseharianmu, yang membuat kau hampir tak mampu menampungnya. Akan ku sandarkan kepalaku di pundakmu memasang telinga siap mendengar semua keluh kesahmu. Aku senang mendengar kisah darimu, meskipun itu bukan tentang kita. Karena disitulah aku merasa dekat dan serasa sudah tak ada jarak di antara kita. Dan aku akan sangat terbuka mengungkapkan semua perasaanku betapa bahagianya aku bisa berdampingan denganmu, memilikimu dan aku ingin waktu itu tidak akan berakhir walau sedetikpun. Suatu saat nanti.
Mungkin aku bukanlah perempuan yang sempurna dan anggun, seperti yang kau dambakan. Di luar sana masih banyak perempuan yang jauh lebih cantik dariku. Yang pintar memulaskan pewarna wajah tanpa harus canggung tampil di depanmu. Aku pernah mendengar bahwa kau mendambakan perempuan anggun berhijab? Apa aku harus melakukannya? Aku memang berhijab namun terkadang aku masih belum sempurna. Mungkin kau juga tau. Aku hanyalah perempuan biasa yang kelakuannya terkadang tak layak disebut perempuan. Namun sekarang aku akan berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Sifatku yang terkadang masih kekanak-kanakan, mokong, rese dan membuat orang yang didekatku harus menutup telinga karena suara dari mulutku yang tak bisa diam. Aku hanyalah perempuan yang tingkat kecerdasannya biasa saja. Tak ada keanggunan saat aku melangkah, kebiasaan-kebiasaaan burukku. Pelupa dan masih banyak lagi.
Aku tak menuntutmu berbagai hal, sebab aku harus banyak berkaca untuk sadar, aku yang seperti ini apa bisa membahagiakanmu kelak? Jika kau mencari yang lebih dariku kau juga bisa. Namun kau berkata tak pernah sedikitpun hal itu hinggap difikiranmu. Aku juga tak dapat menjadikanmu raja di muka bumi, namun kupastikan kau akan jadi raja didalam rumahmu kelak.
Aku hanya bisa melamun untuk saat ini, membayangkan nama yang ku pikirkan dapat menjadi nyata disuatu saat nanti. Selamat malam untukmu yang disana..
Berkali-kali ku bilang..
Penantian yang paling menyenangkan adalah apa-apa darimu, menunggu yang paling tidak membosankan adalah menunggumu. Lamunanku saat ini tentangmu, jadi ku ceritakan apa yang kurasakan. Semua ini berawal dari kau yang bukan siapa siapa berubah menjadi orang yang selalu kupikirkan...
Semoga Alloh selalu dihatimu.
Menjagamu untukku..
Zahrotul Laili
Kamis, 13 Agustus 2015
MOooKONG.....
Malam ini tak beda dengan malam sebelumnya. Ya malam ini masih dengan bentangan kain hitam yang sama, namun biji wijen diatasnya serasa sedikit berkurang, mungkin karna mendung mencoba menghalangi mata ini untuk mencari edaran wijen diatas sana yang biasa membentuk sepenggal senyummu yang khas. Aku paling suka keluar rumah jika orang yang biasa ku panggil 'mbah yakub' merapikan dan memotong kayu bakar yang sore tadi dikumpulkan. Satu persatu disusun menyerupai piramida. Aku merasa aman keluar rumah jika ada orang. Aku memang bukanlah perempuan yang punya banyak nyali untuk sendiri didalam pekatnya malam.
Berdiam diri diteras rumah, duduk diatas kursi lusuh yang sudah lama bermukim diteras ini, kayunya yang seakan menyatu dengan tanah mulai rapuh karna dimakan usia. Pekatnya malam ini membawa serta lamunanku pergi ke masa kecilku yang mokong, ingat bagaimana dulu caraku pulang ke rumah sehabis 'ngaji' dari mushola itu. Padahal jaraknya tak terlalu jauh dari rumahku, namun terasa menyeramkan gelap dan melelehkan keberanianku. Biasanya dari jarak yang cukup dekat aku teriak dengan suaraku yang tiada merdu sama sekali "mak'e...... Sawang.... Mak'e parani.." aku teriak tanpa perduli tetanggaku terganggu atau tidak, biasanya aku terus melakukan hal itu sampai ma'ku menjawab. Ya, serasa hanya aku dan mak'ku saja yang mendengar. Aku begitu penakut, aku paling tidak berani jika berhadapan dengan sunyi, sepi maupun gelap.
Biasanya teriakan-teriakan histerisku akan berakhir jika telah kudengar suara mak'ku dibalik pintu yang selalu dapat menenangkan hatiku. Kulihat wajah yang tidak asing memperlihatkan auranya, walau hanya berdiri didepan pintu, aku bak menemukan mentari disana. Wajah yang ketika ku pandang selalu kutemukan ketenangan, keteduhan, dan jalan yang seakan penuh lampu.
Aku masih saja ingat, setiap kali aku asyik bermain dengan teman sebayaku, rasanya aku tak ingin pulang, seakan tak mau keasyikan itu berakhir, jadi aku selalu beralasan menunggu adzan isya' jika mak'ku datang mencoba membujukku, padahal dia tau membujukku adalah hal yang sia-sia karna dasar keras kepala. Dengan bahasanya yang khas dia selalu menakutiku "ojo celuk-celuk lo yo.., mak'e ape muleh, ape turu. Rausa jerit-jerit, nek ra pengen wewe tangi. Jo lali senengane wewe kui bocah mokong!" lalu dia mulai beranjak pulang pelan-pelan hilang dimakan pekatnya malam. Kau tau apa itu 'wewe'? Dia adalah sebangsa mahluk halus atau hantu, yang katanya suka dengan 'bocah mokong', didalam imajinasiku dia adalah perempuan tua dengan karung sak yang digunakan untuk menangkap bocah mokong sepertiku, konon dia mati karna lelah dengan anaknya yang nakal dan mokong hingga dia jadi 'weden' untuk mencari anaknya, cerita yang menyeramkan untuk bocah penakut sepertiku. Itu menurut cerita mak'ku karna sampai sebesar ini tak pernah kujumpai mahluk semacam itu. Dan sepertinya kata-kata mak'ku tadi sedikit membuatku takut, namun semua itu tidak merobohkan keasyikanku bermain dan aku masih tetap tidak mau pulang, dasar anak kecil.
Biasanya selesai jama'ah sholat isya' semua jama'ah saling berpamitan pulang termasuk aku. Tapi kini aku merasa malam menertawakanku karna aku yang tadi 'ngeyel' tak mau pulang sekarang malah tak berani pulang. Nyata omongan mak'ku tadi berhasil membuatku tertawan ditempat ini. Rasanya ingin cepat pulang namun aku juga tak berani berteriak karna aku teringat omongan mak'ku tadi.
Jadi dengan terpaksa aku putuskan untuk tidur dirumah orang yang sering ku panggil 'mbah uti'. Rumahnya hanya berjarak beberapa langkah dari mushola. Aku datang mendekatinya dan bercerita, lagi-lagi aku tak berani pulang. Dengan senang hati beliau mengajakku berbaring disampingnya, menjadikan tangan kanannya sebagai bantal. Lalu aku berpura-pura memejamkan mata berharap mak' mencariku lagi namun ternyata pejaman mata itu membuatku tak sadar karna terbawa oleh merdunya tembung penghantar tidur yang dilantunkan mbah utiku, rambutku juga dibiarkan terurai dan tangan kirinya mulai menari diatasnya membuat aku terjun ke alam mimpi. Tak jarang, ketika aku bangun aku selalu mendapati ragaku tak berada di bilik sempit milik mbahku. Karna tiba-tiba aku sudah berada dikamar ditemani guling yang biasa tersiksa dengan gaya tidurku.
Ya, aku selalu tertawa sediri saat aku ingat. Betapa mokongnya aku, betapa mak'ku mengerti perasaanku yang tak pernah mau jauh dari raganya yang melegakan segala kesempitan didada. Aku yang jauh dari kata berbakti saja masih merasa menjadi Putri Raja saat bersamanya. Ya Alloh Gusti, air mata serasa ingin terjun bebas dipipi menciptakan sungai kecil di mataku, saat aku sadar beliau tak lagi disini.
Pernah aku berharap agar kehadirannya selalu diselebungi dengan selimut keabadian, karna ketenangan selalu ku temui saat aku memandang wajahnya, ada dipeluknya dan berada disampingnya membuatku mampu berjalan didalam pekatnya malam. Namun lagi-lagi aku tersadar "apapun yang bernyawa akan merasakan mati". Tidak ada yang abadi kecuali dzat yang maha Abadi, maha Kekal, maha Awal dan maha Akhir. Kini semua berubah, setelah mak'ku pergi meninggkan aku untuk yang pertama kali dan tak akan kembali selamanya. Setelah beliau berjalan menuju keabadian yang sebenarnya aku menemukan ketenangan yang baru. Ya, ketenangan yang sebenarnya, yaitu jika aku mengingat segala kuasa-Nya, segala keadilan-Nya, segala takdir-Nya yang pasti tidak pernah salah. Aku menemukan ketenangan lahir maupun batin, aku menemukan ketrentaman jiwa saat mengingat tentang kebesaran-Nya. Aku baru sadar, semua yang terjadi karna Alloh mencintaiku.
Hemm.. Jujur mengingat masa kecilku membuatku lupa akan ruwetnya masa dewasa. Aku kembali menatap langit dan sepertinya mendung telah berpamitan. Membuat kain hitam lebar itu dipenuhi dengan biji wijen dan lagi-lagi aku menemui edaran wijen itu yang membentuk senyum khas diwajahmu. Namun sepertinya 'mbah yakub' telah rampung dengan pekerjaannya, dia beranjak masuk kerumah karna mungkin nyamuk mulai menjadikan tubuhnya santapan makan malam. Jika beliau mulai masuk itu juga menjadi tanda malam telah larut, dan saatnya aku juga beranjak dari kursi ini, mengkondisikan diriku, menghindari udara dingin yang mulai merambat masuk kedalam tulang.
Zahrotul Laili
Senin, 10 Agustus 2015
Mimpiku Bersamamu.
Tenggelamnya matahari sore ini seakan tanda dia selesai dengan tugasnya menemaniku. Matahari seolah pamit pergi dan ternyata kamu juga ikut pamit untuk menyelesaikan tugasmu. Aku masih mengingat apa yang tadi sore kau buat, untaian bait yang seakan-akan hidupnya ragaku dihatimu itu begitu nyata. Apa kau tau? Matahari hari ini seakan bergandengan tangan denganmu, ya seperti bangkit bersama untuk berpamitan denganku.
Baru sekali aku menemuimu secara langsung dan pribadi, aku merasa itu kali pertama orang yang sering disebut memiliki karakter seperti 'Sasuke' di film Naruto dan ternyata sosok itu nyata ada didepanku tanpa perlu sekatan sejenis layar. Wajahmu memang cocok di sebut lelaki tercuek, namun hatimu tidak. Kau rela datang menemuiku dan membawa pesananku. Kau bergurau seakan ingin "pinarak" saat itu benar-benar ku tawarkan seporsi lontong untukmu tapi kau malah 'ngeyel'. Akhirnya Setelah hal itu berlalu aku menjanjikan untuk membelikan dan menemanimu untuk menyantap potongan lontong yang diguyur sambel kacang kecap diatasnya. Menemani yang terkasih itu adalah hal yang sangat ku tunggu-tunggu. Aku ingin melihatmu dengan lahap menyantap seporsi lontong yang tiada spesial itu, tapi aku berharap lontong itu bisa spesial karna ada aku disampingmu.
Kadang aku bertanya-tanya kenapa dalam sehari hanya ada 24 jam, kenapa secepat itu? Yaa.. Pertanyaan itu muncul ketika aku merasa bahagia berguling diatas 24 jam terakhir. Tapi terkadang aku juga bertanya-tanya kenapa dalam sehari ada 24 jam, itu terlalu lama! Pertanyaan itu muncul Jika dalam 24 jam terakhir aku merasa seperti satu-satunya perempuan yang paling menderita. Aku sadar labilnya sikap ini terasa melekat kuat didalam keseharianku. Namun, bahagia atau tidaknya hariku ternyata aku sendiri yang menentukan. Aku seperti mengidap sakit gila nomer 16, yakni perempuan yang membuat dunia sendiri dalam kepalanku, menciptakan masalah-masalahku sendiri, terpuruk didalamnya lalu menyelesaikan masalah-masalah itu sambil tertawa-tawa juga sendirian. Selalu menumpuk ungkapan orang lain tentang diriku dan cibiran orang lain yang menghujamku. Aduh.. Seakan itu sakit yang kualami sendiri. Namun semua berubah setelah orang yang selalu memanggilku dengan sebutan 'mamih' &'kowe' mengajariku bahwa tak semua cibiran orang kepadaku itu adalah ungkapan rasa benci, kadang mungkin biasa kau sebut 'pisuhan'. Seperti sikap yang kita tunjukkan selama ini. Kau tau? Ini adalah kali pertamaku mendapati sosok sepertimu.
Aku tak heran bila orang lain menyebut kau berkarakter seperti 'Sasuke' sebab semakin aku bertambah dewasa, semakin banyak kutemui spesies manusia yang berbeda bahkan banyak diantara mereka yang menggunakan mata telanjang untuk menilai orang lain. Ya, hanya menilai dari apa yang mereka lihat, tapi maklumlah tak semua manusia dapat melihat seseorang langsung dari dalam tanpa mengenal terlebih dahulu "Tak kenal, maka tak sayang" dan itu memang benar adanya.
Coba pergi keluar, lihatlah ribuan bintang yang menghiasi bentangan kain hitam. Dan jika kau meneliti edaran ribuan bintang itu dapat menjadi ukiran tawa di wajahmu yang khas itu, dari sana juga aku bisa melihatmu tertawa saat bercanda denganku, kau percaya dengan bayangan kan? Dia seolah ada namun sebenarnya dia tidak pernah nyata. Kau tau? Engkau adalah anugrah juga dari Penciptaku, kau juga salah satu yang terindah.
Apa kau juga tau? Melihat bintang malam ini membuatku teringat pada lontong yang kujanjikan untukmu dan yang baru kemarin malam ku mimpikan lalu membuatku terbangun. Aku lanjutkan tidurku dan berharap ku temui tawamu disela-sela mimpi. Namun kau tak mau melanjutkan mimpi yang terputus kemarin malam. Membuatku sedikit kecewa. Ah.. Membahas pasal lontong tiba-tiba perutku meraung-raung bak singa lapar, tapi ini sudah lewat jam makan perempuan yang masih prawan, kau tau efeknya kan. Baiklah, aku ingin meneguk segelas air dulu untuk mengguyur singa yang ada diperutku yang sedang meraung mencengkram setiap sisi perut ini, itu cukup membuat singa itu tenang dan cukup membuatku nyaman untuk berenang diatas pulau kapuk yang biasa ku arungi untuk berjumpa denganmu dalam mimpi. Selamat malam..
Zahrotul Laili
Jumat, 07 Agustus 2015
Kau!
Kecewa? Ku pikir-pikir percuma, untuk apa kecewa, apa kecewaku dapat membuat semua kembali seperti sebelumnya? apa akan ada ada yang berubah? Ku kira tidak. Yaa.. Sedikit berat jika aku memutuskan pergi namun aku masih ingat apa yang kau ucapkan, tak pernah sedikitpun aku melupakan semua itu. Kau tau? Semua hal yang pernah kau ucapkan padaku, masih ada disini, yaa disini, dipikiran serta hatiku.
Ini semua masih saja tentangmu, aku sudah menolak berkali-kali jika pikiranku mengajakku mengingat tentangmu lagi, namun seakan kata-katamu itu dapat membuat aku yakin kembali dan jika aku mulai berpaling tiba-tiba kamu datang, membawa sebongkah harapan yang dapat melambungkan hatiku. Sedikitpun aku tak pernah meragukan apa yang kau ucapkan, hingga tiba saat kau pergi setelah kau lambungkan hatiku, membuatku jatuh dan sakit. Tapi aku sadar, aku yang jatuh cinta, bukan dirimu. Aku yang merasa dilambungkan bukan kau yang dengan sengaja melambungkanku.
Kau bahkan ibarat balon hijau, ya, membuat hatiku amat kacau. Aku sering lupa akan posisiku dihatimu. Kau hanya segan padaku, bukan kau mencintaiku atau selebihnya. Entah bagaimana caramu meletakkan namamu hingga sulit aku sapu dan kubersihkan. Jika kau meletakkan namamu dengan lem, mungkin lem itu sudah membeku lalu mengeras. Tapi aku sadar itu hanya lem dia tidak akan menyatu dengan segumpal daging didalam tubuhku ini.
Aku ingin menjerit, tapi untuk apa? Mungkin hanya orang sekitarku saja yang mendengar luapan amarahku dengan jeritan yang tidak jelas, sedang kau yang membuatku menjerit malah jauh entah dimana, yang ku tau kau masih diatas tanah, bukan didalamnya. Yang kurasa kau hanya bayangan yang setiap malam hadir untuk menengok keadaanku tanpa pernah kusadari. Aku ingin melampiaskan amarahku tapi untuk apa? Apa bisa membuat semua kembali? Kau tau itu mustahil. Kau itu orang yang berbeda, kau seakan tak punya tali kepekaan dalam dirimu, atau jika kau punya mungkin tali itu sudah terputus darimu dan membuatku sulit sekali meluapkan amarah yang dengan tak sadar kau membuatnya.
Aku hanya bisa menulis di sosial media, berharap kau membacanya dan kau peka, aku masih saja melakukan hal itu meskipun kutau itu sia-sia, namun setidaknya hal itu dapat mewakili ungkapan hatiku yang seharusnya khusus kau dengar dan kau baca. Yaa.. Aku juga sadar, yang ku kirim selama ini hanya do'a, jika tak ada pesan satu pun darimu masuk keponselku. Aku tak berani mengawalinya karna itu terlalu berlebihan menurutku, membaca ulang pesan singkatmu, itu yang bisa kulakukan, seperti tak ada pekerjaan, niatku hanya untuk mengurangi rasa rindu tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dan hal bodoh itu masih aku lakukan sampai saat ini. Tak ada yang bisa aku proteskan padamu, kau mungkin terlalu acuh, dan mungkin kau samakan aku dengan perempuan lain yang senangtiasa mengharapkanmu.
Aku merasa menggenggam harapan kosong yang sering kau berikan padaku, harapan yang mungkin biasa kau berikan pada perempuan lain selain aku. Ku kira kau berbeda dengan lelaki yang lain. Tapi nyatanya Kau juga mampu merobohkan istana yang sengaja ku buat untuk menyambutmu. Emmhm.. Tapi tak apa, aku tak akan menyalahkanmu tentang hal ini, aku juga tak akan memberitaumu tentang rasa kecewaku ini. Pergilah, sambut cinta yang sudah kau pastikan hinggap diseluruh hari-hari kedepanmu, larilah.. Lari. Mungkin dengan berjalannya waktu aku bisa menghapus harapan harapan kosong yang pernah kau ucapkan padaku. Sementara ini cukup do'a untuk kebahagiaanmu dan kebagaiaanku. Karna aku tau dan percaya, jika Tuhanmu membuatmu bahagia bersama pilihanNya maka Tuhanku pun akan membuatku bahagia dengan takdirNya.
Zahrotul Laili
Langganan:
Komentar (Atom)
Tidak Mengetauhi Apa-apa
Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...
-
Menyanyangi itu kamu. Mencintai. Titik. Tanpa koma. Tak perlu penjelasan. Karena kau sudah tahu tanpa perlu bertanya lagi. Dan tanpa aku ...
-
Pintaku, jangan dulu berjanji. Jangan dulu mengucap janji yang sulit ditepati, seperti janji untuk tidak saling menyakiti. Karena mungkin ...
-
Sebongkah hati tlah berlari terlalu jauh. Jauh meninggalkan tembok runtuh itu dalam kehidupannya. Terlalu jauh ia berlari hingga akhirnya...





