Senin, 31 Agustus 2015

KITA, Matahari, Hujan dan Pelangi.


Seperti pagi yang membawa matahari kembali tersenyum, menuju siang meninggalkan embun. Entah kepada siapa aku utarakan rasa yang membuatku sempoyongan saat mengingatmu. Seseorang yang biasa hadir walau sekedar lewat pesan dan hadir lewat bait demi bait. Tapi itu lebih berarti mengingat perihnya menelan kesendirian.
        Belajar dari matahari, dia tak pernah sedikitpun berlaku tidak adil pada jagat raya, kecuali satir yang menutup hal itu sendiri. Dia memberi cahaya, bahkan lubang-lubang kecil dapat dia masuki. dapat dengan mudah  ia menembus kaca, dapat pula dia menghangatkan jiwa. Bahkan pada jiwa yang menutup diri yang sedang berusaha untuk menyendiri. Begitu juga sebongkah rasa sayang. Dia hadir layaknya mentari yang menawarkan beribu-ribu keajaiban, yang dingin jadi hangat, yang gelap jadi terang dan yang beku jadi mencair, apa salahnya aku menjadi mentari pagi untukmu, boleh kan? Oke, tak usah kau jawab aku sudah mengerti kata apa yang akan kau lontarkan.
        Kau sering memanggilku bunga, entah apa yang mirip antara aku dengan bunga. Atau mungkin namaku yang membuatmu terobsesi untuk memanggilku dengan sebutan itu, jika aku bunga, kau juga tau kan? Bunga itu mahluk hidup, dia juga memerlukan matahari untuk mempercantik dia, jadi.. Apa aku salah memintamu untuk jadi mentari pagiku?
          Pikirkanku sering melayang, membawaku mengarungi samudra dengan lepas. Kau hanya seorang pria, sederhana saja. Senyummu menyimpan banyak tanda tanya, tatapanmu mengganggu laju kerja otak, dan gerak-gerikmu memaksaku agar tidak melewati setiap inci perpindah kakimu. Lalu, semua terjadi begitu saja. Saat sapa lembutmu menjaring nyata menyentuh gendang telinga, saat percakapan kecil yang tercipta berubah menjadi deretan narasi nyata, aku dan kau, mengalir begitu saja, seperti curah lembut hujan yang jatuh ke permukaan. Sederhana sekali, cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.
          Hujan? Entah kenapa menyebut kata itu timbul rasa rindu dihati, pada ribuan tetes air yang jatuh membasahi bumi tempat kakimu dan kakiku menapak meninggalkan jejak. Membahas pasal hujan aku tak melupakn matahari, karna setelah hujan reda pasti akan muncul matahari, maka akan tercipta tarikan warna yang biasa kau sebut pelangi. Dari namanya saja sudah membuat warna warni yang indah dipikiranku, sudah lama hujan tak datang menemuiku, aku sangat merindukan dia. Sama seperti aku merindukanmu. Apa kau tau? Setiap hujan aku selalu keluar rumah, bukan malah menghindar, tapi biasanya aku malah menghampiri. Aku sering berlari, manari dan berputar-putar dibawah ribuan air yang seakan ditumpahkan awan, air yang terjun bebas tanpa pengaman apapun dan sampai sebesar ini, aku masih suka menari dibawah hujan. Entah kenapa aku suka, hujan-hujan adalah salah satu caraku mencuci semua noda seperti bebanku. Jadi jangan heran, ketika pulang sekolah lalu hujan datang dan kebetulan aku membawa sepedah, aku sering memasukkan tas kedalam jok motor agar aku bebas hujan-hujan ditengah jalan, namun lain jika aku harus menanti bus, kalau basah kuyup mungkin pak kondektur ngomel karna air yang tersisa dibajuku membasahi lantai bus dan menganggu penumpang lain. Namun sekarang hujan tak sempat datang karna bertarung dengan musim kemarau saat ini.
         Hujan-hujan ditenggah jalan itu lebih dari menyenangkan, entah apa namanya. Tapi itu hal yang ku tunggu-tunggu. Jika teman-temanku cemas memikirkan "bagaimana caraku pulang? Pulang nanti saja!! Tunggu hujan reda. Bagaimana jika bajuku basah?" tapi kalau aku "pulang ya pulang aja! pulang dulu ah nanti hujan keburu reda!! Hujan-hujan aa.. urusan baju basah nanti bisa dicuci" yaa jauh bukan. Inilah hidupku yang kau bilang lain dengan wanita pada umumnya. Hujan selalu menyimpan tanda tanya. Kadang, hujan bisa juga menjadi jawaban. Dia membisu, datang malu-malu, tanpa isyarat dan kata, tiba-tiba dia mengguyur saja sesukanya, seenak hatinya. Seringkali hujan disalahartikan sebagai pembawa duka, sebagai sebab seseorang mengingat kenangannya, sebagai terdakwa yang menyebabkan seseorang takut akan takdirnya. Hujan buatku adalah penenang.
       Jadi ingat kau yang jauh disana, yang tak jarang mengajariku banyak hal, cara tertawa dalam kesedihan, cara menghargai perbedaan, cara dekat untuk selalu akrab dan cara bermimpi walau dalam kemustahilan. Seringkali aku ingin menatap, menyelami sejuk matamu, tercebur dalam hatimu, lalu terpeleset dalam aliran darahmu. Aku sangat ingin menjadi bagian dalam setiap detak jantungmu, aku ingin ikut berhembus saat helaan nafasmu. Tapi, apa semua ingin dan harapku akan menyentuh kenyataan?Inilah yang disebut mimpi, selalu terlalu tinggi.
         Tahu-tahu, sosok kau menjadi sangat penting dalam setiap bangun pagi hingga tidur malamku. Sedetik, semenit, sejam, seharian, hanya kau saja yang begitu rajin menghampiri otakku. Aku ragu kalau kau tak punya kerjaan lain selain mengganggu pikiran dan imajinasiku.
           Ah, kala itu, sayang, cinta serta rindu tak lagi menjelma menjadi sesuatu yang sederhana, berangsur-angsur tingkatannya berbeda, hingga ia menjelma menjadi dua kata yaitu "luar biasa". Perasaan itu tak lagi sekedar teman biasa, tapi kau berevolusi menjadi lebih dari teman biasa.

Kau tau ini semua tentang AKU, KAU, MATAHARI, HUJAN DAN PELANGI.

Zahrotul Laili

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...