Jumat, 28 Agustus 2015

Dialah Musuhmu Yang Sebenarnya.



Malam hampir menjelang dini hari, langit hitam kelam. Tiada bintang yang bertebaran, atau bulan yang bersinar seutuhnya atau hanya secekung sabit, atau pernak-pernik lainnya di langit yang sunyi. Sangat sunyi terasa, sunyi sekali, tanpa apapun, dimanapun kumemandang.
    Fenomena yang masih awam untuk saya katakan, bahkan ungkapan. Namun segelintir besit dari benak selalu ingin berbicara. Hati yang Terliyan “Tersingkir”.
Berdiri didalam putaran dimensi waktu seakan membius semua yang ada didalamnya. Kau ada dalam arti wujud, namun dalam rasa kau ‘tawar’ dan taukah apa yang menjadikan semua itu tawar? yang menjadikannya tawar adalah adanya selubung hati. Lantas apa itu selubung hati?
        Selubung hati adalah apa-apa yang kau ingini dalam hal urusan duniawi saja atau nafsu yang selalu mengarah untuk urusan dunia, tak adanya sebuah pengendalian.
Sebuah selubung dengan modus yang seakan menawarkan jasa tanpa mengharapkan imbalan yang selalu setia ada memberikan tanpa diminta malahan dia akan selalu memberikan usulan-usulan. Padahal tidak ada pemberian yang tulus lagi ikhlas kecuali pemberian dariNya. Usul-usul (nafsu) yang tiada habis jika kita turuti (hal duniawi). Dibalik itu semua ternyata dia adalah musuh terbesar yang dalam kesempurnaan penyamarannya, dia menjangkiti hati dengan racun-racun yang dapat membuat pikiran lumpuh dan mudah dikendalikan nafsu. Bahkan bisa mematikan pula. Astagfirullah.
         Sebenarnya kita sudah disiapkan kacamata sebagai penawar racun itu, apa itu? Itu adalah ajaran para Rasul dan kita mengakui memakainya. Namun kita mengotorinya dengan sampah, kita mencelupkanya ke dalam lumpur, namun kita merasa kaca mata itu tetap bersih, kinclong. Padahal kita tau apa jadinya jika kacamata tercelup dalam lumpur. Kita masih saja percaya diri memakainya.
         Semakin jauh hati yang terbawa deras arus pelik nafsu dunia, semakin hati terperangkap dalam penipuan, terasing dan jauh dari ruhnya. Meski rintihan dan jeritan itu sesekali hadir menyeruak dari hati yang terliyan, namun seakan telinga itu dibuat tuli oleh selubung hati yang telah 'ngoyot' diatas gumpalan daging dalam dada.
        Apabila didalam hati sudah ada kejelasan hidup, kejelasan untuk selalu dalam bimbinganNya. Maka hatipun akan memberikan senyum manisnya dan akan selalu menemani dengan tawa meskipun kau ada dalam duri kehidupan yang menguras air mata. Akar selubung hati yang mulai terkikis oleh bersatunya hati dan raga. Mengukir langkah dalam kemantapan dan ketenangan yang mewujudkan kejelasan akan arah tujuan. Tidak ada tujuan lain kecuali DIA yang maha besar lagi tinggi.
        Tiada ada keraguan lagi. Kiranya sesekali daftar patokan versi bahagia ala dunia itu menawarkan diri, dengan kemantapan yang kau miliki, kau berkata ”maaf! bukan itu yang saya cari" nah disaat itu mulailah hati yang tawar itu memiliki rasanya kembali, semua kan lebih memiliki arti dan tidak sia-sia. Karena keyakinan penuhmu akan jalan yang kau ambil yaitu jalan yang mengantarkan kepada kebenaran, yang tidak ada kerugian jika kita memilihnya.
         Mungkin ada yang berpendapat ”wah kalau kayak gitu berarti datar hidupnya. Jadi gak punya nafsu kan?". Itu salah, taukah bahwa pembebasan hati yang terliyan itu sesungguhnya kita seperti berada dalam permainan dengan full ritme bak seismograf, hehe.. sedikit gaya bahasa saya. Nah ritme yang cepat seismograf yaitu gejolak yang menantang yang mengajak kita untuk bertarung. Ya, disitu tidak hanya tenaga dan pikiran yang kita kerahkan. Semua itu seakan pertaruhan nyawa sebagai ganti kemenangan akhir. Sungguh luar biasa bukan?!
        Tidak berhenti disitu saja, setelah menang kitapun ditutut untuk memepertahankan kemenangan itu. Seakan perjuangan tanpa akhir yang dilakuakan dan tidakkah kau rasakan nikmat tantangan itu semua. ”pengendalian nafsu itulah arti sebuah kenikmatan hidup”. Sesungguhnya musuh yang paling sulit ditaklukkan dihidup yang singkat ini adalah "hawa nafsu kita sendiri". Semoga kita selalu dalam bimbinganNya sampai dibatas waktu. Amiin..

Salam dariku, untukmu yang jauh disana..

1 komentar:

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...