Jumat, 29 Januari 2016

Maaf, Aku Tak Mengizinkanmu Pergi.


Menyanyangi itu kamu. Mencintai. Titik. Tanpa koma. Tak perlu penjelasan. Karena kau sudah tahu tanpa perlu bertanya lagi. Dan tanpa aku harus repot-repot bercerita, aku yakin kau sudah mengerti. Sudah sejak dulu, “Dulu” yang rasanya bagaikan sekejap mata. Tak perlulah aku bertindak bodoh memasang fotomu di setiap sudut ruangku, di dinding kamarku, seperti yang dilakukan para pencinta-pencinta lain. Itu terlalu biasa. Sedang aku mencintamu dengan cara yang tak biasa. Mencintaimu dengan caraku tak akan membuatku melupakan wajahmu.

Maka tersenyumlah dengan senyum yang tak terganti, yang ku yakin tak bisa kutemukan di wajah manapun sampai aku mati. Mencintalah dengan cinta yang mengobati, yang cahayanya memancar sampai ke surga abadi. Seperti aku mencintai segala ketidaksempurnaanmu dalam segala ketidaksempurnaanku. Dan aku masih melihatmu berdiri di situ. Diam. Tak beranjak. Setegar batu karang. Setemaram cahaya bulan.
Ingin kujamah pagi agar embunnya tak bisa menghalangimu untuk selalu terjaga, untuk menemui-Nya. Ingin kutaklukkan siang agar nyala mentarinya tak membakar kulitmu. Ingin kupotong senja untukmu. Lihatlah warnanya, secerah wajahmu saat menatapku. Ingin kulukis malam dan kupaksa ia bernyanyi demi mengantarmu lelap tertidur.

Maka ingatkah kau pada suatu masa di mana kita menciptakan jarak dengan sengaja? Jarak yang pada akhirnya runtuh dalam ketidakmampuan kita membendung lautan rindu. Dan ingatkan kau pada masa di mana kita saling diam dan tak hendak saling bicara, tak memberi kabar, bahkan sekedar pesan? Kau ingat saat itu? Diam itu selalu ku tahan, namun selalu sirna entah kemana, bergantikan derai tawa yang kita sendiri tak bisa ukur frekuensinya.

Tengah malam. Gelap, dingin tak kurasa. Kau ada entah dimana, mungkin kau tengah melalangbuana. Tapi kuyakin kau masih ada, dan akan selalu kembali. Sungguh kau tak sebodoh itu untuk lupa jalan pulang. Maka di sinilah rumahmu. Di sinilah tempatmu pulang dengan wajah letih, dengan langkah tertatih. Dan aku akan bergembira menyambutmu. Selalu. Di depan pintu ini, pintu kita berdua. Yang mungkin usang dimakan masa, namun tak lekang oleh waktu.

Dan di sinilah kau bersemayam. Di hati yang terdalam, selamanya akan tetap di situ. Membeku dalam dekap syahdu. Maka di sinilah aku terdiam. Mengkristalkanmu dalam ruang memoriku. Dan kenangan itu akan selalu ada di sini. Kau tak bisa mengambilnya, sungguh itu bukan hakmu. Tapi kau bisa menengoknya kapanpun kau mau. Belasan untuk beberapa tahun lagi, waktu akan mendewasakan kita. Mempertemukan dua belah jiwa yang sudah begitu lama saling merindu. Saling mencari. Bertemu dan berpisah berkali-kali dan entah berapa kali lagi. Dan sosokmu tak pernah berhenti memenuhi sanubari. Dulu, hingga sekarang, dan untuk selamanya. Terimakasih sudah disini, aku sadar aku gadis yang sering menjengkelkanmu, bahkan bisa membuatmu kesal hingga akhirnya omelanmu yang selalu ku rindu kembali terbaca oleh kornea mataku. Meskipun aku gadis seperti itu, tapi maaf aku tak mengizinkanmu pergi. ☺


®|_

Rabu, 27 Januari 2016

Say "Thanks, God"


Terkadang tak peduli seberapa berat masalah yang sedang kau pikul, seberapa sulit masalah yang sedang kau jalani, serumit apapun itu, rasa syukur tetap harus selalu mengiringi tiap langkah kemanapun kita pergi. karena kau harus percaya, bahwa rasa syukur dapat menambah kekuatan yang tersembunyi dalam diri kita.

Kita masih saja terus berpikir, masih terus saja membayangkan jika kopi dalam cangkir orang lain itu lebih nikmat. Namun kita tidak tau jika pemilik cangkir itu pun sama, berfikir bahwa kopi dalam cangkir kita lebih nikmat dari miliknya. Hakikatnya, rasa cukup dan Syukurlah yang harus kita prioritaskan, agar hati senangtiasa bahagia dengan apa yang kita miliki sekarang. Sebab kita tidak pernah tau, apa yang kita miliki dan kita sia-siakan adalah apa yang sangat di dambakan orang lain, sama seperti kita yang mendambakan apa yang orang lain punya. Hingga sulit bagi kita untuk bersyukur, ingin lebih dan lebih.

"Urip iku mung sawang sinawang, Seneng nyawang enake uwong, Lali penake dewe. Seneng duwene uwong, lali duwene dewe".

memang sulit rasanya bersyukur saat kita ada dalam suatu kondisi yang bahkan membuat kita lupa pada diri sendiri, lupa pada tugas dan hakikat kita sebagai manusia, bahkan sebagai makhluk ciptaanNya. Namun dengan bersyukur, setidaknya kita menyadari bahwa masih banyak manusia diluar sana yang mempunyai masalah yang jauh lebih berat dari apa yang kita jalani. Dan kita harus menyadari, bahwa kehidupan bagai sebuah roda, tak selamanya kita berada diatas dan tak selamanya pula kita berada dibawah. Segalanya ada waktunya masing-masing. Percaya bahwa rencana Tuhan indah, lebih indah dari yang kita bayangkan. karena Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk hamba-Nya, memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

dengan bersyukur pun, kita akan merasa lebih ringan dalam menjalani masalah dan menemukan jalan keluarnya. jangan pernah merasa sendiri, kawan.. saat semuanya menjauh, teman, sahabat, bahkan keluarga serta orang-orang terdekat yang kau sayangi, ingatlah, Tuhan tak pernah tidur dan meninggalkan hambaNya sedetikpun.


so, keep smile you guys and be stronger, Innallaha ma Ana..

Minggu, 24 Januari 2016

I am?

Senja. Aku berjalan menyusuri sebuah jalan kecil yang rasanya aku mengenalnya, bahkan sengat dekat. Rasanya aku pernah melewatinya, entah kapan atau bahkan sering. Aku lupa. Dan yang pasti aku melewatinya sekarang.
Sunyi. Sepertinya hanya suara langkah kakiku dan sayup-sayup angin menggoyangkan dedaunan. Saling menyapa satu sama lain. Hingga aku menemukannya di sudut mataku. Ya, aku melihatnya. Seorang gadis duduk disebuah bangku yang terlihat cukup usang. Menundukkan kepalanya. Secepat detik waktu berlalu, aku menghampirinya. Mungkin aku mengenalnya dan dia bisa membantuku mengingat tempat ini.
Dan benar. Aku mengenalnya. Jelas, tatapan mata itu sungguh aku sangat mengenalinya, bahkan sangat dekat.
Aneh. Gadis itu berlari saat melihatku, sebelum sempat aku menanyakan apapun. Seolah dia takut melihat kedatanganku. Hanya selembar kertas yang tertinggal dibangku usang itu. Pun gadis itu menghilang dengan sangat cepat, seperti angin. Aku tak menemukan bayangannya lagi.
Terusik untukku membaca tulisan dalam selembar kertas yang ditinggalkan gadis itu. Sepertinya sebuah nyanyian hati. Dan ini yang dia dituliskan.

Terimakasih untuk kamu, untuk kehadiranmu yang selalu tartata rapi ditiap barisan abjad yang sengaja kau susun untukku. Aku tau jika memang kita bersatirkan jarak yang hanya bisa kutempuh dengan memejamkan mata sejenak. Aku merasa angin menertawakan aku,  dia tak tau bahwa kau benar-benar ada di balik kelopak mataku, dan dengan mudahnya getir rinduku mulai terurai, aku merasa angin menganggap aku ini bodoh. Melihatku duduk dibangku usang ini dengan senyum terpahat tanpa satu orangpun yang memahatnya. Angin tak percaya jika senyum ini tercipta dengan sendirinya disaat aku memejamkan mata. Ah, biarlah sampai puas dia menertawakanku bersama gumpalan kapuk hitam yang ada diatasku. Cukup dengan seperti ini, aku tidak lagi merasa sepi.
Untukmu,
Bolehkan aku merindu?
Sebenarnya aku..
Sebentar, aku melihat seorang gadis berjalan kearahku. Sepertinya aku mengenalnya. Semakin dekat. Ya aku mengenalnya.
Angin seolah berbisik untuk mulai menertawakanku lagi. Pun aku tak ingin gadis itu ikut menertawakanku juga. Maaf, aku ingin bersembunyi sekarang, nanti akan ku lanjutkan
.........

Surat itu terpotong, aku merasa bersalah telah menakuti gadis tadi. Namun, benar. Aku semakin yakin aku mengenali gadis yang meninggalkan selembar kertas ini, dan dia juga mengenaliku. Dan aku juga yakin dia mampu membuatku untuk mengingat tempat ini, mengingat bangku usang ini.
Sudut mataku mulai mencari bayangannya. Lama. Hingga akhirnya aku melihatnya lagi dibalik tiupan angin. Gadis itu, aku mengenalinya. Bukankah itu bayanganku?


Kamis, 21 Januari 2016

Sebab Kau Dan Aku Adalah Bunga.


Hujan pekat turun dengan ricuh menciptakan alunan pemecah hening. Dibalik pintu sebuah kamar, malaikat sedang mendengar percakapan antara dua orang gadis belia. Gadis pertama dengan paras orientalnya dan rambut hitam pekat yang menjuntai memulai pembicaraan antara dua gadis malam itu.

“Tahukah kau dengan bunga di tepi jalan?” Gadis kedua pun berpikir teman sekamarnya itu ingin mengingat sebuah lagu yang ia lupa liriknya.
“Bukan, bukan sebuah lagu yang aku maksud ini hanya sebuah perumpamaan, perumpamaan bagi kita, kaum perempuan.” Gadis kedua pun diam dengan wajah bingungnya.
“Seorang yang sangat bijak pernah berkata padaku, bunga di tepi jalan sangat mudah untuk di lihat orang dan sangat mudah untuk ditemukan. Mereka akan lebih mudah mendapatkan seseorang yang kan membawanya pulang dan menaruhnya dalam sebuah vas yang nyaman. Tapi, kau perlu tahu, terkadang mereka hanya di petik sejenak kemudian akan di buang kembali dengan cepat. Karena masih banyak bunga-bunga yang bisa dia petik lagi di pinggir jalan berikutnya.”

Mendengar ucapan itu, hati gadis kedua itupun terasa ngilu. Tak pernah terpikirkan olehnya, sebelumnya itu perumpamaan yang begitu indah. Senyuman tipis merekah diwajahnya yang semula terlihat bingung. Seakan sebuah pencerahan telah ia dapatkan dan apa yang dimaksudkan oleh sahabatnya itu mampu ia terima dengan mudahnya.

Gadis berambut hitam panjang kembali melanjutkan kisah berikutnya tentang ucapan dari seseorang yang sangat bijak yang ia temui.
"Dan kau, jadilah bunga di tengah hutan.”
Apa maksudnya? Awalnya terasa sedikit ambigu, bukankah bunga di tengah hutan adalah bunga yang tak pernah di sukai bahkan diinginkan oleh orang sekalipun? Terlihat pertanyaan itu terbang dari otaknya menuju langit-langit mulutnya dan siap untuk memutahkan semuanya. Namun ia terlihat menahan.
“Jadilah kau bunga di tengah hutan, dimana seseorang perlu usaha keras dan perjuangan untuk dapat memetikmu bahkan hanya untuk melihatmu sekalipun.”
“Dan, hanya orang-orang terbaik dengan kesungguhannya yang ‘kan dapat memetikmu.” Gadis kedua pun ikut melanjutkan cerita indah sahabatnya itu seraya menyusun akhir cerita yang mengesankan.
Gadis kedua itu berucap,“dan ketika mereka mendapatkanmu, kepuasan dan rasa untuk senantiasa merawatmu akan sangat besar, sebesar perjuangan yang harus mereka lakukan atau bahkan lebih. Mereka tak akan membuangmu dengan mudah bahkan hingga kau layu dan mengering nanti. Vas terbaik akan mereka berikan untuk menaruhmu, karena kau terasa amat berharga bagi mereka.”
Dua gadis itu pun tersenyum. Malaikat yang mendengar percakapan mereka sejak tadi ikut menampakkan senyum tipisnya seraya berucap.
“Semoga kalian akan menjadi bunga di tengah hutan dan akan menjadi bunga yang paling indah untuk mereka yang memetiknya nanti.”

Dan malaikatpun berbisik perlahan dalam hati kedua gadis di balik pintu itu. “Tapi ingatlah, jangan menjadi bunga di tengah hutan dengan semak belukar dan duri-duri yang terlalu tajam di sekelilingmu. Itu akan melukai mereka yang ingin memetikmu dan mungkin hanya sedikit saja yang kan bertahan atau mungkin semuanya akan lari dengan membawa kabar buruk untuk orang berikutnya sehingga mereka akan takut tuk mengahampirimu. Bagaimanapun, kau adalah bunga, kau memiliki wangi itu, kau memiliki kelopak yang indah dan kau di takdirkan untuk di petik pada waktunya nanti.”

Kau dan aku adalah ragam bunga, tak sejenis, tak sewarna. Namun, awal nama kita akan selalu sama. ☺

Zahrotul Laili Novita.

Senin, 18 Januari 2016

Pertanyaan Kedua Dan Seterusnya.

Setelah merenung sejenak dan mulai masuk pada jalan pikiran guru itu, semua murid mulai mempertanyakan apa pertanyaan kedua, ketiga, keempat dan kelimanya?
Mendengar wajah anak-anak didiknya yang terlihat sangat penasaran, sang guru mulai melanjutkan kehebatannya dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan ampuh. Pertanyaan ini adalah pertanyaan "kehidupan" bukan sebatas teka-teki yang harus ditebak tebak atau sebatas pertanyaan untuk "poin plus" dalam daftar nilai sang guru. Lebih dari itu, pertanyaan itu akan memberikan nilai, benar-benar nilai, tentang sebuah pemikiran.
           Pertanyaan kedua pun mulai di tanyakan. "Apa yang paling dekat didunia ini?" kasus seperti pertanyaan pertama pun terulang kembali. Hingga pada akhirnya sang gurulah yang harus menjawab pertanyaanya sendiri. Yang paling dekat didunia ini adalah "mati". Ya, itu adalah jawaban yang paling tepat, kematian. Tak ada seorangpun, orang normal manapun yang tau kapan dirinya akan mati. Maut adalah sesuatu yang paling dekat. Bahkan dimensi waktunya hampir tak ada pembatasnya lagi. Kapanpun, hal itu akan terjadi dan tanpa kita tahu kita akan telah menghilang dari dunia ini. Besok, nanti bahkan dalam hitungan seper sekian detik kemungkinannya, probabilitanya akan sangat tinggi.

Kisah yang sama ternyata berulang untuk pertanyaan ketiga dan keempat. Siswa dikelas guru agama yang hanya bisa merenungi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan "menjebak" itu, dan sang guru yang selalu menjawab sendiri atas pertanyaan yang diajukannya. Lalu apa pertanyaan ketiganya? Pertanyaan ketiga yang diucapkan oleh sang guru adalah "Apa yang paling ringan didunia ini?" dengan gesit sang guru menjawab "Jawabannya adalah meninggalkan shalat". Sebuah jawaban yang terasa menusuk hingga ke relung hati paling dalam. Rasanya mulut tak dapat berkomentar apapun atas jawaban itu selain hanya mengatakan "benar". dan itulah faktanya hati kecil siapapun tak kan mengingkarinya. Ringan, amat sangat ringan bahkan lebih ringan dari debu. Sahabat kita bernama "hati" mungkin akan miris mendengar ucapan itu.

"Apakah yang paling berat didunia ini?" adalah pertanyaan keempatnya. Ada yang mengatakan batu, bumi, matahari, tapi tak ada satu pun yang mampu menjawabnya dengan tepat. Mempelajari pertanyaan-pertanyaan yang telah lalu, jawaban yang tepat atas pertanyaan ini bukanlah sebuah jawaban yang klise, jawaban yang nyata. Namun, lebih pada sebuah perumpamaan, sebuah penghayatan akan kehidupan yang sesungguhnya. Bukan sebatas kehidupan dunia melainkah menyangkut pula kehidupan dengan Sang Pencipta. "Menjalankan Amanah", adalah jawaban dari pertanyaan keempat ini. Amanah adalah sesuatu yang sangat mudah diucapkan. Sangat mudah kita untuk berkata "ya" tapi sangat sulit untuk menjalankannya.

Janji, adalah sebuah contoh dari amanah. Seseorang telah menggantungkan harapan pada janji itu, dengan demikian berarti ada kewajiban dimana kita harus memenuhinya. Namun, kenyataanya, janji adalah sesuatu yang mudah untuk terlupakan oleh kerja saraf-saraf otak. Bukan salah kinerja saraf otak itu, namun lebih kepada keinginan pribadi dalam diri kita yang menganggap janji bukanlah suatu yang besar. Janji adalah sesuatu yang tak nyata, tetapi janji adalah sesuatu yang sulit untuk kita dapat memenuhinya. Bahkan hingga muncul ungkapan "janji palsu" atau lebih ringannya "janji karet." Bukan hanya janji, "kepercayaan" juga sebuah amanah. Kepercayaan, bahkan lebih berat dari batu meskipun itu tak nyata. Kepercayaan pada dasarnya yang menjadi akar dari janji itu sendiri. Menjaga kepercayaan bukanlah hal yang mudah, kepercayaan adalah sesuatu yang lembut dan sangat rapuh. Kepercayaan adalah sesuatu yang mudah luntur, dengan guyuran air yang bernama "Kebohongan". Itulah amanah, tak nyata tapi tak mudah.

Hal yang sama tak berlaku untuk pertanyaan kelima. Seorang murid perempuan kini bisa menebak apa jalan pikiran sang guru itu. "Apa yang paling tajam di dunia ini?" Dengan tepat siswa perempuan itu menjawab "lidah". Ya, lidah. Lidah adalah sebuah senjata yang paling tajam, lebih tajam dari pedang atau bahkan samurai. Parahnya, inilah senjata yang semua orang memilikinya dengan bebas. Lidah bisa mengahncurkan apapun dan siapapun. Namun, lidah adalah sesuatu yang sulit untuk dikendalikan. Lidah adalah sesuatu yang lentur dan licin. Tak mudah kita membelenggunya untuk tetap diam, tetapi bukan berarti kita tak dapat melakukannya. Lidah adalah seseorang yang paling mampu menyakiti sahabat kita, "hati". Dan rasa sakit karena lidah itu tak kan terobati dengan mudah, amat sangat sulit atau bahkan tak bisa meski lidah itu sendiri yang menyembuhkannya. Luka itu akan sangat membekas dan akan terus ada. Sebuah kata yang terucap oleh lidah itu bagaikan sebuah peluru yang siap menembus siapapun mangsanya dan membunuhnya seketika itu. Janji, kebohongan, dan amarah adalah peluru mematikan itu. Tak akan ada senjata yang lebih tajam dari lidahmu sendiri. Inilah sebuah perenungan. . .

Lalu, apa kau tidak penasaran dengan pertanyaan pertama yang diajukan oleh guru itu?

Aku tak menulisnya sebab aku lupa. Hehehe..
Lain kali jika ingat akan kutulis lagi.
Maka dari itu,

Katakan padaku, jika kau tau ada yang menjual obat anti lupa. Pasti akan segera ku borong. Kau taukan jadi pelupa itu tidak ada enaknya apa lagi lupa hal yang penting, kecuali jika kau sedang puasa dan lupa akan puasamu hari itu. Tapi sayangnya aku amat jarang terlupa tentang hal itu dan bahkan aku lebih sering lupa pada hal yang susah payah aku ingat.

Boleh kan, kau beritahu aku. Katakan padaku jika ada yang menjual obat anti lupa itu. Atau katakan pada penjualnya. Jika aku pesan porsi jumbo. Agar bisa secepatnya aku ingat lalu bisa kutuliskan pertanyaan yang pertama sang guru. Kau tau?

Aku masih belum berhenti mengingat. :D


Laili.

Minggu, 17 Januari 2016

Sebongkah Hati.


Sebongkah hati tlah berlari terlalu jauh. Jauh meninggalkan tembok runtuh itu dalam kehidupannya. Terlalu jauh ia berlari hingga akhirnya dia lelah dan ingin berhenti. “Kenapa aku harus terus berlari? Apa aku seorang pendusta ataukah seorang penjahat yang takut akan kebenaran? Aku bukan itu, kenapa aku harus berlari seperti seorang pengecut?”. Langkah kaki sebongkah hati itu pun terhenti. Kini, ia siap untuk menghadapi kenyataan yang telah menantinya. Sebuah hari baru, dimana ia tak perlu lagi merasa takut, dimana tak kan lagi ada rintihan yang menuntutnya untuk merasa iba, sedang ia sendiri harus membelenggu ego, amarah dan senyuman.

Langkah kakinya terhenti. Dalam kelelahannya, ia melihat sebuah tempat baru. Mungkin, tempat itu bisa menjadi sandarannya tuk melepaskan lelah sejenak. Sebongkah hatipun bersandar dibawah pohon dengan rantingnya yang lebat itu. Sejuk, tenang dan damai, hingga akhirnya sebongkah hati pun tertidur lelap. Begitu lelap, layaknya seorang bayi yang tertidur dalam pangkuan sang ibu. Wajahnya begitu polos, seakan tak ada lagi beban berat yang ia rasakan dan ia benar-benar merasa bebas. Tak kan ada lagi mimpi buruk dalam tidurnya sekarang dan esok hari.

Pohon itu memang bukan istana, tapi..... ia mampu memberikan kedamaian. Pohon itu memang tak memiliki atap, tapi daunnya kan lebih kokoh dari genting baja sekalipun. Terik matahari, derai hujan, tak kan pernah ia biarkan menyentuh sosok yang bernaung di bawahnya. Hanya tiupan angin perlahan, agar sebongkah hati tak terbangun dari tidurnya yang lelap.

Pohon itu memang bukan tempat perlindungan yang sempurna, tapi..... ia berusaha menaunginya sesempurna mungkin. Manjaga sebongkah hati agar tetap tertidur lelap, nyaman, tenang dan senantiasa tersenyum dalam mimpi indahnya. Dan ternyata, semua itu cukup. Cukup tuk membuat sebongkah hati tetap bertahan dan tetap bersandar pada batangnya yang kokoh. Kini sebatang pohon tak lagi sendiri dan sebongkah hati telah menemukan tempat naungannya yang baru. Semoga pohon itu tak kan menjatuhkan rantingnya atau menggurkan seluruh daunnya yang kan membuat sebongkah hati, harus kembali terluka.

®|_aili

Jumat, 15 Januari 2016

Hanya Tulisan Yang Tak Beraturan.

Mungkin sudah terjadi beberapa jam yang lalu, tapi aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Ketika aku berdiri dengan lelah sepulang sekolah di dalam minibus jurusan Jatirogo-Bojonegoro. Bus berhenti menunggu pasangan laki-laki dan perempuan naik. Bukan pasangan muda-mudi yang terlihat berbunga-bunga dengan cinta masa muda mereka, melainkan pasangan kakek nenek yang sudah sangat tua. Kupikir usia mereka lebih dari tujuh puluh tahun. Mirip dengan nenekku saat ini.

Tidak ada yang spesial? Jangan salah, untukku mereka terlihat sangat mengagumkan. Usia yang sudah sangat senja dan mereka masih berjalan dengan saling beiringan dengan tangan nenek tua itu memegang erat tangan sang kakek. Si kakek yang membantu nenek naik bus dengan hati-hati. Juga tatapan sang kakek yang seolah berkata "aku akan melindungimu sampai kapanpun". Sungguh, kurasa ini bukan pemandangan yang bisa kutemui setiap waktu. Entah aku yang terlalu melankolis atau memang itu benar terlihat romantis. Sepasang kakek dan nenek yang selalu bergandengan tangan di usia mereka yang sudah sangat senja. Seolah ingin memperlihatkan pada dunia bahwa cinta hanya akan mati ketika hanya tinggal tubuh tanpa nyawa nanti. Itu pun hanya sesaat untuk saling mengucap janji "sampai bertemu lagi di surga nanti."

Dan baru ku ingat, kemarin malam aku melihat keromantisan yang sama. Meski bukan pasangan kakek nenek dan mungkin masih banyak yang seperti itu. Namun, aku tetap melihatnya istimewa. Penghargaan akan sebuah komitmen dan senyum berseri di wajah pasangan paruh baya tadi malam. Seolah mereka sedang jatuh cinta. Mungkin mereka saling jatuh cinta setiap hari. Kupikir dari senyuman mereka terlihat seperti itu. Dan gambar-gambar perjalanan masa lalu, membuatku, atau mungkin yang lain juga merasakan haru. Meski bukan aku, bukan pula orang tuaku, rasanya aku tetap ikut berbahagia melihatnya. Ikut tersenyum. Akhirnya, aku bisa kembali untuk sedikit percaya. Cinta.

Melihat kejadian seperti tadi membuatku dengan spontan berdoa dalam hati. Semoga aku bisa seperti kakek-nenek itu. Bersama dengan kekasihku di ulang tahunku yang ke tujuh puluh, tujuh puluh satu, sebelum itu dan setelah itu. Jelas, si kakek nenek dengan kesederhanaan mereka, masih bisa menikmati dan mengagungkan cinta. Peci tua dan kerudung lusuh, tapi terlihat mengagumkan. Dulu, kupikir yang seperti itu hanya milik orang-orang kaya dimana semua kebutuhan dasar mereka sudah terpenuhi, tak perlu memikirkan hal yang lain. Menikmati hidup sehingga mereka juga bisa menikmati cinta yang sudah dianugerahkan Tuhan. Bukan sekedar memegang janji pernikahan, hidup bersama, dan saling membantu menghidupi dan membesarkan anak-anak. Tidak lagi menikmati hidup mereka sendiri. Hari itu aku menjadi percaya seutuhnya cinta itu nyata.

Tahun berlalu dan pengalaman membawaku pada hidup yang lebih berwarna. Aku menjadi seorang yang selalu ragu tentang yang sebelumnya aku percaya itu. Meskipun aku selalu menjadi pengikut setia pun selalu terbuai tanpa keraguan. Hanya saja dalam hati kecilku selalu khawatir dan curiga. Gagal. Semakin membuatku hilang kepercayaan. Dan aku mulai memimpikan untuk pemegang komitmen yang tak akan ingkar pada sebuah janji. Bukan untuk yang menawarkan cinta.

Melihat yang semalam? Rasanya aku ingin kembali percaya. Hanya saja, aku masih sangat takut dan ragu. Apalagi dengan yang aku lihat dan membuatku harus menyingkir sejenak. Kalau-kalau aku tak kuat menahan tangis sakit hati dan aku juga butuh ruang yang lebih luas. Di tempat dudukku aku merasa sesak nafas. Mungkin harus kubuktikan sekali lagi. Sejujurnya aku tak ingin menjadi manusia yang seolah tak punya hati. Itu juga melelahkan. Pun aku belum menemukan akhir ceritaku sendiri. Masih dalam rahasia sang ilahi, dan tidak akan pernah aku tau tanpa satu persatu kujalani.

Jadi, mau kan kau tua bersamaku??
Ehhehee ☺

Maaf..
Hanya sebuah tulisan yang tak beraturan......
Ditulis disiang yang panas, penuh debu.

Laili Novita.

Itu Karena Kita Istimewa..

Menjadi pendengar untuk cerita yang sangat panjang dan dengan subjek yang beraneka ragam ternyata memang tidak mudah, tapi jujur sangat menyenangkan. Wejangan, bukan lewat kalimat-kalimat perintah yang mendoktrin, tetapi membuka mata dengan cerita nyata yang bisa jadi aku juga sudah melihatnya. Sesekali aku yang ikut bercerita. Berbagai subjek cerita ini pada akhirnya hanya menjurus pada satu subjek utama, perempuan. Perempuan dengan rasionalitasnya sebagai pemuja cinta, perempuan sebagai seorang istri, dan perempuan sebagai seorang ibu. Sesungguhnya sudah sejak lama yang semacam ini bersemayam dengan lembut di otakku. Hanya saja mendengarkannya lagi akan membuatnya semakin kokoh bersemayam. Bukan goyah.

Aku percaya setiap manusia memiliki keyakinannya masing-masing untuk ia akan hidup dengan cara seperti apa. Aku pun seperti itu dan itu mutlak adalah hak individual. Hanya saja kali ini aku berbicara tentang pandanganku dan aku hanya menyikapi kenyataan yang ada di sekelilingku. Tentang perempuan yang sedang memuja cinta masa muda, bukan kehilangan akal sehatnya hanya saja kurang berpikir sedikit lebih bijak. Itu pikirku. Bebas setiap orang berpikir yang sama atau tidak.

Meski dalam posisi sama-sama memuja cinta antara laki-laki dan perempuan, akan tetapi pada akhirnya perempuan akan menjadi pihak yang lebih tidak diuntungkan. Tentu, ketika terjadi pelanggaran kesepakatan non-formal antara kedua belah pihak yang diakuinya berstatus pacaran. Itu bukan status yang disahkan oleh hukum melainkan pengesahan atas nama cinta. Aku tidak menolak, aku juga menyukai status itu. Hanya saja, jangan bertindak lebih dari batasan status non-formal itu. Meski ketidakformalan juga memunculkan batasan yang abu-abu, tapi masih ada norma bukan? Ingat saja, jika kesepakatan tidak berakhir indah, tindakan yang berlebihan hanya akan merugikan pihak perempuan.

Pemuja cinta yang menyerahkan tubuhnya, kehilangan keperawanan, menanggung kehidupan seorang bayi, ditinggalkan pasangan pemuja cintanya, dan pada kenyataanya tak ada kekuatan hukum yang bisa menuntut. Kemalangan hidup rasanya, ditambah dengan gunjingan manusia yang tak ada habisnya. Sedang lawan main dengan bebas terbang seperti merpati pencari surat cinta berikutnya. Ingat perempuan itu diciptakan spesial, indah dimata lawan jenisnya, dan memiliki misi penting dalam hidup. Menjaga kehormatan dan menciptakan batasan-batasannya sendiri. Intinya tubuh wanita adalah derajat dan kehormatannya. Pikirku itu harta paling berharga di dunia ini, jangan biarkan orang yang tak berhak menyentuhnya apalagi memilikinya. Pelajaran pertama untuk seorang perempuan dan kupikir semua perempuan sudah tahu itu. Hanya saja terkadang lupa dan ini kuingatkan lagi.

Jangan pernah berkata perempuan dibebani dengan tugas yang lebih berat, menjadi seorang istri atau bahkan menjadi ibu. Kupikir itu adalah bagaimana Tuhan memandang wanita itu spesial dan memberikannya kemampuan lebih. Melihat dan menggendong seorang bayi yang lucu saja sudah sangat menyenangkan apalagi dengan seorang bayi yang memanggilmu ibu? menjadi seorang ibu. Dan menjalankan misi khusus itu dengan sebaik mungkin tentu memperlihatkan betapa perempuan itu sesungguhnya di ciptakan sangat hebat. Kekuatan fisik yang diagungkan dari seorang laki-laki kupikir tak bisa mengalahkan kekuatan seorang ibu, meski hanya lewat tutur katanya yang lembut.

Tapi bukan berarti setiap perempuan akan dijanjikan menjadi seorang ibu yang lembut dan mampu menjalankan perannya dengan benar. Tak ada janji seorang ibu akan selalu menggendong anaknya setelah ia lahir, saat ia ingin tertidur manja, atau saat ia sedang sakit. Tak ada janji seorang ibu akan memberikan air susunya dan menyuapkan bubur ke mulut anaknya yang masih terlalu kecil. Tak ada janji seorang ibu yang akan selalu memeluk dan menasihati dengan lembut bukan memukul jika ia sedang marah. Tak ada janji setiap perempuan akan benar-benar menjadi seorang "ibu". Naluri itu pasti ada dalam setiap perempuan, akan tetapi akan berwujud seperti yang seharusnya atau tidak, perempuan itu sendiri yang akan memilihnya.

Menjadi seorang perempuan dimana anak-anakmu akan selalu bangga dan memiliki ibu terhebat di seluruh dunia atau menjadi tokoh antagonis yang akan bersemayam di kepala si anak hingga dewasa. Kupikir, pilihan seorang ibu itu juga yang pada akhirnya membentuk manusia-manusia dewasa dengan tabiat yang "seperti apa". Mensyukuri betapa perempuan itu diciptakan spesial dan berusaha menjalankan peran itu dengan sempurna atau dengan cara yang sempurna. Meski, perempuan bukan malaikat yang menjalankan semua kewajiban tanpa cacat. Hanya saja kupikir semua itu soal pilihan. Dan bagaimana menjadi seorang ibu, adalah pelajaran ketiga seorang perempuan.



---- Setiap perempuan boleh memilih apapun tentang apa yang ia yakini dan ia impikan. Ini hanya setitik dari kehidupan perempuan yang kulihat, kudengar, atau bisa jadi aku juga merasakannya. Karena perempuan itu spesial, karena menjadi seorang perempuan itu sangat membahagiakan. 



Perempuanmu,
Zahrotul eLeN



Selasa, 12 Januari 2016

Perempuan Dewasa? Bukan aku.


Aku tidak menunggu hembusan angin akan kembali. Aku tidak menunggu senyuman itu kembali dipinjamkan. Aku yang memiliki senyumanku sendiri dan tak seorangpun meminjamkan senyuman kepadaku. Murni, ini keputusanku sendiri untuk tersenyum atau tidak tersenyum.

Menyusuri jalanan tanpa ujung, berpindah dari satu mesin bergerak ke mesin bergerak yang lain. Aku tak tahu kemana aku menuju. Hanya ingin menjadi orang terasing dan aku ingin berpikir. Sejenak menyusun skenario kehidupan yang mungkin terjadi, sesekali berdialog dengan kepalaku sendiri dan bermain peran. Menjadi seorang motivator, aktris melankolis, dan sesekali menjadi penceramah agama dengan sejuta ayat berkumandang juga dzikir. Hanya untuk satu tujuan, aku ingin hatiku merasa tenang.

Jalanan yang rasanya begitu panjang, terik, juga peluh, menemani aku berpikir lebih pada realitas kehidupan. Mengapa aku tak kunjung menjadi seorang perempuan dewasa? Aku yang mengaduh saat terjatuh, menangis, dan mendramatisasi setiap adegan yang terjadi dalam kehidupanku sendiri. Mengapa aku tak bisa berjalan pelan tanpa harus menatap jauh ke depan? Hanya memperhatikan langkah kakiku agar tak tersandung oleh batu sekecil apapun juga lubang yang tak terlihat. Apakah karena aku seorang pemimpi? Entahlah, aku hanya mengagungkan pemikiranku sendiri. Seperti aku hidup dalam pikiranku sendiri yang sudah kususun setiap adegannya bahkan dialognya bak sebuah rancangan film.

Seharusnya aku memahami, ini hanya proposal kehidupan yang kususun dan masih harus menunggu persetujuan. Bukan menganggapnya sebuah grand design yang sudah pasti akan berjalan berdasarkan aturan itu. Pemilik kehidupan belum memberiku persetujuan, dan rancangan menurut-Nya selamanya akan berada diluar pengetahuanku. Aku hanya akan tahu setelah itu terjadi dan itulah yang direncankan-Nya. Seharusnya aku sudah paham tentang itu. Kemana pula ingatanku setiap jam ketika mendengarkan guru-guruku bercerita, seorang motivator berbagi pengalaman, buku-buku pencerah qolbu, atau apa-apa yang dengan mudah aku mengingatnya. Kini aku malah menganggapnya seolah telah menguap oleh ego dan ambisi pribadiku. Ambisi? Ya, aku sudah kehilangan itu.

Seharusnya aku tak seperti ini. Bersandar di sudut ruangan dan merenung hanya karena sedikit luka kehidupan. Bukankah diluar sana masih banyak orang dengan luka yang jauh lebih banyak dari yang aku miliki? Aku mulai berpikir seperti seorang bijak. Dan sisi lain dari diriku tetap merajuk seperti bocah yang tetap menginginkan mainan yang sama karena ia terlalu menyayanginya. Dan inilah bagian yang selalu tidak aku inginkan, menjadi musuh diri sendiri. Ini adalah bagian paling melelahkan, berperang dengan diriku sendiri. Sepanjang sisa waktu hingga langit beranjak gelap dan sudah sebarapa panjang jalanan desa ini yang aku susuri, aku masih berdebat dengan isi kepalaku sendiri. Hatiku masih merajuk, tak ingin berkompromi.

Sudahlah, aku pulang meski tanpa hasil yang berarti. Aku tak bisa memaksanya terlalu keras atau ia hanya akan berteriak lebih keras lagi dan membuatku semakin kualahan untuk menenangkannya. Aku akan berbicara dengannya lebih banyak lagi dan lagi juga dengan perlahan. Semoga waktu mau bekerja sama denganku dan peperangan ini akan segera berakhir. Aku sudah lelah jikalau hanya berdiam di sudut sunyi, hanya diam. Ini bukan aku. Aku harus berlari dan menari, juga berteriak dan bernyanyi. Aku memiliki senyum yang selalu ingin aku pamerkan kepada siapapun. Aku mendapatkan senyumku sendiri, dengan mimpi dan perjuanganku selama ini. Dan mengapa sekarang aku harus menenggelamkannya dan menjadi pemurung? Jikalau memang aku belum bisa menjadi perempuan dewasa setidaknya aku akan tetap menjadi seorang gadis kecil yang selalu tersenyum.

- Aku tidak menunggu hembusan angin akan kembali. Aku tidak menunggu senyuman itu kembali dipinjamkan. Aku yang memiliki senyumanku sendiri dan tak seorangpun meminjamkan senyuman kepadaku. Murni, ini keputusanku sendiri untuk tersenyum atau tidak tersenyum. - 

Zahrotul Laili Novita.

Cerita Ilalang.

Beranjak warna biru langit dan datang jingga senja, namun aku masih memandangi lukisan langit paling indah dipadang rumput ilalang. Menikmati semilir angin untuk irama tarian ilalang, juga nyanyian. Apakah kalian tau aku berbicara pada ilalang?
Ini tiba waktu kunjunganku, kuharap ada cerita kehidupan yang menarik yang bisa kudengar dari setangkai ilalang.

"Hai, kau datang lagi? Kenapa baru datang? lama sekali kau tak berkunjung"
"Lama?Benarkah?"
"Ya, sangat lama. Apa kau tak tahu sudah hampir layu batangku menunggumu untuk aku berbisik, tentang ceritaku."
"Layu? Bukankah kau ilalang? Layu pun kau tak akan mati."
"Baiklah, tapi memang aku sudah menunggumu. Lain kali jangan datang terlalu lama."
"Aku tidak berani berjanji."

Mendengarkan ilalang berbisik tentang ceritanya aku tetap tidak membuang mataku untuk melihat
langit. Dia, ilalang, dia sedang berkeluh kesah jikalau dia lelah.

"Lelah? Kaupikir hanya kau yang merasa lelah? Semua juga merasakannya."
"Ya, aku tahu tapi aku benar-benar lelah, tentang seperti apa orang melihatku."
"Bagaimana orang melihatmu?"
"Kuat. Tak bisa mati. Tak perlu dirawat. Yang semacam itu."
"Bukankah justru bagus? Itu berarti kau dianggap bisa diandalkan."
"Tidak. Terkadang aku juga butuh bergantung seperti benalu. Aku lelah menjadi setangkai ilalang."
"Lelah? Kau terlihat serakah."
"Seperti kau, seperti itu juga mereka menilaiku, mereka kira aku tak butuh siapa-siapa dan ketika aku merajuk kelelahan kau dan mereka semua menganggapku serakah. Mereka menganggapku selalu bisa diandalkan. Dan jika anggapan mereka tak sama dengan realita aku yang di jadikan tersangka utamanya untuk disalahkan. Mereka melihatku tak bisa mati, melihatku tak bisa lemah. Bisakah kau juga melihat sisi lemahku, kehadiranmu malah memberatkan batangku."
"Kau boleh lelah jadi ilalang, tapi kau tidak boleh bosan dengan hal itu. Aku akan disini mendengarkanmu, meskipun tidak mungkin aku bisa menolongmu berubah jadi tanaman lain. Katakan, apa yang bisa kubantu. Dan bolehkah aku disini, disampingmu?"
"Bisakah kau menolong aku, untuk mengerti keadaanku. Tolong aku dengan cara fikirmu tentang aku, dan tolong jangan berfikir apa-apa yang membuatmu ragu kepadaku, apapun itu."
"Baiklah.. :)"


Aku tetap disampingnya. Biarkan saja ilalang mengeluh akan kelelahannya, sebagai kekasih yang baik aku hanya ingin mendengarkannya. Aku tahu ia yang butuh didengarkan meski terkadang dia butuh waktu sendiri, aku juga paham jikalau bagaimana pun dia tetap seorang laki-laki biasa. Kuat, tapi lemah. Apa laki-laki? Hei, dia setangkai ilalang.

®|_

Senin, 11 Januari 2016

Senja Milikku.


Jumpa lagi..
Senja,
Hai.....
Angin,
Apa kabar?
Laut,
Aku mulai merindukanmu
Jangan takut aku tidak hendak menganggu
Kupikir ini semua adalah lucu

Pada senja aku ingin bertanya
Tentang semua yang ingin aku tanya, apakah kau masih tetap ingin menjawab?
Pada angin aku hanya ingin melempar senyum
Sebanyak senyum yang ingin aku berikan setiap hari, apakah kau sudah mulai bosan?
Pada laut aku hanya ingin mencinta
Tentang rasa yang tak pernah bisa kucukupkan, apakah kau tidak ingin menerimanya?

Senja,
Sampai jumpa,
Angin,
Aku tak akan baik
Laut,
Aku akan menyimpan rinduku
Aku takut kau mulai terganggu
Kupikir bagimu ini sudah harus disudahkan

Pada senja aku hanya ingin menjawab
Tentang sebanyak mungkin jawaban yang bisa kusampaikan, apakah jawabanku tak cukup menenangkan?
Pada angin aku ingin belajar diam
Selama mungkin aku terdiam, apakah kau pikir aku hanya ingin merajuk manja?
Pada laut aku tetap ingin mencinta
Tentang rasa yang ingin selalu aku cukupkan. Jawabku aku belum mampu.

Kau,
Kau adalah senja, angin, juga laut
Padamu rasaku tak bisa kucukupkan
Padamu rasaku tak mampu kumuarakan
Kau adalah senja, angin, juga laut
Kusampaikan salam rindu yang tak mampu kuucapkan
Aku belum mampu menelanjangi wajahku, meski aku juga tak bisa malu-malu
Aku rindu,
Senjaku.


Laili,❤

Minggu, 10 Januari 2016

Bawa Ketakutanku Ini Angin..


Ini surat kutuliskan kepada angin. Meski mungkin, hanya menjadi surat yang tak akan pernah sampai. Terabaikan atau terbang tanpa arah. Dialah angin, aku tak pernah tahu kemana ia akan berhembus. Sesekali padaku, dan selanjutnya menghilang. Sepucuk surat yang sejatinya aku lebih ingin untuk berteriak, hanya saja aku takut. Jikalau angin justru menghempaskanku lebih jauh. Biarlah aku duduk dan berhenti sejenak di tempat ini, menulis sepucuk surat dan meninggalkannya pada angin. Kalau-kalau surat ini bisa teralamatkan dengan benar.

Teruntuk kekasihku,
Angin

Kau, aku bukan memujamu. Meski mencoba aku tidak pernah memujamu.. Hanya saja aku menyayangimu dan aku tak pernah tahu mengapa aku harus menyayangimu. Aku bahkan tak pernah bisa menemukan alasan yang bisa menguatkan akalku untuk aku berkata aku menyayangimu. Hanya saja hatiku selalu meneriakkan kata itu, memaksaku sekeras itu hingga aku tak mampu menahan diri untuk aku berteriak, “Aku menyayangimu”.

Teruntuk kekasihku,
Angin

Aku pikir kenapa aku berhenti disini menunggumu karena aku menemukan alasan untuk aku tersenyum. Aku menemukan alasan untuk aku tertawa tanpa harus memaksa aku harus tertawa dan berpikir untuk bagaimana aku bisa tertawa. Hanya sesederhanan itu. Dan aku juga tak perlu memaksakan diri untuk mencoba merasa nyaman. Rasanya begitu hangat saat aku bisa bersandar. Hanya sesederhana itu. Aku pikir aku sudah menemukan teman yang bisa selalu menenangkanku saat aku takut, bersandar saat aku letih, mendengar, memahami, dan menjaga. Mungkin yang terakhir ini sedikit tidak sederhana. Dan semuanya menjadi semakin rumit.

Teruntuk kekasihku,
Angin

Benar, tidak sesederhana itu. Mungkin karena aku bukan manusia yang sederhana. Ku kemas diriku menjadi sederhana, bertindak sesederhana mungkin, dan selalu ingin menjadi sederhana. Kenyataanya aku tetaplah aku. Manusia dengan pikiran dan hati yang tak pernah sederhana. Sungguh pun aku tak pernah mampu menutupi kekukaranganku ini. Aku tidak memiliki kemampuan untuk berpikir dan bertindak dengan sederhana.

Awalnya hanya duduk manis, menunggumu. Bersendau gurau sesekali dan menagih janji romantisme malam hari. Dalam buaian hembusan angin. Namun, lama-kelamaan semuanya memudar. Mungkin sudah menjadi hambar. Bukan, bukan aku kehilangan rasa sayangku pada angin. Hanya ketidaksederhaan berpikirku membuatku selalu merasa takut. Kalau-kalau angin yang sejenak berhembus pergi tak akan pernah kembali. Aku mulai berteriak, memukul-mukul, menangis, memanja, mencuri perhatian. Apapun, aku mulai bertindak tidak sederhana. Tanpa menurutkan akal hanya rasa takut yang kuagungkan. Kuakui aku bodoh, tapi apa yang bisa kukendalikan  jika ini memang terlalu kuat. Kekasihku angin mulai enggan berhembus.

Ingin kukatakan padamu kalau aku menyimpan ketakutan yang teramat dalam. Mungkin lukaku belum kering benar dan semakin kulukai diriku sendiri. Hingga luka itu belum pernah mengering dan menjadi sebuah ketakutan yang teramat kuat. Aku bisa berteriak, menangis, bahkan lebih dari itu. Menyakiti diriku sendiri. Hanya untuk menutupi rasa sakit saat ketakutan itu menjadi. Dan aku mulai menjadi manusia tidak normal saat itu. Pun aku membuat kau semakin enggan. Hanya saja bagaimana aku bisa menjelaskan dengan diterima akal jikalau aku juga tak bisa menerima dengan akal sehat dengan apa yang sudah kulakukan. Dan jika pikiranku sudah kembali normal aku hanya bisa menyesal.
Kau sudah beranjak satu langkah ke belakang. Rasanya seperti itu.

Jika saja kau mengijinkan aku akan sangat berterima kasih. Jika saja kau mau aku akan sangat berhutang budi. Bantulah aku menjadi manusia yang sederhana, aku akan mendengarmu. Meski sulit, aku akan melakukannya. Bukan aku tidak ingin menjadi aku. Hanya ini juga menyulitkan diriku sendiri. Dan aku selalu gagal membuat akhir dari ceritaku hanya karena kekonyolan seperti ini. Tidak benar kalau aku hanya menyalahkan diri sendiri. Hanya saja memang kuakui aku memiliki andil untuk lukaku sendiri. Aku mencipta ketakutanku sendiri. Aku sendiri yang membangun manusia seperti aku sekarang ini.

Teruntuk kekasihku,
Angin

Mungkin sudah saatnya aku menyerah. Aku harus berjalan diatas kakiku sendiri dan menjadi sederhana dengan jalanku sendiri. Jikalau aku hanya menimpakan beban dan memperumit keadaan sudah sepantasanya aku tau diri. Bukankah sudah banyak yang menantikanmu dan mampu menemanimu duduk disini dengan lebih baik. Menjagamu dengan lebih baik. Memujamu dengan lebih baik. Dan memberikan senyuman lebih baik. Bukan aku. Tapi dengan keteguhan kau menatap kedepan tanpa ragu dengan tanganku digengganman tanganmu, bolehkah kau ajarkan aku menjadi perempuanmu yang sederhana? Aku lelah ketakutan sendiri.

Benar bukan?  Surat ini semakin tidak beralur karena ketidaksederhanaan pikiranku itu mulai muncul. Aku mulai merasa takut tersingkirkan, terabaikan, dan akhirnya terbuang. Mungkin aku akan lebih merasa takut untuk terbuang daripada tersakiti. Bahkan aku tak lagi merasa sakit disaat mungkin orang merasa sakit dengan perlakuan semacam ini. Biarlah, bukan karena aku masih menyayangimu. Tapi, aku menyayangimu. Hanya sesederhana itu. Tak kutemukan alasan untuk aku harus membencimu. Meski puluhan kesalahan kukeluhkan, aku tak bisa menaruh benci.

Jika aku menurutkan hatiku, ingin rasanya aku tetap disini menunggumu. Bersabar dan tetap berharap pada hasil akan sebuah ketulusan. Aku tidak bisa egois memikirkan diriku sendiri hanya karena aku menginginkanmu dan aku membutuhkanmu. Seharusnya apa yang membuatmu tersenyum itulah yang aku pikirkan. Jika aku mau menjadi manusia yang sederhana. Dan aku ingin menjadi seperti itu.

Teruntuk kekasihku,
Angin

Sepucuk surat ini kutinggalkan. Mungkin sudah akan lenyap oleh hujan sebelum kau membacanya. Sepucuk surat untuk mengabarkan aku ingin lenyapkan ketakutanku. Hanya saja menjadi manusia sederhana inilah yang harus aku lakukan. Bukan menimpakan beban dan membuatku semakin sulit. Menggenggammu dan kau akan sulit berhembus.

Sepucuk surat ini kutinggalkan. Terima kasih untuk waktumu yang kau beri dan waktumu yang sering ku ambil tanpa pernah bisa aku kembalikan. Maaf juga jika aku terlalu banyak menyusahkan. Tak perlu aku bermelankolis terlalu lama bukan? Kau akan baik-baik saja dan seharusnya aku merasa tenang, membuarkanmu dijaga yang lain dengan lebih baik adalahhal yang tidak akan perbah aku biarkan.

Biar ku tinggalkan ketakutanku, biar dibawa sang angin menuju pulau antaberantah, aku hanya ingin menyayangimu dengan sederhana, sesederhana kata "aku dan kamu menjadi KITA" dan sepucuk surat ini kualamatkan.
Teruntuk kekasihku

Angin.

Zahrotul Laili.

Minggu, 03 Januari 2016

Refleksi Sang Waktu

Pikiranku baru saja berkelana ke tempat yang jauh. Ke tempat dimana air mata lebih sering turun daripada hujan. Ke tempat dimana jarak antara langit dan bumi lebih dekat dari dua pasang sorot mata yang tak bisa bertemu. Ke tempat dimana ketakutan-ketakutan itu ada, dan khawatir bisa saja tiba-tiba lahir. Ke tempat dimana skenario kita jadi begitu rahasia dan tak terprediksi. Ke tempat dimana kata pisah menjadi batas yang sangat menyakitkan. Ke tempat dimana kamu mungkin saja tidak tahu bahwa itu adalah hari terakhir.

Tiba-tiba saja, aku ingin tahu. Tiba-tiba saja aku penasaran. Tiba-tiba saja aku ingin mencicil rasa lebih dini. Hingga aku mengerti bahwa aku salah. Sekejap aku memejam, aku tahu waktu tidak pernah bisa diam. Waktu terus berjalan, pilihan-pilihan terus bergantungan dan kamu tak bisa menghindar dari hari esok.

Namun, bukankah kita bisa menggelar tikar, lalu piknik di atas tanah yang sempit? Karena masih ada langit. Ya, kemana kita menengadah akan tetap sama, luas.

Lalu, kenapa kita lebih banyak mengkhawatirkan tentang perpisahan dan lupa menghargai sebuah pertemuan? Kenapa kita lebih banyak mengkhawatirkan hari terakhir dan lupa menikmati hari-hari yang sedang hadir? Kenapa kita lebih banyak menyesali yang terjadi dan tak mencoba memperbaiki yang ada? Karena pada akhirnya bukan perpisahan yang seharusnya kita kuatirkan, tapi mengabaikan skenario yang sudah Tuhan rancangkan.

Buat apa kamu takut dengan waktu yg terbatas, kalau kamu bisa jatuh hati di setiap hembusan nafas? Kekhawatiran hari ini cukup jadi porsi hari ini, karena esok ada bagiannya sendiri. Tenanglah, segala sesuatunya akan baik-baik saja. Karena kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa yang sudah dikendalikan Tuhan.

Penuh Cinta,
Zahrotul Laili Novita. ❤

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...