Minggu, 24 Januari 2016

I am?

Senja. Aku berjalan menyusuri sebuah jalan kecil yang rasanya aku mengenalnya, bahkan sengat dekat. Rasanya aku pernah melewatinya, entah kapan atau bahkan sering. Aku lupa. Dan yang pasti aku melewatinya sekarang.
Sunyi. Sepertinya hanya suara langkah kakiku dan sayup-sayup angin menggoyangkan dedaunan. Saling menyapa satu sama lain. Hingga aku menemukannya di sudut mataku. Ya, aku melihatnya. Seorang gadis duduk disebuah bangku yang terlihat cukup usang. Menundukkan kepalanya. Secepat detik waktu berlalu, aku menghampirinya. Mungkin aku mengenalnya dan dia bisa membantuku mengingat tempat ini.
Dan benar. Aku mengenalnya. Jelas, tatapan mata itu sungguh aku sangat mengenalinya, bahkan sangat dekat.
Aneh. Gadis itu berlari saat melihatku, sebelum sempat aku menanyakan apapun. Seolah dia takut melihat kedatanganku. Hanya selembar kertas yang tertinggal dibangku usang itu. Pun gadis itu menghilang dengan sangat cepat, seperti angin. Aku tak menemukan bayangannya lagi.
Terusik untukku membaca tulisan dalam selembar kertas yang ditinggalkan gadis itu. Sepertinya sebuah nyanyian hati. Dan ini yang dia dituliskan.

Terimakasih untuk kamu, untuk kehadiranmu yang selalu tartata rapi ditiap barisan abjad yang sengaja kau susun untukku. Aku tau jika memang kita bersatirkan jarak yang hanya bisa kutempuh dengan memejamkan mata sejenak. Aku merasa angin menertawakan aku,  dia tak tau bahwa kau benar-benar ada di balik kelopak mataku, dan dengan mudahnya getir rinduku mulai terurai, aku merasa angin menganggap aku ini bodoh. Melihatku duduk dibangku usang ini dengan senyum terpahat tanpa satu orangpun yang memahatnya. Angin tak percaya jika senyum ini tercipta dengan sendirinya disaat aku memejamkan mata. Ah, biarlah sampai puas dia menertawakanku bersama gumpalan kapuk hitam yang ada diatasku. Cukup dengan seperti ini, aku tidak lagi merasa sepi.
Untukmu,
Bolehkan aku merindu?
Sebenarnya aku..
Sebentar, aku melihat seorang gadis berjalan kearahku. Sepertinya aku mengenalnya. Semakin dekat. Ya aku mengenalnya.
Angin seolah berbisik untuk mulai menertawakanku lagi. Pun aku tak ingin gadis itu ikut menertawakanku juga. Maaf, aku ingin bersembunyi sekarang, nanti akan ku lanjutkan
.........

Surat itu terpotong, aku merasa bersalah telah menakuti gadis tadi. Namun, benar. Aku semakin yakin aku mengenali gadis yang meninggalkan selembar kertas ini, dan dia juga mengenaliku. Dan aku juga yakin dia mampu membuatku untuk mengingat tempat ini, mengingat bangku usang ini.
Sudut mataku mulai mencari bayangannya. Lama. Hingga akhirnya aku melihatnya lagi dibalik tiupan angin. Gadis itu, aku mengenalinya. Bukankah itu bayanganku?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...