Senin, 22 Juli 2019

Tidak Mengetauhi Apa-apa


Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah kepergian seseorang. Dan hidup ini tidak pernah berhenti untuk siapapun. Rasanya menyedihkan ketika kita telah belajar untuk menjadi bagian dari hidup seseorang, lalu berakhir seolah tidak pernah mengenal satu sama lain. Kita harus terima bahwa terkadang memang seperti itu cara waktu memutarkan kemudinya. Pendapat orang, termasuk perasaan mereka, pergi ke satu arah, kemudian ke lain tempat lalu lupa begitu seterusnya..
Kita jadi tahu, kita belajar bahwa dalam perjalanan ini selalu ada peran masing-masing pada tiap orang yang kita temui. Beberapa ada yang menguji kita, ada yang membawa kebahagian, beberapa ada yang justru memanfaatkan kita, dan beberapa lagi ada yang membawa segudang pelajaran.
Pelajaran itu membuat kita jadi tahu, bagaimana memperlakukan hati orang lain supaya tetap baik-baik saja, walaupun kita sendiri sedang tidak baik-baik saja. Memahami orang lain dari cara kita berfikir bahwa terkadang beberapa cerita hidup memiliki rangkaian yang tidak jelas di ujungnya, baik di awal, tengah, maupun di akhir. Hidup ini adalah tentang ketidaktahuan, yang bisa kita lakukan adalah memulai perubahan, mengetahui kelemahan,, menerima keadaan dan berusaha untuk memberi yang terbaik pada kesempatan yang singgah, meski tanpa tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa, termasuk tidak mendapat jawaban. Sebab tidak mendapat jawaban adalah sebuah jawaban, hanya saja banyak yang tidak mau menerimanya. Aku mungkin tidak tumbuh dewasa bersama orang tua, tapi aku tahu jika selama ini aku didewasakan oleh keadaan, keadaan yang ku benci sudah berjasa banyak dalam hidup, mau tidak mau mereka memaksaku menerima sesuatu yang tidak aku suka, bukan hanya itu bahkan mereka memaksakanku untuk mencintai apa yang sangat aku benci, salah satunya kesendirian. Aku belajar bahwa semakin panjang perjalanan ditempuh, semakin sulit hanya untuk sekadar percaya. Bukan karena tidak ingin percaya, melainkan sudah terlalu banyak sesuatu yang hadir tanpa sempat kita tuntaskan. Rasa percaya itu memudar sebab terlalu banyak yang hancur karena telah memberikannya pada orang yang tidak tepat
Mungkin untuk saat ini, memang lebih baik untuk tidak tahu apa-apa. Jalani saja, esok biarlah jadi urusan semesta.

Rabu, 27 Februari 2019

Cita-citaku Yang Sederhana


Setiap orang sudah didoktrin oleh seorang guru dari tingkat pendidikan dasar sampai mahasiswa untuk menggantungkan cita-citanya setinggai langit.Dan kebanyakan dari mereka tanpa sadar atau disadari mereka malah meremehkan hal-hal yang sangat kecil dan menggampangkanya. Sehingga kebanyakan dari mereka justru hal yang kecil itu dapat menjadi bumerang bagi kesusesanya kelak.


"Ketika cita-cita sesederhana menjadi seorang ibu rumah tangga biasa menjadi begitu langka dan sulit sekali terlaksana.. Ketika begitu sedikit dari mereka yang bercita-cita jadi ibu rumah tangga seutuhnya.. Maka dengan seizin-Mu Yaa Rabb.. Perkenankanlah saya menjadi bagian dari yang sedikit itu.. Amiin."
Ketika menulis catatan ini saya adalah seorang remaja yang berada dalam masa peralihannya menjadi seorang wanita dewasa, sedang menuntaskan perjalanan pendidikan di sebuah perguruan tinggi swasta kelas guru karyawan dan tinggal beberapa tahun lagi menjadi sarjana.
Seorang wanita yang berada pada masa gemilangnya dalam meniti karir (katanya), dengan umur yang cukup untuk bekerja di tempat yang baik dengan penghasilan yang sangat baik, menjadi anak perempuan yang membanggakan sebab sudah berpenghasilan, Entah semua itu benar adanya atau tidak. Yang jelas saya selalu percaya pada insting dan bagaimana cara hati membawa saya untuk merasa. Sepintas, semua yang saya miliki, kehidupan saya yang nyaris begitu sempurna, adalah apa yang sebagian perempuan zaman sekarang impikan. Aku adalah perempuan yang berpendidikan, memiliki keluarga, teman dan seorang kekasih yang sudah begitu berjasa banyak dalam hidup saya. Saya amat sangat bersyukur dengan keadaan saya. Semua yang Allah titipkan pada saya sekarang adalah apa yang dahulu pernah saya cita-citakan. Alhamdulillah.. Allah memberikan kesempatan untuk merasakan dan membimbing bagaimana harus menyikapi begitu banyak cita-cita yang terlaksana menjadi nyata ini dengan baik dan bijaksana. Saya jadi teringat kutipan dari seorang ustazah, "Muslimah yang berjuang dalam kebaikan adalah mereka yang selalu to be continued.. berkelanjutan dan terus menerus…"
Kemudian saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan sederhana, “Apa cita-cita saya berikutnya?"
Di sinilah, di usia saya yang sudah berkepala dua saya merasa jadi lebih tua karena sepertiga partisi dari otak saya didominasi sesuatu yang sedang saya pertimbangkan untuk menjadi cita-cita saya di masa yang akan datang. Menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Sederhana. Sepertinya mudah, tetapi entah dari sudut pandang mana saya menilainya, sekedar membayangkannya saja sulit sekali rasanya. Padahal pada hakikatnya, rumah tangga adalah ladang pahala yang sangat luas bagi seorang wanita. Semuanya tidak lagi membanggakan ketika memiliki cita-cita menjadi ibu rumah tangga biasa dan seutuhnya mengabdikan diri kepada keluarga saja. Sebenarnya saya tidak memerlukan banyak waktu untuk berfikir dan memilih cita-cita tersebut. Pelan-pelan mimpi itu bergumul dalam pikiran saya. Menyediakan bekal untuk suami tercinta, memberikan rumah yang bersih dan nyaman sepulangnya, pakaian yang bersih, wangi, dan tersetrika rapi. Betapa membahagiakannya bila saya bisa mengerjakannya sendiri, tanpa bergantung pada si "Mbak" (pembantu). Sungguh saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya akan cemburu jika suami lebih menyukai dan menikmati masakan si "Mbak".
Kemudian … Allah telah Mempercayai kita menjadi orang tua, menjaga calon buah hati kami, membekalinya dengan gizi dan pendidikan yang baik bahkan jauh sebelum kelahirannya, mengenalkannya pada rangkaian hijaiyah, membacakannya cerita, mengobrol dengannya, ikut membangunkannya di waktu subuh. Saya tidak ingin kehilangan moment-moment penting dalam sembilan bulan, saat sang buah hati begitu dekat dengan jantung saya. 
Saya tidak ingin menyia-nyiakan dan membiarkannya berlalu begitu saja karena kesibukan saya bekerja. Saya tidak ingin hanya disibukkan mempersiapkan popok, baju, dan alas tidurnya. Saya ingin sibuk mempersiapkan kesiapannya menjadi seorang manusia. Dan ketika Allah mengizinkan ia lahir ke dunia. Namun saya masih harus bersusah payah mencari celah lebih lama untuk cuti dari pekerjaan. Saya tidak ingin rutinitas menyusuinya, memandikan, mengganti popoknya, berlangsung rutin hanya dalam tiga bulan saja. Saya tidak ingin kehilangan 8 jam dalam sehari dengan tidak melihat ia tumbuh besar dan pintar. Saya tidak ingin kehilangan menyaksikan langkah pertamanya. Namun dengan intensitas yang sama, kekhawatiran yang lain juga hadir menyertainya. Bagaimana jika kehidupan saya jadi mengerikan dan saya di sia-siakan sebab tak berpenghasilan. Di cemooh sana-sini sebab hanya bisa mengadakan tangan meminta uang belanja dan kebutuhan diri pada suami. Lantas bagaimana dengan kehidupan sosial yang saya tinggal di luar sana? Lantas bagaimana jika (Naudzubillahi Min Dzaalika)....
Tak usah khawatir!! Allah telah menentukan dan mengatur jodoh, rezeki, dan maut bagi tiap-tiap kita. Banyak cara untuk mengupayakan rezeki yang disebar-Nya di seluruh muka bumi ini. Niat yang baik akan beriring dengan hasil yang baik, Insya Allah. Rumah adalah sekolah dan madrasah paling murah bagi anak-anak kita, dan baik tidaknya kualitas pendidikan yang mereka terima itu bergantung pada kita, orang tua mereka. Maka bersemangatlah, Allah menghadirkan masalah berpasangan dengan solusinya. Pasti.
"Semoga Allah memberikan kemantapan hati jika cita-cita itu bukan sesuatu yang salah, menjadikannya tidak sebatas pada keinginan, tetapi juga kebutuhan. Semoga Allah memperkenankan cita-cita sederhana saya menjadi nyata, meridainya dan menjadikannya jalan terbaik yang dipilihkan-Nya untuk saya, memberi kemudahan bagi kami untuk melalui aral-melintangnya. Percaya bahwa suami kita adalah laki-laki yang bertanggung jawab,  mengerti atas hak diri kita,  mengerti kebutuhan kita tanpa kita minta. Percaya bahwa Allah akan menjaga dan memelihara apa yang menjadi kepunyaan-Nya. Percaya bahwa berkarya menjemput rezeki-Nya bisa dimana saja. Percaya bahwa tidak ada sandaran hidup yang lebih baik selain Allah." 

Semangat menjadi istri sholihah, ibu rumah tangga. Sebab kini cita-cita itu langka peminatnya. Jangan ahli meremehkan, tak peduli apapun itu. 

Selasa, 04 Desember 2018

Tentangmu


Jujur, aku tidak tahu banyak tentangmu. Yang aku tahu, kita bukan siapa-siapa sebelum memutuskan untuk berdampingan menghadapi masa depan. Kita tidak terikat darah, kau bukan sanak saudaraku, kita sama-sama orang asing, berbeda kehidupan, berbeda kebiasaan namun kita saling percaya dan menggenggam komitmen yang sama. Sekitar Tiga tahun terakhir aku bersamamu, aku mengaku telah mengenalmu padahal kosong, sedikitpun pasalmu aku tak mengerti. Bahagiamu itu apa? sedihmu itu apa? dan apa kau bisa menjelaskan bahwa aku ini siapa? tentangmu aku tidak tahu, yang aku tau mungkin hanya sepengal kisah kasih kita, sikap, sifat, prilaku, ambisi, ego, hati dan pikiran terdalammu, aku sama sekali tak tahu. Tiga tahun mungkin adalah waktu yang terlalu singkat, membuat opini tentangmu mungkin adalah hal yang tabu. Aku tahu selama ini kita memegang komitmen yang sama, berjanji saling menjelaskan, mendengarkan, memahami dan mengerti. Dan yang terherankan sekarang, mengapa kau mau membuat komitmen dengan gadis sepertiku? yang jika ditanyai tentangmu dia hanya menyebut kata CINTA? yang sama sekali tidak mengenalmu? kau percaya dengan perasaanku padamu padahal aku sama sekali tidak mengerti maumu. 

Jariku terus mengetik dan air mataku terus jatuh, basah sudah bajuku malam ini. Aku benar-benar pada titik terlemah, aku baru menyadari bahwa aku sama sekali tidak tahu tentangmu, aku menyerah pada keadaanku ini. Betapa menyedihkannya aku ini dan betapa kasihannya engkau, menghabiskan masamu dengan gadis sepertiku. Kemarahmu yang tidak aku menerti, kata-kataku telah ku buat sehalus mungkin, sudah ku tutupi luka dihatiku ini, yang kutaburkan padamu hanya wewangian bunga, namun percuma. Ku dengar setiap kali kau berdo'a, kau meminta seseorang yang mampu menyejukan hatimu, menentramkan jiwamu, tapi aku malah membuatmu jadi sebaliknya, betapa kasihannya engkau. Kau belum jua di pertemukan dengan orang yang kau sebut-sebut dalam do'amu itu. Aku, orang yang mengaku mencintaimu sama sekali tidak tahu tentangmu, aku hanya punya air mata ini, yang kata orang begitu mahal dan begitu tidak berharga untukmu.
Malam ini aku merasa seperti orang asing, aku merasa kosong momplong tanpa isi, kau tinggalkan pesan berisikan kata pergi, mungkin benar aku bukan sosok yang tepat sebagai penyejuk hati, carilah yang mempu membuatmu tenang, sungguh aku bukan sosok tersebut, keputusan itu memang benar, tak pantas aku menemanimu. Selamanya sampai aku jadi debu. 

Besok biarlah jadi rahasia Tuhan, aku tak perlu terlalu mencemaskan. Aku telah mengucapkan ini berkali-kali, namun aku rasa belumlah cukup kata maaf dariku untuk menebus segala dosaku dan kebaikanmu, namun percayalah, aku selalu berdo'a pada Tuhan kita, untuk selalu melindungimu dan membalas setiap kebaikanmu, jangan paksakan sesuatu yang tidak kau suka, jika tidak bisa, rubahlah cara berfikirmu untuk berlatih menerima segala sesuatu yang tidak sesuai kehandakmu, jika masih tidak bisa, cobalah dulu dari sekarang. Aku dulu juga tidak mau menerima keadaanku yang sekarang, aku membrontak pada Tuhan meminta agar aku dibebaskan dan meminta aku untuk diletakkan pada kehendak hatiku. Aku begitu marah pada dunia, meminta mereka untuk mengembalikan apa yang sudah mereka renggut dariku, Tapi ketidakmungkinan itu yang perlahan mengajariku untuk menerima dan berlatih untuk selalu menerima. Semoga kau juga bisa belajar dari pengalamanmu. Aku tidak sedang menasehatimu, aku sedang bercerita sedikit dengan pengalaman bodohku dan aku sedang mendo'akanmu. Berbaik sangkalah pada Tuhan, Ia tidak akan membuatmu telampau kecewa untuk hasil dari setiap yang telah kau lewati. Meskipun aku tak tahu semua tentangmu, tapi aku tahu jika kau adalah orang yang cerdas dan tidak bodoh sepertiku, maka dari itu aku percaya kau mampu belajar dari setiap peristiwa lebih dariku. 

Sabtu, 10 November 2018

Aku Di 21 Tahun

Langit rupanya agak mendung, samar tak bisa kutebak, abu-abu serasa sayu. Sore ini memang agaknya mendung menyelimuti desaku, burung-burung terbang berbondong-bondong mencari tempat berteduh. Rupanya hatiku dan hatimu pun demikian, mendung abu-abu sedang menutupinya cukup tebal, kubuat tidurpun ia masih setia disitu. Aku ingin sedikit bercerita kiranya kau sempatkan beberapa menit untuk membaca ini, kemarin tepatnya, tanggal 7 November aku tepat pada umur 21 tahun, ternyata goncangan diumur ini cukup dasyat. Dari siklus Haidku yang mulai normal, sampai tingkahku yang sedikit berkurang ketidakjelasannya. Satu hal lagi, aku mulai tidak bisa diam ketika orang bertanya pasal sebuah pernikahan kepadaku, bukan. Bukan bertanya tepatnya, tapi mereka seakan menodongkan pisau, dan jika aku tidak menjawabnya mungkin pisau itu akan menancap di perutku. Aku sedikit sensitif, pasalnya aku juga mengharapkan masa itu tiba dan orang lain seakan tidak mampu mengerti  keadaanku. Kepiluan diumur ke 21 ini belum berakhir, aku banyak disuguhi drama kehidupan dan aku dipaksa untuk masuk kedalamnya. Aku harus di paksa berpura-pura bahagia padahal hatiku sedang porakporanda, aku harus mendiamkan lisanku untuk menjawab pertanyaan mereka, agar tidak terlalu dalam luka menganga.

Aku tidak pernah berhenti berdo'a diujung sujudku untuk Tuhan segera mendekatkan jodoh untukku, yang bila mana ia jauh dekatkan dan jika ia sudah sudah dekat aku memohon agar segera dirapatkan. Aku meminta hal yang baik bukan? aku hanya meminta jodoh, yang katanya mampu membuat hati berhenti bergoncang dan mampu menjadi obat untuk segala penyakit, memperlancar rejeki dan menentramkan hati, tak banyak kusebut nama laki-laki yang ingin ku ajukan pada Illahi, aku hanya menyebut namamu bukan sekali namun berkali-kali. Kalaulah agaknya kau tak keberatan, bantu aku meminta pula pada Tuhan, mungkin do'a akan lekas sampai jika diayuh bedua. Aku tidak pernah memaksa orang lain mengerti posisiku, sebab aku juga tidak bisa mengerti posisi mereka. diam dan bicara seperlunya berharap mereka dapat menerima. Di umurku yang bertambah angkanya ini ku harap bukan hanya siklus Haidku saja yang lancar, aku harap jalan kita menuju ridhonyapun juga lancar. bukan hal sulit jika kita mau berusaha dan berdoa, jadi aku harap kaupun juga berdo'a untuk kita. Jodohku yang entah sedang apa sekarang, jika sedang sakit segeralah sembuh, jika sedang malas bekerja ingatlah aku dan anak-anakmu kelak, jika sedang sedih cerialah, jika sedang sedang lapar, makanlah tapi pelan-pelan saja jangan terlalu cepat melahapnya nanti kau tersedak, jika kau sedang tertidur semoga aku ada dimimpimu itu, dan jika kau sedang menggambar dan tengah berjuang semoga dengan itu datanglah rejeki yang melimpah untukmu, selalu sehat jasmani rohanimu, selalu tercapai hajad baikmu, selalu ditentramkan hatimu, selalu rendah hati dan selalulah syukur ada dihati dan lisanmu.  

Senandung ini kiranya tepat untukmu. hihihi..
"lihat aku sayang
 yang sudah berjuang menunggumu datang
 menjemputku pulang
 ingat slalu sayang 
 hatiku kau genggam
 aku tak kan pergi menunggu kamu disini..."





Kamis, 27 September 2018

Si Penyabar Porsi Jumbo


Cerita malam ini, aku membuka dan membaca beberapa pesan singkat kita dulu. Ternyata aku memang pamarah sekali ya, meluapkan emosiku padamu dan kamu hanya bisa berkata "sabar dulu..". Tapi mungkin sifat pemarahku masih jadi kebiasaan sampai detik ini. Banyak hal yang mungkin tak kita sadari sudah lama berlalu dan tidak kita jadikan pelajaran, padahal kita berjanji untuk belajar dari pengalaman namun ketika kita sudah mampu melewati pengalaman tersebut, kita secepat kilat melupakannya. Mengulangi lagi, berkata seperti itu lagi dan seperti itu terus. Yah, pada kenyataannya sabarmu lebih banyak dariku. Aku beruntung sekali, karena kamu bukan lelaki pemarah atau lebih parah lagi seperti lelaki yang suka main fisik jika emosi dan yang pasti akan sangat aku takuti. Kamu itu jauh lebih seperti sahabat, mengerti, paham meskipun kamu harus mencoba terus mengerti dan memahami lalu kamu dipaksa menerima. Maaf ya.. Perempuanmu ini masih sering berlomba-lomba dengan ego dan emosi, menomorsatukan mereka tanpa sedikit mengerti. Kamu laki-laki yang mempunyai stok sabar yang jumbo, menghadapiku, memberitahuku, mengajarkanku dan menerimaku sejauh ini. Sabar jadi salah satu ciri khas darimu, aku tidak bisa menjelaskan sebenarnya tapi yang pasti jika aku diharuskan memilih lelaki tersabar dan hampir tidak pernah marah-marah aku pasti memilihmu. Setiap kali aku berulah, kamu satu-satunya manusia yang memperhatikanku, lalu memberitahuku begitu pelan. Meskipun terkadang kamu kurang menyadari apa saja hal yang aku tak suka darimu, hingga kamu merasa semuanya sedang baik-baik saja padahal hatiku sedang porak-poranda. Tak apa, aku sedang tak mau membahas kekuranganmu, aku ingin malam ini khusus menulis tentang kesabaranmu yang jumbo itu. Agar aku selalu bersyukur karena adanya kamu. Kita manusia yang berbeda, jauh dari keluarga yang tak sama, kebiasaan yang bertolak belakang, sifat, sikap dan masih banyak lagi ketidaksamaan kita ini. Namun di usia kita saat ini, kita tidak dituntut mencari apa saja yang sama, namun lebih mencari bagaimana yang tidak sama bisa saling melengkapi. Seperti itulah kita, kanan dan kiri bukanlah sesuatu yang sama kan? namun kamu pasti tau jika burung tidak mampu terbang dengan sayap kanan dan kanan atau kiri dengan kiri, sebab burung hanya bisa terbang dengan sayap kanan dan kiri. Pahamilah kekurangan kita, lalu sandingkan dan terimalah dengan lapang dada apa saja dari kita yang berbeda. Mungkin jika sudah kamu sandingkan, kamu akan menemukan manusia yang saling menyempurnakan.
Terimakasih atas porsi sabarmu selama ini.
Selamat tidur selamat beristirahat.

Selamat malam..
♥️

Minggu, 16 September 2018

Si Melankolis

Mungkin akulah perempuan yang terlalu melankolis, sering bingung, menangis, meratapi nasibku sendiri. Berlebih-lebihan dalam mengungkapkan kata sayang. Tapi nyatanya aku tak bisa sederhana perihal rasa, aku perempuan yang seperti ini adanya. Jika aku memilihmu maka aku akan menumpahkan sejuta puisiku padamu, mengatasnamakan kamu sebagai judul puisiku. Dan itu juga resikonya mencintai perempuan seperti ku, kamu akan lebih bermuak-muakan dengan puisiku. Kamu harus dipaksa bahagia ketika menerimanya, kamu harus menahan muntah untuk itu, harus dipaksa mengerti setiap kata yang aku tulis. Aku benar-benar sadar jika yang aku mampu ketika sedih adalah menangis dan pasti ada puisi yang menodai kertas putih di sebelahku. Ketika hatiku benar-benar galau gundah gulana, aku tidak bisa menghitung berapa banyak puisi yang aku ciptakan. Lagi-lagi kamu jadi orang yang terpaksa membacanya, mengikuti alurnya membuat kepalamu serasa ingin pecah. Hmmm.. menulis jadi salah satu cara aku meredam emosi ku, menumpahkan nya dalam bentuk kata lalu kau akan dibuat pusing membacanya. Berpusing-pusinglah menghadapiku, kamu sedang berhadapan dengan resiko mencintai dan dicintai olehku. Terimalah dengan lapang dada. Jangan terlalu keras menghadapiku, sebab aku bisa lebih keras darimu. Dan jangan pula terlalu lembut menghadapiku, sebab aku mampu lebih lembut hingga tak bisa kau jamah. Pintar-pintarlah menghadapiku, terlebih dengan sifatku yang ini. 

Rasa tergadaikan

Ketika perasaanku tergadaikan
Terombang ambing mencari dahan
Menangis sendiri dengan pikiran dan perut yang kosong
Meratapi nasibnya sendiri
Hanya ikut kemana angin pergi
Tanpa bisa melawan
Ia pernah tersangkut pada dahan
Ia memberikan aku tempat ternyaman
Yang saat ini jadi alasan aku terluka
Dadaku sesak
Air dimataku pecah
Dia mengalir ke ulu hati
Menciptakan perih yang aku sendiri tidak mengerti
Aku hanya bisa seperti ini
Tidak bisa menolak
Tidak bisa mengajukan permohonan
Supaya selamanya dia tinggal
Tapi ternyata perasaanku sudah tergadaikan.

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...