Berat hatiku menulis puisi tentang Ibu, karena aku pasti akan mulai menangis. Kenangan tentang Ibu terlalu indah dan tak kan bisa terwakili oleh kata-kata sepuitis apapun.
Kenangan tentang Ibu terlalu detail, melekat, mendalam sehingga sulit untuk dituliskan apalagi sekedar melalui puisi. Dari Ibu masih seorang wanita muda yang melahirkanku di usia 35 tahun sebagai anak kelimanya, hingga Ibu yang begitu khusyu, siap, tenang dan tegar menghadapi maut 5 tahun yang lalu.
Kenangan tentang Ibu adalah kenangan saat ulang tahunku yang ke 12, ada temanku yang memberi ucapan lewat pesan singkat dan ternyata beliau membacanya. Aku yang sedang mencuci piring, tiba-tiba dicium dari belakang dan disusul bisikkan "selamat bertambah umur nak..." seketika airmataku tak dapat ku bendung.
Kenangan tentang Ibu adalah kenangan saat aku sakit campak, semalaman tanganku diusap agar bisa tidur tanpa raut wajah lelah dan mengantuk sedikitpun.
Kenangan tentang Ibu adalah kenangan saat kita berdua ke Pasar, saat Ibu membelikan sepatu di salah satu toko, makan soto warung pojok pasar, sebagai hadiah masuknya aku ke sekolah baru.
Kenangan tentang Ibu adalah ciuman yang aku terima bertubi-tubi di pipi dan di kening saat aku pulang dan terpisah cukup lama darinya.
Kenangan tentang Ibu adalah kenangan malam terakhir di saat aku tidur menemaninya di rumah sakit. Biasanya Ibu tidur menghadap langit-langit, tetapi pada malam itu beliau tidur mengahadap kanan seraya menatap diriku yang sedang tidur di kasur bawah. “Mak belum tidur?”, “Nggak bisa tidur, pengen cepat pulang”. Seolah beliau tahu bahwa malam ini malam-malam terakhirnya, maka wajahnya menatapku sementara aku tertidur pulas kelelahan. Tepat pada hari kamis jam 21.03 beliau begitu ramah dan ‘welcome’ menghadapi malaikat maut. Banyak aku dengar cerita orang berada dalam proses sakaratul maut, tapi bagiku proses Ibu adalah yang terindah dan terlembut, karna senyum mengengembang menghiasi wajahnya.
Kenangan tentang Ibu adalah pandangannya yang tajam dan menembus jauh di saat menjelang kepergiannya. 3 jam sebelum kepergian beliau, aku pamit pulang untuk mengambil baju dan perlengkapan lainnya. Andai saja saat itu aku tahu, pasti aku akan menemani dan berbincang terakhir dengan beliau, saudara laki-lakiku sempat bilang sebelum kondisi Ibu drop beliau minta diusap tangannya, hal yang sering beliau lakukan dan menjadi kebiasaan yang aku lakukan saat aku datang menunggu ataupun saat aku akan pergi dari rumah sakit.
Kenangan tentang Ibu adalah di saat aku memandang jasad Ibu yang sudah ditinggalkan ruhnya menuju arsy. Semua orang menelepon satu persatu saudara dan kerabat, entah kenapa perasaan ikhlas dan tenang datang menghampiriku, sementara justru orang-orang yang aku telepon menangis tersedu-sedu. Semua tidak percaya Ibu pergi begitu cepat, kondisinya memang sudah membaik meski sempat di ICU selama 3 hari. Keadaannya membaik, beliau masih kuat untuk melepas bantuan pernafasan sendiri, badannya pun sehat. Saat itu bahkan dokter juga akan mengijinkannya pulang, namun takdir berkata lain. Alloh sayang kepada Ibu dan keluarganya sehingga beliau wafat dalam kondisi yang sehat, bukan di ruang ICU dengan memakai alat-alat Bantu pernafasan.
Kenangan tentang Ibu adalah saat memandikan jenazahnya yang begitu singkat. Ibu dulu yang memandikan kami sambil menyanyikan lagu dengan wajah tersenyum. Dan saat itu kami melihat orang lain memandikan beliau, aku masih memandang jasad tanpa ruh itu sambil mencoba tersenyum dan memanjatkan doa-doa.
Kenangan tentang Ibu adalah wajah Ibu yang kembali muda, segar dan cantik sesudah di mandikan. Seolah semua tanda-tanda bekas sakit hilang dari wajah Ibuku tercinta. Melihat wajah Ibu yang tersenyum membuat wajahku tersenyum pula saat melepas kepergiannya, meskipun di dalam dada ini bergejolak rasanya dan Alhamdulillah ada “bendungan besar” yang mampu menahan jatuhnya air mataku sejak di rumah sakit hingga mencium wajahnya untuk terakhir kali. Meskipun akhirnya bendungan itu tak dapat menahan lagi, memporakporandakan ketegaran yang sempat aku bangun.
Untuk saat ini,
Kenangan tentang Ibu adalah kedatangan Ibu di mimpi-mimpiku di saat aku merindukannya. Untuk Ibunda tercinta….
Maafkan aku jika hanya sedikit waktu luang yang kuberikan padamu sementara dirimu mencurahkan seluruh waktumu dari aku lahir hingga kepergiaanmu saat itu. Maafkan aku yang terkadang kurang sabar menghadapimu sementara hatimu seluas samudra dan selalu memahamiku. Dan benar aku tak bisa berhenti menulis dan menangi jika tentang Ibuku. Maka seperti biasanya aku akan berdoa untuk menghentikan tangisanku...
Allahummaghfirlaha… Ya Allah ampunilah ia… Ibuku tercinta
Warhamha… Sayangilah ia...
Wa’afiha….. Tinggikanlah derajatnya
Wa’fu’anha… Maafkanlah ia...
Wa laa tahrim ajroha… Jangan halangi balasan pahala untuknya...
Wa laa taftinna ba’daha... Jangan datangkan fitnah sesudah kepergiannya...
Wa akrim nuzulaha… Muliakanlah kedatangannya...
Wa wasi’ madkholaha….Lapangkanlah jalan masuknya...
Wannawir quburaha… Terangilah kuburnya...
Waj’al Jannatal matswaha… Dan jadikanlah surga sebagai tempat tinggalnya...
Warzuqha bi Rahmatika ya Arhama Raahimin. Serta berikanlah ia rizki dengan rahmat Mu ya Alloh yang Pengasih dan Penyayang... Air mataku pun berhenti, karena aku yakin beliau kini berada dalam kesentausaan di disisiNYA. Amin
Putrimu,
Zahrotul eLeN.