Kamis, 31 Desember 2015

Teruntuk Gadis Pelupa.


Hei kamu, gadis pelupa.

Kamu yang sibuk mencari kesibukkan hingga tiap hari hampir kewalahan karena disibukkan dan menyibukkan berbagai hal ntah itu kecil maupun besar, ntah itu tentang bagaimana warna baju atau bagaimana prilaku atau bahkan suasana kalbu. Kamu gadis yang merubah semuanya menjadi sendu tak menentu.

Kamu yang belum beranjak tua tapi kamu gadis pelupa, berbuat apa-apa tanpa dikira hanya berandalkan rasa. Hingga semua hal kemudian berujung luka, kecewa dan penyesalan yang mengangga menghantui tiap masa. Mau sampai kapan kamu terus lupa akan hal yang seharusnya tak terlupa.

Gadis,,,
Kamu itu istimewa, cantik apa adanya maka tak perlu bertingkah mengada-ada hanya untuk mencari pria. Kamu hanya perlu menata, menjaga, dan menebar pesona penuh makna. Ingatlah gadis pelupa, bahwa dalam hal yang istimewa ada ketinggian harga yang tiada terkira. Jangan menjadi orang yang masa bodoh, takut tak laku dan masalah cinta jadi terpugu -puguh,  semuanya dibuat luruh, kecepatan tak tertandingi untuk hati dan tangan pria berpindah dimana terlalu mudah untuk dijamah, ketika menjauh jadi tak peduli tubuh kemudian percaya diri runtuh dan tampak lusuh, semuanya berujung sedih dan kamu jatuh.

Kamu itu ibu, jadi tempat semua mengadu maka tak pantas mengalau terlampau. Rahimmu itu rahim peradaban, perangaimu menjadi sekolah kehidupan. Nasib bangsa ada ditangan, jadi apa generasi penerus kedepan. Carilah segala hal yang kamu perlukan, mainkan peran penuh kebaikan, tinggalkan kenangan kebermanfatan. Jadilah ibu yang melahirkan anak-anak tak terlupakan, sejarah abadikan dengan tinta emas dalam catatan. Alangkah indah jika kamu mampu menjadi ibu segala ibu, ibu para anak bangsa berguru hingga tak ada yang merasa tak terkasihi oleh ibu dan semua terus terpacu untuk maju tanpa ragu.

Hei kamu, siapa kamu?

Aku ini yang mendadak teringat dan menulis dengan cepat, ada kesungguhan dalam takut.

Jujur aku takut terus menjadi gadis pelupa yang hilang garis ceria, sibuk bertanya, hanya bisa iri pada yang diluar sana.

Kau tau kenapa aku takut?
Sebab,
Akulah gadis pelupa itu.

Laili,

Rabu, 30 Desember 2015

Bukan 'Jatuh Cinta'

     
     Detik terus melaju. Seirama dengan celoteh jarum jam yang terus memburu. Aku yang masih terpaku, pada kenyataan logika yang sulit diterka. Entah apa inginku, melayang layang bebas di udara, sedang berlarian dan berlomba dengan realita. Nyatanya ber-ekspektasi tak seindah itu, ketika pilihan terpampang jelas didepan mata. Apa yang harus aku perbuat?? saat tak ada lagi opsi yang harus ku petik dan segala cerita mengalir begitu saja, seperti air yang mengikuti arus kemana ia akan dibawa berkelana, sampai bertemu dengan samudera.

      Berwaktu-waktu telah tersapa bayang-bayang duka. Lukanya masih khas tangan si pengukir. senyumku masih tetap terpahat meski getir. Lalu terbayang berbulan-bulan lalu, saat aku sedang mengecap manis pahit realitas sebuah kisah, bersama seorang yang benar tak ingin ku simpan wujudnya dalam bagian memori manapun. Aku hanya ingin berkaca, merefleksi diri sambil berjalan kedepan dengan berani, tanpa harus sedikit menoleh ke belakang lagi. Namun apakah itu langsung berhasil? rupanya justru aku bagai berjalan jauh dengan sebuah spion, ya berapapun jarak yang kutempuh sedikit banyak terpantul bayangan itu, coretan masa lalu. Aku menyerah dengan keadaan, andai aku dapat memilih bagian hidup mana yang ingin ku simpan dan ku hapus ceritanya.

   Sampai beratus-ratus hari lamanya, aku dipertemukan seorang sejawat yang baru saja kembali dari negri nun jauh disana. Hampir beberapa tahun tak jumpa. Sosoknya bahkan tak pernah ku bayangkan dalam delusi, pada hakikatnya telah menggetarkan hingga ke bagian yang paling dalam, ya, 'hati'. Entah bagaimana ilmu tertinggi yang dimilikinya,  ia mampu melakukan itu. Segala yang ku butuh, bukan hanya yang ku mau dapat terpancar dari segala sifat dan sikap. Tanpa ku sadari aku terpatut pada potretnya, tepatnya terkesima. Menghadapi rasa baru yang beratus hari terkubur dalam. Aku tak ingin menyebut ini jatuh cinta, sebab aku tidak jatuh pada cinta. Cinta itu seharusnya mengindahkan, bukan menggelapkan. Mengapa harus ada kata 'jatuh' didepan cinta? apakah setiap cinta yang tercipta memang harus berakhir dengan airmata?? apakah cinta identik dengan sengsara? namun yang kurasa saat ini tak seburuk teorinya. Sku bisa merasakan hadirnya bagai pelengkap yang memang harus ada, turut mengisi dalam pergerakan hidupku, turut berperan dalam kisah hidupku..

     Meski pada akhirnya aku harus mengetahui, tak selamanya cinta harus selalu hadir sebagai sosok nyata, lantaran tak ada perjanjian di awal waktu, di kali pertama aku menyebutnya cinta, yaitu perjanjian bahwa kita harus selalu jumpa. Aku tak peduli, yang ku tahu, kehakikian dan prinsip cinta itu memperbaiki, bukan mengotori, dan ia telah menunjukkan seluruhnya. Semuanya rencana Illahi, telah tertulis dalam garisNya, dan yang ku yakini. Pertemuan ini bukan kebetulan semata.

Selamat malam mata bermanja.. 

ZeteLeN.

Selasa, 29 Desember 2015

Boleh Aku Membenci?.

"Benci" kata yang tak kuharapkan hadir dalam diriku. Suatu rasa yang begitu menyakitiku saat aku merasakannya... Aku tak ingin ia tumbuh dihatiku. Aku ingin membuang jauh rasa itu, tapi entah kenapa kali ini dia 'ada', mencoba menanamkan benih-benihnya dihatiku.

"Kau harus pergi..!" Kataku berulang kali

"Tidak.." Ia membantahku, entah kenapa ia begitu kerasnya membantah omonganku kali ini.

"Aku tak ingin kau ada dihatiku, ku mohon kamu pergi, jauhi aku..."

" Kamu harus merasakannya saat ini, karna jiwamu sedang kacau, semua orang berkata kepadamu. Cobalah untuk membenci orang-orang yang telah melukai hati dan perasaanmu.."

"Kenapa kamu harus ada dalam diriku, aku tak pernah menginginkanmu, bahkan tak terbesit sedikitpun dihatiku untuk merasakan 'racun'mu.."

"Hahahaa.. kamu tak perlu bohong seperti itu. Kamu akui saja, bahwa dalam hatimu telah tertanam bibit-bibitku, sebentar lagi bibit itu akan menjadi benih kebencian dan akan bermekaran, kamu akan merasakan nikmatnya membenci.."

"Tidak.. Tak akan kubiarkan bibit itu tumbuh, aku akan membunuhnya dengan 'kesabaranku' yang tersisa"

"Coba saja kalo kamu bisa, karna saat ini kamu merasa kesal dan tidak suka dengan sikap seseorang. Kamu sudah menyimpan rasa tidak suka itu dari dulu, iya kan? Tapi kamu tidak berani menyakitinya dengan kata-kata apapun yang menunjukkan ketidaksukaanmu.."

"Iya, lalu kenapa? " aku mencoba menantangnya...

"Kamu sama sekali tidak bisa tegas terhadap dirimu sendiri, apalagi terhadap orang lain. Kamu hanya menyimpan dan menyimpan terus rasa tidak sukamu. Gelas yang kosong apabila diisi air terus menerus tanpa dikeluarkan, ia akan tumpah keluar. Begitu juga hati dan perasaanmu. Kamu terus memendam dan saat ini kamu merasa muak. Disaat-saat seperti inilah bibit-bibitku tumbuh dalam dirimu.."

"Sudahlah, aku tak mau berdebat lagi denganmu. Aku akui, saat ini kamu memang ada dalam diriku, bibit itu ada. Aku merasakannya. Tapi aku takkan pernah membiarkannya tumbuh apalagi bermekaran. Karna aku hidup bukan hanya untukku, tapi juga untuk orang-orang disekitarku."

Perdebatan itu terjadi dalam diriku, antara bagian satu dengan bagian lain hatiku. Ya, aku merasakan ada kebencian disisi hatiku, tapi sisi hatiku yang lain takkan membiarkan rasa itu tumbuh. Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, kebaikan dan keburukan, sifat taqwa dan jujur. "Nobody's perfect" berlaku untuk semua orang, bukan hanya untukku. So, kenapa aku harus membenci??? :D.

Waktu yang ku miliki terlalu singkat, dan akan semakin singkat jika ku gunakan untuk membenci. Jika dia punya waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk menyakitiku, setidaknya aku bisa belajar untuk tidak melakukan hal yang sama bukan? Dan jika dia membuang waktunya yang singkat untuk memikirkan kesalahanku, setidaknya aku bisa menghindari hal itu. Agar waktuku yang cukup singkat ini tak ter-dholimi oleh keegoisanku.

Jadi kenapa harus membenci??
:)

Jadilah saja yang menyenangkan..

ZeteLeN.

Senin, 28 Desember 2015

Titip Rindu Buat Ayah.

Ebiet G.
Titip Rindu Buat Ayah.

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm...
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia.


Sabtu, 26 Desember 2015

Let It Be.

Biarlah..

Semua akan baik-baik saja.
Aku akan baik-baik saja.
Kau, dia, dan merekapun juga akan baik-baik saja.

Aku janji, jika sudah waktunya pasti aku akan bercerita, seperti kebiasaanku.
Biarkan aku lari dari takdir Tuhan, lari menuju TakdirNYA yang lain.
Berdo'alah, hanya do'a yang mampu membawaku lari..


Senin, 21 Desember 2015

Kenangan Tentang Ibu.

Berat hatiku menulis puisi tentang Ibu, karena aku pasti akan mulai menangis. Kenangan tentang Ibu terlalu indah dan tak kan bisa terwakili oleh kata-kata sepuitis apapun.

Kenangan tentang Ibu terlalu detail, melekat, mendalam sehingga sulit untuk dituliskan apalagi sekedar melalui puisi. Dari Ibu masih seorang wanita muda yang melahirkanku di usia 35 tahun sebagai anak kelimanya, hingga Ibu yang begitu khusyu, siap, tenang dan tegar menghadapi maut 5 tahun yang lalu.

Kenangan tentang Ibu adalah kenangan saat ulang tahunku yang ke 12, ada temanku yang memberi ucapan lewat pesan singkat dan ternyata beliau membacanya. Aku yang sedang mencuci piring, tiba-tiba dicium dari belakang dan disusul bisikkan "selamat bertambah umur nak..." seketika airmataku tak dapat ku bendung.

Kenangan tentang Ibu adalah kenangan saat aku sakit campak, semalaman tanganku diusap agar bisa tidur tanpa raut wajah lelah dan mengantuk sedikitpun.

Kenangan tentang Ibu adalah kenangan saat kita berdua ke Pasar, saat Ibu membelikan sepatu di salah satu toko, makan soto warung pojok pasar, sebagai hadiah masuknya aku ke sekolah baru.

Kenangan tentang Ibu adalah ciuman yang aku terima bertubi-tubi di pipi dan di kening saat aku pulang dan terpisah cukup lama darinya.

Kenangan tentang Ibu adalah kenangan malam terakhir di saat aku tidur menemaninya di rumah sakit. Biasanya Ibu tidur menghadap langit-langit, tetapi pada malam itu beliau tidur mengahadap kanan seraya menatap diriku yang sedang tidur di kasur bawah. “Mak belum tidur?”, “Nggak bisa tidur, pengen cepat pulang”. Seolah beliau tahu bahwa malam ini malam-malam terakhirnya, maka wajahnya menatapku sementara aku tertidur pulas kelelahan. Tepat pada hari kamis jam 21.03 beliau begitu ramah dan ‘welcome’ menghadapi malaikat maut. Banyak aku dengar cerita orang berada dalam proses sakaratul maut, tapi bagiku proses Ibu adalah yang terindah dan terlembut, karna senyum mengengembang menghiasi wajahnya.

Kenangan tentang Ibu adalah pandangannya yang tajam dan menembus jauh di saat menjelang kepergiannya. 3 jam sebelum kepergian beliau, aku pamit pulang untuk mengambil baju dan perlengkapan lainnya. Andai saja saat itu aku tahu, pasti aku akan menemani dan berbincang terakhir dengan beliau, saudara laki-lakiku sempat bilang sebelum kondisi Ibu drop beliau minta diusap tangannya, hal yang sering beliau lakukan dan menjadi kebiasaan yang aku lakukan saat aku datang menunggu ataupun saat aku akan pergi dari rumah sakit.

Kenangan tentang Ibu adalah di saat aku memandang jasad Ibu yang sudah ditinggalkan ruhnya menuju arsy. Semua orang menelepon satu persatu saudara dan kerabat, entah kenapa perasaan ikhlas dan tenang datang menghampiriku, sementara justru orang-orang yang aku telepon menangis tersedu-sedu. Semua tidak percaya Ibu pergi begitu cepat, kondisinya memang sudah membaik meski sempat di ICU selama 3 hari. Keadaannya membaik, beliau masih kuat untuk melepas bantuan pernafasan sendiri, badannya pun sehat. Saat itu bahkan dokter juga akan mengijinkannya pulang, namun takdir berkata lain. Alloh sayang kepada Ibu dan keluarganya sehingga beliau wafat dalam kondisi yang sehat, bukan di ruang ICU dengan memakai alat-alat Bantu pernafasan.

Kenangan tentang Ibu adalah saat memandikan jenazahnya yang begitu singkat. Ibu dulu yang memandikan kami sambil menyanyikan lagu dengan wajah tersenyum. Dan saat itu kami melihat orang lain memandikan beliau, aku masih memandang jasad tanpa ruh itu sambil mencoba tersenyum dan memanjatkan doa-doa.

Kenangan tentang Ibu adalah wajah Ibu yang kembali muda, segar dan cantik sesudah di mandikan. Seolah semua tanda-tanda bekas sakit hilang dari wajah Ibuku tercinta. Melihat wajah Ibu yang tersenyum membuat wajahku tersenyum pula saat melepas kepergiannya, meskipun di dalam dada ini bergejolak rasanya dan Alhamdulillah ada “bendungan besar” yang mampu menahan jatuhnya air mataku sejak di rumah sakit hingga mencium wajahnya untuk terakhir kali. Meskipun akhirnya bendungan itu tak dapat menahan lagi, memporakporandakan ketegaran yang sempat aku bangun.

Untuk saat ini,
Kenangan tentang Ibu adalah kedatangan Ibu di mimpi-mimpiku di saat aku merindukannya. Untuk Ibunda tercinta….

Maafkan aku jika hanya sedikit waktu luang yang kuberikan padamu sementara dirimu mencurahkan seluruh waktumu dari aku lahir hingga kepergiaanmu saat itu. Maafkan aku yang terkadang kurang sabar menghadapimu sementara hatimu seluas samudra dan selalu memahamiku. Dan benar aku tak bisa berhenti menulis dan menangi jika tentang Ibuku. Maka seperti biasanya aku akan berdoa untuk menghentikan tangisanku...
Allahummaghfirlaha… Ya Allah ampunilah ia… Ibuku tercinta
Warhamha… Sayangilah ia...
Wa’afiha….. Tinggikanlah derajatnya
Wa’fu’anha… Maafkanlah ia...
Wa laa tahrim ajroha… Jangan halangi balasan pahala untuknya...
Wa laa taftinna ba’daha... Jangan datangkan fitnah sesudah kepergiannya...
Wa akrim nuzulaha… Muliakanlah kedatangannya...
Wa wasi’ madkholaha….Lapangkanlah jalan masuknya...
Wannawir quburaha… Terangilah kuburnya...
Waj’al Jannatal matswaha… Dan jadikanlah surga sebagai tempat tinggalnya...
Warzuqha bi Rahmatika ya Arhama Raahimin. Serta berikanlah ia rizki dengan rahmat Mu ya Alloh yang Pengasih dan Penyayang... Air mataku pun berhenti, karena aku yakin beliau kini berada dalam kesentausaan di disisiNYA. Amin

Putrimu,
Zahrotul eLeN.

Sabtu, 19 Desember 2015

Karna Mencintai Bukan Suatu kesalahan.

Aku kira mencintai itu adalah hak semua mahluk hidup, aku kira mencintai itu bukan sebuah pilihan, aku juga mengira mencintai itu bukan suatu kesalahan. Tapi kenapa masih ada yang tak membolehkan seorang merasakan cinta, merasakan haknya sendiri. 

Jika mencintai adalah sebuah kesalahan, apakah ini bisa disebut kesalahan Tuhan? Karna DIA telah menghadirkan rasa ini tanpa ku pinta, semakin besar dari waktu ke waktu. Maka jika benar ini dari Tuhan, ini bukanlah sebuah kesalahan, kau tak bisa salahkan Tuhan, karena memang Tuhan tidak salah dan tak akan pernah salah. Bukan begitu.

Jika ini takdir, aku bisa apa, bukankah takdir hanya dibuat oleh Tuhan? Lalu siapa yang bisa disalahkan? Sedang aku bahagia ketika aku mencintai. Bukankah cinta itu fitrahnya manusia? Kenapa masih ada yang tidak mampu membedakan mana fitrah dan mana fitnah. Bisakah kau jelaskan? Siapa yang bersalah? 

Aku hanya mampu memeluk lututku sendiri, merasakan resah ini seorang diri, mencari-cari siapa yang sebenarnya paling bersalah dalam hal mencintai, dan aku tak pernah mengerti. Jika ke 2 hati yang salah? Aku diam, berpikir. Apa salahnya? Mencintaimu dan punya hasrat memiliki. 

Sebenarnya aku tak ingin menyalahkan apa dan siapapun, aku bahkan ingin menyalahkan diriku sendiri. Tapi, sedikitpun tidak ada perasaan bersalah dalam diri ini, jadi ya kulanjutkan saja untuk mencintaimu lagi dan lagi. :D. Ah entahlah, jika memang mencintai adalah sebuah kesalahan, maka akan ku anggap itu  kesalahan yang tidak akan pernah aku sesali apapun hasilnya, dan akan ku terima konsekuensinya namun dengan tanda kutip, "mencintai dengan batas dan kadar yang senormal-normalnya". :D

Dariku,
Seorang yang mencintaimu.
Zahrotul eLeN.

Kamis, 17 Desember 2015

Lelah beradaptasi.

Entah sudah berapa kali kau meminta padaku dengan permintaan yang selalu sama. Permintaan yang setiap waktu harus dengan terpaksa aku jalankan. Kau selalu meminta aku untuk beradaptasi lagi, merubah semua kebiasaan atau bahkan menghilangkan kebiasaan itu sendiri. Yaaa, mau bagaimana lagi jika itu yang kau minta, aku tak bisa menolak. "Oh, no problem, Everything always gonna be OKE!! :)" dengan wajah yang sumringah dan itu adalah jawaban untuk setiap permintaanmu, memintaku untuk beradaptasi lagi. 

Aku hanya bisa berpura-pura baik, hanya untuk meyakinkanmu bahwa semua baik-baik saja. Jika kau tanya dan meminta jawaban yang sejujur-jujurnya, apa aku bisa beradaptasi lagi? Akan aku jawab, aku bisa. Tapi kau juga harus bisa tau bahwa aku juga bisa lelah. Jika aku lelah mungkin aku hanya minta waktu yang lebih panjang untuk beradaptasi, 2X lipat atau 3 mungkin :D. Ya, karna aku memang bukan Wonder Woman, aku hanya gadis biasa yang di cintai seorang pria dan bahkan pria itu tak tau sebabnya dapat mencintaiku. Jika kau meminta aku beradaptasi lagi, akan aku lakukan. Bahkan jika kau minta untuk yang kesekian kalinya. Tapi ya tadi, maaf aku juga bisa lelah. Tapi juga ingat, lelah bukan berarti menyerah. :)

Peluk hangat untukmu.
Zahrotul eLeN.

Rabu, 16 Desember 2015

Jealous.

Mungkin kisah dulu kau anggap masa lalu.
Tapi entah kenapa aku masih merasa kaku.
Melihat kenangan kau dan diamu yang dulu.
Mungkin sekarang kau hanya anggap dia sebuah kenangan, namun di dalam fikiran. Hati ini bilang "Betapa dulu kamu mencintainya dan seakan tak mau dipisahkan."
Aku tau, kau berusaha untuk mampu. Menjadikan dia sebagai butiran masa lalu. Namun untuk saat ini, bolehkah aku mengadu padamu? Sekedar berujar bahwa, ternyata aku cemburu pada masa lalumu.

Minggu, 13 Desember 2015

Hanya Ada Satu Jawaban.

Jalan ini tetap masih sama. Pagi ini bagiku sempurna. Namun masih tak bisa kalahkan kesempurna Dzat yang Maha segalanya. Aku merasakan kabut kabut dingin mengambang di udara. Kabut yang tebal, masih terperangkap fajar yang baru saja berdenting lewat lima. Hari ini masih terasa sama, menerjang rindu di setiap sudut kota kecil tempatku tinggal. Jalanan yang terkadang lengang, membuatku ingin bebas seperti angin di musim penghujan. Setiap sudut yang ku lewati setiap hari pun masih sama, tak ada yang berubah sedikitpun. Bekas percikan air di dinding-dinding rumah tetangga, sisa hujan yang tersangkut di tiang-tiang. penyangga listrik dan deru sepeda motor di pagi hari. Aku masih melihatnya hingga sekarang. Kecuali seseorang yang sering mengisi hatiku dan mengganggu pikiranku, seringnya ia tidak tampak di hadapanku. Kadang ia hanya berjalan sekelebat saja seperti angin malas, meninggalkan rindu dibelakangnya, terus mengikutinya.

Rindu ini seperti aroma kopi yang keluar dengan nikmat, mencandu siapa saja yang menciumnya. Tetapi, aroma kopiku tak pernah bisa dihirup olehnya. Karena ada lebih banyak aroma kopi yang keluar dari gelas-gelas kertas disampingnya. Aku tersisihkan.

Aku mengalah untuk kesekian kalinya, aku bersabar lagi, dan mencoba tetap menjadi sang perindu.


Tak perlu kau tanyakan apa-apa lagi, karna saat ini hanya ada satu jawaban untuk semua pertayaan. Aku rindu. Titik


Zahrotul Laili N.

Sabtu, 12 Desember 2015

Selembar Rindu di Keheningan Hujan.

Ada kala mentari tak nampak diseberang sana. Tak seperti biasanya. Entah dimana dia menyembunyikan bagian tubuhnya yang konon sangatlah besar. Menyembunyikan rona wajah indah cemerlang yang selalu di agung-agungkan. Itulah dia sang mentari pemberian ilahi yang tidak pernah ingkar janji.

Masih seperti biasanya, malam ini hujan lagi. Semenjak awal bulan ini intensitas hujan dikota yang kunaungi saat ini semakin menjadi. Entah kapan berakhirnya. Kini aku malah merindukan sinar bintang gemintang yang menghiasi cakrawala langit. Gantungan cahaya yang mendamaikan jiwaku yang gulana. Sementara ini tak apalah, pupus sinar bintang digantikan oleh titik–titik air yang turun dari langit yang kerap kusapa hujan. Mungkin ini yang menyebabkan sang Mentari enggan menampakkan dirinya ketika pagi seharusnya. Mungkin dia enggan bertugas dipagi hari yang dingin. Padahal dirinya adalah panas, kenapa takut kepada kedinginan ? Entah…
Hujan belum lelah sayang. Dia masih menunjukkan eksistensinya yang impulsif. Dia masih ingin bermain bersama angin yang sedari tadi bersamanya. Dia masih ingin bercumbu bersama malam dan nyanyian kodok sawah disamping rumah. Padahal aku sudah tak sabar melihat sketsa wajahmu dan semburat lengkung senyummu yang menggantung dilangit, yang selalu tampak seusai hujan. Aneh memang, tapi itulah kenyataan yang benar adanya. Kenyataan yang berjalan diambang batas mimpi dan khayal.

Hay, hujan belum juga reda. Maka bersabarlah, aku pasti menungguinya hingga usai. Sebentar, kamu pasti tak percaya. Aku baru saja mendengar celotehmu diantara air yang berbisik. Sungguh nyata, kalau kau tak percaya dengarkan lagi. Kau dengar itu? Coba dengar suaramu lagi sayang, suaramu yang hinggap diranting-ranting basah. Di ujung-ujung tunas rerumputan yang menahan kerasnya air yang turun menimpalinya dari ketinggian.

Dirimu adalah jauh, kuanggap jarak kita tak lebih dari satu spasi. Dirimu adalah nada sumbang, kuanggap melodi yang menyempurnakan. Dirimu adalah kegundahan, kuanggap bahagia yang belum datang. Dirimu adalah warna, kuanggap penting untuk memberi kesan pada kanvas kehidupan. Tunggulah hujan ini reda dahulu, tunggulah! Sejenak membaringkan kepenatan dalam dimensi nyata yang sesungguhnya tak ada.

Aihhhhh…. Sudah satu jam lebih, hujan masih juga belum puas menghujam tanah yang telah basah sisa hujan kemarin. Cukupkanlah hujan malam ini menggampar masam wajah bumi karena setitik sinar siang tadi. Akhirnya gerutuku terkabul sayang, bisa melihat lengkung senyummu yang menggantung dilangit selepas hujan. Seperti apa janjiku diawal sayang, bahwa bakal tampak sketsamu disana. Dilangit malam yang jingga disebelah barat. Jarak itu telah sirna, melihat sketsamu dan lengkung senyummu disana. Aku pun tersenyum, menyapa senyum yang engkau berikan dari sana.

Kupagutkan doa bersama sisa titik-titik hujan, selembar rindu keheninganku disini untuk dirimu disela kesibukan disana.

Untuk dirinya yang tengah berada dalam kesibukan dan keadaan apapun.

“Aku tahu ya Alloh Engkau Maha Pendengar dan tidak ada keraguanku setitik pun. Dengarkan ini wahai Tuhan seluruh makhluk. Dikala lemah tengah menjuntai menghampirinya, maka kuatkan dan pertegas langkahnya dalam menapaki kehidupan. Sesungguhnya aku tak kuasa mendengar kabarnya kala sakit menjamahnya. Jangan biarkan dia melewati masa-masa sulit itu sendiri seperti yang telah lalu”
“Selalu jaga dan lindungi dia dari apapun, dan istiqomahkan dirinya dalam pusara-Mu wahai Tuhan yang punya segalanya. Pahamkanlah dia diatas semua pemahamanku, begitu juga senyumannya yang jangan sampai hilang didera penat kesibukannya”
“Itu saja, tidak muluk-muluk. Sederhana, sesederhana malam yang indah karena hujan”

Selembar Rindu di Keheningan Hujan
Tuban, 12 Desember 2015.
Zahrotul Laili N.

Kamis, 10 Desember 2015

Dia, ❤

Mari sini,
Akan ku ceritakan rahasiaku kepadamu
tentang dia yang menjadi alasan dibalik semua kata yang berbaris rapi di setiap abjad yang ku susun hampir setiap waktu luangku, atau setiap bait lagu yang selalu ku nyanyinkan sebagai pengantar sebelum aku tertidur. Aku selalu berharap malam menghadiahkan sebaris senyumnya di mimpiku, sudikah kau membacanya? Aku tahu, kau pasti akan menyukainya atau bahkan kau akan jatuh cinta padanya sama seperti aku.

Aku ❤ Dia
Seperti aku yang jatuh cinta pada hujan yang turun kala senja seharusnya menemaniku dengan jingganya di bulan Desember, ataukah seperti ku jatuh cinta pada secangkir teh yang menemaniku saat ku larut dalam lembaran-lembaran novel yang baru saja ku beli di toko buku disudut kota itu, sore kemarin. Ataukah
seperti ku jatuh cinta pada hangat matahari yang menghangatkan setiap mimpi yang ku rajut dan terus ku rajut hingga tercipta selimut yang nyata dapat menghangatkan.
yaaaaa.........
seperti itu aku jatuh cinta padanya...^__^.

Jika kornea hatimu tidak buta, kau bisa merasakan sentuhannya, meski sekalipun kulitnya tak pernah tersentuh kulitmu. Dia tetap bisa membuatmu nyaman.

"Dia adalah kau, sosok yang hadir tanpa pernah ku undang, dan sosok pria yang sangat sayang padaku, sama seperti aku menyayanginya. Terima kasih yaa.."



❤Wo❤

Senin, 07 Desember 2015

Bukuku Merah Jambu.


Buku itu sudah menjadi sampah seperti kertas putih yang tertumpuk didekatnya.
Sudah begitu lama tak tersentuh apalagi di buka dan di baca. Dia mengingatnya, karena itu adalah satu-satunya benda merah jambu yang ia punya. Meski sudah lupa apa saja tepatnya, tapi dia masih bisa mengingat apa saja isinya. Buku itu penuh dengan cerita, mulai dari yang menyebabkan tangis sampai kisah manis.

Setiap hari ia selalu membuka buku merah jambu itu, berbagi cerita tentang apa saja yang ia alami seharian. Setiap hari ia meluangkan lima menit untuk menahan matanya yang di serang kantuk hanya untuk bercerita. Setiap hari mengisi dan bercerita pada buku itu bagaikan tugas wajib yang jika tidak dikerjakan maka ia akan di terkam majikan yang kejam. Tiap hari, tiap hari, tiap hari yang sekarang lebih tepat di sebut dulu, karena ia sudah mendapatkan pengganti yang lebih baik daripada sebuah buku.

Buku yang sekarang sudah semakin usang karena berlapis debu namun, sekali di usap debu itu masih bisa hilang dan buku kembali berwarna merah jambu seperti sebelumnya, tapi ketika tangannya bergerak untuk membuka lembaran demi lembaran buku, ia seolah-olah diberi tahu bahwa debu tersebut mungkin akan lebih mudah dihilangkan, tapi kertas tersebut tak dapat berbohong.
Sekarang ia mengerti apa yang disebut dengan 'saksi bisu' karena yang kini ia lihat adalah kertas yang dulunya seputih susu mulai menguning, entah karena tidak pernah diperhatikan, entah karena tinta yang bertebaran atau hanya karena sekian lama disimpan dan dilupakan.

Buku itu masih sebagus dulu, masih serapi dan sebaik dulu. Dia tidak suka warna merah jambu, tapi sepertinya- sampul buku itu merupakan pengecualian.
Baginya semua harus diletakkan sesuai tempatnya, yang lalu akan disusun sederet dengan barisan yang lalu, yang sekarang akan diletakkan begitu dekat agar lebih mudah di jangkau.
Ia sempat lupa dan tak sadar bahwa buku tersebut telah ia letakkan di deretan kisah lalu.

Sebuah buku, tempat ia bercerita, tempat dia menumpahkan tangis kini hanya menjadi bagian dari kisah manis. Buku usang bersampul merah jambu itu tidak berguna lagi.
Buku hanya akan selalu menjadi tempat bercerita. Setiap cerita yang ia bagi dengan buku usang itu mungkin mengurangi sedikit demi sedikit beban yang ia rasakan, tapi buku tetaplah buku, tetap hanya menjadi saksi bisu tanpa bisa turut memberi solusi.

Sekarang ia mulai melupakan buku usangnya, 'mengusir' merah jambu jauh-jauh dari dirinya.
Melengkapkan kenyataan betapa ia benci merah jambu. Ia tidak butuh buku usang yang hanya bisa diam. Sekarang ia menemukan apa yang dia cari, sosok nyata yang tak hanya bisa mendengarkan namun selalu memberikan tanggapan. Buku usang itu hanya tinggal menunggu waktu, hanya bisa menunggu giliran di buang seperti kertas tak berguna lainnya.

Sayangnya, sebuah buku, sebut saja buku harian, tidak akan dibutuhkan ketika sudah ada yang sosok lain yang tentu saja tidak hanya bisa mendengarkan, namun juga dapat memberi tanggapan. Tapi kadang ia juga lupa, sosok tersebut tidak selalu bisa sehebat buku, meski buku tak pernah bersuara. 

Zahrotul Laili❤

Minggu, 06 Desember 2015

Aku & Hujan


Masih dengan hal sama seperti kemarin, masih sempat ku jumpai walau sekejab, hujan datang menguyur jalanan yang biasa ku tempuh saat pulang sekolah. Tak begitu deras, tapi dia mampu membangunkan aroma khasnya dengan cepat. Ku rangkul tas yang biasa menjadi korban dari tingkahku, sampai unjung pangkal talinya seakan sedang sakaratul maut, weww. Ku tarik juga jaket yang biasa menemaniku menerpa hawa dingin pagi hari, lalu melangkah lebih cepat dari biasanya.
          Aku nikmati tiap rintiknya, lagi-lagi aku berusaha menatap kanfas terbesarku namun hujan menghalangi, membuatku kesulitan menegadahkan kepala dan membuka mata. Langkahku akan final di dalam kamar Dan melanjutkan aktifitas seperti biasa. Semua terhenti saat malam datang, hujanpun turut bersamanya.

Hujan malam ini membawaku mengingat seorang pria dengan baju hitamnya.

       Hay, apa kabar kau yang disana? Aku banyangkan dirimu tengah sibuk dengan benda mati itu. Menatap serius didepan monitor, entah bagaimana ekspresi wajahmu jika sedang serius seperti itu. Rasanya ingin langsung ku pecah kesibukkanmu, tapi aku tau jika kesibukkanmu itu adalah hal yang menjauhkanmu dari sesuatu yang tidak penting. Jadi kukurungkan niatku. 
            Lampu kamar sengaja kunyalakan, berharap bisa jadi teman. Hujan lebat diluar memberi kesan sendiri untuk malam ini. Ricuh sekali diluar, hujan lebat dicampur dengan petir yang menyambar-ngambar mencari mangsa. Bukan ingin tidur lebih awal, tapi entah kenapa setelah ku ucapkan kata rindu, rasanya aku benci padamu. Aku benci, sampai untuk menahannya berlama-lama rasanya tak sanggup. Jadi ku pejamkan mataku, berharap bisa melupakan rindu itu.
            Dengan jarak sejauh ini saja aku masih merasa kau disini. Aku masih merasa kau temani, meskipun kesibukanku dan kesibukanmu sering jadi tembok penghalang kita. Tapi tak masalah, toh masih ada hari esok, saat kita memecah rindu. Hujan masih setia disini, dimana jatuhnya air tanpa bisa kuhitung dengan jari. Kantuk, jemputlah aku.. 

Dari gadis(´∀`) manis tanpa pensil alis. Wkwkw.

❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

Jumat, 04 Desember 2015

For all people in my life..

Delapan belas tahun..
Bukan waktu yang sebentar untuk mengenal bagaimana suka duka kehidupan ini :)
Walaupun masih banyak hal yang belum aku tahu, masih banyak pula hal yang belum aku mengerti, tapi selama ini aku tetap belajar tentang kehidupan dari orang-orang dan pengalamanku sendiri..
Gak mudah emang, buat jadi seseorang yang ‘kuat’.
Karena, “semakin kamu kuat menghadapi segala cobaan, semakin berat juga cobaan yang kamu alami selanjutnya..”


Tapi saat aku mulai memikirkan dan merenungi semuanya selama ini, apa yang aku perbuat udah bener2 baik untukku? Dan mereka, orang2 disekelilingku?
(tarik nafas dalaaaam… hembuskan…)


Maka, untuk mereka.. orang-orang yang menyayangiku..
Terima kasih. Karena telah membuat aku menjadi pribadi yang baik seperti kalian :’)
Aku sayang kalian, seperti kalian menyayangiku :)


Tapi.. untuk mereka, orang-orang yang telah menyakitiku.. :)
Terima kasih. Karena telah mengajarkan aku arti bersabar dan mengikhlaskan keadaan yang harus terjadi :)
Kita sama2 tau ilmu sabar dan ikhlas itu susah kan..
Tapi sekarang aku lebih bisa belajar untuk lapang dada menerima keadaan yang sudah menjadi garis hidupku ini.
Justru harusnya aku bersyukur karena sudah diperlakukan ‘tidak baik’ oleh orang, biar itu jadi pelajaran yang cukup berarti buatku untuk ga melakukan hal yang sama ke orang lain.
Meskipun kesakittan yang dulu aku rasakan itu ga pernah bisa dilupakan, tapi aku berdoa semoga kalian ga pernah merasakan sakit yang sama yang pernah aku rasakan dulu :)


Hm’ untuk mereka, orang-orang yang pernah kusakiti.. :(
Maaf. Maafkan atas semua kesalahan yang pernah ku perbuat , kejailanku yang kerap kali jadi tombak, yang ga sengaja juga jadi alasan kalian sakit hati. :(
Mungkin terkadang aku masih ga bisa menjaga emosi, sikap dan perkataanku :(
Sekali lagi, maaf..
Mungkin iya, ucapan maaf itu ga akan bisa gitu aja hilangin rasa sakit yang kalian rasakan dari kesalahan yang udah ku perbuat.
Tapi, terima kasih untuk mereka yang berjiwa besar yang mau memaafkanku :)
Aku hanyalah manusia yang dekat dengan khilaf, dan jauh dari kesempurnaan.


Untuk kamu:)
Banyak alasan kenapa aku ga bisa lepas darimu, yang ada saat aku senang dan susah.
Tempatku berbagi dan saling melengkapi :)
Terima kasih untuk semua  sayang.. Aku sayang padamu. :)


(tarik nafas dalaaaam… hembuskan…)
Aku mengerti, tidak hanya aku yang merasakannya.
Tidak hanya aku yang menjadi sebab akibatnya.
Tidak hanya mereka juga yang bisa melakukannya.
Dan.. merasakan kebahagiaan dan kepedihan, semua adalah pengalaman yang berharga untukku agar lebih mengerti tentang warna-warni kehidupan..


Hm’ aneh.. :D
Bingung mau bahas apa lagi :D
Wkwk rasanya pengen ketawa, kenapa tiba2 aku jadi pengen nulis beginian :D hahaha..
Maaf ya, bahasanya amburadul.. :D

Dari seorang yang jail dan suka sekali ketiduran.
*Zahrotul Laili Novita*

Kamis, 03 Desember 2015

Semua Ada Masanya.

Ada waktunya kamu berlari, tapi semakin jauh kamu berlari semakin besar keinginan untuk berhenti karena telah kehabisan energi. Ada waktunya kamu menangisi, tapi semakin kencang kamu menangis maka semakin cepat kamu menyadari bahwa air mata itu terlalu berharga untuk terbuang begitu saja, dan sadar bahwa ada hal yang tidak dapat kembali meski selalu ditangisi. Semua ada masanya, semua ada saatnya, semua punya waktu sendiri.
              Ketika kamu telah tiba di ujung kelelahan, kamu akan mengerti bahwa kaki tidak bisa berlari lagi meski semua orang memotivasi. Aku sudah pernah berlari sejauh kakiku bisa dipaksa berlari, aku sudah berlari sejauh mungkin sampai kehabisan energi. Aku sudah berlari sampai terluka disana sini tanpa pernah berhenti. Aku sudah menunggu sebanyak hari yang tidak akan sanggup dihitung dengan jari. Aku sudah pernah menunggu dengan waktu yang tak pernah kusangka sendiri. Aku sudah pernah melakukannya, baik berlari menghampiri atau hanya menunggu hal baik menghampiri, aku sudah melakukan lebih baik daripada yang pernah kubayangkan sendiri. Jadi apa aku masih harus melakukannya sekali lagi?

Sekali lagi, semua ada masa nya sendiri. Dan bagiku yang baru saja bangkit dengan bangga karena luka yang telah sempurna ku obati, ini bukan masanya lagi. Masa-masa itu telah berhasil kulewati, masa-masa itu takkan kubiarkan terjadi lagi. 

Begini, setelah ku tela'ah lagi, aku baru menyadari bahwa ternyata aku belum mengerti tentang ketulusan seperti yang selama ini aku tuliskan atau ku bicarakan, tulus itu tak mengharap bonus. Berlari untuk orang yang tidak bisa menghargai, terlalu lelah jika ku lakukan berlama-lama. Bisakah aku berhenti disini saja? kali ini tolong jangan kau larang dan paksa aku untuk berlari lagi, karena selama aku berlari pun aku tak pernah tersenyum untuk sekedar meredakan lelah yang tak bisa kutanggung ini. Aku hanya menemui air yang keluar dari mata sepanjang jalan, aku tak pernah mendapati sedikitpun tarikan bibir yang membuat wajah terlihat lebih manis, yang sering aku lihat hanya tawa kosong yang kerap kali jadi topeng diri. Jadi bolehkah aku memohon? Jangan paksa aku lagi, aku bisa meneruskan langkahku, tapi beri aku waktu untuk tersenyum melupakan beban yang menggantung dibahu. Kiranya senyumku dapat menghilangkan sebagian penatku.

Seperti yang aku bilang sebelumnya, semua ada masanya. Mungkin sekarang masih masanya, semua yang ada dihadapanku harus kulalui. Harus kulewati, belajar tulus. Jadi sekarang bukanlah masanya aku mengeluh, menghabiskan waktuku untuk menangisi keadaan, sementara keadaan akan tetap seperti ini jika masih pada masanya. Dan aku juga percaya jika ada masanya juga aku lepas, aku bebas. 

Jadi, 
Bisa kau membebaskanku? Membawaku ke masa lepas dan bebasku?
Dan setelah itu,
Bisa kau bawa aku lari? 
Bisa kau bawa aku pergi?
Aku ikut..
Aku mohon bawa aku enyah pergi, biarkan aku berjalan dengan santai tanpa berlari menghabiskan energi dan di sampingmu. Berjanjilah..
Bawa aku pergi, kematianku☺.

❤with love, Zet eL eN❤

Selasa, 01 Desember 2015

Don't Panic.


Mungkin ini terkesan lancang karena aku bahkan belum bertanya langsung apa yang kamu maksud dalam pesanmu. Tapi kamu masih ingatkan apa yang selalu ku bilang? iya, i know you so well. Ada cerita yang seharusnya tidak perlu kau bagi denganku, ada rasa lelah yang kadang tidak kau tunjukkan dihadapanku, ada sedih yang tidak ingin kau bagi denganku, dan bisa ku simpulkan bahwa inilah salah satunya, ketika sedih, marah, dan lelahmu menjadi satu.

Sebelum kau lebih marah lagi dengan kenyataan yang tidak bisa kau ubah sedikitpun, aku hanya ingin mengingatkan bahwa yang membuatmu lelah dan marah kali ini bisa kita sebut ujian. Kamu tidak bisa menyalahkan keadaan, menyalahkan penyakitnya, menyalahkan obatnya, atau bahkan dirimu sendiri. Jika dulu kau menyebutku penakut, bolehkah sekarang aku menyebutmu pecundang? karena hanya pecundang yang pandai menyalahkan keadaan.

Hei, apa kamu lupa, dirimu yang mulai lelah dan dipenuhi amarah itu pernah menepuk bahuku ketika aku jatuh dan menangis karena ujian? tidakkah kau ingat kata-kata yang kau bisikkan ditelingaku? Dia itu adil. Maha Adil. Seperti pertanyaanmu waktu itu, apa kamu tidak mengerti artinya semangat? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kita harus merasakan pahit dulu, agar kita bisa tahu bagaimana rasanya manis? Tidak ada yang berbeda, kawan. Masalahmu saat ini sama saja dengan masalahku tempo hari, sama saja bisa ku sebut ujian, sama saja membuat kita merasa kecewa, sama saja membuat usaha terasa sia-sia. Kamu harusnya mengerti bahwa yang dimaksud dengan ujian bukan hanya kemampuan untuk menyelesaikan soal kimia yang penuh dengan rumus, bukan pula sekedar mempelajari bahasa inggris. Salahkah jika aku menyebut semua rasa sakit dan kehilangan pun merupakan ujian?

Aku tahu betul kamu begitu cemas hingga kamu merasa takut, tapi biarkan aku meredam amarahmu, jangan pernah merasa sendiri karena aku akan tetap ada kapanpun kamu butuh tempat untuk berkeluh kesah. Aku tetap akan mendengarkan apapun yang akan kamu ceritakan.
Biarkan aku meredam amarahmu hingga kamu bisa berdiri dengan tegap disampingku lagi.
Biarkan aku meredam amarahmu, membuang jauh rasa lelah, membunuh ketakutan yang kamu rasakan.

Kamu masih percaya bahwa Dia tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan peserta ujian-Nya, kan? jadi tenanglah. Kamu boleh merasa lelah maupun cemas tapi, jangan putus asa dan tolong berhenti bertingkah egois. Jangan merasa paling sedih dan terpukul, karena setiap kali kamu menujukkannya percayalah kamu hanya akan membuat semuanya terlihat lebih buruk lagi.

Biarkan aku menguatkanmu meskipun aku terlalu jauh.
Ayo, bangkitlah, dan belajarlah untuk percaya ketika aku bilang bahwa semangatmu adalah obat mujarab baginya. Dia hanya butuh kamu semangat dan dia akan berusaha keras untuk sembuh.

~Temanmu,
Zahrotul Laili N

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...