Detik terus melaju. Seirama dengan celoteh jarum jam yang terus memburu. Aku yang masih terpaku, pada kenyataan logika yang sulit diterka. Entah apa inginku, melayang layang bebas di udara, sedang berlarian dan berlomba dengan realita. Nyatanya ber-ekspektasi tak seindah itu, ketika pilihan terpampang jelas didepan mata. Apa yang harus aku perbuat?? saat tak ada lagi opsi yang harus ku petik dan segala cerita mengalir begitu saja, seperti air yang mengikuti arus kemana ia akan dibawa berkelana, sampai bertemu dengan samudera.
Berwaktu-waktu telah tersapa bayang-bayang duka. Lukanya masih khas tangan si pengukir. senyumku masih tetap terpahat meski getir. Lalu terbayang berbulan-bulan lalu, saat aku sedang mengecap manis pahit realitas sebuah kisah, bersama seorang yang benar tak ingin ku simpan wujudnya dalam bagian memori manapun. Aku hanya ingin berkaca, merefleksi diri sambil berjalan kedepan dengan berani, tanpa harus sedikit menoleh ke belakang lagi. Namun apakah itu langsung berhasil? rupanya justru aku bagai berjalan jauh dengan sebuah spion, ya berapapun jarak yang kutempuh sedikit banyak terpantul bayangan itu, coretan masa lalu. Aku menyerah dengan keadaan, andai aku dapat memilih bagian hidup mana yang ingin ku simpan dan ku hapus ceritanya.
Sampai beratus-ratus hari lamanya, aku dipertemukan seorang sejawat yang baru saja kembali dari negri nun jauh disana. Hampir beberapa tahun tak jumpa. Sosoknya bahkan tak pernah ku bayangkan dalam delusi, pada hakikatnya telah menggetarkan hingga ke bagian yang paling dalam, ya, 'hati'. Entah bagaimana ilmu tertinggi yang dimilikinya, ia mampu melakukan itu. Segala yang ku butuh, bukan hanya yang ku mau dapat terpancar dari segala sifat dan sikap. Tanpa ku sadari aku terpatut pada potretnya, tepatnya terkesima. Menghadapi rasa baru yang beratus hari terkubur dalam. Aku tak ingin menyebut ini jatuh cinta, sebab aku tidak jatuh pada cinta. Cinta itu seharusnya mengindahkan, bukan menggelapkan. Mengapa harus ada kata 'jatuh' didepan cinta? apakah setiap cinta yang tercipta memang harus berakhir dengan airmata?? apakah cinta identik dengan sengsara? namun yang kurasa saat ini tak seburuk teorinya. Sku bisa merasakan hadirnya bagai pelengkap yang memang harus ada, turut mengisi dalam pergerakan hidupku, turut berperan dalam kisah hidupku..
Meski pada akhirnya aku harus mengetahui, tak selamanya cinta harus selalu hadir sebagai sosok nyata, lantaran tak ada perjanjian di awal waktu, di kali pertama aku menyebutnya cinta, yaitu perjanjian bahwa kita harus selalu jumpa. Aku tak peduli, yang ku tahu, kehakikian dan prinsip cinta itu memperbaiki, bukan mengotori, dan ia telah menunjukkan seluruhnya. Semuanya rencana Illahi, telah tertulis dalam garisNya, dan yang ku yakini. Pertemuan ini bukan kebetulan semata.
Selamat malam mata bermanja..
ZeteLeN.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar