Ada waktunya kamu berlari, tapi semakin jauh kamu berlari semakin besar keinginan untuk berhenti karena telah kehabisan energi. Ada waktunya kamu menangisi, tapi semakin kencang kamu menangis maka semakin cepat kamu menyadari bahwa air mata itu terlalu berharga untuk terbuang begitu saja, dan sadar bahwa ada hal yang tidak dapat kembali meski selalu ditangisi. Semua ada masanya, semua ada saatnya, semua punya waktu sendiri.
Ketika kamu telah tiba di ujung kelelahan, kamu akan mengerti bahwa kaki tidak bisa berlari lagi meski semua orang memotivasi. Aku sudah pernah berlari sejauh kakiku bisa dipaksa berlari, aku sudah berlari sejauh mungkin sampai kehabisan energi. Aku sudah berlari sampai terluka disana sini tanpa pernah berhenti. Aku sudah menunggu sebanyak hari yang tidak akan sanggup dihitung dengan jari. Aku sudah pernah menunggu dengan waktu yang tak pernah kusangka sendiri. Aku sudah pernah melakukannya, baik berlari menghampiri atau hanya menunggu hal baik menghampiri, aku sudah melakukan lebih baik daripada yang pernah kubayangkan sendiri. Jadi apa aku masih harus melakukannya sekali lagi?
Sekali lagi, semua ada masa nya sendiri. Dan bagiku yang baru saja bangkit dengan bangga karena luka yang telah sempurna ku obati, ini bukan masanya lagi. Masa-masa itu telah berhasil kulewati, masa-masa itu takkan kubiarkan terjadi lagi.
Begini, setelah ku tela'ah lagi, aku baru menyadari bahwa ternyata aku belum mengerti tentang ketulusan seperti yang selama ini aku tuliskan atau ku bicarakan, tulus itu tak mengharap bonus. Berlari untuk orang yang tidak bisa menghargai, terlalu lelah jika ku lakukan berlama-lama. Bisakah aku berhenti disini saja? kali ini tolong jangan kau larang dan paksa aku untuk berlari lagi, karena selama aku berlari pun aku tak pernah tersenyum untuk sekedar meredakan lelah yang tak bisa kutanggung ini. Aku hanya menemui air yang keluar dari mata sepanjang jalan, aku tak pernah mendapati sedikitpun tarikan bibir yang membuat wajah terlihat lebih manis, yang sering aku lihat hanya tawa kosong yang kerap kali jadi topeng diri. Jadi bolehkah aku memohon? Jangan paksa aku lagi, aku bisa meneruskan langkahku, tapi beri aku waktu untuk tersenyum melupakan beban yang menggantung dibahu. Kiranya senyumku dapat menghilangkan sebagian penatku.
Seperti yang aku bilang sebelumnya, semua ada masanya. Mungkin sekarang masih masanya, semua yang ada dihadapanku harus kulalui. Harus kulewati, belajar tulus. Jadi sekarang bukanlah masanya aku mengeluh, menghabiskan waktuku untuk menangisi keadaan, sementara keadaan akan tetap seperti ini jika masih pada masanya. Dan aku juga percaya jika ada masanya juga aku lepas, aku bebas.
Jadi,
Bisa kau membebaskanku? Membawaku ke masa lepas dan bebasku?
Dan setelah itu,
Bisa kau bawa aku lari?
Bisa kau bawa aku pergi?
Aku ikut..
Aku mohon bawa aku enyah pergi, biarkan aku berjalan dengan santai tanpa berlari menghabiskan energi dan di sampingmu. Berjanjilah..
Bawa aku pergi, kematianku☺.
❤with love, Zet eL eN❤
Tidak ada komentar:
Posting Komentar