Selasa, 04 Desember 2018

Tentangmu


Jujur, aku tidak tahu banyak tentangmu. Yang aku tahu, kita bukan siapa-siapa sebelum memutuskan untuk berdampingan menghadapi masa depan. Kita tidak terikat darah, kau bukan sanak saudaraku, kita sama-sama orang asing, berbeda kehidupan, berbeda kebiasaan namun kita saling percaya dan menggenggam komitmen yang sama. Sekitar Tiga tahun terakhir aku bersamamu, aku mengaku telah mengenalmu padahal kosong, sedikitpun pasalmu aku tak mengerti. Bahagiamu itu apa? sedihmu itu apa? dan apa kau bisa menjelaskan bahwa aku ini siapa? tentangmu aku tidak tahu, yang aku tau mungkin hanya sepengal kisah kasih kita, sikap, sifat, prilaku, ambisi, ego, hati dan pikiran terdalammu, aku sama sekali tak tahu. Tiga tahun mungkin adalah waktu yang terlalu singkat, membuat opini tentangmu mungkin adalah hal yang tabu. Aku tahu selama ini kita memegang komitmen yang sama, berjanji saling menjelaskan, mendengarkan, memahami dan mengerti. Dan yang terherankan sekarang, mengapa kau mau membuat komitmen dengan gadis sepertiku? yang jika ditanyai tentangmu dia hanya menyebut kata CINTA? yang sama sekali tidak mengenalmu? kau percaya dengan perasaanku padamu padahal aku sama sekali tidak mengerti maumu. 

Jariku terus mengetik dan air mataku terus jatuh, basah sudah bajuku malam ini. Aku benar-benar pada titik terlemah, aku baru menyadari bahwa aku sama sekali tidak tahu tentangmu, aku menyerah pada keadaanku ini. Betapa menyedihkannya aku ini dan betapa kasihannya engkau, menghabiskan masamu dengan gadis sepertiku. Kemarahmu yang tidak aku menerti, kata-kataku telah ku buat sehalus mungkin, sudah ku tutupi luka dihatiku ini, yang kutaburkan padamu hanya wewangian bunga, namun percuma. Ku dengar setiap kali kau berdo'a, kau meminta seseorang yang mampu menyejukan hatimu, menentramkan jiwamu, tapi aku malah membuatmu jadi sebaliknya, betapa kasihannya engkau. Kau belum jua di pertemukan dengan orang yang kau sebut-sebut dalam do'amu itu. Aku, orang yang mengaku mencintaimu sama sekali tidak tahu tentangmu, aku hanya punya air mata ini, yang kata orang begitu mahal dan begitu tidak berharga untukmu.
Malam ini aku merasa seperti orang asing, aku merasa kosong momplong tanpa isi, kau tinggalkan pesan berisikan kata pergi, mungkin benar aku bukan sosok yang tepat sebagai penyejuk hati, carilah yang mempu membuatmu tenang, sungguh aku bukan sosok tersebut, keputusan itu memang benar, tak pantas aku menemanimu. Selamanya sampai aku jadi debu. 

Besok biarlah jadi rahasia Tuhan, aku tak perlu terlalu mencemaskan. Aku telah mengucapkan ini berkali-kali, namun aku rasa belumlah cukup kata maaf dariku untuk menebus segala dosaku dan kebaikanmu, namun percayalah, aku selalu berdo'a pada Tuhan kita, untuk selalu melindungimu dan membalas setiap kebaikanmu, jangan paksakan sesuatu yang tidak kau suka, jika tidak bisa, rubahlah cara berfikirmu untuk berlatih menerima segala sesuatu yang tidak sesuai kehandakmu, jika masih tidak bisa, cobalah dulu dari sekarang. Aku dulu juga tidak mau menerima keadaanku yang sekarang, aku membrontak pada Tuhan meminta agar aku dibebaskan dan meminta aku untuk diletakkan pada kehendak hatiku. Aku begitu marah pada dunia, meminta mereka untuk mengembalikan apa yang sudah mereka renggut dariku, Tapi ketidakmungkinan itu yang perlahan mengajariku untuk menerima dan berlatih untuk selalu menerima. Semoga kau juga bisa belajar dari pengalamanmu. Aku tidak sedang menasehatimu, aku sedang bercerita sedikit dengan pengalaman bodohku dan aku sedang mendo'akanmu. Berbaik sangkalah pada Tuhan, Ia tidak akan membuatmu telampau kecewa untuk hasil dari setiap yang telah kau lewati. Meskipun aku tak tahu semua tentangmu, tapi aku tahu jika kau adalah orang yang cerdas dan tidak bodoh sepertiku, maka dari itu aku percaya kau mampu belajar dari setiap peristiwa lebih dariku. 

Sabtu, 10 November 2018

Aku Di 21 Tahun

Langit rupanya agak mendung, samar tak bisa kutebak, abu-abu serasa sayu. Sore ini memang agaknya mendung menyelimuti desaku, burung-burung terbang berbondong-bondong mencari tempat berteduh. Rupanya hatiku dan hatimu pun demikian, mendung abu-abu sedang menutupinya cukup tebal, kubuat tidurpun ia masih setia disitu. Aku ingin sedikit bercerita kiranya kau sempatkan beberapa menit untuk membaca ini, kemarin tepatnya, tanggal 7 November aku tepat pada umur 21 tahun, ternyata goncangan diumur ini cukup dasyat. Dari siklus Haidku yang mulai normal, sampai tingkahku yang sedikit berkurang ketidakjelasannya. Satu hal lagi, aku mulai tidak bisa diam ketika orang bertanya pasal sebuah pernikahan kepadaku, bukan. Bukan bertanya tepatnya, tapi mereka seakan menodongkan pisau, dan jika aku tidak menjawabnya mungkin pisau itu akan menancap di perutku. Aku sedikit sensitif, pasalnya aku juga mengharapkan masa itu tiba dan orang lain seakan tidak mampu mengerti  keadaanku. Kepiluan diumur ke 21 ini belum berakhir, aku banyak disuguhi drama kehidupan dan aku dipaksa untuk masuk kedalamnya. Aku harus di paksa berpura-pura bahagia padahal hatiku sedang porakporanda, aku harus mendiamkan lisanku untuk menjawab pertanyaan mereka, agar tidak terlalu dalam luka menganga.

Aku tidak pernah berhenti berdo'a diujung sujudku untuk Tuhan segera mendekatkan jodoh untukku, yang bila mana ia jauh dekatkan dan jika ia sudah sudah dekat aku memohon agar segera dirapatkan. Aku meminta hal yang baik bukan? aku hanya meminta jodoh, yang katanya mampu membuat hati berhenti bergoncang dan mampu menjadi obat untuk segala penyakit, memperlancar rejeki dan menentramkan hati, tak banyak kusebut nama laki-laki yang ingin ku ajukan pada Illahi, aku hanya menyebut namamu bukan sekali namun berkali-kali. Kalaulah agaknya kau tak keberatan, bantu aku meminta pula pada Tuhan, mungkin do'a akan lekas sampai jika diayuh bedua. Aku tidak pernah memaksa orang lain mengerti posisiku, sebab aku juga tidak bisa mengerti posisi mereka. diam dan bicara seperlunya berharap mereka dapat menerima. Di umurku yang bertambah angkanya ini ku harap bukan hanya siklus Haidku saja yang lancar, aku harap jalan kita menuju ridhonyapun juga lancar. bukan hal sulit jika kita mau berusaha dan berdoa, jadi aku harap kaupun juga berdo'a untuk kita. Jodohku yang entah sedang apa sekarang, jika sedang sakit segeralah sembuh, jika sedang malas bekerja ingatlah aku dan anak-anakmu kelak, jika sedang sedih cerialah, jika sedang sedang lapar, makanlah tapi pelan-pelan saja jangan terlalu cepat melahapnya nanti kau tersedak, jika kau sedang tertidur semoga aku ada dimimpimu itu, dan jika kau sedang menggambar dan tengah berjuang semoga dengan itu datanglah rejeki yang melimpah untukmu, selalu sehat jasmani rohanimu, selalu tercapai hajad baikmu, selalu ditentramkan hatimu, selalu rendah hati dan selalulah syukur ada dihati dan lisanmu.  

Senandung ini kiranya tepat untukmu. hihihi..
"lihat aku sayang
 yang sudah berjuang menunggumu datang
 menjemputku pulang
 ingat slalu sayang 
 hatiku kau genggam
 aku tak kan pergi menunggu kamu disini..."





Kamis, 27 September 2018

Si Penyabar Porsi Jumbo


Cerita malam ini, aku membuka dan membaca beberapa pesan singkat kita dulu. Ternyata aku memang pamarah sekali ya, meluapkan emosiku padamu dan kamu hanya bisa berkata "sabar dulu..". Tapi mungkin sifat pemarahku masih jadi kebiasaan sampai detik ini. Banyak hal yang mungkin tak kita sadari sudah lama berlalu dan tidak kita jadikan pelajaran, padahal kita berjanji untuk belajar dari pengalaman namun ketika kita sudah mampu melewati pengalaman tersebut, kita secepat kilat melupakannya. Mengulangi lagi, berkata seperti itu lagi dan seperti itu terus. Yah, pada kenyataannya sabarmu lebih banyak dariku. Aku beruntung sekali, karena kamu bukan lelaki pemarah atau lebih parah lagi seperti lelaki yang suka main fisik jika emosi dan yang pasti akan sangat aku takuti. Kamu itu jauh lebih seperti sahabat, mengerti, paham meskipun kamu harus mencoba terus mengerti dan memahami lalu kamu dipaksa menerima. Maaf ya.. Perempuanmu ini masih sering berlomba-lomba dengan ego dan emosi, menomorsatukan mereka tanpa sedikit mengerti. Kamu laki-laki yang mempunyai stok sabar yang jumbo, menghadapiku, memberitahuku, mengajarkanku dan menerimaku sejauh ini. Sabar jadi salah satu ciri khas darimu, aku tidak bisa menjelaskan sebenarnya tapi yang pasti jika aku diharuskan memilih lelaki tersabar dan hampir tidak pernah marah-marah aku pasti memilihmu. Setiap kali aku berulah, kamu satu-satunya manusia yang memperhatikanku, lalu memberitahuku begitu pelan. Meskipun terkadang kamu kurang menyadari apa saja hal yang aku tak suka darimu, hingga kamu merasa semuanya sedang baik-baik saja padahal hatiku sedang porak-poranda. Tak apa, aku sedang tak mau membahas kekuranganmu, aku ingin malam ini khusus menulis tentang kesabaranmu yang jumbo itu. Agar aku selalu bersyukur karena adanya kamu. Kita manusia yang berbeda, jauh dari keluarga yang tak sama, kebiasaan yang bertolak belakang, sifat, sikap dan masih banyak lagi ketidaksamaan kita ini. Namun di usia kita saat ini, kita tidak dituntut mencari apa saja yang sama, namun lebih mencari bagaimana yang tidak sama bisa saling melengkapi. Seperti itulah kita, kanan dan kiri bukanlah sesuatu yang sama kan? namun kamu pasti tau jika burung tidak mampu terbang dengan sayap kanan dan kanan atau kiri dengan kiri, sebab burung hanya bisa terbang dengan sayap kanan dan kiri. Pahamilah kekurangan kita, lalu sandingkan dan terimalah dengan lapang dada apa saja dari kita yang berbeda. Mungkin jika sudah kamu sandingkan, kamu akan menemukan manusia yang saling menyempurnakan.
Terimakasih atas porsi sabarmu selama ini.
Selamat tidur selamat beristirahat.

Selamat malam..
♥️

Minggu, 16 September 2018

Si Melankolis

Mungkin akulah perempuan yang terlalu melankolis, sering bingung, menangis, meratapi nasibku sendiri. Berlebih-lebihan dalam mengungkapkan kata sayang. Tapi nyatanya aku tak bisa sederhana perihal rasa, aku perempuan yang seperti ini adanya. Jika aku memilihmu maka aku akan menumpahkan sejuta puisiku padamu, mengatasnamakan kamu sebagai judul puisiku. Dan itu juga resikonya mencintai perempuan seperti ku, kamu akan lebih bermuak-muakan dengan puisiku. Kamu harus dipaksa bahagia ketika menerimanya, kamu harus menahan muntah untuk itu, harus dipaksa mengerti setiap kata yang aku tulis. Aku benar-benar sadar jika yang aku mampu ketika sedih adalah menangis dan pasti ada puisi yang menodai kertas putih di sebelahku. Ketika hatiku benar-benar galau gundah gulana, aku tidak bisa menghitung berapa banyak puisi yang aku ciptakan. Lagi-lagi kamu jadi orang yang terpaksa membacanya, mengikuti alurnya membuat kepalamu serasa ingin pecah. Hmmm.. menulis jadi salah satu cara aku meredam emosi ku, menumpahkan nya dalam bentuk kata lalu kau akan dibuat pusing membacanya. Berpusing-pusinglah menghadapiku, kamu sedang berhadapan dengan resiko mencintai dan dicintai olehku. Terimalah dengan lapang dada. Jangan terlalu keras menghadapiku, sebab aku bisa lebih keras darimu. Dan jangan pula terlalu lembut menghadapiku, sebab aku mampu lebih lembut hingga tak bisa kau jamah. Pintar-pintarlah menghadapiku, terlebih dengan sifatku yang ini. 

Rasa tergadaikan

Ketika perasaanku tergadaikan
Terombang ambing mencari dahan
Menangis sendiri dengan pikiran dan perut yang kosong
Meratapi nasibnya sendiri
Hanya ikut kemana angin pergi
Tanpa bisa melawan
Ia pernah tersangkut pada dahan
Ia memberikan aku tempat ternyaman
Yang saat ini jadi alasan aku terluka
Dadaku sesak
Air dimataku pecah
Dia mengalir ke ulu hati
Menciptakan perih yang aku sendiri tidak mengerti
Aku hanya bisa seperti ini
Tidak bisa menolak
Tidak bisa mengajukan permohonan
Supaya selamanya dia tinggal
Tapi ternyata perasaanku sudah tergadaikan.

Kamis, 30 Agustus 2018

Kepadamu ♥️


Kepada putra, putri ibu.
Nak.. Ibu sudah tidak takut lagi kamu tak cinta Al-Qur'an, sebab ibu sudah memilihkan ayah yang mampu sabar membimbing kita untuk mencintai Al-Qur'an, yang selama ini selalu belajar ilmu agama, selalu berusaha untuk menambah kemampuannya, ibu yakin kamu akan bangga dan bahagia memiliki ayah seperti dia.
Ibu juga tak takut lagi kamu kelaparan, sebab ibu sudah belajar memasak masakan yang akan kamu ingat seumur hidupmu, yang rasanya tidak akan kau temukan di restoran manapun. Ibu juga telah memilihkan ayah yang mampu bertanggung jawab atas kehidupan kita.
Ibu tidak takut kamu tak bisa hidup seadanya, sebab ibu telah merasakan dan akan mengajarkanmu bahwa hidup mewah atau seadanya tergantung bagaimana rasa syukur kita.
Ibu juga tidak takut kamu mengobrak-abrik mainanmu, nanti akan ibu ajari betapa nyamannya kerapian.
Ibu sudah mendo'akanmu nak, jauh sebelum kamu ada bahkan saat ini ibu masih lajang, masih menunggu ayahmu melamar ibu untuk menjadi ibumu kelak, berapa tahun? Ibu sudah mengajari kalian menghitung, hitunglah sendiri. Ibu hanya bisa mendoakan supaya kelak kamu jadi putra dan putri ibu yang nurut, yang mampu membahagiakan ibu dan ayahmu dunia dan akhirat. Yang bisa mendoakan ibu dan ayah saat kami tak bisa menemani kalian lagi. Salam sayang dari ibu dan ayah nak, semoga besok saat kalian sudah bisa membaca, kalian menyempatkan waktu membaca surat cinta ibu ini untukmu. Do'a ibu untuk kalian tidak akan selesai jika ibu tulis disini. Peluk dan sayang. Ibumu♥️

Senin, 27 Agustus 2018

36 bulan


Aku tidak menyebut ini sebuah ucapan perayaan, aku menyebut ini sebagai kalimat pengingat. Meregenerasi rasa kita yang sudah 3 tahun ini. Mengingat kembali bagaimana kau bisa mengenalku sampai menaruh hati padaku, begitu aku sebaliknya. Berkilo-kilo jalan kita tempuh, merasakan hujan, panas dan jangan sampai ada ban kempes diantara kita, ehehe. Yang pasti malam ini, aku terlalu ingat bagaimana kita bisa sejauh ini, menikmati pencapaian kita selama ini, berdua berjalan tanpa berlawanan arah. Aku harap meregenerasi rasa dapat menghambat kebosananmu padaku, mematikan sel-sel bosan yang ada di sekitar hatimu yang mungkin saja bisa menular kemana-mana, menjangkit sesuatu yang sensitif, seperti hatimu. Ingat lagi bagaimana kita bisa menikmati hasil jerih payah kita, mondar mandir mencari tempat cetak foto yang murah, agar laba kita tidak terlalu kecil dan kita bisa membeli hal yang kita senangi dan Alhamdulillah mungkin belum semua yang kau inginkan tercapai namun rasa syukur dan rendah hati semoga selalu kau miliki atas pencapaian kita ini. Lagi lagi aku ingat bagaimana kita tertawa di  atas sepedah motor milik mu itu, menamai setiap gang, bercerita, aku sampai heran dari dulu sampai sekarang kenapa kita tidak kehabisan pembahasan ya... 😂. Sesederhana itu, mengingat bagaimana awal kita dulu, itu dapat menimbulkan rasa yang sama lagi. 
Akan tiba saatnya Semua yang pernah kita impikan, Semua yang pernah kita harapkan akan menjadi sesuatu yang nyata. Ini bukan perihal usia ini juga bukan perihal waktu tapi ini perihal masa dimana besok kita dapat menjalankan masa kita bersama menyandingkan takdir kita bersama. Akan tiba masanya kita mewujudkan satu persatu impian kita, merajut lagi mimpi bersama sekaligus membuatnya jadi nyata. Akan ada masanya kita ada di dalam tembok rumah kita sendiri, memilih warna untuk setiap ruangan, menghiasi setiap sudut, akuarium yang panjang, kucing yang berkeliaran dan suara tawa dan tangis anak-anak kita nanti. Mungkin benar akan tiba waktunya entah satu dua atau tiga tahun lagi yang pasti saat ini kita sedang berjalan dan Belum tahu kapan waktu yang tepat untuk semuanya bisa menjadi bersandingan. ini perihal kebersamaan kita, 3 tahun merajut asa, menceritakan mimpi, membangun kepercayaan, merenggut kesedihan, merasakan perih, luka, sakit, berdarah, bernanah, di sayat rindu, ditampar ombak namun tak bisa hancur. Hari ini, tepat dimana 3 tahun lalu kau meletakkan hatimu padaku begitupula dengan hatiku. Masa dimana kita tidak tau kebiasaan buruk satu sama lain, belum mengetahui secara terbuka tentang masalah kita sendiri, belum menggali perasaan kita yang dalam seperti saat ini dan pasti di 3 tahun ini, kau mampu memberikan aku sebuah kepastian, dimana kau berjanji akan menikahiku. Terlalu panjang do'aku jika aku tulis disini, namun semogo setiap malam do'aku mampu memelukmu agar kau senantiasa baik-baik saja, menata hati untuk segera menggenapkan diri. Percayalah, kali pertama kita bertemu hingga besok, mataku tetaplah sama. Mata yang selalu menyayangimu. Calon suamiku. ♥️

14-8-2018

Puzzle terakhir

Banyak hal yang kita bagi satu sama lain. Senang, sedih, tertawa, cerita, susah, Tangis, marah, kecewa. 36 bulan aku membagi semuanya denganmu. bukan waktu yang sebentar kan?
Perasaanku padamu semakin dalam. Aku bahkan tidak lagi dapat mendefinisikan, sebab apa yang kita punya selama ini terlalu banyak. Dimana-mana ada kenangan kita, setiap sudut kota ada perjalanan kita, setiap jalan ada nama kita. Hmm.. Dimana lagi aku bisa menemukan orang yang mengerti aku seperti kamu?
Kamu bukan yang paling sempurna. Bahkan ada banyak kekurangan mu yang harus aku terima. Tapi aku merasa lengkap. Bersamamu, di pelukanmu, sesederhana menemukan puzzle terakhir. Pas. Engkau berarti banyak untukku. Kau juga jadi awal perasaan ini tumbuh. 
Aku bisa bercerita banyak denganmu, apapun temanya kau pasti sejalur, entah paham atau tidak, kau adalah pendengar yang baik. Yaaa.. meskipun kadang kau jauh dari kata itu. Ehehe.. 
Leluconku, hanya kamu yang mengerti, aku tak peduli tawamu saat aku berlelucon itu palsu atau asli, yang terpenting aku menemukan defenisi bahagia. 
Tangisku, hanya kau yang sanggup memberhentikan.
Lukaku, hanya kamu yang mampu mengobati.
Betapa rumitnya apa yang kita punya sekarang. Aku tak ada artinya tanpamu, semoga kaupun begitu, mengatasnamakan namaku atas bahagiamu. ♥️

Jumat, 13 Juli 2018

Dia Separuhmu

Dia diciptakandari tulang rusuk laki-laki. Jika Tuhan mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya, mereka akan saling melengkapi. Saling mengisi satu sama lain.

Dia bukan lawan  partnermu, tetapi dialah penolongmu yang sepadan. Ketika pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu, tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat engkau berada di depan atau segera mengembalikan bola ketika bola itu terlewat olehmu.

Dialah yang akan menutupi kekuranganmu. Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki, seperti perasaan, emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk melahirkan, serta mengurusi hal-hal sepele yang laki-laki tak bisa lakukan. Ketika laki-laki tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan menyelesaikan bagiannya. Sehingga tanpa kamu sadari ketika kamu menjalankan sisa hidupmu. Kamu menjadi lebih kuat karena kehadirannya di sisimu.

Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan laki-laki, itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan sebuah senyuman, itulah perempuan. Jika ada seseorang yang mampu menyembuhkan luka hanya dengan sebuah pelukan, itulah perempuan.

Dia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki. Dia hanya butuh jaminan rasa aman darinya karena dia ada untuk dilindungi. tidak hanya secara fisik, tetapi juga emosi. Dia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki, tetapi yang dia butuhkan adalah perhatian darimu. Dia butuh kata-kata yang lembut. Ungkapan-ungkapan sayang yang kamu anggap sepele, namun sangat berarti baginya. Dia butuh kamu yang membuatnya aman di dekatmu.

Minggu, 18 Februari 2018

Sebuah Pilihan

Aku pernah ada di samping hingga segala keluh usai
Aku pernah ada di dekat kemudian dianggap sebagai rumah
Aku pernah datang lalu sekarang memutuskan hilang
Bukan tanpa sebab, tapi juga bukan harus menjelaskan

Semua orang meneriakkan luka
Semua rasa menjeritkan duka
Semua kehilangan menyimpan tangis
Semua kepergian menyisakan kenangan
Tidak terkecuali aku, kamu, dan mereka

Kita semua berkesempatan menjadi korban
Kita semua sebenarnya adalah pelaku
Menjadi yang ditinggalkan kerapnya mengaku lebih terluka
Tapi, sayangnya lupa bahwa meninggalkan tak pernah semudah menyembuhkan luka

Kamu tidak akan pernah merasa bila tak mengalami
Kamu tidak akan tahu bila tak pernah melalui
Hingga nanti kamu akan mengerti

Bahwa kepergian bukanlah yang aku pilih
Bahwa kepergian takkan pernah ingin aku jadikan tujuan
Bahwa pada kepergianlah aku membiarkan diriku terluka-tanpa harus kamu tahu, tanpa harus kamu mengerti

Sebab, kepergian ini adalah takdir yang tak pernah ingin dijadikan pilihan
Namun, bertahan aku tak lagi mampu
Hingga kemudian aku dibuat menyerah, bahwa ketetapan-Nya memang mengarahkanku untuk melangkah.
Kau harus tahu,
Kita adalah sepasang luka yang saling melupa.

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...