Selasa, 04 Desember 2018

Tentangmu


Jujur, aku tidak tahu banyak tentangmu. Yang aku tahu, kita bukan siapa-siapa sebelum memutuskan untuk berdampingan menghadapi masa depan. Kita tidak terikat darah, kau bukan sanak saudaraku, kita sama-sama orang asing, berbeda kehidupan, berbeda kebiasaan namun kita saling percaya dan menggenggam komitmen yang sama. Sekitar Tiga tahun terakhir aku bersamamu, aku mengaku telah mengenalmu padahal kosong, sedikitpun pasalmu aku tak mengerti. Bahagiamu itu apa? sedihmu itu apa? dan apa kau bisa menjelaskan bahwa aku ini siapa? tentangmu aku tidak tahu, yang aku tau mungkin hanya sepengal kisah kasih kita, sikap, sifat, prilaku, ambisi, ego, hati dan pikiran terdalammu, aku sama sekali tak tahu. Tiga tahun mungkin adalah waktu yang terlalu singkat, membuat opini tentangmu mungkin adalah hal yang tabu. Aku tahu selama ini kita memegang komitmen yang sama, berjanji saling menjelaskan, mendengarkan, memahami dan mengerti. Dan yang terherankan sekarang, mengapa kau mau membuat komitmen dengan gadis sepertiku? yang jika ditanyai tentangmu dia hanya menyebut kata CINTA? yang sama sekali tidak mengenalmu? kau percaya dengan perasaanku padamu padahal aku sama sekali tidak mengerti maumu. 

Jariku terus mengetik dan air mataku terus jatuh, basah sudah bajuku malam ini. Aku benar-benar pada titik terlemah, aku baru menyadari bahwa aku sama sekali tidak tahu tentangmu, aku menyerah pada keadaanku ini. Betapa menyedihkannya aku ini dan betapa kasihannya engkau, menghabiskan masamu dengan gadis sepertiku. Kemarahmu yang tidak aku menerti, kata-kataku telah ku buat sehalus mungkin, sudah ku tutupi luka dihatiku ini, yang kutaburkan padamu hanya wewangian bunga, namun percuma. Ku dengar setiap kali kau berdo'a, kau meminta seseorang yang mampu menyejukan hatimu, menentramkan jiwamu, tapi aku malah membuatmu jadi sebaliknya, betapa kasihannya engkau. Kau belum jua di pertemukan dengan orang yang kau sebut-sebut dalam do'amu itu. Aku, orang yang mengaku mencintaimu sama sekali tidak tahu tentangmu, aku hanya punya air mata ini, yang kata orang begitu mahal dan begitu tidak berharga untukmu.
Malam ini aku merasa seperti orang asing, aku merasa kosong momplong tanpa isi, kau tinggalkan pesan berisikan kata pergi, mungkin benar aku bukan sosok yang tepat sebagai penyejuk hati, carilah yang mempu membuatmu tenang, sungguh aku bukan sosok tersebut, keputusan itu memang benar, tak pantas aku menemanimu. Selamanya sampai aku jadi debu. 

Besok biarlah jadi rahasia Tuhan, aku tak perlu terlalu mencemaskan. Aku telah mengucapkan ini berkali-kali, namun aku rasa belumlah cukup kata maaf dariku untuk menebus segala dosaku dan kebaikanmu, namun percayalah, aku selalu berdo'a pada Tuhan kita, untuk selalu melindungimu dan membalas setiap kebaikanmu, jangan paksakan sesuatu yang tidak kau suka, jika tidak bisa, rubahlah cara berfikirmu untuk berlatih menerima segala sesuatu yang tidak sesuai kehandakmu, jika masih tidak bisa, cobalah dulu dari sekarang. Aku dulu juga tidak mau menerima keadaanku yang sekarang, aku membrontak pada Tuhan meminta agar aku dibebaskan dan meminta aku untuk diletakkan pada kehendak hatiku. Aku begitu marah pada dunia, meminta mereka untuk mengembalikan apa yang sudah mereka renggut dariku, Tapi ketidakmungkinan itu yang perlahan mengajariku untuk menerima dan berlatih untuk selalu menerima. Semoga kau juga bisa belajar dari pengalamanmu. Aku tidak sedang menasehatimu, aku sedang bercerita sedikit dengan pengalaman bodohku dan aku sedang mendo'akanmu. Berbaik sangkalah pada Tuhan, Ia tidak akan membuatmu telampau kecewa untuk hasil dari setiap yang telah kau lewati. Meskipun aku tak tahu semua tentangmu, tapi aku tahu jika kau adalah orang yang cerdas dan tidak bodoh sepertiku, maka dari itu aku percaya kau mampu belajar dari setiap peristiwa lebih dariku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...