Kamis, 15 September 2016

Tanda Baca


Jika kata adalah wujud representasi diri, maka aku adalah sebuah tanda tanya dalam sebuah kalimat. Tapi anehnya, tanpa perlu kau mengerti seakan kau sudah paham semua jawabannya, bahkan tanpa mengejaku.

Dan engkau adalah titik yang mengakhiri semua kalimat, menghentikan bacaan, dan menyelesaikan semua yang dituliskan. Titik juga lah yang mengharuskan semua kata untuk berhenti bercerita.

Dan pada akhirnya aku yang seharusnya dipahami sebagai tanda tanya, harus memahamimu dan mengurungkan niat untuk meneruskan kisah yang kutuliskan.

Kau mendefinisikan sebuah keegoisan, atau aku yang kurang paham apa maksud dari cerita yang kau hentikan dipertengahan paragraf?
Entah apa yang membuatmu ada diantara barisan pertanyaan yang telah ku rangkai sedemikian rupa, berharap kau akan menjawab hal yang ku nanti dan mengakhirinya dengan titikmu agar semua indah tanpa ada koma lagi di hadapan jawabanku.

Namun lagi harapku hanya sebatas harapan sang tanda tanya. Yang hanya bisa mencari tau, tanpa berharap jawaban yang sesuai inginku. Kau lebih berberhak menghentikan atau meneruskan kisah ini. Aku hanya sang pencari yang terus mencari karena akulah sang tanda baca yang harusnya bertugas seperti itu.

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...