“mas, kangen”
"iya dek, nanti malam mas telfon. Tunggu ya.. 😘"
"iya😘😘"
dengan mudah ia kembalikan senyumku yang tertumpuk rindu. Tapi heran juga, dulu saat jauh sulit bertemu ada alat ajaib yang bisa menghantarkan suaraku dan ceritaku padanya dengan mudah dan saat itu aku sedang mendamba detik-detik pertemuan. Entahlah, tapi yang pasti itu membuatku semakin ingin mewujudkan pertemuan itu.
"sudah malam, tidur yaa." ucapnya dari seberang.
"ya sudah, samean ga niat telfon" kutangkis nada halusnya malam itu.
"setiap selesai telfon pasti seperti ini ...." halusnya membujuk sifat kanak-kanakku dan terpaksa aku mematikan sambungan telfonku dengannya. Aku jarang mendengarkan kata rindu dari dia, pasti aku yang memulai. dia adalah rajanya menahan.
Telfon, iya telfon. Hal yang sekarang tak pernah kami gunakan. Jika rindu datangpun kami lebih memilih bertatap muka secara langsung. Aku tidak bosan sama sekali tidak, tapi aku rindu kata "iya dek, nanti malam mas telfon. Tunggu ya.. 😘" salah? aku harap kamu tidak menganggukkan kepala. kamu harus tau jika telfon adalah caraku memupuk rindu, aku berharap pertemuan menjadi semakin indah saat aku suburkan rasa rinduku. Rindu bukan hanya tentang pertemuan, tapi bagaimana caramu mewujudkannya, bertelfon pun jadi salah satunya.
angin..
untuk dia yang sedang terlelap.
sejukan harinya besok.
buat senyumnya selalu merekah.
buat hatinya tiada gundah.
jadikan aku sebagai perkara dia bahagia
jadikan aku sebagai alasan dia tersenyum
angin..
katakan padanya bahwa aku tau.
bersamaku itu bukan hal yang mudah.
bersamaku duri kehidupan adalah hiasan
rumah.
dia harus rela tertusuk setiap harinya.
akar liarpun jadi lilitan setiap tiangnya.
aku harap dia bisa bertahan dengan segala kurang.
aku mencintainya sama seperti pertama kali aku menyebut namanya dalam do'a namun semakin hari semakin besar begitu pula rasa takut kehilangan.
untuk kamuku..
satu saat ini yang aku mau,
aku hanya ingin saat aku membuka mata,
sudah ada kamu disampingku.
selamat malam cinta.😊
Jumat, 28 April 2017
Rabu, 19 April 2017
Mendung (lagi)
Hay Mendung..
Kamu sedang menunggu ? Sedari tadi saya lihat kamu gelisah. Melihat keatas, melihat jam dipergelangan tanganmu, lalu kembali gelisah. Seakan tumbuh pertanyaan yang jawabnya harus dimentahkan dengan rumus dan teori fisika.
"Hari ini mendung, aku takut semua rencanaku hari ini gagal."
Belakangan memang sering mendung.
Hujan semalam juga belum tuntas. Dia masih meninggalkan gerimis dan rintik yang berbunyi bergantian diatas balkon rumah hari itu.
Hari mendung tidak membawa apapun.
Mendung itu pemicu.
Melihatnya manusia akan lebih menghargai waktu. Seperti kamu hari itu.
Yang ingin segera lari bergegas menuju tujuanmu, sebelum hujan turun.
Yang tiba - tiba melihat masa depanmu seakan dalam perjuangan.
Padahal dia pernah bilang.
Mendung bukan berarti Hujan.
*namun kini hujan benar-benar turun.
*HUJAN❗❗❗
Begitu juga hujan.
Kadang manusia harus berhenti, diam dan menunggu.
Berusaha puas dengan apa yang mereka punya.
Menahan ambisi yang berlarian.
Mengapresisasi sesuatu dengan diam.
Terombang ambing oleh tumpukan tetesan hujan.
Menikmati setiap jatuhnya.
Mencari cara agar tak tenggelam di dalamnya.
Bahkan mematahkan kakiku pun kulakukan.
Demi bisa aku bernafas dengan tenang.
Hanya diam.
Hanya merasakan teduh hujan.
Dibawah payung bertuliskan "penantian".
Aku ingin jadi seperti itu.
Kuat, tegar, semangat, yakin.
Percaya semua ada waktu dan porsi masing-masing.
Hujan bukan penghalang.
Dia diciptakan dengan durasi dan porsinya sendiri.
😊
Kamu sedang menunggu ? Sedari tadi saya lihat kamu gelisah. Melihat keatas, melihat jam dipergelangan tanganmu, lalu kembali gelisah. Seakan tumbuh pertanyaan yang jawabnya harus dimentahkan dengan rumus dan teori fisika.
"Hari ini mendung, aku takut semua rencanaku hari ini gagal."
Belakangan memang sering mendung.
Hujan semalam juga belum tuntas. Dia masih meninggalkan gerimis dan rintik yang berbunyi bergantian diatas balkon rumah hari itu.
Hari mendung tidak membawa apapun.
Mendung itu pemicu.
Melihatnya manusia akan lebih menghargai waktu. Seperti kamu hari itu.
Yang ingin segera lari bergegas menuju tujuanmu, sebelum hujan turun.
Yang tiba - tiba melihat masa depanmu seakan dalam perjuangan.
Padahal dia pernah bilang.
Mendung bukan berarti Hujan.
*namun kini hujan benar-benar turun.
*HUJAN❗❗❗
Begitu juga hujan.
Kadang manusia harus berhenti, diam dan menunggu.
Berusaha puas dengan apa yang mereka punya.
Menahan ambisi yang berlarian.
Mengapresisasi sesuatu dengan diam.
Terombang ambing oleh tumpukan tetesan hujan.
Menikmati setiap jatuhnya.
Mencari cara agar tak tenggelam di dalamnya.
Bahkan mematahkan kakiku pun kulakukan.
Demi bisa aku bernafas dengan tenang.
Hanya diam.
Hanya merasakan teduh hujan.
Dibawah payung bertuliskan "penantian".
Aku ingin jadi seperti itu.
Kuat, tegar, semangat, yakin.
Percaya semua ada waktu dan porsi masing-masing.
Hujan bukan penghalang.
Dia diciptakan dengan durasi dan porsinya sendiri.
😊
Minggu, 09 April 2017
JATUH
Jatuh..
dia jatuh tanpa aku mau
dia jatuh tanpa sepengetahuanku
rasa bimbang jadi alasannya
ketika aku tanya
apa maksutmu jatuh lagi?
Jatuh..
seperti bulir hujan
kian lama kian banyak
padahal selokanku sedang buntu
tapi hujan masih saja menodongku
jatuh..
jatuh seperti daun yang gugur
berharap tumbuh daun yanng baru
dia rela
meski akhirnya mereka semua lupa
Jatuh seperti ragaku
jatuh
entah sudah berapa kali
babak belur sudah jadi pakaianku setiap hari
goresan darah sudah jadi sarapanku
setiap pagi
kebal sudah tubuh ini
namun rapuh hati
tidak dapat kutahan lagi
Jatuh
sakit, perih, memar, darah
semua aku pernah
terbiasa, namun sakitnya masih sama
sakitnya sampai ketulang dada
sesaknya sampai menembus rasa
Jatuh
sejatuh-jatuhnya aku
aku harap
kelak tuhan siapkan penompang
yang berani bertanggung jawab
atas jatuhku
menyamankanku
meskipun suratan menulis untuk
aku jatuh, jatuh, jatuh
lagi dan lagi.
semoga. 😥
dia jatuh tanpa aku mau
dia jatuh tanpa sepengetahuanku
rasa bimbang jadi alasannya
ketika aku tanya
apa maksutmu jatuh lagi?
Jatuh..
seperti bulir hujan
kian lama kian banyak
padahal selokanku sedang buntu
tapi hujan masih saja menodongku
jatuh..
jatuh seperti daun yang gugur
berharap tumbuh daun yanng baru
dia rela
meski akhirnya mereka semua lupa
Jatuh seperti ragaku
jatuh
entah sudah berapa kali
babak belur sudah jadi pakaianku setiap hari
goresan darah sudah jadi sarapanku
setiap pagi
kebal sudah tubuh ini
namun rapuh hati
tidak dapat kutahan lagi
Jatuh
sakit, perih, memar, darah
semua aku pernah
terbiasa, namun sakitnya masih sama
sakitnya sampai ketulang dada
sesaknya sampai menembus rasa
Jatuh
sejatuh-jatuhnya aku
aku harap
kelak tuhan siapkan penompang
yang berani bertanggung jawab
atas jatuhku
menyamankanku
meskipun suratan menulis untuk
aku jatuh, jatuh, jatuh
lagi dan lagi.
semoga. 😥
Langganan:
Komentar (Atom)
Tidak Mengetauhi Apa-apa
Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...
-
Menyanyangi itu kamu. Mencintai. Titik. Tanpa koma. Tak perlu penjelasan. Karena kau sudah tahu tanpa perlu bertanya lagi. Dan tanpa aku ...
-
Pintaku, jangan dulu berjanji. Jangan dulu mengucap janji yang sulit ditepati, seperti janji untuk tidak saling menyakiti. Karena mungkin ...
-
Sebongkah hati tlah berlari terlalu jauh. Jauh meninggalkan tembok runtuh itu dalam kehidupannya. Terlalu jauh ia berlari hingga akhirnya...