Rabu, 19 April 2017

Mendung (lagi)

Hay Mendung..

Kamu sedang menunggu ? Sedari tadi saya lihat kamu gelisah. Melihat keatas, melihat jam dipergelangan tanganmu, lalu kembali gelisah. Seakan tumbuh pertanyaan yang jawabnya harus dimentahkan dengan rumus dan teori fisika.


"Hari ini mendung, aku takut semua rencanaku hari ini gagal."



Belakangan memang sering mendung.
Hujan semalam juga belum tuntas. Dia masih meninggalkan gerimis dan rintik yang berbunyi bergantian diatas balkon rumah hari itu.

Hari mendung tidak membawa apapun.

Mendung itu pemicu.

Melihatnya manusia akan lebih menghargai waktu. Seperti kamu hari itu.

Yang ingin segera lari bergegas menuju tujuanmu, sebelum hujan turun.

Yang tiba - tiba melihat masa depanmu seakan dalam perjuangan.

Padahal dia pernah bilang.

Mendung bukan berarti Hujan.







*namun kini hujan benar-benar turun.

*HUJAN❗❗❗





Begitu juga hujan.
Kadang manusia harus berhenti, diam dan menunggu.
Berusaha puas dengan apa yang mereka punya.
Menahan ambisi yang berlarian.
Mengapresisasi sesuatu dengan diam.

Terombang ambing oleh tumpukan tetesan hujan.
Menikmati setiap jatuhnya.
Mencari cara agar tak tenggelam di dalamnya.
Bahkan mematahkan kakiku pun kulakukan.
Demi bisa aku bernafas dengan tenang.

Hanya diam.
Hanya merasakan teduh hujan.
Dibawah payung bertuliskan "penantian".

Aku ingin jadi seperti itu.
Kuat, tegar, semangat, yakin.
Percaya semua ada waktu dan porsi masing-masing.
Hujan bukan penghalang.
Dia diciptakan dengan durasi dan porsinya sendiri.

😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...