Sabtu, 30 April 2016

Hmm..

Aku menghela nafas panjang setelah membaca kata-katanya. Ya, sepertinya hatiku harus lebih terbiasa, bahkan ketika orang yang aku cintai tak menghargai apa yang ku perjuangkan. Ya, aku ingin jadi yang terbaik meskipun baik pun masih kesulitan aku ciptakan. Aku tidak boleh seperti anak kecil yang merengek ingin lolipop. Aku sudah besar. Mungkin juga sudah dewasa. Atau mungkin masih belajar dewasa? Entahlah.

Ku pejamkan mataku sejenak. Sedikit tidak mempedulikan pesan singkatnya, mungkin akan membuatku lebih baik. Ya, mungkin.

Aku sudah menganggapnya sebagai peta, aku selalu menemukan dia dimanapun aku ikuti peta itu. Pembuat senyum paling merekah dan pembentur mood paling parah. Seketika musnah apa yang sedang aku imajinasikan. Musnah, hanya dengan sebaris kalimat yang paling ku benci.

Barang kali memang aku perlu di tampar, bahkan tamparan yang membuat lebam pipiku, tamparan yang tak sengaja dia ciptakan, atau pura-pura tak sengaja, mungkin.

Aku tak bisa membuatnya mengerti perempuan secara utuh, aku tau dulu dia tak sehangat ini.

"Untukmu, aku masih tak bisa hindari, aku masih menjadikanmu alasan untuk aku menulis. Jika memang ada kurangku, aku harap kamu tak menyembunyikannya dariku. Ataupun katakan saja dengan jujur, tak perlu kau memaksa dirimu menyukai apa yang aku sukai, menuruti apa yang aku dambai. Tak usah berpura-pura, aku sudah kenyang dengan drama. 

Apa permintaanku terlalu sulit? Terlalu rumit? Apa susahnya kau katakan "ya". Apa kata itu terlalu sulit kau ucap dan lebih mudah menyakiti hatiku?? 

Tak usah repot-repot lagi membahagiakan aku, bahagiakan saja dirimu. Toh aku akan bahagia jika kamu juga bahagia. Dari pada aku bahagia dan kamu.. Kualahan mungkin.

Maaf jika aku banyak menuntut, atau lebih parah dari itu. Untuk malam ini saja, bolehkan aku membenci dirimu? Sebab tak ku dapati nyawamu yang biasa disana.
:'(

Hmm..

Rabu, 27 April 2016

Stalking.


Hay... Selamat siang, tidur ya? Oke, yang nyenyak yaa..

Tak seperti biasa, aku yang doyan tidur siang ini tak memberi kesempatan mataku untuk terpejam. Aku bingung mau apa, jadi... Maaf tadi aku membuka akun facebook-mu. Entahlah, tanpa berfikir panjang aku langsung mengetik nama perempuan itu di pencarian teman. Sampai rasa penasaranku kembali memintaku untuk membuka privasi kalian.

Aku kira kau menghapus semuanya, tapi ternyata tidak semua. Kau membiarkan beberapa postingan itu duduk rapi, seperti menunggu aku membacanya. Aku baca lagi, lagi dan lagi. Kau tau apa yang ku rasakan saat itu?? Aku serasa makan sambal yang pedas, pedasnya membuat aku merasa mulas namun ada satu rasa lagi, ketagihan. Yah, benar aku ketagihan sampai ketika sambal itu habis, aku baru merasakan mulas yang berkepanjangan. hmm.. entahlah, aku tau akibatnya tapi masih saja aku teruskan.

Aku gariskan tanganku, aku menghitung dengan jariku, sudah berapa lamakah postingan beserta kometar itu bermukim disana. Aku bertanya pada diriku "Aku sedang apa saat ini di buat?" Apa aku tengah bersembunyi di balik paru parunya?Sekedar menunggu dia mempersilahkan aku masuk ke dalam hatinya. Tapi aku sadar benar, saat itu sedang ada yang menghuni tempat istimewa itu. Tawa kecil, kasih sayang dan kemesraan mereka umbar hingga sampai ketilingaku. Membuat keputusanku pergi dari paru parunya muncul, akupun pergi tanpa meninggalkan jejak.

Aku sama sekali tidak berharap hatinya kosong, jadi aku membiarkan mereka bertukar kasih. Aku juga membiarkan pintu hatiku yang susah di buka menjadi terbuka dengan lebarnya, aku mempersilahkan siapapun untuk masuk. Saat itu aku yakin bahwa obat manjur dari patah hati adalah jatuh hati lagi. Saat itu hati kami memang sama sama dihuni oleh hati lain. Sampai tiba waktu mengilhami semogaku.

Dan untuk saat ini, dia benar nyata ada di sini, aku menghuni hatinya pun pula dia jadi mukimer disini ❤.
Sama sekali tak terfikir aku yang dulu ndongsong di paru parunya, kini dengan senang hati dia mempersilahkan aku masuk ditempat istimewa itu. Dan tak lupa, ku pastikan saat kali pertama aku duduk, tidak ada yang merasa tersingkirkan, tidak ada yang tersakiti atas undangnya untuku masuk dan jadi penghuni di dalamnya. Aku memastikan betul jika didalamnya sungguh kosong momplong, agar aku bisa duduk dengan senyaman-nyamanya. Aku juga tengok kanan kiri, aku pastikan tidak ada penguni lainya dan benar, tak kulihat perempuanya dulu ada di sini.

Benar, semua bukan rencana kita, semua ini mutlak skenario dari-NYA. Aku hanya perlu waktu untuk mengobati luka lebam ini agar saat kau bangun, semua akan tetap baik baik saja.

Sakali lagi..
Maafkan aku yang lancang..

Perempuanmu,

Laili Novita.

Kamis, 21 April 2016

Jika ini Sebuah Buku, maka ini akan Menjadi Halaman Pertamaku.


Seringnya, aku menulis saat kalut sedang penuh penuhnya mengguncang kesabaranku, saat tak lagi ada telinga untuk mendengarkanku atau saat aku sudah tak mampu lagi menahan imajinasi manis dalam benakku. Tapi kali ini biarkan aku bercerita tentang beberapa malam yang aku lewatkan dengan senyuman bahkan tidur nyenyak dengan mimpi paling indah yang pernah hadir dalam buaian.

Aku masih ingat, malam malam panjang penuh luka karena hilang muncunya bintang. Aku dipertemukan dengan sebuah senyum yang bisa aku katakan berhasil menyita semua perhatianku. Entah dengan bagaimana caranya, sang pemilik senyum ini bisa mencuri perhatian yang biasanya begitu penuh ku curahkan untuk bintang. Dan untuk pertama kali, aku tak takut untuk tak melihat bintang.

Semesta memang tak pernah gagal menjadi sahabat terbaikku. Aku tak pernah menyesal sering menyebutnya dalam tulisanku. Ia memang benar benar berperan penting dalam banyaknya kebahagiaanku. Sekali lagi, ia mempertemukanku dengan kebahagiaanku. Akan sedikit ku ceritakan bagaimana keikut-sertaan semesta membuat senyumku mengembang dengan sempurna.

Aku ini penakut. Pengecut. Aku sering memendam apa yang kurasakan sendirian. Bahkan,  perihal perasaan. Pria ini, entah siapa belum ku tahu namanya, telah mencuri sedikitnya setengah akal sehatku. Aku tak tahu bagaimana bisa ia menjadi magnet sekuat itu, membuatku sering melakukan hal bodoh hanya untuk sekedar melihatnya lebih dekat atau memperhatikannya dengan jelas. Kadang semesta memang selucu itu, membuat udara begitu panas sehingga aku harus bermain main dengan tegukan es teh  dan seyumannya! Yah, inilah bantuan pertama semesta untuk membuatku mengenalnya. Udara panas dan es teh. Ah, aku selalu tersenyum bodoh saat aku mengingat bagaimana aku mematikan sejenak ke-jaim-an dalam diriku hanya untuk mengenal seorang pria, bertanya namanya, mencari tau tentangnya. Sungguh, aku masih belum berani bahkan hanya untuk menatapnya lama, kadang aku hanya melirikkan mataku atau hanya menoleh dengan tatapan malu maluku, takut kegiatan ilegalku ini diketahui olehnya.

Aku masih ingat bagaimana antusiasnya aku saat ku lihat ia hadir, turun dari sepeda, membawa tas hitam, duduk di bangku, memegang hape atau saat ia tersenyum kepadaku. Oh.. Maaf.. Bukan padaku, bukan, karena ia jelas tak mengenalku. Ia tersenyum bukan ke arahku, hanya saja aku yang mengarahkan mataku pada senyum itu. Hanya kata semoga yang ku ucapkan saat itu, sebelum semesta mengabulkan permintaanku untuk lebih dekat dengan pria ini.

Pria ini, yang beberapa Tahun lalu masih tak ku ketahui namanya, pria yang begitu susah untuk ku kenal, pria yang begitu dingin, kini berada di sampingku. Menjadi sesorang yang paling hangat, menjadi seseorang yang begitu mengenalku, menjadi seseorang yang senyumnya masih kutunggu tunggu, menjadi pemilik hatiku. Sebegitu lucunya semesta, dengan kesederhanaannya ia mempertemukanku dengan pria yang senyumnya paling menawan yang paling susah untuk dilupakan.

Aku tak tahu, bagaimana lagi aku harus mengucap syukurku karena dipertemukan dengannya. Pria yang dengan sabarnya meladeni tingkah ke kanak kankanku, pria yang begitu tulus mencurahkan perhatiannya padaku, pria yang takkan membiarkanku menangis sendiri, pria yang takut kehilanganku, pria yang aku cintai. Tak butuh waktu lama untuk membuatku semakin jatuh hati padanya. Tak butuh waktu lama pula untukku mengenyampingkan segala hal yang pernah aku takutkan akan terjadi jika aku bersamanya. Aku ingat bagaimana ia menebas habis rasa takutku tentang semua kurangku, yang aku sendiri kesulitan untuk menerimanya. Tapi ia selalu punya hati seperti batu yang luas, yang kuat, selalu bersedia menerima dan bisa membuat kurangku menari dengan bebas diatasnya. Setidaknya untuk saat ini aku tahu, aku takkan berjuang sendirian.

Selasa, 05 April 2016

JANGAN BERJANJI.

Pintaku, jangan dulu berjanji.
Jangan dulu mengucap janji yang sulit ditepati, seperti janji untuk tidak saling menyakiti.
Karena mungkin di sepanjang perjalanan kita mulai dari detik ini hingga sampai nanti, akan ada banyak rencana yang tidak sempat terpenuhi, dan janji lain yang khilaf
diingkari.

Harapku, jangan dulu berjanji.
Cukuplah mengingatkan diri sendiri untuk tetap berjuang bersama, meski salah satu dari kita tersakiti, atau tanpa sengaja menyakiti.
Ingatkan aku jika ada salah pemikiran dan terlebih tingkahku, kau tau kan sulit aku untuk melihat punggungku. Jadi aku butuh kau, bukan hanya untuk melihat punggungku namun lebih dari itu. Begitu sebaliknya. Jika pada akhirnya kita memilih untuk bertahan, maka bersiaplah untuk menjadi lebih kuat dan saling menguatkan.

Pada kenyataannya memang tidak ada yang sempurna. Maka jika kau mencari seorang kekasih yang sempurna, tentu saja kau seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Karna memang kau hanya punya dua pilihan, bertahan dengan kekurangan kekasihmu yang sekarang atau beranjak pergi mencari kekasih baru dengan kekurangan yang berbeda.

Tapi tunggu, itu bukan berarti aku mengizinkanmu pergi. :D

"Jangan berjanji untuk tidak saling menyakiti, tapi berjanjilah untuk tetap bertahan mesikipun salah satu dari kita tersakiti atau tak sengaja menyakiti"

❤Laili

Sabtu, 02 April 2016

Barang Kali Kau Lupa.. :D

2 hari menjelang Ujian Nasional. 
Jika kau tanya apa yang aku lakukan saat ini, pasti akan ku jawab "Aku sedang menanti". Ada banyak yang aku nanti, salah satunya kau.

Sabtuku rasa senin, sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan padamu. Aku menyimpannya sembari menunggu waktu luangmu, agar bisa dengan leluasa aku ceritakan setiap apa yang ku temui hari ini, kemarin dan kemarinnya lagi. Aku tau, kau masih seperti matahari yang pasti tidak bisa terus menerus menyinariku sebab kau juga punya tugas untuk menyinari bagian bumi yang lain. Tenang, aku percaya padamu, sama seperti aku percaya pada matahari. Meskipun dia pamit pergi, tapi dia selalu berjanji untuk kembali.

Kurasa aku sudah lupa dengan beberapa hal yang terjadi, yang sengaja ingin ku ceritakan padamu. Ada baaanyak sekali hal yang ku anggap menarik untuk kau dengar. Tapi, sepertinya waktu sedang tak terpihak padaku, mungkin memang sudah saatnya aku menanggalkan clotelahanku. Lagipula banyak yang sudah ku lupa, karna mungkin terlalu banyak yang ku kumpulkan dan terlalu lama aku menyimpannya. 

Aku tidak sedang protes dengan apa yang terjadi saat ini. Aku hanya ingin mengingatkanmu saja. Aku sadar, aku tak bisa membantumu sedikitpun, kecuali sedikit menyingkir. Jadi aku rasa tak pantas jika aku protes. Tidak ada yang bisa ku berikan kecuali "Memaklumi kesibukanmu" berhenti sebentar jadi perempuan manjamu. 

Emm.. Yang ku butuhkan sekarang kau jaga kesehatanmu, tidak untukku, tapi untuk dirimu sendiri. Yaa.. :). 

Selamat menyelesaikan tugasmu sayang..
Tak apa kau jadikan aku tugasmu yang kesekian. Akan ku sibukkan diriku dengan bermimpi. :D Maaf yaa.. Jika kau tak suka dengan kata-kataku dan maaf jika tulisanku ini membuatmu keberatan atau sakit hati (lagi). 

Masih dengan orang yang sama,
Dengan rasa yang sama namun semakin besar,
Dengan hati yang sama namun semakin jatuh,
Dan dengan cemburu yang sama pada satu orang yang sama.

Oh iya, aku sayang padamu.
Ku ingatkan lagi, barang kali kau lupa. :)

®|_

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...