Rabu, 27 April 2016

Stalking.


Hay... Selamat siang, tidur ya? Oke, yang nyenyak yaa..

Tak seperti biasa, aku yang doyan tidur siang ini tak memberi kesempatan mataku untuk terpejam. Aku bingung mau apa, jadi... Maaf tadi aku membuka akun facebook-mu. Entahlah, tanpa berfikir panjang aku langsung mengetik nama perempuan itu di pencarian teman. Sampai rasa penasaranku kembali memintaku untuk membuka privasi kalian.

Aku kira kau menghapus semuanya, tapi ternyata tidak semua. Kau membiarkan beberapa postingan itu duduk rapi, seperti menunggu aku membacanya. Aku baca lagi, lagi dan lagi. Kau tau apa yang ku rasakan saat itu?? Aku serasa makan sambal yang pedas, pedasnya membuat aku merasa mulas namun ada satu rasa lagi, ketagihan. Yah, benar aku ketagihan sampai ketika sambal itu habis, aku baru merasakan mulas yang berkepanjangan. hmm.. entahlah, aku tau akibatnya tapi masih saja aku teruskan.

Aku gariskan tanganku, aku menghitung dengan jariku, sudah berapa lamakah postingan beserta kometar itu bermukim disana. Aku bertanya pada diriku "Aku sedang apa saat ini di buat?" Apa aku tengah bersembunyi di balik paru parunya?Sekedar menunggu dia mempersilahkan aku masuk ke dalam hatinya. Tapi aku sadar benar, saat itu sedang ada yang menghuni tempat istimewa itu. Tawa kecil, kasih sayang dan kemesraan mereka umbar hingga sampai ketilingaku. Membuat keputusanku pergi dari paru parunya muncul, akupun pergi tanpa meninggalkan jejak.

Aku sama sekali tidak berharap hatinya kosong, jadi aku membiarkan mereka bertukar kasih. Aku juga membiarkan pintu hatiku yang susah di buka menjadi terbuka dengan lebarnya, aku mempersilahkan siapapun untuk masuk. Saat itu aku yakin bahwa obat manjur dari patah hati adalah jatuh hati lagi. Saat itu hati kami memang sama sama dihuni oleh hati lain. Sampai tiba waktu mengilhami semogaku.

Dan untuk saat ini, dia benar nyata ada di sini, aku menghuni hatinya pun pula dia jadi mukimer disini ❤.
Sama sekali tak terfikir aku yang dulu ndongsong di paru parunya, kini dengan senang hati dia mempersilahkan aku masuk ditempat istimewa itu. Dan tak lupa, ku pastikan saat kali pertama aku duduk, tidak ada yang merasa tersingkirkan, tidak ada yang tersakiti atas undangnya untuku masuk dan jadi penghuni di dalamnya. Aku memastikan betul jika didalamnya sungguh kosong momplong, agar aku bisa duduk dengan senyaman-nyamanya. Aku juga tengok kanan kiri, aku pastikan tidak ada penguni lainya dan benar, tak kulihat perempuanya dulu ada di sini.

Benar, semua bukan rencana kita, semua ini mutlak skenario dari-NYA. Aku hanya perlu waktu untuk mengobati luka lebam ini agar saat kau bangun, semua akan tetap baik baik saja.

Sakali lagi..
Maafkan aku yang lancang..

Perempuanmu,

Laili Novita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...