Minggu, 19 Juni 2016

Lebih Kuat Untukmu.

Satu, dua, tiga jam, bukan lagi hal yang mendebarkan. Aku yang kerap kali memaklumi apapun kesibukanmu, kini malah seakan ingin membrontak. Aku yang sudah akrab dengan tembok kamar, kini mulai bosan. Aku hanya memandangi ponselku yang tertidur, berharap ujung lampu kecil yang ada dikeningnya itu menyala, sebab itu tanda kau telah membaca pesanku dan kau membalasnya.

Aku merasa lelah sendiri, isak tangis sudah kau hiraukan, bahkan aku sakitpun kau? Ah sudahlah, mungkin kali ini kau ingin aku lebih mandiri.

Sendiri, yaa aku akan berteman lebih akrab dengannya. Kau tak usah lagi khawatirkan aku, do'akan saja semoga aku jadi perempuanmu yang lebih kuat.

Jujur, hal sepele darimu itu lebih aku nantikan. Apa aku ini terkatagorikan perempuan egois? Jika iya, katakan aja.

Jangan takut, aku tidak akan membiarkan laki-laki lain menghapus air mata ini. Akan ku biarkan dia kering sendiri, menumpahkan segala penat di hati. Percayalah, pipiku akan lebih akrab dengannya.

Jika aku tak bisa mengerti setiap kesibukanmu, berarti aku masih gagal, kau juga bisa mengatakan jika aku ini perempuan egois. Tapi aku harap kau tau, aku ingin kau nyaman denganku, aku yang selalu tersenyum untuk menjawab pesan pamitmu. Ketahuilah jika luka lebam, luka ditangan, dan luka goresan pedang dapat ditutup dengan perban, aku percaya luka dalam ini dapat disembunyikan oleh senyuman. Dan yang pasti dapat membuatmu nyaman diperjalanan sampai kembali pulang.

Aku belum jadi perempuan yang tegar kurasa. Maka aku mohon..
"Do'akan aku jadi perempuanmu yang lebih kuat"

Laili,

Jumat, 10 Juni 2016

Semoga Kau Membacanya.

Sudah malam lagi. Seperti biasa, mataku masih berkedip-kedip, aku belum menguap, aku belum mengantuk. Seperti biasa, aku masih terjaga. Aku pamit tidur memang pergi menarik selimut dan beranjak tidur, tapi dengan hati yang tak berhenti meminta.

Aku rasa rinduku terlalu bodoh. Rinduku tak pandai berhitung. Ia tak bisa mengurang, membagi. Hanya bisa menambah dan menggandakan. Pun ia tidak bisa membaca hari, tak kenal tanggal dan tidak tahu waktu. Terlalu rajin karena tidak pernah absen barang sehari saja.


Aku merasa semua masalah, semua beban, semua yang menggangguku, kini berglayutan di bahu. Entah kenapa aku bisa selabil ini. Barangkali kau mau menghiburku membuatku merasa lebih baik (mungkin). Tapi tidak dulu untuk kali ini.


Aku minta maaf untuk semua ketidakstabilanku belakangan ini. Aku juga tak tahu mengapa. Jika aku punya penyakit darah tinggi, mungkin tidak heran mengapa aku mudah marah. Namun karena kita berdua tahu seringnya darah rendah yang menengokku tapi mudah marah kini malah ikut datang tanpa ku undang. Aku sendiri juga jadi bertanya-tanya, aku sering membuatmu lelah, aku sering berubah-ubah. Aku harap kau masih punya stok kesabaran untuk menghadapiku. Aku hanya sedang lelah. Lelah berlari-larian.

Aku sangat menghargai caramu menghadapiku. Tidak pernah sekali pun kau marah dengan sifat kekanakanku belakangan ini. Kau selalu dengan sabar tersenyum, meminta maaf karena sikapku padamu, padahal ini sama sekali bukan kesalahanmu. Kadang aku membodohkan diriku sendiri atas semua sikapku. Ya, aku masih sangat kekanakan. Mental age-ku tidak sesuai dengan umurku, nampaknya. Bertahanlah. Aku tidak ingin kehilanganmu....


Mungkin menyendiri adalah hal paling baik, anggap saja ini surat pamit dariku. Aku tidak mau menjadikan kau sebagai tumbal atas ketidaksetabilanku. Semoga kau membacanya, dan tau sebabnya kenapa aku tak menghubungimu. Aku mungkin punya seribu cara untuk bahagia, tapi untuk kali ini satu diantara ribuan cara itu tak ada yang mampu membuat energi baru menganti energi lama, lagi-lagi untuk kali ini. Aku pamit, jika sudah reda aku akan segera menghubungimu. Jangan khawatir, aku tidak akan pergi tanpa pamit.

Aku hanya butuh waktu untuk sendiri.






PS : All of me love all your edges. Love all your perfect imperfections.

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...