Rabu, 11 Oktober 2017

Sajak Yang Terikat

Sesekali, aku pun ingin egois. Sebab menahan luka, membuatku hilang kendali akan tangis.
Sesekali, aku pun ingin marah. Sebab menahan lelah, membuat lebamku makin memerah Lalu parah.
Sesekali aku ingin kamu mengerti. Bahwa aku juga manusia. Luka tak mungkin bisa aku lawan semua.
Aku pun butuh kamu, sebagai sosok yang menenangkanku kala luka tengah bertamu.

Aku mungkin tak sengaja mengajarimu untuk menjadi egois. Keegoisan yang membuat hati Kita sama sama teriris. Mungkin aku tanpa sadar sudah mengajarimu marah, Dan sekarang hatimu sudah terlalu lelah. Seandainya, aku bisa memaklumi semuanya. Seperti, aku bisa menerima kamu, kamu bisa menerima aku. Atau, aku bisa menerima aku, kamu bisa menerima kamu. Ini adalah konsep yang Kita Tau tapi Tak pernah Kita lakukan. Seandainya hati Dan pikiranku dapat bekerja sama, mungkin tak serumit ini. Tapi, aku Mana bisa mengutuk takdir untuk tidak menjadikanku seperti ini. Maafkan aku ini yang masih terus saja menyalahkan mahluk Tuhan seperti mu. Aku ini apa? Siapa?

Kau terlalu mudah marah. Sayangnya, aku juga demikian. Dan kita terjebak dalam siklus saling menyalahkan. Aku menyalahkan kamu, kamu menyalahkan aku. Padahal harusnya, aku menyalahkan aku dan kamu menyalahkan kamu. Karena aku lebih tahu tentang diriku, kamu lebih tahu tentang dirimu. Dan kita lebih bisa mengendalikan diri kita sendiri daripada mengendalikan orang lain, bukan? Atau mungkin, tak ada yang perlu disalahkan. Tidak aku, tidak juga kamu. Karena menyalahkan hanya akan membuat kita semakin beku. Dan beku akan membuat kita sulit bergerak. Akhirnya, kebersamaan tak membuat kita semakin dekat. Walaupun kita berada pada tempat yang tak berjarak. Karena dekat sejatinya bukan sekedar permasalahan jarak, tapi tentang hati yang saling terikat. 

Senin, 14 Agustus 2017

Perem Puan.



“Perempuan memang butuh diperhatikan, Sayang. Selalu butuh. Karena dari sananya, Tuhan menciptakan perempuan satu paket dengan kelembutan. Sedangkan perhatian dan kelembutan itu dekat sekali jaraknya. Walaupun ada juga jenis orang yang mengungkapkan perhatiannya dengan marah-marah, dengan keras. Sejatinya, hatinya tetap lembut, selama niatnya lurus, untuk kebaikan, bukan karena hawa nafsu. Buktinya dia tetap peduli, tetap perhatian, walaupun mungkin dengan cara yang kurang kita sukai. Tapi perempuan yang cerdas, seharusnya tidak perlu menyusahkan diri sendiri. Dan kamu tahu, apa yang sering menyusahkan bagi perempuan? perasaannya sendiri.
kutipan buku "Genap, Nazrul Anwar".

Dua hari lalu mata ini sigap merekam setiap jejak, meneliti setiap gerak gerik dan mengikuti kemanapun yang dia (baca saja "Hati") mau. Baru kemarin aku sempat membaca artikel, ada opini di dalamnya yang mengatakan bahwa...
eemm sebentar, kurang lebih seperti ini "perempuan yang minta maaf dulu, bilang kangen dulu dan tanya kabar dulu adalah perempuan yang paling sering disakiti" Bukankah opini itu menyusahkan perasaanku sendiri?. Tapi tunggu, itu hanya opini, bisa diterima bisa tidak.

Entah bisa dinamakan ketidak kesengajaan atau apalah, tapi setelah aku baca kutipan buku Genap dan opini dalam artikel ini, saat setelah itu juga muncul berbagai bukti yang membuatku berfikir untuk membenarkan opini itu.

Bagaimana? sudah tau kan kenapa perempuan sering disusahkan dengan perasaannya sendiri?.

Sekitar jam 20.11 nada pemberitahuan WhatsApp-ku berbunyi, memecah pikiranku yang merenung dan mencoba mengambil kesimpulan dari tulisan tadi. Lagi-lagi seorang perempuan yang lemah, terlihat dari ujung pesannya "Aku lelah". Ya, hatiku lagi-lagi teriris setelah beberapa kali terluka. Dia menceritakan tentang lelakinya yang semakin hari semakin tak terkendali, semakin perempuan itu minta maaf semakin melunjak hati lelakinya. Aku tak menyuruhnya untuk bersabar sebab aku tau sebelum aku menyuruh pasti saat itu juga hatinya masih teguh bersabar. Aku hanya meminta dia untuk diam, tapi tetap melakukan apapun kewajiban terhadap suaminya itu. Tapi dia coba membantah "Bagaimana mungkin, kita yang seatap harus diam dan tak berkomunikasi, aku begitu menyayanginya jadi tidak mungkin aku diam tanpa menyapanya. Dia lelakiku"

Bagaimana? sudah mendapatkan bukti bahwa perempuan sering disusahkan dengan perasaannya sendiri?.

Entah kenapa jiwa keperempuanku tidak muncul dan coba membantah ungkapannya tadi. "Bagaimana mungkin, dia yang seatap denganmu tega membentak jantung hati yang ada di dalam rumah itu dan semakin kasar saat kau mencoba minta maaf. Pikirkan perasaanmu dan coba acuhkan perasannya. Diam tak akan mengurangi rasa hormatmu pada suamimu kan?" Saat setelah aku kirimkan pesan itu dia hanya membacanya, tidak coba membalasnya lagi. Aku hanya diam dan air mataku mengalir dicelah mata yang sudah coba aku tutup pintunya. Jiwa keperempuanku hadir.

Bagaimana? Sudah jelas bukan? Dia begitu disusakan oleh perasaanya sendiri?.

Keesokan harinya ada pesan masuk dan ternyata perempuan itu "Kau benar" tegasnya. Aku hanya membaca pesannya itu dan tak coba membalas lagi.. Kita benar-benar dibingungkan oleh perasaan kita sendiri. Saat itu aku coba hela nafas panjang dan membuat opini sendiri.
"Bahwa, perempuan harus cerdas. Laut itu ibarat hati, perahu ibarat diri dan nahkoda adalah perasaan kita sendiri. Laut, dia luas dan tak mudah terkendali. Tapi dengan sedikit pengertian dari sang nahkoda akan pasang surutnya laut, perahu yang ditumpanginya akan berlayar tak mudah goyang dan semua akan baik-baik saja sampai ketepi pantai". Tapi kenyataannya? taulah... hahaha.

Perempuan memang sering menyusahkan perasaannya sendiri, memutar-mutar sistem kerja otak kanan kiri, seolah menyelesaikan teka-teki yang dia buat sendiri. Dia lembut tak berserabut, dia halus namun kadang tak lurus, dia lemah tapi dia mampu menguatkan seisi rumah, dia tak bisa sederhana sebab dia selalu ingin jadi yang teristimewa terlebih dihati pemilik tulang rusuknya. Aku bukan sedang berpihak pada perempuan sebab aku ini seorang perempuan. Tapi ini memang sifat perempuan yang sebenarnya, jika kau tidak percaya coba pegang hatinya dengan lembut, berikan kasih sayang yang tulus, sederhana saja. Pasti dia akan memberinya lebih dari apa yang kamu beri. "sentuhlah dia tepat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya, sentuh dengan setulus cinta, buat hatinya terbang melayang" [Rahasia Perempuan- Ari Lasso]. Tapi ingat, jangan berani-berani menjatuhkan hatinya itu, sebab cara untuk menilai lelaki yang sukses adalah dengan melihat bagaimana cara ia memperlakukan perempuannya.

Sebuah kehormatan bagiku jika ada seorang lelaki yang berbesar hati, bersedia untuk membaca tulisan ini sampai habis. Dan untuk yang selalu disusahkan oleh perasaannya sendiri, semoga kita mampu untuk mengerti kapan pasang surutnya laut milik kita. Aku dan kamu semuanya sama, sama sama seorang Perempuan, sama sama memiliki laut yang luas. 😘

Minggu, 30 Juli 2017

I MISS YOU


Haaai...

Aku menuliskan surat ini dari desakan beberapa rasa yang tiba-tiba menyenggol ruang kerja kepala. Atau sebut saja, aku terlalu malu untuk memberitahumu bahwa aku rindu. Entah berapa juta detik lalu, mata kita pernah beradu, lalu merakam setiap gambarmu dalam retinaku. Jarak memang pendesak. Hingga kau alami irama sesak, itu pertanda bahwa rindu sudah beranak pinak. Dan kali ini aku mempersilahkan aksaraku untuk berbisik pelan lewat matamu.

“Aku rindu, kamu”

Selain jarak, bukankah kepastian juga tak pernah berpihak? Aku hanya menunggu hadiah dari Tuhan, kalau-kalau bisa sesekali dipertemukan. Aku hanya menunggu hari dari Tuhan, kalau-kalau hadirmu bisa kutemukan. Aku hanya menunggu sebuah keajaiban, bahwa Tuhan setuju kita kembali dipertemukan namun tidak dalam kondisi yang lalu. Apa itu doa yang terlalu tinggi? Apa aku sudah melayang jauh berpuluh senti dari tanah tempatku berpijak? semoga tidak.😥

Ada sebuah janji yang tak pernah lagi bisa ditepati, karena kita memilih pergi. Satu yang memecahkan diri, berpisah haluan, mengucapkan selamat tinggal karena sudah menemukan kebahagiaan yang lain.

Tak bisa kupungkiri dulu aku pernah mencintaimu, sampai saat inipun masih. kau harus tau aku bukan "jeruk makan jeruk" tapi tak seharusnya kau mendefinisikan cinta itu perasaan peduli antara lawan jenis. Rasa peduli antara saudara dari ibuk bapak yang lain, kau juga bisa sebut itu cinta.

Sebut saja cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran. Perjalanan tempat kita saling menemukan, pelajaran tempat kita saling mendewasakan. Setelah berulang kali merasakan cinta, kehilangan dan patah hati. Setelah berulang kali kita menemukan, kemudian akhirnya melepaskan. Setelah berulang kali bersyukur atas sebuah pertemuan dan belajar atas perpisahan. Setelah berulang kali menemukan rumah, namun kita hanya dianggap sebagai tempat singgah. Setelah kamu merasa ada orang yang tepat, sampai kepadanyalah hatimu menutup pintu rapat-rapat.
Setelah segalanya yang terjadi, aku harap kau masih percaya cintaku padamu tak lekang oleh waktu. aciiieeee....😂😂

Namun seperti yang kukatakan, cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran. Aku tak pernah mendefinisikan perpisahan sebagai sebuah akhir. Kamu, kalian semua adalah belahan jiwaku.. terimakasih telah memberiku perjalanan yang indah dan pelajaran yang bermakna. I MISS YOU SO MUCH


mbak mbakku tercinta..

Jumat, 30 Juni 2017

Masih.

Aku mencintaimu saat ini
dan ingin tetap mencintaimu, lebih baik lagi dari hari ini.

Aku masih ingin memahami setiap liku pikiranmu, hingga mampu menjadi yang pantas bersanding dengan pikiran hebatmu itu.

Aku masih ingin menyesuaikan suhu dingin jiwamu, hingga mampu menghangatkanmu kapan saja. Sehingga ketika kau keterlaluan, aku tetap ada dan tidak menyerah. Jujur, berada di sampingmu tidaklah mudah. Namun aku bahagia. Aku bahagia hidup beriringan denganmu. Hidup bersama lelaki terkekasih di hidupku.

Bahkan, ketika kau mulai goyah dengan perjalanan kita, aku akan tetap yakin dengan ini. Kebahagiaan kecil yang sederhana, yang tumbuh dengan restu semesta, aku mencintaimu sedamai itu, sesederhana mimpiku.

Tidak apa jika masih terasa sedikit sakit ketika mencintaimu saat ini. Aku belajar, bahwa kita tak hanya perlu cinta. Rasa sakit membantuku tumbuh dengan kokoh, sehingga ketika menjadi istrimu kelak: membuatmu tidak menyesal.

Meski kau harus mengacuhkan keinginanku, menganggapku perempuanmu yang paling menuntut saat ini, meski nanti kau mulai berpikir bahwa singgah di hati yang lebih menawan mungkin mengasyikan. Aku akan selalu belajar memahamimu.

Aku minta maaf jika selama berjalan bersamaku aku banyak meminta, menyita dan mentutmu. Maafkan aku yang belum bisa jadi yang terbaik diantara yang baik. Aku tidak akan berhenti memperbaiki.

Mungkin akan terlihat sangat bodoh ketika mereka menatapku, namun aku masih ingin mencintaimu lebih baik lagi. Kemarilah, mari memperbaiki diri bersama. Menjadi teman hidupku yang selalu aku banggakan.

Jumat, 28 April 2017

Telfon Aku yaa..

“mas, kangen”
"iya dek, nanti malam mas telfon. Tunggu ya.. 😘"
"iya😘😘"
dengan mudah ia kembalikan senyumku yang tertumpuk rindu. Tapi heran juga, dulu saat jauh sulit bertemu ada alat ajaib yang bisa menghantarkan suaraku dan ceritaku padanya dengan mudah dan saat itu aku sedang mendamba detik-detik pertemuan. Entahlah, tapi yang pasti itu membuatku semakin ingin mewujudkan pertemuan itu.
"sudah malam, tidur yaa." ucapnya dari seberang.
"ya sudah, samean ga niat telfon" kutangkis nada halusnya malam itu.
"setiap selesai telfon pasti seperti ini ...." halusnya membujuk sifat kanak-kanakku dan terpaksa aku mematikan sambungan telfonku dengannya. Aku jarang mendengarkan kata rindu dari dia, pasti aku yang memulai. dia adalah rajanya menahan.

Telfon, iya telfon. Hal yang sekarang tak pernah kami gunakan. Jika rindu datangpun kami lebih memilih bertatap muka secara langsung. Aku tidak bosan sama sekali tidak, tapi aku rindu kata "iya dek, nanti malam mas telfon. Tunggu ya.. 😘" salah? aku harap kamu tidak menganggukkan kepala. kamu harus tau jika telfon adalah caraku memupuk rindu, aku berharap pertemuan menjadi semakin indah saat aku suburkan rasa rinduku. Rindu bukan hanya tentang pertemuan, tapi bagaimana caramu mewujudkannya, bertelfon pun jadi salah satunya.

angin..
untuk dia yang sedang terlelap.
sejukan harinya besok.
buat senyumnya selalu merekah.
buat hatinya tiada gundah.
jadikan aku sebagai perkara dia bahagia
jadikan aku sebagai alasan dia tersenyum
angin..
katakan padanya bahwa aku tau.
bersamaku itu bukan hal yang mudah.
bersamaku duri kehidupan adalah hiasan
rumah.
dia harus rela tertusuk setiap harinya.
akar liarpun jadi lilitan setiap tiangnya.
aku harap dia bisa bertahan dengan segala kurang.
aku mencintainya sama seperti pertama kali aku menyebut namanya dalam do'a namun semakin hari semakin besar begitu pula rasa takut kehilangan.

untuk kamuku..
satu saat ini yang aku mau,
aku hanya ingin saat aku membuka mata,
sudah ada kamu disampingku.
selamat malam cinta.😊

Rabu, 19 April 2017

Mendung (lagi)

Hay Mendung..

Kamu sedang menunggu ? Sedari tadi saya lihat kamu gelisah. Melihat keatas, melihat jam dipergelangan tanganmu, lalu kembali gelisah. Seakan tumbuh pertanyaan yang jawabnya harus dimentahkan dengan rumus dan teori fisika.


"Hari ini mendung, aku takut semua rencanaku hari ini gagal."



Belakangan memang sering mendung.
Hujan semalam juga belum tuntas. Dia masih meninggalkan gerimis dan rintik yang berbunyi bergantian diatas balkon rumah hari itu.

Hari mendung tidak membawa apapun.

Mendung itu pemicu.

Melihatnya manusia akan lebih menghargai waktu. Seperti kamu hari itu.

Yang ingin segera lari bergegas menuju tujuanmu, sebelum hujan turun.

Yang tiba - tiba melihat masa depanmu seakan dalam perjuangan.

Padahal dia pernah bilang.

Mendung bukan berarti Hujan.







*namun kini hujan benar-benar turun.

*HUJAN❗❗❗





Begitu juga hujan.
Kadang manusia harus berhenti, diam dan menunggu.
Berusaha puas dengan apa yang mereka punya.
Menahan ambisi yang berlarian.
Mengapresisasi sesuatu dengan diam.

Terombang ambing oleh tumpukan tetesan hujan.
Menikmati setiap jatuhnya.
Mencari cara agar tak tenggelam di dalamnya.
Bahkan mematahkan kakiku pun kulakukan.
Demi bisa aku bernafas dengan tenang.

Hanya diam.
Hanya merasakan teduh hujan.
Dibawah payung bertuliskan "penantian".

Aku ingin jadi seperti itu.
Kuat, tegar, semangat, yakin.
Percaya semua ada waktu dan porsi masing-masing.
Hujan bukan penghalang.
Dia diciptakan dengan durasi dan porsinya sendiri.

😊

Minggu, 09 April 2017

JATUH

Jatuh..
dia jatuh tanpa aku mau
dia jatuh tanpa sepengetahuanku
rasa bimbang jadi alasannya
ketika aku tanya
apa maksutmu jatuh lagi?

Jatuh..
seperti bulir hujan
kian lama kian banyak
padahal selokanku sedang buntu
tapi hujan masih saja menodongku
jatuh..
jatuh seperti daun yang gugur
berharap tumbuh daun yanng baru
dia rela
meski akhirnya mereka semua lupa

Jatuh seperti ragaku
jatuh
entah sudah berapa kali
babak belur sudah jadi pakaianku setiap hari
goresan darah sudah jadi sarapanku
setiap pagi
kebal sudah tubuh ini
namun rapuh hati
tidak dapat kutahan lagi

Jatuh
sakit, perih, memar, darah
semua aku pernah
terbiasa, namun sakitnya masih sama
sakitnya sampai ketulang dada
sesaknya sampai menembus rasa

Jatuh
sejatuh-jatuhnya aku
aku harap
kelak tuhan siapkan penompang
yang berani bertanggung jawab
atas jatuhku
menyamankanku
meskipun suratan menulis untuk
aku jatuh, jatuh, jatuh
lagi dan lagi.
semoga. 😥

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...