Aku menuliskan surat ini dari desakan beberapa rasa yang tiba-tiba menyenggol ruang kerja kepala. Atau sebut saja, aku terlalu malu untuk memberitahumu bahwa aku rindu. Entah berapa juta detik lalu, mata kita pernah beradu, lalu merakam setiap gambarmu dalam retinaku. Jarak memang pendesak. Hingga kau alami irama sesak, itu pertanda bahwa rindu sudah beranak pinak. Dan kali ini aku mempersilahkan aksaraku untuk berbisik pelan lewat matamu.
“Aku rindu, kamu”
Selain jarak, bukankah kepastian juga tak pernah berpihak? Aku hanya menunggu hadiah dari Tuhan, kalau-kalau bisa sesekali dipertemukan. Aku hanya menunggu hari dari Tuhan, kalau-kalau hadirmu bisa kutemukan. Aku hanya menunggu sebuah keajaiban, bahwa Tuhan setuju kita kembali dipertemukan namun tidak dalam kondisi yang lalu. Apa itu doa yang terlalu tinggi? Apa aku sudah melayang jauh berpuluh senti dari tanah tempatku berpijak? semoga tidak.😥
Ada sebuah janji yang tak pernah lagi bisa ditepati, karena kita memilih pergi. Satu yang memecahkan diri, berpisah haluan, mengucapkan selamat tinggal karena sudah menemukan kebahagiaan yang lain.
Tak bisa kupungkiri dulu aku pernah mencintaimu, sampai saat inipun masih. kau harus tau aku bukan "jeruk makan jeruk" tapi tak seharusnya kau mendefinisikan cinta itu perasaan peduli antara lawan jenis. Rasa peduli antara saudara dari ibuk bapak yang lain, kau juga bisa sebut itu cinta.
Sebut saja cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran. Perjalanan tempat kita saling menemukan, pelajaran tempat kita saling mendewasakan. Setelah berulang kali merasakan cinta, kehilangan dan patah hati. Setelah berulang kali kita menemukan, kemudian akhirnya melepaskan. Setelah berulang kali bersyukur atas sebuah pertemuan dan belajar atas perpisahan. Setelah berulang kali menemukan rumah, namun kita hanya dianggap sebagai tempat singgah. Setelah kamu merasa ada orang yang tepat, sampai kepadanyalah hatimu menutup pintu rapat-rapat.
Setelah segalanya yang terjadi, aku harap kau masih percaya cintaku padamu tak lekang oleh waktu. aciiieeee....😂😂
Namun seperti yang kukatakan, cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran. Aku tak pernah mendefinisikan perpisahan sebagai sebuah akhir. Kamu, kalian semua adalah belahan jiwaku.. terimakasih telah memberiku perjalanan yang indah dan pelajaran yang bermakna. I MISS YOU SO MUCH
mbak mbakku tercinta..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar