Senin, 14 Agustus 2017

Perem Puan.



“Perempuan memang butuh diperhatikan, Sayang. Selalu butuh. Karena dari sananya, Tuhan menciptakan perempuan satu paket dengan kelembutan. Sedangkan perhatian dan kelembutan itu dekat sekali jaraknya. Walaupun ada juga jenis orang yang mengungkapkan perhatiannya dengan marah-marah, dengan keras. Sejatinya, hatinya tetap lembut, selama niatnya lurus, untuk kebaikan, bukan karena hawa nafsu. Buktinya dia tetap peduli, tetap perhatian, walaupun mungkin dengan cara yang kurang kita sukai. Tapi perempuan yang cerdas, seharusnya tidak perlu menyusahkan diri sendiri. Dan kamu tahu, apa yang sering menyusahkan bagi perempuan? perasaannya sendiri.
kutipan buku "Genap, Nazrul Anwar".

Dua hari lalu mata ini sigap merekam setiap jejak, meneliti setiap gerak gerik dan mengikuti kemanapun yang dia (baca saja "Hati") mau. Baru kemarin aku sempat membaca artikel, ada opini di dalamnya yang mengatakan bahwa...
eemm sebentar, kurang lebih seperti ini "perempuan yang minta maaf dulu, bilang kangen dulu dan tanya kabar dulu adalah perempuan yang paling sering disakiti" Bukankah opini itu menyusahkan perasaanku sendiri?. Tapi tunggu, itu hanya opini, bisa diterima bisa tidak.

Entah bisa dinamakan ketidak kesengajaan atau apalah, tapi setelah aku baca kutipan buku Genap dan opini dalam artikel ini, saat setelah itu juga muncul berbagai bukti yang membuatku berfikir untuk membenarkan opini itu.

Bagaimana? sudah tau kan kenapa perempuan sering disusahkan dengan perasaannya sendiri?.

Sekitar jam 20.11 nada pemberitahuan WhatsApp-ku berbunyi, memecah pikiranku yang merenung dan mencoba mengambil kesimpulan dari tulisan tadi. Lagi-lagi seorang perempuan yang lemah, terlihat dari ujung pesannya "Aku lelah". Ya, hatiku lagi-lagi teriris setelah beberapa kali terluka. Dia menceritakan tentang lelakinya yang semakin hari semakin tak terkendali, semakin perempuan itu minta maaf semakin melunjak hati lelakinya. Aku tak menyuruhnya untuk bersabar sebab aku tau sebelum aku menyuruh pasti saat itu juga hatinya masih teguh bersabar. Aku hanya meminta dia untuk diam, tapi tetap melakukan apapun kewajiban terhadap suaminya itu. Tapi dia coba membantah "Bagaimana mungkin, kita yang seatap harus diam dan tak berkomunikasi, aku begitu menyayanginya jadi tidak mungkin aku diam tanpa menyapanya. Dia lelakiku"

Bagaimana? sudah mendapatkan bukti bahwa perempuan sering disusahkan dengan perasaannya sendiri?.

Entah kenapa jiwa keperempuanku tidak muncul dan coba membantah ungkapannya tadi. "Bagaimana mungkin, dia yang seatap denganmu tega membentak jantung hati yang ada di dalam rumah itu dan semakin kasar saat kau mencoba minta maaf. Pikirkan perasaanmu dan coba acuhkan perasannya. Diam tak akan mengurangi rasa hormatmu pada suamimu kan?" Saat setelah aku kirimkan pesan itu dia hanya membacanya, tidak coba membalasnya lagi. Aku hanya diam dan air mataku mengalir dicelah mata yang sudah coba aku tutup pintunya. Jiwa keperempuanku hadir.

Bagaimana? Sudah jelas bukan? Dia begitu disusakan oleh perasaanya sendiri?.

Keesokan harinya ada pesan masuk dan ternyata perempuan itu "Kau benar" tegasnya. Aku hanya membaca pesannya itu dan tak coba membalas lagi.. Kita benar-benar dibingungkan oleh perasaan kita sendiri. Saat itu aku coba hela nafas panjang dan membuat opini sendiri.
"Bahwa, perempuan harus cerdas. Laut itu ibarat hati, perahu ibarat diri dan nahkoda adalah perasaan kita sendiri. Laut, dia luas dan tak mudah terkendali. Tapi dengan sedikit pengertian dari sang nahkoda akan pasang surutnya laut, perahu yang ditumpanginya akan berlayar tak mudah goyang dan semua akan baik-baik saja sampai ketepi pantai". Tapi kenyataannya? taulah... hahaha.

Perempuan memang sering menyusahkan perasaannya sendiri, memutar-mutar sistem kerja otak kanan kiri, seolah menyelesaikan teka-teki yang dia buat sendiri. Dia lembut tak berserabut, dia halus namun kadang tak lurus, dia lemah tapi dia mampu menguatkan seisi rumah, dia tak bisa sederhana sebab dia selalu ingin jadi yang teristimewa terlebih dihati pemilik tulang rusuknya. Aku bukan sedang berpihak pada perempuan sebab aku ini seorang perempuan. Tapi ini memang sifat perempuan yang sebenarnya, jika kau tidak percaya coba pegang hatinya dengan lembut, berikan kasih sayang yang tulus, sederhana saja. Pasti dia akan memberinya lebih dari apa yang kamu beri. "sentuhlah dia tepat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya, sentuh dengan setulus cinta, buat hatinya terbang melayang" [Rahasia Perempuan- Ari Lasso]. Tapi ingat, jangan berani-berani menjatuhkan hatinya itu, sebab cara untuk menilai lelaki yang sukses adalah dengan melihat bagaimana cara ia memperlakukan perempuannya.

Sebuah kehormatan bagiku jika ada seorang lelaki yang berbesar hati, bersedia untuk membaca tulisan ini sampai habis. Dan untuk yang selalu disusahkan oleh perasaannya sendiri, semoga kita mampu untuk mengerti kapan pasang surutnya laut milik kita. Aku dan kamu semuanya sama, sama sama seorang Perempuan, sama sama memiliki laut yang luas. 😘

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...