Jumat, 29 Januari 2016
Maaf, Aku Tak Mengizinkanmu Pergi.
Menyanyangi itu kamu. Mencintai. Titik. Tanpa koma. Tak perlu penjelasan. Karena kau sudah tahu tanpa perlu bertanya lagi. Dan tanpa aku harus repot-repot bercerita, aku yakin kau sudah mengerti. Sudah sejak dulu, “Dulu” yang rasanya bagaikan sekejap mata. Tak perlulah aku bertindak bodoh memasang fotomu di setiap sudut ruangku, di dinding kamarku, seperti yang dilakukan para pencinta-pencinta lain. Itu terlalu biasa. Sedang aku mencintamu dengan cara yang tak biasa. Mencintaimu dengan caraku tak akan membuatku melupakan wajahmu.
Maka tersenyumlah dengan senyum yang tak terganti, yang ku yakin tak bisa kutemukan di wajah manapun sampai aku mati. Mencintalah dengan cinta yang mengobati, yang cahayanya memancar sampai ke surga abadi. Seperti aku mencintai segala ketidaksempurnaanmu dalam segala ketidaksempurnaanku. Dan aku masih melihatmu berdiri di situ. Diam. Tak beranjak. Setegar batu karang. Setemaram cahaya bulan.
Ingin kujamah pagi agar embunnya tak bisa menghalangimu untuk selalu terjaga, untuk menemui-Nya. Ingin kutaklukkan siang agar nyala mentarinya tak membakar kulitmu. Ingin kupotong senja untukmu. Lihatlah warnanya, secerah wajahmu saat menatapku. Ingin kulukis malam dan kupaksa ia bernyanyi demi mengantarmu lelap tertidur.
Maka ingatkah kau pada suatu masa di mana kita menciptakan jarak dengan sengaja? Jarak yang pada akhirnya runtuh dalam ketidakmampuan kita membendung lautan rindu. Dan ingatkan kau pada masa di mana kita saling diam dan tak hendak saling bicara, tak memberi kabar, bahkan sekedar pesan? Kau ingat saat itu? Diam itu selalu ku tahan, namun selalu sirna entah kemana, bergantikan derai tawa yang kita sendiri tak bisa ukur frekuensinya.
Tengah malam. Gelap, dingin tak kurasa. Kau ada entah dimana, mungkin kau tengah melalangbuana. Tapi kuyakin kau masih ada, dan akan selalu kembali. Sungguh kau tak sebodoh itu untuk lupa jalan pulang. Maka di sinilah rumahmu. Di sinilah tempatmu pulang dengan wajah letih, dengan langkah tertatih. Dan aku akan bergembira menyambutmu. Selalu. Di depan pintu ini, pintu kita berdua. Yang mungkin usang dimakan masa, namun tak lekang oleh waktu.
Dan di sinilah kau bersemayam. Di hati yang terdalam, selamanya akan tetap di situ. Membeku dalam dekap syahdu. Maka di sinilah aku terdiam. Mengkristalkanmu dalam ruang memoriku. Dan kenangan itu akan selalu ada di sini. Kau tak bisa mengambilnya, sungguh itu bukan hakmu. Tapi kau bisa menengoknya kapanpun kau mau. Belasan untuk beberapa tahun lagi, waktu akan mendewasakan kita. Mempertemukan dua belah jiwa yang sudah begitu lama saling merindu. Saling mencari. Bertemu dan berpisah berkali-kali dan entah berapa kali lagi. Dan sosokmu tak pernah berhenti memenuhi sanubari. Dulu, hingga sekarang, dan untuk selamanya. Terimakasih sudah disini, aku sadar aku gadis yang sering menjengkelkanmu, bahkan bisa membuatmu kesal hingga akhirnya omelanmu yang selalu ku rindu kembali terbaca oleh kornea mataku. Meskipun aku gadis seperti itu, tapi maaf aku tak mengizinkanmu pergi. ☺
®|_
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak Mengetauhi Apa-apa
Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...
-
Menyanyangi itu kamu. Mencintai. Titik. Tanpa koma. Tak perlu penjelasan. Karena kau sudah tahu tanpa perlu bertanya lagi. Dan tanpa aku ...
-
Pintaku, jangan dulu berjanji. Jangan dulu mengucap janji yang sulit ditepati, seperti janji untuk tidak saling menyakiti. Karena mungkin ...
-
Sebongkah hati tlah berlari terlalu jauh. Jauh meninggalkan tembok runtuh itu dalam kehidupannya. Terlalu jauh ia berlari hingga akhirnya...
Sstttttt.... jokondokondo. :D :)
BalasHapusLa koe mek opooo nang kene.. Wkwkw.
HapusNggolek sandal. :v
BalasHapusPasaem aku bakul sandal piye!!
BalasHapusMosok gak? 😄😄😄
BalasHapus