Setelah merenung sejenak dan mulai masuk pada jalan pikiran guru itu, semua murid mulai mempertanyakan apa pertanyaan kedua, ketiga, keempat dan kelimanya?
Mendengar wajah anak-anak didiknya yang terlihat sangat penasaran, sang guru mulai melanjutkan kehebatannya dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan ampuh. Pertanyaan ini adalah pertanyaan "kehidupan" bukan sebatas teka-teki yang harus ditebak tebak atau sebatas pertanyaan untuk "poin plus" dalam daftar nilai sang guru. Lebih dari itu, pertanyaan itu akan memberikan nilai, benar-benar nilai, tentang sebuah pemikiran.
Pertanyaan kedua pun mulai di tanyakan. "Apa yang paling dekat didunia ini?" kasus seperti pertanyaan pertama pun terulang kembali. Hingga pada akhirnya sang gurulah yang harus menjawab pertanyaanya sendiri. Yang paling dekat didunia ini adalah "mati". Ya, itu adalah jawaban yang paling tepat, kematian. Tak ada seorangpun, orang normal manapun yang tau kapan dirinya akan mati. Maut adalah sesuatu yang paling dekat. Bahkan dimensi waktunya hampir tak ada pembatasnya lagi. Kapanpun, hal itu akan terjadi dan tanpa kita tahu kita akan telah menghilang dari dunia ini. Besok, nanti bahkan dalam hitungan seper sekian detik kemungkinannya, probabilitanya akan sangat tinggi.
Kisah yang sama ternyata berulang untuk pertanyaan ketiga dan keempat. Siswa dikelas guru agama yang hanya bisa merenungi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan "menjebak" itu, dan sang guru yang selalu menjawab sendiri atas pertanyaan yang diajukannya. Lalu apa pertanyaan ketiganya? Pertanyaan ketiga yang diucapkan oleh sang guru adalah "Apa yang paling ringan didunia ini?" dengan gesit sang guru menjawab "Jawabannya adalah meninggalkan shalat". Sebuah jawaban yang terasa menusuk hingga ke relung hati paling dalam. Rasanya mulut tak dapat berkomentar apapun atas jawaban itu selain hanya mengatakan "benar". dan itulah faktanya hati kecil siapapun tak kan mengingkarinya. Ringan, amat sangat ringan bahkan lebih ringan dari debu. Sahabat kita bernama "hati" mungkin akan miris mendengar ucapan itu.
"Apakah yang paling berat didunia ini?" adalah pertanyaan keempatnya. Ada yang mengatakan batu, bumi, matahari, tapi tak ada satu pun yang mampu menjawabnya dengan tepat. Mempelajari pertanyaan-pertanyaan yang telah lalu, jawaban yang tepat atas pertanyaan ini bukanlah sebuah jawaban yang klise, jawaban yang nyata. Namun, lebih pada sebuah perumpamaan, sebuah penghayatan akan kehidupan yang sesungguhnya. Bukan sebatas kehidupan dunia melainkah menyangkut pula kehidupan dengan Sang Pencipta. "Menjalankan Amanah", adalah jawaban dari pertanyaan keempat ini. Amanah adalah sesuatu yang sangat mudah diucapkan. Sangat mudah kita untuk berkata "ya" tapi sangat sulit untuk menjalankannya.
Janji, adalah sebuah contoh dari amanah. Seseorang telah menggantungkan harapan pada janji itu, dengan demikian berarti ada kewajiban dimana kita harus memenuhinya. Namun, kenyataanya, janji adalah sesuatu yang mudah untuk terlupakan oleh kerja saraf-saraf otak. Bukan salah kinerja saraf otak itu, namun lebih kepada keinginan pribadi dalam diri kita yang menganggap janji bukanlah suatu yang besar. Janji adalah sesuatu yang tak nyata, tetapi janji adalah sesuatu yang sulit untuk kita dapat memenuhinya. Bahkan hingga muncul ungkapan "janji palsu" atau lebih ringannya "janji karet." Bukan hanya janji, "kepercayaan" juga sebuah amanah. Kepercayaan, bahkan lebih berat dari batu meskipun itu tak nyata. Kepercayaan pada dasarnya yang menjadi akar dari janji itu sendiri. Menjaga kepercayaan bukanlah hal yang mudah, kepercayaan adalah sesuatu yang lembut dan sangat rapuh. Kepercayaan adalah sesuatu yang mudah luntur, dengan guyuran air yang bernama "Kebohongan". Itulah amanah, tak nyata tapi tak mudah.
Hal yang sama tak berlaku untuk pertanyaan kelima. Seorang murid perempuan kini bisa menebak apa jalan pikiran sang guru itu. "Apa yang paling tajam di dunia ini?" Dengan tepat siswa perempuan itu menjawab "lidah". Ya, lidah. Lidah adalah sebuah senjata yang paling tajam, lebih tajam dari pedang atau bahkan samurai. Parahnya, inilah senjata yang semua orang memilikinya dengan bebas. Lidah bisa mengahncurkan apapun dan siapapun. Namun, lidah adalah sesuatu yang sulit untuk dikendalikan. Lidah adalah sesuatu yang lentur dan licin. Tak mudah kita membelenggunya untuk tetap diam, tetapi bukan berarti kita tak dapat melakukannya. Lidah adalah seseorang yang paling mampu menyakiti sahabat kita, "hati". Dan rasa sakit karena lidah itu tak kan terobati dengan mudah, amat sangat sulit atau bahkan tak bisa meski lidah itu sendiri yang menyembuhkannya. Luka itu akan sangat membekas dan akan terus ada. Sebuah kata yang terucap oleh lidah itu bagaikan sebuah peluru yang siap menembus siapapun mangsanya dan membunuhnya seketika itu. Janji, kebohongan, dan amarah adalah peluru mematikan itu. Tak akan ada senjata yang lebih tajam dari lidahmu sendiri. Inilah sebuah perenungan. . .
Lalu, apa kau tidak penasaran dengan pertanyaan pertama yang diajukan oleh guru itu?
Aku tak menulisnya sebab aku lupa. Hehehe..
Lain kali jika ingat akan kutulis lagi.
Maka dari itu,
Katakan padaku, jika kau tau ada yang menjual obat anti lupa. Pasti akan segera ku borong. Kau taukan jadi pelupa itu tidak ada enaknya apa lagi lupa hal yang penting, kecuali jika kau sedang puasa dan lupa akan puasamu hari itu. Tapi sayangnya aku amat jarang terlupa tentang hal itu dan bahkan aku lebih sering lupa pada hal yang susah payah aku ingat.
Boleh kan, kau beritahu aku. Katakan padaku jika ada yang menjual obat anti lupa itu. Atau katakan pada penjualnya. Jika aku pesan porsi jumbo. Agar bisa secepatnya aku ingat lalu bisa kutuliskan pertanyaan yang pertama sang guru. Kau tau?
Aku masih belum berhenti mengingat. :D
Laili.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak Mengetauhi Apa-apa
Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...
-
Menyanyangi itu kamu. Mencintai. Titik. Tanpa koma. Tak perlu penjelasan. Karena kau sudah tahu tanpa perlu bertanya lagi. Dan tanpa aku ...
-
Pintaku, jangan dulu berjanji. Jangan dulu mengucap janji yang sulit ditepati, seperti janji untuk tidak saling menyakiti. Karena mungkin ...
-
Sebongkah hati tlah berlari terlalu jauh. Jauh meninggalkan tembok runtuh itu dalam kehidupannya. Terlalu jauh ia berlari hingga akhirnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar