Selasa, 12 Januari 2016

Cerita Ilalang.

Beranjak warna biru langit dan datang jingga senja, namun aku masih memandangi lukisan langit paling indah dipadang rumput ilalang. Menikmati semilir angin untuk irama tarian ilalang, juga nyanyian. Apakah kalian tau aku berbicara pada ilalang?
Ini tiba waktu kunjunganku, kuharap ada cerita kehidupan yang menarik yang bisa kudengar dari setangkai ilalang.

"Hai, kau datang lagi? Kenapa baru datang? lama sekali kau tak berkunjung"
"Lama?Benarkah?"
"Ya, sangat lama. Apa kau tak tahu sudah hampir layu batangku menunggumu untuk aku berbisik, tentang ceritaku."
"Layu? Bukankah kau ilalang? Layu pun kau tak akan mati."
"Baiklah, tapi memang aku sudah menunggumu. Lain kali jangan datang terlalu lama."
"Aku tidak berani berjanji."

Mendengarkan ilalang berbisik tentang ceritanya aku tetap tidak membuang mataku untuk melihat
langit. Dia, ilalang, dia sedang berkeluh kesah jikalau dia lelah.

"Lelah? Kaupikir hanya kau yang merasa lelah? Semua juga merasakannya."
"Ya, aku tahu tapi aku benar-benar lelah, tentang seperti apa orang melihatku."
"Bagaimana orang melihatmu?"
"Kuat. Tak bisa mati. Tak perlu dirawat. Yang semacam itu."
"Bukankah justru bagus? Itu berarti kau dianggap bisa diandalkan."
"Tidak. Terkadang aku juga butuh bergantung seperti benalu. Aku lelah menjadi setangkai ilalang."
"Lelah? Kau terlihat serakah."
"Seperti kau, seperti itu juga mereka menilaiku, mereka kira aku tak butuh siapa-siapa dan ketika aku merajuk kelelahan kau dan mereka semua menganggapku serakah. Mereka menganggapku selalu bisa diandalkan. Dan jika anggapan mereka tak sama dengan realita aku yang di jadikan tersangka utamanya untuk disalahkan. Mereka melihatku tak bisa mati, melihatku tak bisa lemah. Bisakah kau juga melihat sisi lemahku, kehadiranmu malah memberatkan batangku."
"Kau boleh lelah jadi ilalang, tapi kau tidak boleh bosan dengan hal itu. Aku akan disini mendengarkanmu, meskipun tidak mungkin aku bisa menolongmu berubah jadi tanaman lain. Katakan, apa yang bisa kubantu. Dan bolehkah aku disini, disampingmu?"
"Bisakah kau menolong aku, untuk mengerti keadaanku. Tolong aku dengan cara fikirmu tentang aku, dan tolong jangan berfikir apa-apa yang membuatmu ragu kepadaku, apapun itu."
"Baiklah.. :)"


Aku tetap disampingnya. Biarkan saja ilalang mengeluh akan kelelahannya, sebagai kekasih yang baik aku hanya ingin mendengarkannya. Aku tahu ia yang butuh didengarkan meski terkadang dia butuh waktu sendiri, aku juga paham jikalau bagaimana pun dia tetap seorang laki-laki biasa. Kuat, tapi lemah. Apa laki-laki? Hei, dia setangkai ilalang.

®|_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...