Selasa, 29 September 2015

Me.


Kau pikir dunia ini hanya seputaran globe? Kenyataannya dunia jauh lebih luas dari itu. Tapi kadang kala kau merasa dunia begitu sempit sampai tak ada lagi tempat untuk membuang semua sampah yang kau simpan dibawah tempurung kepalamu. Hanya disini aku menemukan "tempat sampah" yang tepat.
Biarlah kata hati yang tak sanggup diucapkan, tersampaikan melalui tulisan

Oh iya. Terimakasih untukmu yang selalu peduli. Aku yang hanya bisa membuat kesalahan yang mungkin kau hanya memakluminya. Dan kau tahu, kau melihat awan awan menggumpal tebal, menutup cantik segala kesalahanku.  Kau bisa saja melukaiku karna sikapku sendiri, tapi kau tak pernah sedikitpun melukaiku. Begitu sedemikian rupa kau memperlakukanku layaknya seorang putri yang sangat kau lindungi. Ternyata kau lah pangeran berkudaku, yang setiap kali masuk dalam mimpi untuk menjadikan kenyataan.. 
Maaf juga jika selama ini aku membuatmu amat malu didepan teman temanmu.

Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memerhatikan beberapa tulisan berlalu-lalang. Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada di sana, berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan kudefinisikan lagi. Ini bukan yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa merasakan kehadiranmu melalui pesan singkat. Kekosongan dan kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap menunduk, mencoba tak memedulikan keadaan. Mencoba menikmati apapun yang sedang ku jalani. "Apa yang biasa kau lakukan saat aku pergi?" 
"Menunggumu kembali". ☺

Pernah suatu malam aku berfikir dan merasa takut, jika kau memperlakukanku seperti gadis bodoh yang jemarinya seakan sudah berada dalam genggamanmu. Kita duduk berdua, di dalam komidi putar yang siap memutar nasib kita. Kamu tertawa kegirangan, sementara aku berpegangan ketakutan, kebingungan. Saat komidi putar kita berada di atas, aku dan kamu melihat keindahan yang sama, tawa kita mengalahkan seluruh tawa yang paling keras. Lalu, komidi putar kita berangsur bergerak ke bawah. Kamu tiba-tiba keluar, menutup, kemudian mengunci pintu komidi putarku. Kamu pergi begitu saja, tidak memberiku pesan atau nasihat jika aku ketakutan menghadapi putaran permainan ini sendirian. Langkahmu berangsur menjauh dan komidi putar yang awalnya kita naiki berdua, kembali berputar lagi. Aku sendirian di sana, menatap punggungmu yang jauh, dan semakin jauh, meninggalkanku bersama ketakutanku, aku juga pernah membayangkan jika disampingmu telah ada gadis yang lebih segalanya dariku, lalu aku tak bisa apa apa dan seolah aku hanya seperti itik buruk rupa yang mencintai pangerannya sementara disamping pangeran telah ada putri cantik jelita. Namun segera ku bunuh fikiran seperti itu, kau adalah salah satu orang yang aku percaya dan tak akan mungkin kau setega itu. Aku hanya perempuan perasa yang suka menulis semua ungkapan hati, yang tak mampu ku ucapkan. Aku menemukan tempat sampah yang pas untuk membuang semua sampah yang kusimpan dibalik tempurung kepalaku. 




Oh iya..
Kau tau kenapa aku suka menuliskan perasaanku ini?
Menulis. Ya, ada yang pernah berkata seperti ini kepadaku "berhentilah memendam itu semua, coba kau abadikan dengan menulis, tulislah apa saja". Ya, itu salah satu hal yang sampai saat ini jadi penyemangat, dan juga buat yang sering bertanya "kenapa suka mengerjakan hal semacam itu?" jawabanya, "saat ini, aku tengah mencintai apa yang aku kerjakan dan mengerjakan apa yang aku cintai". ☺☺


Oke cukup, itu saja beberapa hal yang sebenarnya ingin aku tulis. Lagi lagi itu hanya wacana.




Salam sayang untuk kau..
Yang jauh....
❤with love, Zahrotul Laili Novita❤





Senin, 28 September 2015

Dissapointet.

Di tengah tugas yang berserakan, tulisan berceceran, dan puisi-puisi yang tak selesai ini, aku masih sempat memikirkanmu. Mataku yang berkunang-kunang, suara kipas angin yang menambah kesan sunyi, dan jentikkan jemari di laptop-ku ternyata tak memberi pertolongan apapun. Entahlah... Mau kecewa pada siapa? Sepertinya aku harus memaafkan diriku sendiri. Sepertinya..

Rasanya ingin kubuka isi kepalaku, ku letakkan dilemari es. Ku biarkan dia di dalamnya agar dingin. Apa benar ya beliau ucapkan? Aku hanya sebuah pelarian? Atau apa? Ah.. Pikiranku kacau.. Lebih baik pergi kepojok dulu, ketempat yang lebih mendinginkan, lebih dingin dari lemari es. 

Ini bukan 
Saya,

Sabtu, 26 September 2015

Teruntuk Engkau,


Teruntuk engkau,
Bakal Calon Ibu Mertua.

Bu, apa kabar? Sebenernya agak sungkan bertanya kabar, karena kita belum bertemu, belum saling mengenal, dan mungkin akan saling bertatapan di masa depan. Itulah kenapa saya menyebutnya "bakal", supaya terlihat juga saya masih ingin menikah dan punya ibu mertua, hehe. Tapi, saya berharap suatu masa depan kita bertemu, dan mohon luangkan sedikit waktu membaca surat kecil ini. Ini hanya sedikit surat terbuka dari hari seorang gadis yang mulai berpikir tentang pernikahan tetapi masih suka labil.

Bu, hari ini saya berfikirkan tentang kualitas pria yang inginnya menikahi seorang perempuan. Konon katanya ada 3 kualitas pria, dimana hanya 2 variabel yang bisa di pilih dan satu variabel sisa sebagai kebalikan.
Variabel : Tampan, Kaya, Cerdas
Kemungkinan 1 : jika ia tampan dan kaya, maka dia tidak cerdas
Kemungkinan 2 : Jika ia kaya dan cerdas, maka dia tidak tampan.
Kemungkinan 3 : Jika tampan dan cerdas, maka dia tidak kaya.

Bu, sebagai perempuan yang 100% normal, jika ada seorang lelaki dengan semua kualitas paket komplit, perempuan pasti mau. Apalagi jika dia anak seorang ibu yang sedang baca surat ini. Tapi secara realitas, banyak faktor yang mempengaruhi pendapatan pria hampir sempurna itu. Antara persaingan yang semakin banyak (kalo tidak salah 7 perempuan berebut 1 lelaki). Belum lagi soal trik menggoda dan melancarkan serangan tebar pesona, itu bukan saya,Bu ahahaha, karna saya lebih cepat salah tinggkah didepan lelaki idaman saya. Belum lagi mendapat lelaki dengan 3 variabel ini, minimal saya juga harus sepadan dan punya 3 variabel kualitas perempuan (cantik, kaya, dan cerdas). I'm not,Mom.. Tidak terlalu cantik untuk ukuran perempuan, walau saya yakin (mungkin)saya punya senyum yang bisa meluluhkan hati ibu dan anaknya, ehehehe.. Saya tidak kaya, untuk masalah finansial, saya hanya bantu2 mbak, karna untuk minta uang cuma2 itu hal yang paling saya jauhi, sebab tidak ada lagi orang tua, sekedar menenggadahkan tangan meminta selembar uang jajan. Bu, saya memang belum merdeka ekonomi, masih berpikir bagaimana cara memutar trik agar bisa menabung tapi punya barang baru. Kalau cerdas, entahlah Bu. Saya hanya perempuan yang tingkat kecerdasannya biasa saja. Jadi tak ada jaminan lebih. Hehe.

Tapi pada akhirnya semua bermuara di faktor jodoh, bukan begitu, Bu? Saya berkeyakinan, jodoh memang kita yang mencari, membuat dan mengajukakan proposal ke Alloh, dan Alloh pun akan mempertimbangkan dapat di acc atau tidak. Penolakan dan penerimaan Alloh bisa dilihat dari tanda-tanda alam mungkin. Jika jodoh, segala niat baik untuk pasangan sepadan pasti dipermudah.. Dan jika tidak, bisa jadi di jauhkan oleh hal-hal yang mungkin diluar pemikiran.. 

Saat saya menulis ini, saya masih gadis ambisius, Bu. Ya, dulu waktu masih kecil saya sering berharap mendapat seorang pria dengan tiga kualitas di atas, dan di bantu faktor jodoh di atas. Tapi sekarang saya paham, bahwa kecerdasan ilmu agama serta tauhid jadi prioritas utama, karna penguasaan ilmu agama dan tauhid akan menyangkut semuanya termasuk mendidik saya, ya, melihat kelakuan anak muda jaman sekarang yang sering melakukan hal di luar batas norma agama. Naudzubillah..

Lebih dari pada semua itu, sebuah keluargalah yang saya harapkan. Keluarga yang tetap satu saat sulit dan senang, tempat pulang sewaktu lelah berkelana, tempat bersandar saat tak ada lagi yang bisa diucapkan. Ibu, suatu hari mungkin saya akan menikah dengan anakmu, saya pasti berusaha mencapai 3 variabel kualitas perempuan itu agar kau bangga memiliki menantu sepertiku. Tapi izinkan aku di bimbing oleh anakmu,Bu. Saya perempuan yang berusaha, pasti selalu berusaha, tapi pada akhirnya akan kembali ke pelukan nyaman seorang pria untuk sekedar meminta energi. Kiranya anakmu adalah pria yang memiliki pelukan hangat itu,Bu.. Sehangat pelukan seorang ibu...
Yaa, kangen dipeluk,Bu. Karna memang saya dipeluk oleh ibu kandung saya sendiri, terakhir itu 5 tahun yang lalu. Tak masalah bukan,Bu. Meminta peluk Ibu dari suamiku. ☺

Bu, maaf terlalu panjang. Kelak mungkin kita bertemu 3 tahun atau bahkan 4 tahun lagi, saya tidak bisa merencanakan. Dan bacalah suratku ini Bu, apa surat saya ini sia-sia? Atau percuma? Karna hanya kemungkinan kecil Ibu membuka blog saya untuk sekedar membaca tulisan saya ini. Tapi tak masalah, siapa tahu besok Alloh membuka kesempatan lebih lebar supaya Ibu dapat membaca tulisan saya ini, yang khusus saya peruntukkan kepada Ibu, ya, semoga ibu membaca, sebelum Ibu yakin mengizinkan saya menyandang status menantu. Saya ingin ibu memandang diri ini baik, tapi ingin juga ibu tahu apa adanya saya. Dan saat saya dinikahi anak Ibu, saya juga bisa yakin bisa dinikahi keluarganya juga, agar bersatu dengan keluarga saya ini, amin..


Mulyoagung, 27 September 2015
Bakal Calon Menantumu,

Zahrotul Laili.

Ahahahaa.. Coretan pagi, oh.. Ini hanya gurauan. Jangan diambil hati ya.. Eh, tapi diambil juga tak masalah, selamat pagi...
Semangat terus!!
❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

Jumat, 25 September 2015

Dari Perempuanmu.☺


Malam ini terasa sama seperti malam sebelumnya, jauh sebelum kau ada aku memang sudah terbiasa dan akrab dengan kesendirian. Aku tak pernah merasa sepi ada atau tanpa kau, karna memang inilah yang biasa aku lewati. Terimakasih telah mengajariku tentang apa itu dewasa, kau memang tak pernah mengajarkan dengan materi dan dengan lisanmu namun kau mengajarkannya langsung dengan  praktek dan sikapmu. Terimakasih untuk menitmu yang selalu dengan gembira kau berikan untukku, itu jauh lebih berharga dan lebih indah di banding dengan 24 jam yang kau beri namun kau merasa berat dengan itu. Aku tak pernah menuntut tapi terkadang sebersit rindu ditiap-tiap langkah tanpa pesan darimu. Kau memintaku menunggu akan aku lakukan, menahan kantuk dengan secangkir rindu. Kita memang tak sering bertemu sebelumnya, jadi tak ada rindu bertemu denganmu. Hanya saja rindu kehadiranmu walau diatas tumpukan abjat. Bukan rindu ingin bertemu, hanya rindu pesan singkatmu. Maafkan sikapku yang masih sering seperti anak kecil. Disini aku juga masih belajar dan mulai punya hobby baru, kau tau apa itu? Ya.. Hobby baruku memaklumi kesibukanmu.
Tapi berada jauh dari yang terkasih adalah salah satu hal yang sulit ku syukuri hingga hari ini. Jika bisa, ingin rasanya aku memangkas ratusan kilo meter yang berada ditenggah-tenggah kita. 
Dari perempuanmu...
yang menahan katuk karna kau yang minta.. Dan yang sedang menabung rindu.. 
Selamat malam...

❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

Kamis, 24 September 2015

Bisa Karena Terbiasa..

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang perjalanannya mulus dan nyaman terus. Pada suatu ketika, ia pasti menghadapi yang namanya kesukaran. Entah itu perasaan tertolak, dilupakan, dipandang sebelah mata, difitnah, dan semacam itu.

Sejujurnya, ketika menghadapi berbagai kenyataan yang menyakitkan tersebut, rasanya kita ingin lari saja dari kenyataan. Kita capek. Tertekan. Marah. Kecewa. Sakit hati. Nggak terima. Jika bisa, Ingin membalas.

Apa kamu juga pernah mengalaminya? Pernahkah kamu merenungkan mengapa semua hal buruk itu bisa terjadi pada orang baik seperti kamu? ehmm... Mungkin ini bukan sesuatu yang indah, namun perlu untuk dicerna dalam pikiran kita. Jika selama ini perasaan sakit telah banyak kali melukaimu, mulai sekarang sama sama belajar untuk mengambil pendekatan secara berlawanan. Pernahkah kamu merenungkan mengapa kita membutuhkan semua rasa sakit yang "kita pikir" tidak perlu itu?

Ya, jika rasa sakit tidak diperlukan, Alloh pasti akan menjauhkannya dari kita. Namun, toh, kita masih diijinkanNya mengalami semua perasaan menyebalkan tersebut. Berarti, semua itu ada gunanya dalam hidup kita, karna Alloh memberi semua pasti ada manfaat dan kegunaannya.

1. Rasa sakit dapat menjadi motivasi yang terbesar, pernah dipandang sebelah mata? Pernah ditolak? Ditertawakan di belakang? Jika ya, lakukanlah sesuatu. Jangan hanya duduk dan merenungi nasib. Hidupmu tak akan berubah karenanya. Mungkin perjalanan hidup kita berat, tapi kita mampu mengubah dan mengendalikan nasib. Bertindaklah. Tunjukkan pada mereka yang pernah memandang sebelah mata kepadamu bahwa kamu tidak seperti yang mereka pikirkan. Buktikan pada mereka yang pernah menolakmu bahwa kamu jauh lebih berharga dari apa yang mereka anggap. Buat mereka menyesal karena telah menjauhimu. Ambil tindakan dan buat pencapaianmu. Jika yang kamu bisa pikirkan hanya balas dendam, mungkin sekaranglah waktunya untuk menata kembali hidupmu. Urusanmu belum selesai jika fokusmu hanya membalas dendam. Hidupmu jauh lebih berhaga daripada sekedar pembalasan dendam. Orang yang mengatakan bahwa pembalasan dendam itu manis hanyalah mengatakan kebohongan besar padamu. Jika ada yang harus kamu buktikan, maka itu adalah prestasi, bukan yang lain. La, itu membuktikan rasa sakit adalah motivasi juga. Seperti "eh ta, caramu mimpin organisasi kurang, seharusnya.. Bla bla bla dan bla.." sampai hati ini sakit gara-gara bla bla bla itu. yak, akhirnya saat itu baru punya tekat sungguh-sungguh, karna awalnya dipaksa jadi males, padahal itu tanggung jawab. Kan.. Itu gara-gara rasa sakit.

Rasa sakit adalah penggerak terbesar dalam hidup seseorang. Jika kamu berhasil membuktikan diri melalui pencapaianmu, suatu hari nanti kamu bisa menoleh ke belakang dan merasa berterima kasih pada setiap orang yang telah memandang sebelah mata kepadamu. Bahkan kamu akan merasa berhutang kepada mereka. Karena tanpa mereka, mungkin kamu nggak akan pernah sampai di sana.. Yak, sama sama belajar yaa.

2. Ketidak-nyamanan adalah tanda bahwa kamu sedang bertumbuh
Tahu kepompong kan? Mungkin kamu tahu bahwa ada saatnya kepompong harus menjalani masa yang sukar sebelum menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Jika kamu berniat membantu, kamu justru akan merusak pertumbuhannya. Bukannya semakin cepat ia menjadi kupu-kupu, bisa-bisa ia malah mati dan merana, karena pada saat-saat itu, ia sedang menguatkan otot-otot tertentu dalam sayapnya agar ia dapat terbang.

Demikian juga dengan rasa sakit atau rasa tidak nyaman yang menyebalkan dalam hidupmu. Bisa jadi itu cara Alloh menguatkan otot-otot kebaikan dan urat-urat mental dalam jiwamu, agar pada saatnya nanti, kamu terbiasa menghadapi keadaan yang seperti itu. Ingatlah bahwa apapun yang tidak membunuhmu, menjadikanmu lebih kuat! 

3. Mungkin Alloh sedang mengembangkanmu untuk membentuk dan membuat kehidupan orang lebih baik melalui pengalaman-pengalamanmu yang buruk di masa lalu. 
Coba tebak, siapa yang bisa memberi penghiburan pada mereka yang patah hati? Hanya orang yang pernah melaluinya. Siapa yang bisa merasakan penderitaan mereka yang sakit parah? Hanya mereka yang pernah mengalaminya. Percayalah, tanpa pernah mengalami apa yang seseorang alami, kamu takkan pernah bisa mengerti keadaannya. Namun dengan mengalaminya sendiri, kamu jadi bisa bercerita banyak dan menjadi berkat bagi orang lain dalam 'pengalaman istimewa'mu tersebut. Dengan gaya yang pas dan kita bisa bilang "wes tau!!!"

Jika lain kali kamu bertanya mengapa hal buruk terjadi pada orang baik seperti dirimu, cobalah untuk menanyakan pada diri sendiri, apa yang dapat kamu pelajari melalui pengalaman itu? Apa yang telah diajarkan oleh pengalamanmu dalam hal itu? Kamu pasti mendapatkan sudut pandang baru dalam memandang kehidupan! Tapi memandang diri kita baik itu sebenarnya malah menghentikan perkembangan, karna kadang terlaku puas dengan keadaan. Yah... Satu lagi.. Kita sama-sama belajar yaaa... Semangat teruss!!! 


❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

Rabu, 23 September 2015

Memory☺

Untuk penikmat siang. Apa yang di tawarkan sore kepada malam? Bukankah malam hanya menyita cahaya disiang hari? Merubah semua menjadi gelap? Kini yang ada hanya sepotong jingga dan seiris senja yang anggun. Yang dengan gembira  menyita cahaya siang.
         Untuk penikmat sore. Kenapa sore begitu teramat baik? Kenapa sore begitu teramat meriah menyambut gelapnya malam? Senja tercipta saja hanya untuk menyambut malam, sebuah sambutan yang meriah untuk melenyapkan sore indah ini, dan senja yang rentan bergandengan dengan matahari bersama cahayanya. Merubah sore yang indah menjadi malam yang pekat, sunyi, gelap, tak bercahaya. Hanya pantulan lampu-lampu ditiap rumah dan ditepi jalan, yang selalu berusaha menghiasi malam lengkap suara dengkuran orang-orang lelah atas rutinitasnya seharian.
         Untuk penikmat malam. Kenapa malam begitu apik? Dihiasi bintang dan bulan. Dihiasi angin sejuk yang tak dijumpai siang. Kenapa malam sebegitu romantisnya? Namun tak semua orang penikmat bintang dan bulan. Tak semua orang memperhatikan itu. Mereka lebih memilih tertidur pulas demi menyambut pagi dan rutinitas mereka yang membosankan. Mereka memilih memejamkan mata tanpa rasa ingin tau indahnya lengkungan bulan sabit atau taburan bintang. 
       Untuk penikmat pagi. Kenapa pagi begitu basah? Setetes embun dan sebelantar silau cahaya pagi. Seriuh orang-orang yang terlambat bangun pagi. Serame orang-orang yang menjalankan rutinitasnya kembali. Seheboh ibu-ibu belanja dan bergosip di satu titik.
Aku?? Ya.. Aku adalah penikmat panasnya mentari disiang hari, aku adalah penikmat senja di sore hari, aku juga penikmat bintang dan bulan di malam hari dan aku juga perasa embun basah di pagi hari. Lalu apa kau bisa memberi aku jawaban, apa yang ditawarkan hidup untukku, untukmu, dan untuk kita? Apa pagi, siang, sore atau malam? Yang mana yang paling dominan? Apa mereka hanya menjadi torehan kembali pada kesibukan yang membosankan? Ah, entahlah, aku tak cukup pintar berfikir akan hal itu, coba kau jelaskah, ku rasa kau yang lebih mengerti.
        Berfikir tentang keseharian kita yang hanya kembali pada satu titik sampai tiba saatnya kita bosan dengan titik itu. Dulu kupikir hidup ini layaknya lingkaran, dia hanya sebuah putaran dan tak berujung. Namun ternyata salah, hidup ini bukan layaknya lingkaran, tapi sebuah garis, namun garis itu tak menjamin selalu mulus dia tak punya pasal untuk selalu lurus, ada belokan dan ada gangguan di tiap meternya. Hidup itu layaknya garis dan garis itu ibarat tali, yang saling tersambung satu sama lain, tempatnya pun terus berpindah dan tak bisa berputar balik kebelakang, dia selalu tersambung. Lalu? Coba bayangkan jika kehidupan ibarat  sebuah lingkarang apa bisa berproses? Ku rasa tidak, kehidupan itu berproses seperti awal kita lahir, hanya bisa menangis, tertawa sampai proses awal kita belajar berdiri meski tak jarang jatuh namun itulah yang dinamakan proses.
    Pasti tali kehidupan itu akan meninggalkan jejak yang ada dibelakangnya, berupa masa lalu. Masa lalu yang ada dibelakang itu bukan untuk dilupakan, bodoh  jika ada yang mencoba melupakan proses kita bisa berdiri sampai akhirnya dapat berjalan dan berlari. Karna memang masa lalu ada  bukan untuk dilupakan namun untuk dikenang, dibuat pelajaran dan menghargai apapun yang kita raih sampai saat ini, namun jangan lupa pasang tembok penghalang antara kau dan masa lalu, agar tak ada alasan lagi untuk melangkah kebelakang sekedar mencicipi masa lalu. Jika ada yang berat dengan melupakan masa lalu, coba cara ini. Tak ada alasanmu menyalahkan tali yang berbelok itu, hanya dirimu yang tau dan yang menjalani. Jadi awal mula memasang tembok penghalang itu  adalah "Maafkan dirimu sendiri".
       Ya, inilah kehidupan, semua punya tali masa lalu yang pernah dijalani dan sama seperti sekarang ini. Masa sekarang adalah hasil dari masa lalu, mau terima atau tidak, itulah kenyataannya. Berhenti menyalahkan masa lalu. Justru cobalah belajar berterimakasih pada masa lalumu, kepada proses kehidupanmu yang mengajarkan berbagai luka, bahagia maupun derita. Mau menolak bagaimanapun, dia pernah jadi bagian dan selamanya seperti itu. Namun itu bukan alasan kita kembali ke masa lalu karna dimata sudah ada masa selanjutnya, yaitu masa depan. Jangan buang atau dilupakan, simpan saja, agar kita tidak menyia-nyiakan apa yang kita raih saat ini, ketika ingat bagaimana proses kita berjalan dan kita bisa berlari jauh tak ingin digendong ibu, kau lelah lalu punya fikiran memotong kaki agar tak bisa berjalan dan bisa selalu digendong. Kita punya proses berjalan dan itu tidak mudah. Lalu kita membuang niat memotong kaki kita? Itu kebodohan yang fatal. Eh.. Itu hanya ibarat, tentu tak ada yang ingin memotong kakinya sendiri dan memilih selalu dalam gendongan.
         Kembali senja menemaniku, dan dengan anggun matahari berpamitan untuk menyinari bagian bumi yang lain. Sampai jumpa matahari, esok pagi akan ku sambut kau dengan takbir. Selamat sore juga untuk kau yang jauh disana, yang tenggah disibukkan oleh tugasmu. Semoga malammu juga menyenangkan..
Semangat terus!!!
☺☺

Ditulis ditenggah senja, ditemani banyanganmu.. 


❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

Selasa, 22 September 2015

Cinta Butuh Waktu.


 "Cinta butuh waktu untuk bisa kita rasakan." - Vierratale

           Senyumnya adalah bagian yang paling kuhapal. Setiap hari kunikmati senyum itu sebagai salah satu pasokan energiku. Kali ini pun tetap sama, ketika kupandangi ia yang sedang menulis sesuatu di kertasnya. Matanya sesekali mengarah padaku, ia menyimpulkan senyum itu lagi.
            Aku yang sedang menggambar sketsa wajahnya, memerhatikan setiap lekuk pahatan tangan Tuhan. Detail wajahnya tak kulewati seinci pun. Hidungnya yang tak terlalu mancung, pipi dan rahang yang tegas, dan bentuk bibirnya yang mencuri perhatian siapapun saat menatap lengkungan senyum itu. Aku penggemarnya, seseorang yang mencintainya tanpa banyak ucap, namun dengan tindakan yang nyata.
            Secara terang-terangan, aku tak pernah bilang cinta, namun selalu kutunjukkan rasa. Entah lewat sentuhan, perhatian, dan caraku membangun percakapan. Aku mencintainya. Terlalu mencintainya. Sampai-sampai aku tak sadar bahwa kedekatan kita semakin tak terkendalikan, semua singkat, tapi rasanya cinta begitu terburu-buru mengetuk pintu hatiku.
            Di sebuah taman, tempat kami biasa bertemu, tempat kami biasa melakukan hal sederhana yang begitu kami cintai. Ia menulis tentangku. Aku menggambar sosoknya. Setelah karya kami sama-sama selesai, kami saling menukar hasil jemari kami.
            Tulisannya yang indah dan gambarku yang sederhana sama-sama menyumbangkan senyum di bibirku dan bibirnya. Betapa kami sangat bahagia cukup dengan seperti. Betapa cara sederhana bisa membuat aku dan dia merasa tak butuh apa-apa lagi, selain kebersamaan dan takut akan rasa kehilangan.
            “Kamu pernah takut dengan rasa kehilangan?” ucapnya lirih di sela-sela gerakan jemarinya yang masih menulis sesuatu di kertas.
            “Pernah dan aku tak akan mau lagi merasakan perasaan itu.” jawabku secepat mungkin, jemariku masih memperbaiki gambarku yang hampir selesai. Kuperhatikan lagi bentuk wajahnya, rahang dan jambang rambutnya yang begitu kusukai. Seandainya aku punya keberanian untuk menyentuh wajah itu, selancang ketika aku menyentuh batang pensil saatku menggambar.
            “Kalau kausudah berusaha begitu kuat, namun kautetap bertemu pada rasa kehilangan, apa yang akan kaulakukan?”
            Kubiarkan pertanyaannya menggantung di udara sesaat. Kuberi jeda waktu agar ia masih bertanya-tanya pada rasa penasaran dalam hatinya. Semilir angin dan goresan pensilku di kertas lebih terdengar jelas dalam keheningan kami berdua.
            “Apa yang akan aku lakukan?” aku mengulang pertanyaan darinya, semakin membangun rasa penasarannya yang membesar.
            Kening pria itu mengkerut ketika pertanyaannya kuulang, “Iya, apa yang akan kaulakukan jika rasa kehilangan tiba-tiba menyergapmu meskipun kamu sudah berusaha keras untuk menggenggam?”
            Helaan napasku terdengar santai, “Aku akan selalu bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku harus merasakan kehilangan. Setelah aku tahu jawabannya, demi apapun, aku tak akan mengulang kesalahanku lagi. Dan, aku akan semakin memaknai pertemuan sebagai hal yang tak boleh disia-siakan.”
            Jawabanku membuat ia semakin tajam menatap wajahku, aku yang menunduk dan masih menggambar, jadi salah tingkah ditatap dengan tatapan seperti itu. Ia arahkan jemarinya ke atas kepalaku dan membelai rambutku. Aku tak tahu maksud dari sentuhan itu, entah mengapa seketika tubuhku tak bisa memberi banyak tanggapan atas sentuhannya. Aku belum bisa merasakan adanya cinta dalam setiap sentuhannya.
            Ia kembali menulis, kuintip sedikit ternyata kertas tempat ia menulis sudah hampir penuh. Dengan matanya yang indah, ia kembali meminta perhatianku, “Aku merindukan dia.”
            “Wanita itu lagi?” tanggapku dengan cepat.
            Ada sesuatu yang bergerak dalam dadaku ketika ia mengucap kalimat singkat itu. Terdengar singkat memang, tapi entah mengapa rasanya aku harus butuh waktu lama agar tak merasa sakit dengan pernyataan yang seperti itu. Kali ini, aku merasa dianggap tak ada.
            “Aku selalu bilang padamu, setiap hari, berkali-kali, tak perlu lagi kamu merindukan seseorang yang bahkan tak pernah menghargai perasaanmu!”
            Senyumnya terlihat getir ketika aku berbicara dengan nada tinggi.
            “Apakah bagimu, ada kehilangan yang tak menyakitkan?”
            “Semua kehilangan pasti menyakitkan, kita sebagai manusia hanya bisa mengobati setiap luka, sendirian atau bersama seseorang yang baru. Itu semua pilihan yang kita tentukan sendiri.”
            Tanpa menatap wajahku, ia kembali mengajakku bicara, “Apakah obat pengering dari luka basah bernama kehilangan?”
            Aku berhenti menggambar. Kuketuk-ketukkan pensilku di atas kertas dan berpikir dengan serius, “Luka pasti kering, tapi bekasnya akan selalu ada. Keikhlasan dan kepasrahanlah yang membuat bekas luka tak lagi perih.”
            “Lantas, apa lagi?”
            “Membuka hati untuk seseorang yang baru!” seruku dengan nada bersemangat, dengan senyum singkat.
            “Ah, tapi bukankah semua butuh waktu? Termasuk juga soal cinta.”
            “Cinta butuh waktu untuk bisa kita rasakan?” aku mengangguk setuju, “Tapi, sampai kapan kaubutuh waktu? Sampai orang yang mencintaimu pada akhirnya memilih pergi, karena tak terlalu kuat diabaikan berkali-kali?”
            Aku tertawa dalam hati; menertawai diri sendiri.
            “Lihatlah, kamu melucu!” ia ikut tertawa sambil terus melanjutkan tulisannya, “Cinta memang butuh waktu dan waktu yang dibutuhkan cinta adalah teka-teki yang sulit diprediksi.”
            “Ah, kamu ini, semua hanya soal kesiapan hati.” bibirku meringis, mencoba menutupi hatiku yang mulai nyeri, “Jangan pernah takut dengan orang baru yang datang ke dalam hatimu, karena ia tak ingin banyak hal, selain membahagiakanmu.”
            “Aku juga berpikir begitu, tapi aku takut jika luka yang masih kubawa, akan menjadi luka baru di hati orang yang mencoba masuk ke dalam hatiku.”
            “Bagi orang yang ingin membahagiakanmu, tak akan pernah ada luka, meskipun cinta yang ia tunjukkan begitu lambat kaurasakan.”
            “Tak akan pernah ada luka?” tanyanya dengan wajah tak percaya, ia menatapku sekali lagi, dengan tatapan sangat serius, kali ini.
            “Ketika tulus mencintai seseorang, ia melakukan banyak hal karena ia mencintaimu, bukan karena ia memikirkan apa yang akan ia dapatkan ketika ia mencintaimu.”
            “Begitu manisnya cinta....”
            “Lebih manis lagi jika tak hanya satu orang yang berjuang untuk membahagiakan, harus saling membahagiakan.”
            Kalimatku membuat ia tersenyum lebar. Ia membubuhi tanda tangan untuk mengakhiri karya tulisnya di kertas. Aku menulis namaku dan tanggal pembuatan gambar ketika aku selesai menggoreskan goresan terakhir.

  Setelah karya tulisnya selesai dan karya gambarku selesai. Kebiasaan itu terulang, kami saling menutup mata sebelum dia melihat gambarku dan aku membaca tulisannya. Ketika karyanya ada di tanganku dan karyaku ada di tangannya, kami pada akhirnya membuka mata.
            Ia menikmati gambarku dengan senyum memesona, senyum yang paling kucintai dan kukagumi. Gambarku adalah sosoknya yang kujadikan sketsa di kertas A4. Aku tak melewatkan detail wajahnya yang indah. Hidungnya kugambar semirip mungkin, rahangnya yang tegas juga jambangnya yang menggemaskan, juga kugambar dengan goresan yang tegas. Ia mengucap terima kasih. Aku bisa menebak wajahnya yang terharu ketika karya itu kuberi judulMasa Depan.
            Giliran aku yang membaca karya tulisnya. Awalnya, kukira ia menulis tentangku, tapi ternyata aku salah. Ia menulis tentang seseorang yang bukan aku, seseorang yang hidup dalam masa lalu dan kenangannya. Hatiku teriris membaca setiap paragraf dalam tulisannya; tak ada aku di sana. Aku hanya membaca tentang sosok lain, sosok yang dulu ia ceritakan dengan wajah sedih, sosok yang begitu kubenci karena menyia-nyiakan pria yang kucintai saat ini. Karya tulis itu ia beri judul Masa Lalu.
            Aku mengulum bibirku. Usahaku masih terlalu dangkal baginya. Cinta yang kutunjukkan ternyata belum cukup menyentuh hatinya. Ia masih terpaut pada masa lalu ketika aku sudah menganggap sosoknya sebagai masa depan. Ia masih belum melupakan masa lalunya, ketika aku secara perlahan-lahan berusaha menyembuhkan lukanya yang perih.
            Aku belum berhasil seutuhnya.
            Ah, mungkin aku masih harus terus berjalan dan berjuang lebih dalam. Aku akan terus berjuang, sampai ia juga menganggapku masa depan, seperti aku selalu menganggap dia sebagai bagian masa depanku.
            Cinta butuh waktu. Butuh waktu untuk membuat ia segera melupakan masa lalunya kemudian mencintaiku. Butuh waktu untuk membuat ia memahami, ada cinta yang lebih masuk akal untuk ia percayai.
            Cinta memang butuh waktu. Sama seperti lantunan lagu Vierratale diciptakan oleh Kevin Aprilio.

Sekedar bacaan sekali duduk. Sama sama belajar.

❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

Senin, 21 September 2015

Masih Seperti Ini❤


Siang ini seolah menuntun jemariku untuk menulis, menyusun tiap huruf, menjadi sebuah kata, dan menyusun kata menjadi kalimat. Terhitung banyak sekali cerita cerita yang ingin aku sampaikan, hanya saja aku takut jika tulisanku tidak akan ada orang yang menyukainya, bahkan penikmat sekalipun. Aku takut jika tulisanku hanya membuat penuh berita saja. Aku takut tulisanku hanya dibuat sampah. Sehingga ketakutanku mencengkram kuat jari ini untuk menulis cerita. Ada kalanya aku lelah untuk takut, mau sampai kapan?Yaa.. Lelah membuatku berfikir. Jika tak ada masalah dengan apa yang orang fikir tentang aku.  Aku akan jadi apa yang aku cintai. Kenapa aku perlu peduli tentang penerimaan mereka terhadapku. Ada sekian banyak hal yang ingin aku torehkan pada tinta hitam diatas lembar putih, namun tunggu, jari jari ini masih terlalu kaku, ketika imaji yang dijari jariku telah hilang, aku tak dapat menulis apa apa. Hanya saja bahasan ku telah berbeda sekarang.
Harus memulai cerita dari mana..
Entah..
Jari jari ku telah kosong, ingin aku dapat meraih apapun, tak ada satupun yang dapat mengisi kekosongan ini sehebat kau. Tidak ada..
Berbulan bulan telah mencoba, ternyata hanya angin yang kudapati..
Yang sebenarnya terjadi adalah.. kau tahu sebagaimananya aku sekarang, serapuh aku saat menangis, sesunyinya aku tanpa ditemani olehmu. Kesepian, iya kesepian. Hati ini sepi, semakin aku membohongi diri sendiri, hati semakin hampa. Iya, sebenarnya kau sudah tahu itu, hingga detik ini, hingga sekarang ini banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan.
Kulihat ruangan ini, aku ingat di dalam mimpiku kemarin malam, tepat di sofa itu kita duduk bersama, membercandai hal yang konyol.
Aku juga ingat kita  duduk di sofa terdiam tanpa ada bahasan, karena kita hanya butuh pertemuan untuk saling mengikat kontak mata. Dan kini aku hanya bisa duduk di sofa ini hanya karena menunggu janjimu untuk membawaku pergi.
       Sekarang, jika difikiranku hanya ada dirimu, akankah jari jari ini kupaksakan menulis? Yang kutahu hanya akan meremas hatiku.
Ku akui aku bodoh, iya aku membodohi pikiranku karena telah tulus menyayangimu dengan sangat.
Kau tahu berapa kali aku diam, sekedar merenung, kenapa bisa sesayang ini aku padamu.
Kau tahu rasanya? begitu kau tahu mungkin kau tak akan mau jauh walau hanya sedetikpun?
Kau tahu rasanya menolak sana sini hanya menuruti apa mau hati ini?
Apakah kau tahu rasanya hanya mendengar nama, seperti ada pisau yang menancap kuat?
Hanya saja aku belum mengatakan lelah dan tak akan ada yang bisa membuatku berujar lelah, hanya karna menahan hal gila ini.
Engkau yang masih kupandang indah, engkau yang masih ada dan tetap ada.
Lalu? Jika penuh olehmu? Apa yang bisa menuntun jariku untuk menulis? Aku heran, apa kau tak punya pekerjaan lain selain mengangguku? Kau tak punya kesibukkan lain selain berputar-putar di depan mataku? Siang ini terasa panas, debu dimana-mana, sedang hujan tak kunjung datang. Nyanyian angin pun seakan sedang meniupkan namamu. Hah! Can you know? I miss you so much.. Emm.. Do you miss me to? Yeah.. I believe. If you miss me too.


Oh.. Masih seperti biasa,
Maaf lagi-lagi aku membuang menitmu dengan tulisanku ini.. Semoga bisa menyampaikam rinduku padamu. Karna rindu tak perlu terbalaskan, yang penting tersampaikan.
Selamat siang untukmu yang hadir walau hanya lewat tumbukan abjat yang kau susun diponselku.
Semoga harimu menyenangkan!!
Semangat terus!!

❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

Rumahku❤



Tunggu sebentar, kau mungkin tidak tahu. Biar ku beri tahu jika seketika ruangan ini menghangat, aku curiga ada seseorang yang menutup semua celah diruangan ini. Tapi ternyata abjad yang kau susun di layar handphone berhasil menembus hati yang menggigil karena rindu. Tapi tetap, selalu ku nanti akhir dari rindu ini.

Kadang kala, hadirmu tak dapat terganti oleh kata-kata atau sebuah pesan singkat, tak berarti lagi jika nanti jarak kembali mengetuk-ngetuk jendela. Lihat aku selagi bisa. Ya, entah kenapa jarak selalu suka berada ditengah-tengah kita.
Dan ini rindumu, rindumu telah menembus nadiku, kini ia berlayar tepat di jantungku. Sungguh saat ini aku ingin memerintahkan kakimu membawamu tepat dihadapanku. Ditambah dengan suara sunyi malam menghantarkan rindu yang semakin besar. Akan ku tulis namamu di setiap kaca basah yang kujumpa karna embun malam, bila tak satupun kaca lembab ku temui, percayalah, kutulis namamu dipapan langit sepanjang waktu yang aku punya, sepanjang malammu yang kau sisakan untukku. Memang benar, jika kau telah memasang nyawa ditiap jari jemari tanganku, waktu yang ditetapkan adalah kau, mengitari hidupku, memutari mataku, dan bersarang didalam gumpalan daging di tubuhku. Untuk apa aku beranjak pergi dari kenyamanan ini? Bukankah nyaman yang selama ini aku cari? Namun tak pernah ku temui nyaman, kecuali saat ini. Ya ada yang pernah berkata  "Jika kau tidak menemukan kenyamanan maka biarlah kenyamanan yang akan menemukan mu".
       Jika sudah ada rumah nyaman tepat dihadapanku, bagaimana mungkin aku mencari rumah yang baru dibangun, dan hanya ada pondasinya saja, toh belum tentu rumah yang baru dibangun itu diperuntukkan padaku. Jadi, jika ada yang pasti kenapa harus menunggu yang belum jadi? Berharap rumah yang baru akan jauh lebih bagus? Lebih besar?. Hay, percayalah yang bagus dan besar belum tentu nyaman untukku. Percayalah yang sederhana itu yang teristimewa. ☺




❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

Sabtu, 19 September 2015

Sebenarnya..



Ada banyak pintu yang sengaja aku tutup secara paksa. Ada satu pintu yang rela kubuka hanya untuk melihat sebuah cahaya, iya itu cahaya yang kupilih untuk lebih menunjukkanku jalan yang sesungguhnya. Ada berapa cahaya yang sepertinya? Ada berapa orang yang sepertiku yang menemukan cahaya seperti cahayaku?
Ada saatnya tak ku temui cahayaku. Dia pergi, ternyata pamit sebelum mata ini terbuka. Ya, cahayaku hilang, ia pergi menolong orang lain yang sama seperti diriku, tapi itu lain. Cahayaku hanya ingin menjalankan tugas untuknya. Dan meninggalkanku dibawah mendung hitam.

Ku pejamkan mata, lalu..


Gelap, pintu yang kubuka awalnya, sedikit kututup. Cahayanya terlalu terang untukku, maka dari itu ia membagi cahayanya sebagai dirinya sendiri. Iya ini aku, aku tak mau cahaya yang bukan darinya. Aku menunggu cahaya itu datang lagi, dibawah awan gelap yang menggumpal tebal tepat diatasku. Kurasa hujan akan turun, kurasa…
Aku cemburu, karena aku takut. Aku takut gelap. Cahaya itu bahagiaku, sekarang, suatu saat, dan nantinya.
Aku cemburu, karena aku egois. Maafkan aku yang terlalu menuntut untuk menjadi yang pertama dalam semua daftar kepentingan dalam hidupmu sayang, aku terlalu takut suatu saat jika ada yang mengancam kedudukanku dalam cintamu. Kurasakan hati ini meradang dengan kesedihan, kemarahan.
Tapi aku tak ingin kau terganggu dengan sikapku yang terkadang menjadi dingin ketika aku meredam segala kegelisahan, namun aku juga tak ingin kau terganggu oleh semua ocehan dan keluhanku. Aku ingin kau selalu nyaman disini, sampai kau benar-benar lupa caranya pergi dariku.



Tapi, semoga kau paham, bahwa aku disini mencoba menjadi perempuan yang benar kuat adanya.
Semoga kau pantas untuk aku cemburui sayang..

❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

do you miss me?


Kau pernah ajarkan aku bagaimana membunuh rindu.

"Bunuhlah rindu dengan cara mengingat bahwa rindu itu ada ujungnya, percaya akan ada pertemuan yang sanggup memecah keheningan rindu yang mengasingkan jiwa"

Menyelipkan namamu disetiap bisikan mesraku pada Alloh, juga caraku membunuh rindu. Karna puncak kerinduan seorang gadis bisa tertuang saat ia menyelipkan nama laki-laki yang disayang dalam do'anya.

Selamat malam untukmu yang berjarak ratusan kilo meter dariku.

❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

Rabu, 16 September 2015

Kalem?


Kalem?

Ada hari dimana aku harus diam, diam dari hal yang sering aku ungkapkan, diam dari hal yang sering aku lakukan. Karna disitu aku baru sadar bahwa diam adalah hal yang paling baik, yang sementara ini bisa aku lakukan. Kadang diam itu nikmat, hanya duduk, cuma bola mata yang seakan berpindah dari kanan kekiri, dari kiri kekanan mengikuti apa yang ada didepan kita. Seperti naik bus, kita hanya duduk diam, memberitahu tujuan, sampai dan turun. Kadang hidup sesimpel itu, bahkan tanpa kita ungkapkan tujuan, selalu saja bus kehidupan membawa kita berjalan sesuai sekenarinoNya. Kenapa ruwet? Karna tingkah kita sendiri yang sok mendekte pemilik jagat raya tentang apa yang kita mau.          
         Panas, itu ungkapan yang pas untuk siang ini. Aku hanya diam berjalan sesuai tujuanku, dihujani terik matahari dan melangkah dengan irama kakiku yang seperti biasa. Jika sudah diam seperti itu biasanya aku hanya fokus satu tujuan. Melangkah dengan nada irama yang berbeda dari biasanya. Aku heran, entah kenapa aku tak menemui diriku yang sebenarnya ketika diam. Hanya kedipan mata tanda setuju dan gelengan kepala tanda aku tak setuju. Tidak ada clotehan yang membuang oksigen saat diam merangkulku. Biasanya diamku itu ketika aku mulai lelah, dan cadangan oksigenku menipis. Karna setiap kali aku nyrocos bisa menipiskan cadangan oksigenku dengan cepat, cadangan oksigen yang biasanya aku gembol kemana-mana. Kadang jika lelah mendekap tubuhku orang disetikarku tak akan menemukan tanganku yang jail maupun suaraku yang brisik. Diam ya diam. Berjalan satu tujuan dan melupakan yang memang bukan tujuanku. Tapi asli, aku kehilangan jatidiriku saat diam. Haahahaha.. Biasanya tidak ada yang berani mendekat jika diam sedang bermesraan denganku.
Tak jarang orang tanya tentang...
"Bisa ga kalem sedikit?!!"
(kebanyakan Dia tanya gitu pake nada ga kalem, jadi pengen tanya balik, kamu tanyanya bisa ga kalem sedikit?)
"Bisa ga bicaranya gausa pake otot?"
(emang dia mangap ga pake otot apa!! Dangkal banget. Wkwk)
"Mbak2, pasti lebih cantik kalo kalem.."
(Aduh adek.. Udah cukup cantik aja, jangan lebih2, mubadzir kalo lebih, aku gini aja kamu bilang cantik, apa lagi kalem? Ga kebayang kan.. Wkwk)
"Kapan kamu kalemnyaaa?"
(Kalau kau menunggu aku kalem? Maka kau akan menunggu selamanya. Wkwk)
"Jadi perempuan itu yang kalem.."
(Oke, aku kalem, langsung seketika kayak orang yang dihipnotis, pandangan kosong dan... Ah syudahlah..! Wkwk)
Lebih greget lagi ketika kalem menghujamku pasti ada yang tanya dengan pertanyaan yang bikin serba salah.
"Kesambet apa? Kok mendadak kalem?"
(Ga kalem salah, kalem salah? Kenapa..........!! emang serba salah aku dimata kalian semua, :'( hiks..)
hahaaaha
Tapi... Jangan bayangin aku jawab pertanyaan mereka dengan jawaban tadi, cuma dalam hati kok, biasanya aku jawabnya pake senyum manis, pasang mata yang berbinar-binar, sambil nepok pundaknya terus bilang "biasakan dirimu kawan!!" disusul ketawaku yang renyah bak kripik singkong paling tipis.
         Tapi percaya atau tidak, aku lemah dengan air mata. Hanya lemah tapi bukan kalah, kalau ketemu aku lagi nangis, mau itu nangis seneng apa bahagia pasti bakal ketemu aku yang kalem. Karna untuk nangis yang histeris aku harus berfikir berulang-ulang kali. Hahaa.. Diamku, kalemku ada waktunya sendiri-sendiri, santai aku tak kehilangan kemaleman ku yang sebenarnya..
Salam sayang...

Maaf membuang menit berhargamu untuk postingan ini.

Ditulis disiang yang adem ditemani pesan darimu..
Selamat siang... Semangat terus!!
❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

Kamis, 10 September 2015

Seorang Ibu Yang Takut Anaknya Gosong.☺


Terik matahari serta debu yang diseret angin menemani langkahku pulang dari sekolah, hampir setengah jam aku duduk dipangkalan tempat biasa aku dan karipku menanti angkutan umum. Selang beberapa menit ada bus lewat dan berhenti, yaa semua yang dipangakalan merasa lega karna didalam bus tidak terlalu banyak penumpang, jadi bisa duduk semua. Bus yang hampir tiap hari bolak balik dengan tampilan yang... Begitulah angkutan umum. Bagi aku pribadi mau yang suaranya brisik, kumuh, lusuh, bau, dan lainnya, itu sama sekali tidak pernah jadi masalah. Untuk angkutan umum yang dicari bukan nyaman tapi cari yang bisa cepet bawa pulang.
        Didalam bus ada kondektur yang dengan gaya khas meminta uang padaku, ku ambil 1 lembar uang 1000 dan satu keping uang 500 perak dari dalam tas. Biasanya cuma 1000 tapi alasan dolar naik jadi tambah 500 untuk sampai rumah.
         "Bengkel Akin craki, pak" pak kondektur pun teriak untuk memperingatkan supir yang ada di depan "bengkel Akin craki.." ia mengulang omonganku tadi. Seketika rem pun diinjak membuat badanku condong kedepan dan "ccciitttttt....!!" suara rem membuat ban bus menyapu debu dan membuat debu itu berterbangan. Aku turun dan sampai di bengkel Akin. Aku berjalan menuju rumah.
        Sampai didepan pintu. "Heeehhh... Ojo o dolanan nang kono, golek opo leh ranjine?, ng njero omah ae, ndeleng tivi" aku kembali tersentak oleh triakan seoarang ibu-ibu yang mirip kondektur tadi, namun yang diperingatkan ibu itu bukan pak supir, melainkan 2 anak kecil yang cantik, berkulit eksotis. Yaa, ayunya khas gadis Jawa Indonesia yang sedang bermain di sungai kecil yang berada di dekat rumahku. Mengurungkan niatku masuk rumah. "Heeehh nduk... Adikmu ojo dijak manas!!! Wes ng podo mentas. Ojo podo manas... Koko podo gosong kabeh.. Awass lo.. Sempek gosong ga ape tak wenehi duwet njajan!!" ibu-ibu itu terlihat sedikit emosi, terdengar dari nada bicaranya. Aku yang berdiri didepan rumah pun rasanya ingin tertawa, seakan ikut arus tawa ke2 anak kecil tadi, aku menahan tawa melihat ibu dan ke2 anak itu. Ibunya yang seakan bicara sendiri dan ke2 anak itu yang asik main sendiri. Aku tak berani tertawa keras karna aku rasa 'saru' jika aku menertawakan kekhawtiran seorang Ibu yang takut anaknya gosong.
         Aku dekati Ibu2 dan ke2 anak itu, melihat apa yang mereka lakukan. Dan ternyata apa yang mereka lakukan membawaku mengingat masa kecilku, apa yang mereka lakukan sekarang sama dengan apa yang sering aku lakukan dulu bersama sodara sepupuku, yaitu mencari ikan kecil disungai sawah. Gusti.. Ternyata masih ada anak jaman sekarang yang melakukan hal sama seperti yang dulu aku sukai. Yang tak mengenal panas, kotor, jijik, bahkan sesuatu yang dapat melukai diri mereka sendiri.
        Ya, karna dijaman sekarang jarang sekali anak kecil yang bermain  permainan seperti petak umpet dan sejenisnya, mereka sudah disibukkan dengan perkembangan teknologi seperti televisi, komputer, laptop, game, gedget, android dan lain sebagainya. Mereka melupakan indahnya kotor, asyiknya basah, senangnya berkumpul dengan karib dan segarnya mandi disungai. Mungkin mereka tak lupa karna pada kenyataannya mereka yang belum mengenal apapun tapi sudah dikenalkan terlebih dahulu dengan kecanggihan teknologi yang menimbulkan ketergantungan, kecanduan dan dampak buruk lainnya. Orang tua mereka hanya mengerti gaul, gaya dan hal menarik dengan kemajuan teknologi tanpa berfikir masa depan putra putri mereka, dan mencegah anak mereka berkreasi, bermain kotor dan hal yang menimbulkan manfaat, mereka malah menganggap hal semacam itu sebagai ancaman bagi putra putri mereka, padahal apa yang mereka anggap gaul, gaya dan lain sebagainya itulah ancaman bagi putra putri mereka yang sebenarnya.
       Ah. Hal semacam itu mungikin tak pernah difikirkan oleh orang tua jaman sekarang, mereka lebih memilih yang instan tanpa perduli baik atau buruknya, sehat atau tidaknya, mereka tidak lagi mau tau. Kita semua sudah ditelan dengan hal instan yang menjanjikan kemustahilan. Karna sudah ketergantungan jadi sulit melepaskan. Mereka memilih membiarkan anak mereka melihat adegan percintaan diacara tivi yang sama sekali jauh dari kata pantas, membelikan gadget, ponsel yang canggih tanpa pengawasan khusus, lalu tidak mengijinkan anaknya berkreatifitas, bereksperimen dengan imajinasi mereka.
         Aku hanya berdiam diri melihat ke2 anak itu bermain. Entah apa yang difikirkan ibu-ibu tadi, ancaman ketika anaknya gosong adalah tidak memberi mereka uang jajan. Haaaah... Inilah gaya hidup orang tua jaman sekarang. Menganggap gaul tapi jutru merusak generasi bangsa. Rasanya aku ingin ikut bermain dengan mereka. Tapi, ada hal yang lebih penting yang harus kukerjakan.
      Aku kembali ketujuan awalku, yaitu pulang setelah puas melihat keasyikan ke2 anak tadi. Ini tentang seorang Ibu yang takut anaknya gosong namun tidak takut jika anaknya dimakan arus perkembangan teknologi. Dengan pikiranku tadi akupun pulang dan kembali pada aktifitasku seperti biasa. Allohumma Ademm.. ☺

Oh iya..
Salam untukmu yang jauh disana.
Clotehan siangku.
❤with love Zahrotul Laili Novita❤



Rabu, 09 September 2015

Teh Diantara Senjaku❤


Untukmu yang berjarak ratusan kilo meter dariku.
Apa kabar? Terlalu sering kita membahas hal yang nyleneh sampai aku lupa menanyakan kabar padamu. Namun aku tidak lupa bahwa kita sama sama diterangi bulatan cahaya yang dapat menyebar luas meskipun jaraknya triliunnan dari bumi tempat kita berpijak ini. Namun hebatnya dengan jarak sejauh itu, dia masih saja dapat menjangkau dan menjamah kulit kita. Aku harap kitapun juga begitu, tidak pernah menyalahkan jarak karna ada bukti bahwa jarak bukan halangan untuk suatu pencapaian maksimal seperti matahari dan bumi. Ku teguk teh hangat yang sengaja kubuat untuk menemani senjaku.
        Rasanya ingin aku mencuri pintu kemana saja milik doraemon jika rindu ini duduk bersantai difikiranku. Karna didalam kisah doraemon, dia bisa menembus kemanapun dengan pintu itu, membuatku berfikir "seumpama aku juga memiliki, pasti...." kembali khayalanku bermain, berimajinasi, dan seolah ikut dalam film itu. Aku berperan sebagai Shizuka Minamoto dan kau...
Ah lamunanku mulai ngawur. Seutas senyum mengukir wajahku. ☺
Kembali ku teguk teh yang berada didalam cangkir putih favoritku. Dan kembali juga aku melamun.

first love
Kau tau artinya kan....?
Aku harap kau tau, jika kau tak tau yaa kau bisa tinggalkan komen dibawah. Haha..

"Aku bisa mengerti
bahwa mungkin sebelum aku
kau pernah mencintai seorang perempuan sepenuh hati, yang kau perjuangkan mati-matian, yang pernah ingin kau peluk hingga tak ingin kau lepaskan.
Aku bisa terima
bahwa sebelum bahagia denganku
pernah ada sosok lain yang selalu ingin membahagiakannmu
yang pernah kau impikan dapat hidup bahagia bersama hingga akhir hayat.
Aku menghargai bagaimana kamu ingin menjadikanku milikmu,
bagaimana kamu menjadikan aku satu-satunya
dan usahamu untuk membahagiakanku saat ini hingga selamanya.

Semoga aku dapat menjadi yang terakhir bagimu
meskipun bukan yang pertama
meskipun bukan cinta pertama.
Untukmu, semoga kau tidak pernah menyesal mengenal dia yang singgah dihatimu terlebih dahulu sebelum aku. Sama, aku juga tak pernah menyesal pernah menaruh hati pada masalaluku, kau tau kenapa??
Karna dia yang membawaku untuk mengenalmu".

Lamunanku tentangmu memuai bersama bulatan cahaya itu, yang berlahan pergi. Aku sisakan tegukan terakhir tehku, biar saja tetap dicangkirnya.
Berusahalah kamu, ditanganku telah ada kepingan hati yang sudah bersedia untuk kamu simpan. ☺
Hey.. Jangan sampai tehku dingin karna terlalu lama menunggumu mengambil kepingan hati itu.

Ah...
Jadi kemana mana ini clotehan.
Maaf telah membuang waktumu untuk membaca postingan yang tak terlalu penting ini. Membuang beberapa menitmu dan aku harap kau tak menyesal membuang sekian menitmu untuk sekedar membaca tulisan yang seakan jalan jalan. Namanya saja lamunan, dia bisa berjalan jauh, bahkan menembus jarakmu dengan jarakku.
Kembali ku ucapkan, selamat petang untukmu yang disana. Tersenyumlah ☺

❤with love Zahrotul Laili Novita.
Selamat petang juga Mulyoagung ❤

Selasa, 08 September 2015

Belajar Dari Kekurangan :)



Aku pernah dianggap sombong ketika tak menyapa temanku karena pandanganku yang kabur. Aku memang gadis bermata minus yang tak suka memakai kacamata. Sebuah benda yang menggantung di depan mataku itu cukup membuatku risih ketika kubawa berjalan. Ya, kacamata ini hanya aku gunakan untuk melihat deretan tulisan di papan tulis saja ketika pelajaran berlangsung.

Sejak saat itu aku berpikir, mungkin ada baiknya jika aku menyapa siapapun dia yang bertemu denganku, daripada mendiamkannya dengan alasan tak berkacamata karena barangkali dia adalah orang yang sangat aku kenal, dan karena tak berkacamata jadi tidak sengaja tak kusapa.

Untuk menghindari hal serupa, aku selalu menyapa hampir semua orang yang berpas-pasan denganku dengan senyuman, mata yang berbinar-binar, dan dengan sapaan “hai...” yang tak terlalu keras, namun cukup terdengar.

Seharian ini, aku telah bertemu dan menyapa banyak manusia justru karena pandanganku yang agak sedikit  kabur karena tak memakai kacamata.

Keesokan harinya seusai pelajaran, aku lupa meletakkan kacamataku ini dimeja, karena takut pecah jika ditaruh di saku, jadi terpaksa aku pakai.

Dengan  kacamata, aku bisa melihat mereka yang melintas di depanku, kini aku tak lagi menyapa siapapun selain yang benar-benar aku kenal dekat.

Tiba-tiba ada perempuan, yang sepertinya anak kelas satu menyapaku.
“halo mbak Ita..” mukanya sumringah tanpa dosa.
Aku bingung, dia itu siapa ya? Kok kenal aku? Perasaan aku gak pernah ketemu dia, gak pernah kenal dia, ga pernah ngobrol sama dia? Pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiranku, tanpa berfikir banyak lagi, berhubung aku memang suka sok kenal sok deket jadi  ya tak bales lah sapaan nya dengan muka yang nggak kalah sumringahnya.
“halo juga, eh btw, namamu siapa ya? Aku lupa. .hehe” kataku polos, sebenernya bukan lupa, tapi emang belum pernah kenal.
Habis itu kita malah jadi kenalan, jadi cerita ini itu, nglantur sana sini, seperti orang yang udah sangat akrab.

Taukah kamu siapa dia? Dia adalah orang yang aku sapa ketika mataku kabur kemarin. Katanya, sapaanku yang manis itu membuat dia menjadi cukup tenang disaat dia galau karena kesepian. Hahahalah... Itu mungkin karena aku adalah orang pertama yang menyapanya hari itu.

Aku cuma bisa tersenyum kecil mendengarnya, namun ada hal yang mengganjal hatiku kala itu. Kenapa aku harus menjadi orang yang memiliki ‘kekurangan’ dahulu untuk melakukan hal kecil yang baik dan begitu mudah dilakukan? Kenapa aku harus tak berkacamata dahulu, memaksa mataku untuk melihat dengan akomodasi maksimum walaupun masih tetap kabur untuk membagi senyum dan mengucap “hai” kepada mereka yang melintas dihadapanku. Kadang hal yang kecil dapat menumbuhkan sesuatu yang besar, aku tak pernah protes dengan keadaanku sekarang, aku percaya semua yang diberikan oleh-Nya mempunyai manfaat sendiri-sendiri, termasuk hal tadi.

Lihatlah betapa hal itu begitu menyenangkan untuk orang lain !

Clotehanku diantara
Siang yang panas, ditaburi debu.
Kedungjambe, 08 September 2015
❤with love Zahrotul Laili Novita

Minggu, 06 September 2015

All Of Me



All Of Me
Semua Dariku


What would I do without your smart mouth
Apa yang kan kulakukan tanpa mulut cerdasmu
Drawing me in, you kicking me out
Dengan memikatku, kau mengusirku
Got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
Buat kepalaku berputar, tak bercanda, aku tak bisa meminta jawaban darimu
What's going on in that beautiful mind
Apa yang terjadi pada pikiran yang indah itu
I'm on your magical mystery ride
Aku ada pada perjalanan misteriusmu yang ajaib
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright
Aku begitu pusing, tak tahu apa yang mengenaiku, tapi aku tak apa

My head's underwater
Kepalaku di bawah air
But I'm breathing fine
Tapi aku bebas bernafas
You're crazy and I'm out of my mind
Kau gila dan aku lepas kendali

'Cause all of me
Karena semuanya dariku
Loves all of you
Mencintai semuanya padamu
Love your curves and all your edges
Mencintai semua lekukmu
All your perfect imperfections
Semua ketidaksempurnaanmu yang sempurna
Give your all to me
Berikan semua milikmu padaku
I'll give my all to you
Kan kuberikan semua milikku padamu
You're my end and my beginning
Kaulah akhir dan awalku
Even when I lose I'm winning
Bahkan saat kalah, aku menang
Cause I give you all of me
Karena aku beri kau semua milikku
And you give me all of you
Dan kau beri aku semua milikmu

How many times do I have to tell you
Berapa kali harus aku katakan padamu
Even when you're crying you're beautiful too
Meskipun menangis, kau masih cantik
The world is beating you down, I'm around through every mood
Dunia mengalahkanmu, aku ada di setiap waktu
You're my downfall, you're my muse
Kaulah kehancuranku, kaulah renunganku
My worst distraction, my rhythm and blues
Gangguan terburukku, iramaku, dan kesedihanku
I can't stop singing, it's ringing in my head for you
Aku tak bisa berhenti bernyanyi, terus menggema di kepalaku untukmu

My head's underwater
Kepalaku di bawah air
But I'm breathing fine
Tapi aku bebas bernafas
You're crazy and I'm out of my mind
Kau gila dan aku lepas kendali

'Cause all of me
Karena semuanya dariku
Loves all of you
Mencintai semuanya padamu
Love your curves and all your edges
Mencintai semua lekukmu
All your perfect imperfections
Semua ketidaksempurnaanmu yang sempurna
Give your all to me
Berikan semua milikmu padaku
I'll give my all to you
Kan kuberikan semua milikku padamu
You're my end and my beginning
Kaulah akhir dan awalku
Even when I lose I'm winning
Bahkan saat kalah, aku menang
Cause I give you all of me
Karena aku beri kau semua milikku
And you give me all of you
Dan kau beri aku semua milikmu
Give me all of you
Beri aku semua milikmu

Cards on the table, we're both showing hearts
Kartu di meja, kita berdua tunjukkan gambar hati
Risking it although it's hard
Menanggung risiko meskipun sulit

'Cause all of me
Karena semuanya dariku
Loves all of you
Mencintai semuanya padamu
Love your curves and all your edges
Mencintai semua lekukmu
All your perfect imperfections
Semua ketidaksempurnaanmu yang sempurna
Give your all to me
Berikan semua milikmu padaku
I'll give my all to you
Kan kuberikan semua milikku padamu
You're my end and my beginning
Kaulah akhir dan awalku
Even when I lose I'm winning
Bahkan saat kalah, aku menang
Cause I give you all of me.
Karena aku beri kau semua milikku

John Legend

Kamis, 03 September 2015

Biarkan Dia Menari Nak..



Disini ada 3 benda.
Benda pertama menari dengan anggunnya, gerakan kaki lincah, ekspresi muka tawa.
Benda kedua mencengkeram erat benda lain yang masuk didalamnya.
Benda ketiga bercahaya, tapi tak mampu bergerak terlalu jauh.
Suatu ketika lampu di ruangan itu mati
Benda yang menari itu ketakutan. Seketika ia berhenti menggerakkan kakinya dan meringkuk.
Benda kedua menggenggam benda pertama. Benda pertama mulai tenang.
Tapi lama-lama genggaman itu berubah menjadi cengkeraman kuat.
"Aku ingin menari", benda pertama memohon
Benda kedua tak melepaskan cengkeramannya.
Lalu benda ketiga yang hanya mampu berjalan pelan mendekat dengan binar cahaya yang hangat.
"Aku ingin menari", pinta benda pertama lagi dengan membrontak.
Benda kedua merasa ada yang sakit dalam dirinya.
"Cengkeramanku terlalu kuat, bahkan aku sendiripun kesakitan". Katanya sambil merenggangkan cengkeraman itu perlahan
Benda pertama terbebas. Dia mendekat pada benda ketiga.
Benda ketiga tersenyum
"Menarilah, biarkan aku hanya melihatmu dari sini. Cukup memberimu cahaya yang hangat agar kamu bisa tetap menari, tanpa mencengkerammu"
.............................................................

Rabu, 02 September 2015

Masih Merindu



Masih Merindu

Kepada kamu, tenang saja. Ketika aku tidak menulis tentang kamu, bukan berarti aku sedang tidak memikirkan kamu.
ditulis di sore yang dingin dibasahi rindu.

Zahrotul Laili N

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...