Teruntuk engkau,
Bakal Calon Ibu Mertua.
Bu, apa kabar? Sebenernya agak sungkan bertanya kabar, karena kita belum bertemu, belum saling mengenal, dan mungkin akan saling bertatapan di masa depan. Itulah kenapa saya menyebutnya "bakal", supaya terlihat juga saya masih ingin menikah dan punya ibu mertua, hehe. Tapi, saya berharap suatu masa depan kita bertemu, dan mohon luangkan sedikit waktu membaca surat kecil ini. Ini hanya sedikit surat terbuka dari hari seorang gadis yang mulai berpikir tentang pernikahan tetapi masih suka labil.
Bu, hari ini saya berfikirkan tentang kualitas pria yang inginnya menikahi seorang perempuan. Konon katanya ada 3 kualitas pria, dimana hanya 2 variabel yang bisa di pilih dan satu variabel sisa sebagai kebalikan.
Variabel : Tampan, Kaya, Cerdas
Kemungkinan 1 : jika ia tampan dan kaya, maka dia tidak cerdas
Kemungkinan 2 : Jika ia kaya dan cerdas, maka dia tidak tampan.
Kemungkinan 3 : Jika tampan dan cerdas, maka dia tidak kaya.
Bu, sebagai perempuan yang 100% normal, jika ada seorang lelaki dengan semua kualitas paket komplit, perempuan pasti mau. Apalagi jika dia anak seorang ibu yang sedang baca surat ini. Tapi secara realitas, banyak faktor yang mempengaruhi pendapatan pria hampir sempurna itu. Antara persaingan yang semakin banyak (kalo tidak salah 7 perempuan berebut 1 lelaki). Belum lagi soal trik menggoda dan melancarkan serangan tebar pesona, itu bukan saya,Bu ahahaha, karna saya lebih cepat salah tinggkah didepan lelaki idaman saya. Belum lagi mendapat lelaki dengan 3 variabel ini, minimal saya juga harus sepadan dan punya 3 variabel kualitas perempuan (cantik, kaya, dan cerdas). I'm not,Mom.. Tidak terlalu cantik untuk ukuran perempuan, walau saya yakin (mungkin)saya punya senyum yang bisa meluluhkan hati ibu dan anaknya, ehehehe.. Saya tidak kaya, untuk masalah finansial, saya hanya bantu2 mbak, karna untuk minta uang cuma2 itu hal yang paling saya jauhi, sebab tidak ada lagi orang tua, sekedar menenggadahkan tangan meminta selembar uang jajan. Bu, saya memang belum merdeka ekonomi, masih berpikir bagaimana cara memutar trik agar bisa menabung tapi punya barang baru. Kalau cerdas, entahlah Bu. Saya hanya perempuan yang tingkat kecerdasannya biasa saja. Jadi tak ada jaminan lebih. Hehe.
Tapi pada akhirnya semua bermuara di faktor jodoh, bukan begitu, Bu? Saya berkeyakinan, jodoh memang kita yang mencari, membuat dan mengajukakan proposal ke Alloh, dan Alloh pun akan mempertimbangkan dapat di acc atau tidak. Penolakan dan penerimaan Alloh bisa dilihat dari tanda-tanda alam mungkin. Jika jodoh, segala niat baik untuk pasangan sepadan pasti dipermudah.. Dan jika tidak, bisa jadi di jauhkan oleh hal-hal yang mungkin diluar pemikiran..
Saat saya menulis ini, saya masih gadis ambisius, Bu. Ya, dulu waktu masih kecil saya sering berharap mendapat seorang pria dengan tiga kualitas di atas, dan di bantu faktor jodoh di atas. Tapi sekarang saya paham, bahwa kecerdasan ilmu agama serta tauhid jadi prioritas utama, karna penguasaan ilmu agama dan tauhid akan menyangkut semuanya termasuk mendidik saya, ya, melihat kelakuan anak muda jaman sekarang yang sering melakukan hal di luar batas norma agama. Naudzubillah..
Lebih dari pada semua itu, sebuah keluargalah yang saya harapkan. Keluarga yang tetap satu saat sulit dan senang, tempat pulang sewaktu lelah berkelana, tempat bersandar saat tak ada lagi yang bisa diucapkan. Ibu, suatu hari mungkin saya akan menikah dengan anakmu, saya pasti berusaha mencapai 3 variabel kualitas perempuan itu agar kau bangga memiliki menantu sepertiku. Tapi izinkan aku di bimbing oleh anakmu,Bu. Saya perempuan yang berusaha, pasti selalu berusaha, tapi pada akhirnya akan kembali ke pelukan nyaman seorang pria untuk sekedar meminta energi. Kiranya anakmu adalah pria yang memiliki pelukan hangat itu,Bu.. Sehangat pelukan seorang ibu...
Lebih dari pada semua itu, sebuah keluargalah yang saya harapkan. Keluarga yang tetap satu saat sulit dan senang, tempat pulang sewaktu lelah berkelana, tempat bersandar saat tak ada lagi yang bisa diucapkan. Ibu, suatu hari mungkin saya akan menikah dengan anakmu, saya pasti berusaha mencapai 3 variabel kualitas perempuan itu agar kau bangga memiliki menantu sepertiku. Tapi izinkan aku di bimbing oleh anakmu,Bu. Saya perempuan yang berusaha, pasti selalu berusaha, tapi pada akhirnya akan kembali ke pelukan nyaman seorang pria untuk sekedar meminta energi. Kiranya anakmu adalah pria yang memiliki pelukan hangat itu,Bu.. Sehangat pelukan seorang ibu...
Yaa, kangen dipeluk,Bu. Karna memang saya dipeluk oleh ibu kandung saya sendiri, terakhir itu 5 tahun yang lalu. Tak masalah bukan,Bu. Meminta peluk Ibu dari suamiku. ☺
Bu, maaf terlalu panjang. Kelak mungkin kita bertemu 3 tahun atau bahkan 4 tahun lagi, saya tidak bisa merencanakan. Dan bacalah suratku ini Bu, apa surat saya ini sia-sia? Atau percuma? Karna hanya kemungkinan kecil Ibu membuka blog saya untuk sekedar membaca tulisan saya ini. Tapi tak masalah, siapa tahu besok Alloh membuka kesempatan lebih lebar supaya Ibu dapat membaca tulisan saya ini, yang khusus saya peruntukkan kepada Ibu, ya, semoga ibu membaca, sebelum Ibu yakin mengizinkan saya menyandang status menantu. Saya ingin ibu memandang diri ini baik, tapi ingin juga ibu tahu apa adanya saya. Dan saat saya dinikahi anak Ibu, saya juga bisa yakin bisa dinikahi keluarganya juga, agar bersatu dengan keluarga saya ini, amin..
Mulyoagung, 27 September 2015
Bakal Calon Menantumu,
Zahrotul Laili.
Ahahahaa.. Coretan pagi, oh.. Ini hanya gurauan. Jangan diambil hati ya.. Eh, tapi diambil juga tak masalah, selamat pagi...
Semangat terus!!
❤with love, Zahrotul Laili Novita❤

Tidak ada komentar:
Posting Komentar