Terik matahari serta debu yang diseret angin menemani langkahku pulang dari sekolah, hampir setengah jam aku duduk dipangkalan tempat biasa aku dan karipku menanti angkutan umum. Selang beberapa menit ada bus lewat dan berhenti, yaa semua yang dipangakalan merasa lega karna didalam bus tidak terlalu banyak penumpang, jadi bisa duduk semua. Bus yang hampir tiap hari bolak balik dengan tampilan yang... Begitulah angkutan umum. Bagi aku pribadi mau yang suaranya brisik, kumuh, lusuh, bau, dan lainnya, itu sama sekali tidak pernah jadi masalah. Untuk angkutan umum yang dicari bukan nyaman tapi cari yang bisa cepet bawa pulang.
Didalam bus ada kondektur yang dengan gaya khas meminta uang padaku, ku ambil 1 lembar uang 1000 dan satu keping uang 500 perak dari dalam tas. Biasanya cuma 1000 tapi alasan dolar naik jadi tambah 500 untuk sampai rumah.
"Bengkel Akin craki, pak" pak kondektur pun teriak untuk memperingatkan supir yang ada di depan "bengkel Akin craki.." ia mengulang omonganku tadi. Seketika rem pun diinjak membuat badanku condong kedepan dan "ccciitttttt....!!" suara rem membuat ban bus menyapu debu dan membuat debu itu berterbangan. Aku turun dan sampai di bengkel Akin. Aku berjalan menuju rumah.
Sampai didepan pintu. "Heeehhh... Ojo o dolanan nang kono, golek opo leh ranjine?, ng njero omah ae, ndeleng tivi" aku kembali tersentak oleh triakan seoarang ibu-ibu yang mirip kondektur tadi, namun yang diperingatkan ibu itu bukan pak supir, melainkan 2 anak kecil yang cantik, berkulit eksotis. Yaa, ayunya khas gadis Jawa Indonesia yang sedang bermain di sungai kecil yang berada di dekat rumahku. Mengurungkan niatku masuk rumah. "Heeehh nduk... Adikmu ojo dijak manas!!! Wes ng podo mentas. Ojo podo manas... Koko podo gosong kabeh.. Awass lo.. Sempek gosong ga ape tak wenehi duwet njajan!!" ibu-ibu itu terlihat sedikit emosi, terdengar dari nada bicaranya. Aku yang berdiri didepan rumah pun rasanya ingin tertawa, seakan ikut arus tawa ke2 anak kecil tadi, aku menahan tawa melihat ibu dan ke2 anak itu. Ibunya yang seakan bicara sendiri dan ke2 anak itu yang asik main sendiri. Aku tak berani tertawa keras karna aku rasa 'saru' jika aku menertawakan kekhawtiran seorang Ibu yang takut anaknya gosong.
Aku dekati Ibu2 dan ke2 anak itu, melihat apa yang mereka lakukan. Dan ternyata apa yang mereka lakukan membawaku mengingat masa kecilku, apa yang mereka lakukan sekarang sama dengan apa yang sering aku lakukan dulu bersama sodara sepupuku, yaitu mencari ikan kecil disungai sawah. Gusti.. Ternyata masih ada anak jaman sekarang yang melakukan hal sama seperti yang dulu aku sukai. Yang tak mengenal panas, kotor, jijik, bahkan sesuatu yang dapat melukai diri mereka sendiri.
Ya, karna dijaman sekarang jarang sekali anak kecil yang bermain permainan seperti petak umpet dan sejenisnya, mereka sudah disibukkan dengan perkembangan teknologi seperti televisi, komputer, laptop, game, gedget, android dan lain sebagainya. Mereka melupakan indahnya kotor, asyiknya basah, senangnya berkumpul dengan karib dan segarnya mandi disungai. Mungkin mereka tak lupa karna pada kenyataannya mereka yang belum mengenal apapun tapi sudah dikenalkan terlebih dahulu dengan kecanggihan teknologi yang menimbulkan ketergantungan, kecanduan dan dampak buruk lainnya. Orang tua mereka hanya mengerti gaul, gaya dan hal menarik dengan kemajuan teknologi tanpa berfikir masa depan putra putri mereka, dan mencegah anak mereka berkreasi, bermain kotor dan hal yang menimbulkan manfaat, mereka malah menganggap hal semacam itu sebagai ancaman bagi putra putri mereka, padahal apa yang mereka anggap gaul, gaya dan lain sebagainya itulah ancaman bagi putra putri mereka yang sebenarnya.
Ah. Hal semacam itu mungikin tak pernah difikirkan oleh orang tua jaman sekarang, mereka lebih memilih yang instan tanpa perduli baik atau buruknya, sehat atau tidaknya, mereka tidak lagi mau tau. Kita semua sudah ditelan dengan hal instan yang menjanjikan kemustahilan. Karna sudah ketergantungan jadi sulit melepaskan. Mereka memilih membiarkan anak mereka melihat adegan percintaan diacara tivi yang sama sekali jauh dari kata pantas, membelikan gadget, ponsel yang canggih tanpa pengawasan khusus, lalu tidak mengijinkan anaknya berkreatifitas, bereksperimen dengan imajinasi mereka.
Aku hanya berdiam diri melihat ke2 anak itu bermain. Entah apa yang difikirkan ibu-ibu tadi, ancaman ketika anaknya gosong adalah tidak memberi mereka uang jajan. Haaaah... Inilah gaya hidup orang tua jaman sekarang. Menganggap gaul tapi jutru merusak generasi bangsa. Rasanya aku ingin ikut bermain dengan mereka. Tapi, ada hal yang lebih penting yang harus kukerjakan.
Aku kembali ketujuan awalku, yaitu pulang setelah puas melihat keasyikan ke2 anak tadi. Ini tentang seorang Ibu yang takut anaknya gosong namun tidak takut jika anaknya dimakan arus perkembangan teknologi. Dengan pikiranku tadi akupun pulang dan kembali pada aktifitasku seperti biasa. Allohumma Ademm.. ☺
Oh iya..
Salam untukmu yang jauh disana.
Clotehan siangku.
❤with love Zahrotul Laili Novita❤

Tidak ada komentar:
Posting Komentar