Rabu, 16 September 2015
Kalem?
Kalem?
Ada hari dimana aku harus diam, diam dari hal yang sering aku ungkapkan, diam dari hal yang sering aku lakukan. Karna disitu aku baru sadar bahwa diam adalah hal yang paling baik, yang sementara ini bisa aku lakukan. Kadang diam itu nikmat, hanya duduk, cuma bola mata yang seakan berpindah dari kanan kekiri, dari kiri kekanan mengikuti apa yang ada didepan kita. Seperti naik bus, kita hanya duduk diam, memberitahu tujuan, sampai dan turun. Kadang hidup sesimpel itu, bahkan tanpa kita ungkapkan tujuan, selalu saja bus kehidupan membawa kita berjalan sesuai sekenarinoNya. Kenapa ruwet? Karna tingkah kita sendiri yang sok mendekte pemilik jagat raya tentang apa yang kita mau.
Panas, itu ungkapan yang pas untuk siang ini. Aku hanya diam berjalan sesuai tujuanku, dihujani terik matahari dan melangkah dengan irama kakiku yang seperti biasa. Jika sudah diam seperti itu biasanya aku hanya fokus satu tujuan. Melangkah dengan nada irama yang berbeda dari biasanya. Aku heran, entah kenapa aku tak menemui diriku yang sebenarnya ketika diam. Hanya kedipan mata tanda setuju dan gelengan kepala tanda aku tak setuju. Tidak ada clotehan yang membuang oksigen saat diam merangkulku. Biasanya diamku itu ketika aku mulai lelah, dan cadangan oksigenku menipis. Karna setiap kali aku nyrocos bisa menipiskan cadangan oksigenku dengan cepat, cadangan oksigen yang biasanya aku gembol kemana-mana. Kadang jika lelah mendekap tubuhku orang disetikarku tak akan menemukan tanganku yang jail maupun suaraku yang brisik. Diam ya diam. Berjalan satu tujuan dan melupakan yang memang bukan tujuanku. Tapi asli, aku kehilangan jatidiriku saat diam. Haahahaha.. Biasanya tidak ada yang berani mendekat jika diam sedang bermesraan denganku.
Tak jarang orang tanya tentang...
"Bisa ga kalem sedikit?!!"
(kebanyakan Dia tanya gitu pake nada ga kalem, jadi pengen tanya balik, kamu tanyanya bisa ga kalem sedikit?)
"Bisa ga bicaranya gausa pake otot?"
(emang dia mangap ga pake otot apa!! Dangkal banget. Wkwk)
"Mbak2, pasti lebih cantik kalo kalem.."
(Aduh adek.. Udah cukup cantik aja, jangan lebih2, mubadzir kalo lebih, aku gini aja kamu bilang cantik, apa lagi kalem? Ga kebayang kan.. Wkwk)
"Kapan kamu kalemnyaaa?"
(Kalau kau menunggu aku kalem? Maka kau akan menunggu selamanya. Wkwk)
"Jadi perempuan itu yang kalem.."
(Oke, aku kalem, langsung seketika kayak orang yang dihipnotis, pandangan kosong dan... Ah syudahlah..! Wkwk)
Lebih greget lagi ketika kalem menghujamku pasti ada yang tanya dengan pertanyaan yang bikin serba salah.
"Kesambet apa? Kok mendadak kalem?"
(Ga kalem salah, kalem salah? Kenapa..........!! emang serba salah aku dimata kalian semua, :'( hiks..)
hahaaaha
Tapi... Jangan bayangin aku jawab pertanyaan mereka dengan jawaban tadi, cuma dalam hati kok, biasanya aku jawabnya pake senyum manis, pasang mata yang berbinar-binar, sambil nepok pundaknya terus bilang "biasakan dirimu kawan!!" disusul ketawaku yang renyah bak kripik singkong paling tipis.
Tapi percaya atau tidak, aku lemah dengan air mata. Hanya lemah tapi bukan kalah, kalau ketemu aku lagi nangis, mau itu nangis seneng apa bahagia pasti bakal ketemu aku yang kalem. Karna untuk nangis yang histeris aku harus berfikir berulang-ulang kali. Hahaa.. Diamku, kalemku ada waktunya sendiri-sendiri, santai aku tak kehilangan kemaleman ku yang sebenarnya..
Salam sayang...
Maaf membuang menit berhargamu untuk postingan ini.
Ditulis disiang yang adem ditemani pesan darimu..
Selamat siang... Semangat terus!!
❤with love, Zahrotul Laili Novita❤
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak Mengetauhi Apa-apa
Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...
-
Menyanyangi itu kamu. Mencintai. Titik. Tanpa koma. Tak perlu penjelasan. Karena kau sudah tahu tanpa perlu bertanya lagi. Dan tanpa aku ...
-
Pintaku, jangan dulu berjanji. Jangan dulu mengucap janji yang sulit ditepati, seperti janji untuk tidak saling menyakiti. Karena mungkin ...
-
Sebongkah hati tlah berlari terlalu jauh. Jauh meninggalkan tembok runtuh itu dalam kehidupannya. Terlalu jauh ia berlari hingga akhirnya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar