Selasa, 29 September 2015

Me.


Kau pikir dunia ini hanya seputaran globe? Kenyataannya dunia jauh lebih luas dari itu. Tapi kadang kala kau merasa dunia begitu sempit sampai tak ada lagi tempat untuk membuang semua sampah yang kau simpan dibawah tempurung kepalamu. Hanya disini aku menemukan "tempat sampah" yang tepat.
Biarlah kata hati yang tak sanggup diucapkan, tersampaikan melalui tulisan

Oh iya. Terimakasih untukmu yang selalu peduli. Aku yang hanya bisa membuat kesalahan yang mungkin kau hanya memakluminya. Dan kau tahu, kau melihat awan awan menggumpal tebal, menutup cantik segala kesalahanku.  Kau bisa saja melukaiku karna sikapku sendiri, tapi kau tak pernah sedikitpun melukaiku. Begitu sedemikian rupa kau memperlakukanku layaknya seorang putri yang sangat kau lindungi. Ternyata kau lah pangeran berkudaku, yang setiap kali masuk dalam mimpi untuk menjadikan kenyataan.. 
Maaf juga jika selama ini aku membuatmu amat malu didepan teman temanmu.

Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memerhatikan beberapa tulisan berlalu-lalang. Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada di sana, berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan kudefinisikan lagi. Ini bukan yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa merasakan kehadiranmu melalui pesan singkat. Kekosongan dan kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap menunduk, mencoba tak memedulikan keadaan. Mencoba menikmati apapun yang sedang ku jalani. "Apa yang biasa kau lakukan saat aku pergi?" 
"Menunggumu kembali". ☺

Pernah suatu malam aku berfikir dan merasa takut, jika kau memperlakukanku seperti gadis bodoh yang jemarinya seakan sudah berada dalam genggamanmu. Kita duduk berdua, di dalam komidi putar yang siap memutar nasib kita. Kamu tertawa kegirangan, sementara aku berpegangan ketakutan, kebingungan. Saat komidi putar kita berada di atas, aku dan kamu melihat keindahan yang sama, tawa kita mengalahkan seluruh tawa yang paling keras. Lalu, komidi putar kita berangsur bergerak ke bawah. Kamu tiba-tiba keluar, menutup, kemudian mengunci pintu komidi putarku. Kamu pergi begitu saja, tidak memberiku pesan atau nasihat jika aku ketakutan menghadapi putaran permainan ini sendirian. Langkahmu berangsur menjauh dan komidi putar yang awalnya kita naiki berdua, kembali berputar lagi. Aku sendirian di sana, menatap punggungmu yang jauh, dan semakin jauh, meninggalkanku bersama ketakutanku, aku juga pernah membayangkan jika disampingmu telah ada gadis yang lebih segalanya dariku, lalu aku tak bisa apa apa dan seolah aku hanya seperti itik buruk rupa yang mencintai pangerannya sementara disamping pangeran telah ada putri cantik jelita. Namun segera ku bunuh fikiran seperti itu, kau adalah salah satu orang yang aku percaya dan tak akan mungkin kau setega itu. Aku hanya perempuan perasa yang suka menulis semua ungkapan hati, yang tak mampu ku ucapkan. Aku menemukan tempat sampah yang pas untuk membuang semua sampah yang kusimpan dibalik tempurung kepalaku. 




Oh iya..
Kau tau kenapa aku suka menuliskan perasaanku ini?
Menulis. Ya, ada yang pernah berkata seperti ini kepadaku "berhentilah memendam itu semua, coba kau abadikan dengan menulis, tulislah apa saja". Ya, itu salah satu hal yang sampai saat ini jadi penyemangat, dan juga buat yang sering bertanya "kenapa suka mengerjakan hal semacam itu?" jawabanya, "saat ini, aku tengah mencintai apa yang aku kerjakan dan mengerjakan apa yang aku cintai". ☺☺


Oke cukup, itu saja beberapa hal yang sebenarnya ingin aku tulis. Lagi lagi itu hanya wacana.




Salam sayang untuk kau..
Yang jauh....
❤with love, Zahrotul Laili Novita❤





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...