Untuk penikmat siang. Apa yang di tawarkan sore kepada malam? Bukankah malam hanya menyita cahaya disiang hari? Merubah semua menjadi gelap? Kini yang ada hanya sepotong jingga dan seiris senja yang anggun. Yang dengan gembira menyita cahaya siang.
Untuk penikmat sore. Kenapa sore begitu teramat baik? Kenapa sore begitu teramat meriah menyambut gelapnya malam? Senja tercipta saja hanya untuk menyambut malam, sebuah sambutan yang meriah untuk melenyapkan sore indah ini, dan senja yang rentan bergandengan dengan matahari bersama cahayanya. Merubah sore yang indah menjadi malam yang pekat, sunyi, gelap, tak bercahaya. Hanya pantulan lampu-lampu ditiap rumah dan ditepi jalan, yang selalu berusaha menghiasi malam lengkap suara dengkuran orang-orang lelah atas rutinitasnya seharian.
Untuk penikmat malam. Kenapa malam begitu apik? Dihiasi bintang dan bulan. Dihiasi angin sejuk yang tak dijumpai siang. Kenapa malam sebegitu romantisnya? Namun tak semua orang penikmat bintang dan bulan. Tak semua orang memperhatikan itu. Mereka lebih memilih tertidur pulas demi menyambut pagi dan rutinitas mereka yang membosankan. Mereka memilih memejamkan mata tanpa rasa ingin tau indahnya lengkungan bulan sabit atau taburan bintang.
Aku?? Ya.. Aku adalah penikmat panasnya mentari disiang hari, aku adalah penikmat senja di sore hari, aku juga penikmat bintang dan bulan di malam hari dan aku juga perasa embun basah di pagi hari. Lalu apa kau bisa memberi aku jawaban, apa yang ditawarkan hidup untukku, untukmu, dan untuk kita? Apa pagi, siang, sore atau malam? Yang mana yang paling dominan? Apa mereka hanya menjadi torehan kembali pada kesibukan yang membosankan? Ah, entahlah, aku tak cukup pintar berfikir akan hal itu, coba kau jelaskah, ku rasa kau yang lebih mengerti.
Berfikir tentang keseharian kita yang hanya kembali pada satu titik sampai tiba saatnya kita bosan dengan titik itu. Dulu kupikir hidup ini layaknya lingkaran, dia hanya sebuah putaran dan tak berujung. Namun ternyata salah, hidup ini bukan layaknya lingkaran, tapi sebuah garis, namun garis itu tak menjamin selalu mulus dia tak punya pasal untuk selalu lurus, ada belokan dan ada gangguan di tiap meternya. Hidup itu layaknya garis dan garis itu ibarat tali, yang saling tersambung satu sama lain, tempatnya pun terus berpindah dan tak bisa berputar balik kebelakang, dia selalu tersambung. Lalu? Coba bayangkan jika kehidupan ibarat sebuah lingkarang apa bisa berproses? Ku rasa tidak, kehidupan itu berproses seperti awal kita lahir, hanya bisa menangis, tertawa sampai proses awal kita belajar berdiri meski tak jarang jatuh namun itulah yang dinamakan proses.
Pasti tali kehidupan itu akan meninggalkan jejak yang ada dibelakangnya, berupa masa lalu. Masa lalu yang ada dibelakang itu bukan untuk dilupakan, bodoh jika ada yang mencoba melupakan proses kita bisa berdiri sampai akhirnya dapat berjalan dan berlari. Karna memang masa lalu ada bukan untuk dilupakan namun untuk dikenang, dibuat pelajaran dan menghargai apapun yang kita raih sampai saat ini, namun jangan lupa pasang tembok penghalang antara kau dan masa lalu, agar tak ada alasan lagi untuk melangkah kebelakang sekedar mencicipi masa lalu. Jika ada yang berat dengan melupakan masa lalu, coba cara ini. Tak ada alasanmu menyalahkan tali yang berbelok itu, hanya dirimu yang tau dan yang menjalani. Jadi awal mula memasang tembok penghalang itu adalah "Maafkan dirimu sendiri".
Ya, inilah kehidupan, semua punya tali masa lalu yang pernah dijalani dan sama seperti sekarang ini. Masa sekarang adalah hasil dari masa lalu, mau terima atau tidak, itulah kenyataannya. Berhenti menyalahkan masa lalu. Justru cobalah belajar berterimakasih pada masa lalumu, kepada proses kehidupanmu yang mengajarkan berbagai luka, bahagia maupun derita. Mau menolak bagaimanapun, dia pernah jadi bagian dan selamanya seperti itu. Namun itu bukan alasan kita kembali ke masa lalu karna dimata sudah ada masa selanjutnya, yaitu masa depan. Jangan buang atau dilupakan, simpan saja, agar kita tidak menyia-nyiakan apa yang kita raih saat ini, ketika ingat bagaimana proses kita berjalan dan kita bisa berlari jauh tak ingin digendong ibu, kau lelah lalu punya fikiran memotong kaki agar tak bisa berjalan dan bisa selalu digendong. Kita punya proses berjalan dan itu tidak mudah. Lalu kita membuang niat memotong kaki kita? Itu kebodohan yang fatal. Eh.. Itu hanya ibarat, tentu tak ada yang ingin memotong kakinya sendiri dan memilih selalu dalam gendongan.
Kembali senja menemaniku, dan dengan anggun matahari berpamitan untuk menyinari bagian bumi yang lain. Sampai jumpa matahari, esok pagi akan ku sambut kau dengan takbir. Selamat sore juga untuk kau yang jauh disana, yang tenggah disibukkan oleh tugasmu. Semoga malammu juga menyenangkan..
Semangat terus!!!
❤with love, Zahrotul Laili Novita❤


Tidak ada komentar:
Posting Komentar