Senin, 01 Februari 2016

Entah Yang Keberapa.



Entah lah, aku saja lupa, surat ini  entah surat ke berapa yang kutujukan padamu. Surat yang jika kau baca dapat membuang beberapa detikmu atau bahkan menitmu.

Kepadamu yang memutuskan untuk menetap di sini.

Kamu, ya, berbeda dari yang lainnya. Kamu sederhana, apa adanya, misterius, dan begitu sulit untuk ditebak. Wajahmu bukan pahatan seniman kelas dunia ataupun bikin pabrik yang jelas-jelas sempurna, namun aku tau, kau ciptaan yang maha sempurna. Aku tak memikirkan bagaimana penampilanmu dan bagaimana caramu menata rambutmu atau bagaimana caramu menyesuaikan warna baju. Aku mencintaimu karena begitulah kamu. Kamu yang sulit kutebak tapi begitu manis dalam beberapa peristiwa. Kamu yang kadang menjengkelkan dalam keadaan yang bahkan sulit kujelaskan. Aku mencintaimu dan sekarang pun masih begitu. Sadarkah kamu?

Dia itu kamu. Begitu jauh dari bayangan, entah darimana sangkanya rasa ini. Yang aku tau, rasa itu ibarat seni, tidak memiliki arti khusus, semua terserah kita, kita bisa mencoret bagian mana dan memberinya arti apa. Aku ingin memberi arti pada rasa ini,  kekal.

Bolehkan? Aku yakin kau akan membolehkanku.
Kau tau? Mataku sulit kupejamkan, aku malah mengingat mata yang 92 hari lalu datang memecah rindu, mata yang menahan kantuk untuk menemaniku, mata yang sampai saat ini bermukim tepat dilayar ponselku, mata yang mengatakan "aku sayang padamu". Entahlah mata itu seperti ada di balik kacamataku ini dan ketika kulepas, hilang sudah mata itu, dan membuatku enggan melepasnya.  Ah, Baik kupejamkan saja mataku ini, biasanya seperti itu saranmu jika keluhanku datang saat kantuk telat menjemputku, seperti malam ini.

Selamat malam mata bermanja. Masih ku nanti kau di batas senja.

Zahrotul L.N

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...