Jumat, 12 Februari 2016

Sajak Untuk Belahan Jiwa Ayahku,

Kutulis sajak ini, lima tahun setelah kepergianmu.
Teruntuk engkau belahan jiwa ayahku,

Kekasih,
Barangkali bunga kamboja yang pernah aku tancapkan di atas pusaramu kini mulai berbunga, lima tahun sudah, musim terus berganti hingga kembali lagi ke musim penghujan. Aku tak pernah mampu menjadwalkan diri untuk sekedar menengokmu, sekedar berbagi keluh kesah, atau sekedar bertanya tentang keadaanmu. “Kekasih, apa kabarmu?”

Rasanya ingin sekali menyapa, tapi mulut dan degup di dada yang semakin kencang membuatku tidak pernah menanyakan hal itu lagi.

Kekasih,
Jika engkau ingin tahu yang selama ini aku lakukan, barangkali kau akan tetap melihatku seperti yang dulu. Aku yang gembrot, mokong, jarang mandi, dan rambut yang selalu berantakkan. Mungkin karena engkau sudah tidak pernah mengingatkan perihal yang membuatku rapi dan wangi.

Kekasih,
Maafkanlah aku, yang seringkali lupa untuk sekedar mengirimmu doa-doa yang menyejukkanmu, seiring aku yang mulai lupa tentang siapa aku.

Maafkanlah aku, kekasih.
Barangkali engkau masih ingat, bahwa aku sering melukiskanmu seperti pagi dan tetes embun dedaunan, bahkan juga senja dan rona jingganya.

Kekasih,
Kini senja sedang murung, membuatku terhanyut hingga lupa tentang senyumanmu.

Kekasih,
Aku ingin mendoakanmu, semoga di tempatmu kini engkau senantiasa baik-baik saja, meski aku tak lagi menjadi detak di detikmu.

Kekasih..
Maafkan gadismu,

Dariku, ibu dari cucu-cucumu.

Laili,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...