Untuk kamu.
Hari ini rinduku menguap bersama keringat. Kubiarkan sepetak ruangan remang dilengeketi bau. Salah satu potret tanpa bingkai mengeluh,
“Ah, lagi-lagi uap rindu yang ditimbun banyak-banyak mengeluarkan bau menyengat. Aku selalu tak suka.”
Dia bahkan tak pernah paham bahwa mulut kadang bisa hilang fungsi di lain waktu. Mulutku rapat dan hatiku terisi makin penuh. Biasanya rindu menguap atau lebur bersama air dalam tubuhku, berproses lalu jadi keringat. Bisa juga rindu bercampur bersama darah merah yang bolak balik dipompa jantung. Terus hilir mudik, hanya jika kulitku tertusuk jarum pentul maka ia bisa keluar, itu pun sedikit-sedikit.
Tapi kupikir, pemerhati akan lebih tahu kesalahan objek perhatiannya. Sama seperti potret tanpa bingkai itu. Dia hapal waktu-waktu aku menimbun rindu. Dengan setengah hati dia mencoba menasehati, bahwa rindu sesekali harus diikuti kemauannya.
“Kau selalu keras kepala dan terlalu gengsi. Berapa lama aku harus berada di sini, menjadi salah sekian dari kado yang tak pernah kau kirimkan. Cobalah sesekali kau baui kami. Busuk!” renggutnya kesekian kali suatu pagi, setelah aku menggali lubang dalam tubuhku untuk menimbun rindu.
Kemudian, aku mengingat keranjang sampah berwarna biru. Lantas kucungkili timbunan di tubuhku, memindahkannya ke dalam keranjang.
“Semoga kado-kado itu tak berbaui lagi minimal sampai aku mengirimkannya.”
Dariku,
Perempuan yang menimbun rindu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar