Seringnya, aku menulis saat kalut sedang penuh penuhnya mengguncang kesabaranku, saat tak lagi ada telinga untuk mendengarkanku atau saat aku sudah tak mampu lagi menahan imajinasi manis dalam benakku. Tapi kali ini biarkan aku bercerita tentang beberapa malam yang aku lewatkan dengan senyuman bahkan tidur nyenyak dengan mimpi paling indah yang pernah hadir dalam buaian.
Aku masih ingat, malam malam panjang penuh luka karena hilang muncunya bintang. Aku dipertemukan dengan sebuah senyum yang bisa aku katakan berhasil menyita semua perhatianku. Entah dengan bagaimana caranya, sang pemilik senyum ini bisa mencuri perhatian yang biasanya begitu penuh ku curahkan untuk bintang. Dan untuk pertama kali, aku tak takut untuk tak melihat bintang.
Semesta memang tak pernah gagal menjadi sahabat terbaikku. Aku tak pernah menyesal sering menyebutnya dalam tulisanku. Ia memang benar benar berperan penting dalam banyaknya kebahagiaanku. Sekali lagi, ia mempertemukanku dengan kebahagiaanku. Akan sedikit ku ceritakan bagaimana keikut-sertaan semesta membuat senyumku mengembang dengan sempurna.
Aku ini penakut. Pengecut. Aku sering memendam apa yang kurasakan sendirian. Bahkan, perihal perasaan. Pria ini, entah siapa belum ku tahu namanya, telah mencuri sedikitnya setengah akal sehatku. Aku tak tahu bagaimana bisa ia menjadi magnet sekuat itu, membuatku sering melakukan hal bodoh hanya untuk sekedar melihatnya lebih dekat atau memperhatikannya dengan jelas. Kadang semesta memang selucu itu, membuat udara begitu panas sehingga aku harus bermain main dengan tegukan es teh dan seyumannya! Yah, inilah bantuan pertama semesta untuk membuatku mengenalnya. Udara panas dan es teh. Ah, aku selalu tersenyum bodoh saat aku mengingat bagaimana aku mematikan sejenak ke-jaim-an dalam diriku hanya untuk mengenal seorang pria, bertanya namanya, mencari tau tentangnya. Sungguh, aku masih belum berani bahkan hanya untuk menatapnya lama, kadang aku hanya melirikkan mataku atau hanya menoleh dengan tatapan malu maluku, takut kegiatan ilegalku ini diketahui olehnya.
Aku masih ingat bagaimana antusiasnya aku saat ku lihat ia hadir, turun dari sepeda, membawa tas hitam, duduk di bangku, memegang hape atau saat ia tersenyum kepadaku. Oh.. Maaf.. Bukan padaku, bukan, karena ia jelas tak mengenalku. Ia tersenyum bukan ke arahku, hanya saja aku yang mengarahkan mataku pada senyum itu. Hanya kata semoga yang ku ucapkan saat itu, sebelum semesta mengabulkan permintaanku untuk lebih dekat dengan pria ini.
Pria ini, yang beberapa Tahun lalu masih tak ku ketahui namanya, pria yang begitu susah untuk ku kenal, pria yang begitu dingin, kini berada di sampingku. Menjadi sesorang yang paling hangat, menjadi seseorang yang begitu mengenalku, menjadi seseorang yang senyumnya masih kutunggu tunggu, menjadi pemilik hatiku. Sebegitu lucunya semesta, dengan kesederhanaannya ia mempertemukanku dengan pria yang senyumnya paling menawan yang paling susah untuk dilupakan.
Aku tak tahu, bagaimana lagi aku harus mengucap syukurku karena dipertemukan dengannya. Pria yang dengan sabarnya meladeni tingkah ke kanak kankanku, pria yang begitu tulus mencurahkan perhatiannya padaku, pria yang takkan membiarkanku menangis sendiri, pria yang takut kehilanganku, pria yang aku cintai. Tak butuh waktu lama untuk membuatku semakin jatuh hati padanya. Tak butuh waktu lama pula untukku mengenyampingkan segala hal yang pernah aku takutkan akan terjadi jika aku bersamanya. Aku ingat bagaimana ia menebas habis rasa takutku tentang semua kurangku, yang aku sendiri kesulitan untuk menerimanya. Tapi ia selalu punya hati seperti batu yang luas, yang kuat, selalu bersedia menerima dan bisa membuat kurangku menari dengan bebas diatasnya. Setidaknya untuk saat ini aku tahu, aku takkan berjuang sendirian.
Siapa sangka, pertemuan kami yang sederhana itu membuatku mencintainya sedalam ini. Aku seperti tak bisa jauh darinya, meskipun kenyataannya jarak kita memang tak hanya berbatas lain desa saja. Aku seringkali merengek tak jelas hanya karena aku merindukan waktu waktu bersamanya, bahkan mungkin dia kesal dengan rengekanku, jadi mohon maafkan aku. Tak biasanya aku bersikap sungguh kekanak kanakan kepada pasanganku entahlah aku hanya begitu ingin dekat dengannya. Senyumannya membuatku ingin menatapnya lebih lama, tawanya membuatku ingin mendegarnya sepanjang hariku, aku bisa segila ini mencintainya.
Dear You,
Hai, jika kamu membaca ini kau harus tau, ini untukmu, dan detik itu pula kamu harus menyadari betapa aku menyayangimu. Aku mohon maaf jika perempuanmu ini begitu cengeng, menyusahkan, dan sangat manja.
Aku mohon maaf jika aku merepotkanmu dengan segala hal yang aku minta, membuatmu jengkel dengan kurangku. Aku hanya ingi denganmu, menghabiskan waktu hanya untuk sekedar bersendau gurau. Aku tak butuh berjalan jalan jauh ataupun seperti pasangan lain yang menghabiskan banyak materi untuk kesenangan singkat. Aku sudah sangat bersyukur jika menghabiskan sore hari berdua hanya dengan duduk dan mengobrol bersama, aku juga akan sangat bersyukur jika dapat mengahabiskan setiap hari yang menyenangkan bersamamu. Aku tak meminta ini dan itu, cukup waktu untukku berdua bersamamu.
Mungkin tulisanku ini tidak mendapat nilai plus darimu, tapi kau harus tau bahwa aku sedikit kesusahan merangkai halaman pertamaku ini. Dan..
Terimakasih telah menjadi pria yang begitu sabar menghadapi tingkah dan tangisku. Terimakasih untuk selalu berusaha membuatku berada di sisimu. Terimakasih karena telah mencintai dan menyayangiku.
Penuh cinta,
Zahrotul Laili Novita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar