Mungkin akulah perempuan yang terlalu melankolis, sering bingung, menangis, meratapi nasibku sendiri. Berlebih-lebihan dalam mengungkapkan kata sayang. Tapi nyatanya aku tak bisa sederhana perihal rasa, aku perempuan yang seperti ini adanya. Jika aku memilihmu maka aku akan menumpahkan sejuta puisiku padamu, mengatasnamakan kamu sebagai judul puisiku. Dan itu juga resikonya mencintai perempuan seperti ku, kamu akan lebih bermuak-muakan dengan puisiku. Kamu harus dipaksa bahagia ketika menerimanya, kamu harus menahan muntah untuk itu, harus dipaksa mengerti setiap kata yang aku tulis. Aku benar-benar sadar jika yang aku mampu ketika sedih adalah menangis dan pasti ada puisi yang menodai kertas putih di sebelahku. Ketika hatiku benar-benar galau gundah gulana, aku tidak bisa menghitung berapa banyak puisi yang aku ciptakan. Lagi-lagi kamu jadi orang yang terpaksa membacanya, mengikuti alurnya membuat kepalamu serasa ingin pecah. Hmmm.. menulis jadi salah satu cara aku meredam emosi ku, menumpahkan nya dalam bentuk kata lalu kau akan dibuat pusing membacanya. Berpusing-pusinglah menghadapiku, kamu sedang berhadapan dengan resiko mencintai dan dicintai olehku. Terimalah dengan lapang dada. Jangan terlalu keras menghadapiku, sebab aku bisa lebih keras darimu. Dan jangan pula terlalu lembut menghadapiku, sebab aku mampu lebih lembut hingga tak bisa kau jamah. Pintar-pintarlah menghadapiku, terlebih dengan sifatku yang ini.
Minggu, 16 September 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak Mengetauhi Apa-apa
Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...
-
Menyanyangi itu kamu. Mencintai. Titik. Tanpa koma. Tak perlu penjelasan. Karena kau sudah tahu tanpa perlu bertanya lagi. Dan tanpa aku ...
-
Pintaku, jangan dulu berjanji. Jangan dulu mengucap janji yang sulit ditepati, seperti janji untuk tidak saling menyakiti. Karena mungkin ...
-
Sebongkah hati tlah berlari terlalu jauh. Jauh meninggalkan tembok runtuh itu dalam kehidupannya. Terlalu jauh ia berlari hingga akhirnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar