Minggu, 13 Desember 2015

Hanya Ada Satu Jawaban.

Jalan ini tetap masih sama. Pagi ini bagiku sempurna. Namun masih tak bisa kalahkan kesempurna Dzat yang Maha segalanya. Aku merasakan kabut kabut dingin mengambang di udara. Kabut yang tebal, masih terperangkap fajar yang baru saja berdenting lewat lima. Hari ini masih terasa sama, menerjang rindu di setiap sudut kota kecil tempatku tinggal. Jalanan yang terkadang lengang, membuatku ingin bebas seperti angin di musim penghujan. Setiap sudut yang ku lewati setiap hari pun masih sama, tak ada yang berubah sedikitpun. Bekas percikan air di dinding-dinding rumah tetangga, sisa hujan yang tersangkut di tiang-tiang. penyangga listrik dan deru sepeda motor di pagi hari. Aku masih melihatnya hingga sekarang. Kecuali seseorang yang sering mengisi hatiku dan mengganggu pikiranku, seringnya ia tidak tampak di hadapanku. Kadang ia hanya berjalan sekelebat saja seperti angin malas, meninggalkan rindu dibelakangnya, terus mengikutinya.

Rindu ini seperti aroma kopi yang keluar dengan nikmat, mencandu siapa saja yang menciumnya. Tetapi, aroma kopiku tak pernah bisa dihirup olehnya. Karena ada lebih banyak aroma kopi yang keluar dari gelas-gelas kertas disampingnya. Aku tersisihkan.

Aku mengalah untuk kesekian kalinya, aku bersabar lagi, dan mencoba tetap menjadi sang perindu.


Tak perlu kau tanyakan apa-apa lagi, karna saat ini hanya ada satu jawaban untuk semua pertayaan. Aku rindu. Titik


Zahrotul Laili N.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...