Buku itu sudah menjadi sampah seperti kertas putih yang tertumpuk didekatnya.
Sudah begitu lama tak tersentuh apalagi di buka dan di baca. Dia mengingatnya, karena itu adalah satu-satunya benda merah jambu yang ia punya. Meski sudah lupa apa saja tepatnya, tapi dia masih bisa mengingat apa saja isinya. Buku itu penuh dengan cerita, mulai dari yang menyebabkan tangis sampai kisah manis.
Setiap hari ia selalu membuka buku merah jambu itu, berbagi cerita tentang apa saja yang ia alami seharian. Setiap hari ia meluangkan lima menit untuk menahan matanya yang di serang kantuk hanya untuk bercerita. Setiap hari mengisi dan bercerita pada buku itu bagaikan tugas wajib yang jika tidak dikerjakan maka ia akan di terkam majikan yang kejam. Tiap hari, tiap hari, tiap hari yang sekarang lebih tepat di sebut dulu, karena ia sudah mendapatkan pengganti yang lebih baik daripada sebuah buku.
Buku yang sekarang sudah semakin usang karena berlapis debu namun, sekali di usap debu itu masih bisa hilang dan buku kembali berwarna merah jambu seperti sebelumnya, tapi ketika tangannya bergerak untuk membuka lembaran demi lembaran buku, ia seolah-olah diberi tahu bahwa debu tersebut mungkin akan lebih mudah dihilangkan, tapi kertas tersebut tak dapat berbohong.
Sekarang ia mengerti apa yang disebut dengan 'saksi bisu' karena yang kini ia lihat adalah kertas yang dulunya seputih susu mulai menguning, entah karena tidak pernah diperhatikan, entah karena tinta yang bertebaran atau hanya karena sekian lama disimpan dan dilupakan.
Buku itu masih sebagus dulu, masih serapi dan sebaik dulu. Dia tidak suka warna merah jambu, tapi sepertinya- sampul buku itu merupakan pengecualian.
Baginya semua harus diletakkan sesuai tempatnya, yang lalu akan disusun sederet dengan barisan yang lalu, yang sekarang akan diletakkan begitu dekat agar lebih mudah di jangkau.
Ia sempat lupa dan tak sadar bahwa buku tersebut telah ia letakkan di deretan kisah lalu.
Sebuah buku, tempat ia bercerita, tempat dia menumpahkan tangis kini hanya menjadi bagian dari kisah manis. Buku usang bersampul merah jambu itu tidak berguna lagi.
Buku hanya akan selalu menjadi tempat bercerita. Setiap cerita yang ia bagi dengan buku usang itu mungkin mengurangi sedikit demi sedikit beban yang ia rasakan, tapi buku tetaplah buku, tetap hanya menjadi saksi bisu tanpa bisa turut memberi solusi.
Sekarang ia mulai melupakan buku usangnya, 'mengusir' merah jambu jauh-jauh dari dirinya.
Melengkapkan kenyataan betapa ia benci merah jambu. Ia tidak butuh buku usang yang hanya bisa diam. Sekarang ia menemukan apa yang dia cari, sosok nyata yang tak hanya bisa mendengarkan namun selalu memberikan tanggapan. Buku usang itu hanya tinggal menunggu waktu, hanya bisa menunggu giliran di buang seperti kertas tak berguna lainnya.
Sayangnya, sebuah buku, sebut saja buku harian, tidak akan dibutuhkan ketika sudah ada yang sosok lain yang tentu saja tidak hanya bisa mendengarkan, namun juga dapat memberi tanggapan. Tapi kadang ia juga lupa, sosok tersebut tidak selalu bisa sehebat buku, meski buku tak pernah bersuara.
Zahrotul Laili❤

Tidak ada komentar:
Posting Komentar