Hei kamu, gadis pelupa.
Kamu yang sibuk mencari kesibukkan hingga tiap hari hampir kewalahan karena disibukkan dan menyibukkan berbagai hal ntah itu kecil maupun besar, ntah itu tentang bagaimana warna baju atau bagaimana prilaku atau bahkan suasana kalbu. Kamu gadis yang merubah semuanya menjadi sendu tak menentu.
Kamu yang belum beranjak tua tapi kamu gadis pelupa, berbuat apa-apa tanpa dikira hanya berandalkan rasa. Hingga semua hal kemudian berujung luka, kecewa dan penyesalan yang mengangga menghantui tiap masa. Mau sampai kapan kamu terus lupa akan hal yang seharusnya tak terlupa.
Gadis,,,
Kamu itu istimewa, cantik apa adanya maka tak perlu bertingkah mengada-ada hanya untuk mencari pria. Kamu hanya perlu menata, menjaga, dan menebar pesona penuh makna. Ingatlah gadis pelupa, bahwa dalam hal yang istimewa ada ketinggian harga yang tiada terkira. Jangan menjadi orang yang masa bodoh, takut tak laku dan masalah cinta jadi terpugu -puguh, semuanya dibuat luruh, kecepatan tak tertandingi untuk hati dan tangan pria berpindah dimana terlalu mudah untuk dijamah, ketika menjauh jadi tak peduli tubuh kemudian percaya diri runtuh dan tampak lusuh, semuanya berujung sedih dan kamu jatuh.
Kamu itu ibu, jadi tempat semua mengadu maka tak pantas mengalau terlampau. Rahimmu itu rahim peradaban, perangaimu menjadi sekolah kehidupan. Nasib bangsa ada ditangan, jadi apa generasi penerus kedepan. Carilah segala hal yang kamu perlukan, mainkan peran penuh kebaikan, tinggalkan kenangan kebermanfatan. Jadilah ibu yang melahirkan anak-anak tak terlupakan, sejarah abadikan dengan tinta emas dalam catatan. Alangkah indah jika kamu mampu menjadi ibu segala ibu, ibu para anak bangsa berguru hingga tak ada yang merasa tak terkasihi oleh ibu dan semua terus terpacu untuk maju tanpa ragu.
Hei kamu, siapa kamu?
Aku ini yang mendadak teringat dan menulis dengan cepat, ada kesungguhan dalam takut.
Jujur aku takut terus menjadi gadis pelupa yang hilang garis ceria, sibuk bertanya, hanya bisa iri pada yang diluar sana.
Kau tau kenapa aku takut?
Sebab,
Akulah gadis pelupa itu.
Laili,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar