Jumat, 07 Agustus 2015

Kau!


        Kecewa? Ku pikir-pikir percuma, untuk apa kecewa, apa kecewaku dapat membuat semua kembali seperti sebelumnya? apa akan ada ada yang berubah? Ku kira tidak. Yaa.. Sedikit berat jika aku memutuskan pergi namun aku masih ingat apa yang kau ucapkan, tak pernah sedikitpun aku melupakan semua itu. Kau tau? Semua hal yang pernah kau ucapkan padaku, masih ada disini, yaa disini, dipikiran serta hatiku.
        Ini semua masih saja tentangmu, aku sudah menolak berkali-kali jika pikiranku mengajakku mengingat tentangmu lagi, namun seakan kata-katamu itu dapat membuat aku yakin kembali dan jika aku mulai berpaling tiba-tiba kamu datang, membawa sebongkah harapan yang dapat melambungkan hatiku. Sedikitpun aku tak pernah meragukan apa yang kau ucapkan, hingga tiba saat kau pergi setelah kau lambungkan hatiku, membuatku jatuh dan sakit. Tapi aku sadar, aku yang jatuh cinta, bukan dirimu. Aku yang merasa dilambungkan bukan kau yang dengan sengaja melambungkanku.
        Kau bahkan ibarat balon hijau, ya, membuat hatiku amat kacau. Aku sering lupa akan posisiku dihatimu. Kau hanya segan padaku, bukan kau mencintaiku atau selebihnya. Entah bagaimana caramu meletakkan namamu hingga sulit aku sapu dan kubersihkan. Jika kau meletakkan namamu dengan lem, mungkin lem itu sudah membeku lalu mengeras. Tapi aku sadar itu hanya lem dia tidak akan menyatu dengan segumpal daging didalam tubuhku ini.
        Aku ingin menjerit, tapi untuk apa? Mungkin hanya orang sekitarku saja yang mendengar luapan amarahku dengan jeritan yang tidak jelas, sedang kau yang membuatku menjerit malah jauh entah dimana, yang ku tau kau masih diatas tanah, bukan didalamnya. Yang kurasa kau hanya bayangan yang setiap malam hadir untuk menengok keadaanku tanpa pernah kusadari. Aku ingin melampiaskan amarahku tapi untuk apa? Apa bisa membuat semua kembali? Kau tau itu mustahil.  Kau itu orang yang berbeda, kau seakan tak punya tali kepekaan dalam dirimu, atau jika kau punya mungkin tali itu sudah terputus darimu dan membuatku sulit sekali meluapkan amarah yang dengan tak sadar kau membuatnya.
        Aku hanya bisa menulis di sosial media, berharap kau membacanya dan kau peka, aku masih saja melakukan hal itu meskipun kutau itu sia-sia, namun setidaknya hal itu dapat mewakili ungkapan hatiku yang seharusnya khusus kau dengar dan kau baca. Yaa.. Aku juga sadar, yang ku kirim selama ini hanya do'a, jika tak ada pesan satu pun darimu masuk keponselku. Aku tak berani mengawalinya karna itu terlalu berlebihan menurutku, membaca ulang pesan singkatmu, itu yang bisa kulakukan, seperti tak ada pekerjaan, niatku hanya untuk mengurangi rasa rindu tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dan hal bodoh itu masih aku lakukan sampai saat ini. Tak ada yang bisa aku proteskan padamu, kau mungkin terlalu acuh, dan mungkin kau samakan aku dengan perempuan lain yang senangtiasa mengharapkanmu.
        Aku merasa menggenggam harapan kosong yang sering kau berikan padaku, harapan yang mungkin biasa kau berikan pada perempuan lain selain aku. Ku kira kau berbeda dengan lelaki yang lain. Tapi nyatanya Kau juga mampu merobohkan istana yang sengaja ku buat untuk menyambutmu. Emmhm.. Tapi tak apa, aku tak akan menyalahkanmu tentang hal ini, aku juga tak akan memberitaumu tentang rasa kecewaku ini. Pergilah, sambut cinta yang sudah kau pastikan hinggap diseluruh hari-hari kedepanmu, larilah.. Lari. Mungkin dengan berjalannya waktu aku bisa menghapus harapan harapan kosong yang pernah kau ucapkan padaku. Sementara ini cukup do'a untuk kebahagiaanmu dan kebagaiaanku. Karna aku tau dan percaya, jika Tuhanmu membuatmu bahagia bersama pilihanNya maka Tuhanku pun akan membuatku bahagia dengan takdirNya.

Zahrotul Laili



7 komentar:

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...