Kamu dan aku adalah dua pena yang sedang menulis di atas kertas bernama usia. Aku belum pernah merasa hebat sehebat aku jatuh cinta padamu. Kata-kataku terlalu banyak. Sampai menggunung, aku tidak mungkin memegangnya. Mungkin akan kudaki, lalu menjumpaimu di puncak kalimat. Hanya ada dua alasan untuk aku harus menghormati kamu. Itu karena ayahku juga seorang pria, aku juga berasal dari tulang rusuk seorang pria dan bukankah kau juga seorang pria? Tentu saja kau priaku, huehehehe. Karismamu meyakinkan aku, kalau sepasang bola mataku amat dekat dengan keberuntungan, yaitu kamu.
Sesungguhnya kamu adalah amanah Tuhan yang membuat hidup menjadi berwarna dan tidak membosankan. Jujur aku heran, sebersit senyummu bisa memecah rindu sekeras itu di dadaku, aku heran, pekik tawamu bisa membuatku menyeberangi waktu demi waktu, aku heran, bagaimana bisa semua ketenangan dan kebahagiaan mewujud kamu. Aku heran, bagaimana kamu selalu tersebut dalam doa dan menunggu diamini waktu, aku heran, bagaimana bisa kamu tertinggal di diriku, aku heran, bagaimana bisa dengan sejentik waktu, pusaran matamu menenggelamkanku, aku heran, bagaimana aku dengan mudahnya mencintaimu.
sepertinya itu bukan keheranan, jika aku terlahir untuk menunggu lalu menemani kamu, sepanjang waktu.
Karena manusia itu tidak ada yang sempurna. Aku (sungguh) menerima kamu apa adanya. Semoga begitu sebaliknya. Hiduplah seperti yg selalu kudoakan, dimana kebahagiaan selalu memayungi kemana saja kamu melangkah. Aku mengitarimu lewat doa terlebih dulu, semoga itu menenangkanmu. Saat ini, aku hanya mampu begitu. Aku merasa aku tidak ada diatas puncak dimana kau akan berdiri, namun aku ada pada tiap langkahmu mendaki.
Saat yang paling indah di hidup ini adalah ketika aku merasa cukup. Cukup dengan apa yang saat ini aku genggam. Sebagaimana lidah menambah megahkan perbuatan yang besar. Mataku menyemburkan bayang-bayangmu di depan segala macam keindahan. Terimakasih telah memecah rindu. Memecah tabungan rindu dengan cara yang amat indah.. Ketika sapa memecah rindu yang semakin pucat pasi sedetik waktu. Memeluk kata, sesederhana itu aku merindumu. Tularkan hangat dalam jiwa yg kelu membisu. Terima kasih atas sapamu semalam, wahai pelukis rindu.
❤with love, ZeteLeN❤

Tidak ada komentar:
Posting Komentar