Jumat, 30 Oktober 2015

Topeng Kehidupan.

Siang itu sejenak ku tarik nafas, lalu berbicara lagi, seolah-olah kata-kataku yang sudah terangkai dalam otak akan segera meledak jika tak ku keluarkan melalui mulut. Kalimat terakhir disambuk ketawa cecikik oleh teman-temanku yang berfokus pada si pembicara, yaitu aku. Satu gadis berbaju biru menyahut dan menyemarakkan suasana. Aku tersedak karna mungkin aku lelah terlalu lama bercerita, ceritaku terhenti dan membuatku memutuskan pergi ke kemar mandi.
         Selesai dari kamar mandi aku langsung duduk ditempatku tadi, pandanganku tertahan oleh langkah seorang gadis, dia bersama seorang lelaki, mungkin calon suaminya. Penasaran? Oke aku ingin bercerita sedikit tentang apa yang aku lihat tadi. Mataku tertuju pada perempuan yang ku sebut dia cukup cantik untuk ukuran remaja sepertiku, aku tak kenal siapa dia tapi aku pastikan dia adalah saudaraku, yaaa... Karna dia menjadikan jilbab sebagai mahkotanya dan membuat aura cantiknya semakin kuat. Aku perhatikan caranya berjalan, bicara, duduk bahkan makan. Dia amat berhati-hati, caranya memasukkan makanan terlihat anggun. Entah kenapa aku memperhatikan dia begitu serius. Yang ada dalam fikiranku dia sangat jauh dariku, jangankan bicara, makan, tertawa, lawong langkahku saja tak seanggun dia. Ya, langkahku memang tak ada keanggunannya sama sekali. Yaa, dia punya irama kaki yang berbeda dariku. 
      Seperti biasa, ketika aku melihat seorang gadis yang benar-benar tercermin dari bahasa tubuhnya. Terkadang aku ingin merubah semua yang ada di diriku, aku berkhayal seperti apa yang aku lihat tadi. Apa mungkin kau jauh lebih nyaman jika aku seperti itu atau sebaliknya? Aku geleng-gekengkan kapalaku, berharap menemukan kesadaran. Aku mencintai diriku seperti ini. Tapi,  bukan itu alasan utamaku, aku punya alasan sederhana kenapa aku tak ingin merubah ini semua. Aku ingin terlihat sempurna, tapi aku lebih ingin di kenal semua orang ya karna menjadi diriku sendiri,  dicintai olehmu karna diriku sendiri, tidak ku buat-buat. Perempuan tadi memang seperti itu halnya, dan aku juga. Untuk apa aku ingin jadi seperti orang lain? Namun tenang ya, hatiku ini terkategori lembut dan masih bisa kau percaya untuk menjaga amanat darimu. ❤
      Sebenarnya aku bukan tak mau berubah menjadi perempuan yang lebih anggun, tapi aku rasa aku tak menemukan jati diriku. Aku bahkan merasa asing, jadi yaaa inilah aku dengan segala kekuranganku. Aku masih saja memperhatikan gadis tadi, kau tau? Aku sempat mencoba meniru cara dia duduk dan makan, oh kau tau apa yang terjadi? Aku merasa aneh sendiri dan akhirnya aku memilih untuk kembali makan seperti biasanya.
     Ketika aku menyaksikan tontonan semacam tadi tak jarang membuatku berfikir, apa ini sebuah cobaan untukku? Kenapa aku tak seanggun dia? Ya pemikiran semacam itu datang ketika aku melihat perempuan lain nampak anggun dengan gaya mereka, kadang juga tiba-tiba ada barisan pertanyaan yang terbang didepan mataku seperti "apa itu yang dinamakan kesempurnaan? apa itu wujud asli mereka? Atau luarnya saja?" Hahaha.. Bodoh! Aku hanya membuang waktu memikirkan hal semacam itu.
        Aku masih memperhatikan perempuan tadi, dan aku melihat ia beranjak dari tempat duduk dan terlihat terburu-buru keluar ruangan. Akuu melihat tangannya menggenggam ponsel. Aku sebenarnya tak tau siapa yang berbicara dengannya, tapi kupastikan dia berbicara di telfon, tapi nada bicaranya membuatku benar-benar kaget setengah mati. Perempuan anggun tadi bak terkena mantra sihir yang merubah seorang tuan putri menjadi penyihir jahat. Aku tak melihatnya namun aku mendengar dia membentak-bentak, dengan bahasa kasar, entahlah ya Alloh, aku masih terlalu bodoh melihat apa yang mereka tanpakkan didepan mataku. 
         Setelah pembicaraan perempuan tadi selesai dia kembali, duduk dan kembali terlihat anggun seperti sebelumnya. Lagi-lagi seperti terkena sihir. Cepat sekali dia berubah, dengan perubahan yang amat besar.
       Saat itu pula aku merasa bahagia, bersyukur dengan diriku yang sekarang, tanpa kemunafikan. Aku tak perduli dengan pemikiran orang lain, yang aku tau apapun pemikiran orang tentangku, aku harus berterimakasih pada mereka. Sebab mereka memilih menghabisakan waktu mereka yang berharga, yang sebenarnya bisa mereka habiskan untuk memikirkan kebaikan  diri mereka sendiri, tapi mereka malah memilih untuk perduli dan memikirkan semua kekuranganku. Bukankah mereka amat perduli padaku. Bukan begitu? Huehehehe

Aku percaya, Alloh menciptakan manusia pasti dengan kelebihan dan kekurangan, jika tak ada kekuranan pun sepertinya tak pantas disebut manusia, atau pun sebaliknya. Bukan begitu?
"Kenalilah dirimu, maka kau akan mengenal Tuhanmu." ☺

Salam untukmu yang ada di ibu kota jawa timur...
Selamat beristirahat.

❤with love, ZeteLeN❤

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...