Dingin malam ini menusuk tulang, sunyi dan suaranya terdengar parau namun bersemangat. Udara dingin sudah sejak tadi menyergap tubuhku, selimut yang menghangatkan tak terlalu berhasil mengusir rasa dingin. Kadang, tak jarang nyanyian kodok dan jangkrik berubah jadi alunan musik klasik penghantar tidur, maklum rumahku hanya berjarak beberapa meter dari sawah.
Lampu kamar kubiarkan menyala, aku masih sibuk membaca buku untuk mengusir rasa kesepian. Malam-malam begini, ditambah lagi dengan sunyi. Sebenarnya aku jarang merasa sendirian namun malam ini, tak sperti malamku yang sebelumnya. Aku curiga pada malam yang selalu mengundang rasa asing bernama kesunyian. Entah mengapa malam masih saja menjadi sebab utama munculnya kegalauan seseorang. Tak banyak suara yang kudengar, hanya detak jarum jam dan musik klasikku tadi. Fokusku terbagi untuk buku yang berada dalam genggaman jemari, buku ini sudah berkali-kali kubaca, aku hampir hafal setiap diksi yang berada di beberapa paragraf. Tidak ada kata bosan, karna memang ini seolah bercerita tentang kehidupanku.
Saat malam semakin mengenjang, dan mataku mulai redup. Aku meletakkan buku di samping tempat tidur, lalu segera berjalan mendekati sekring lampu. Lampu padam. Aku siap terlelap.
Mencoba untuk terpejam dengan cepat, namun gagal. Langit-langit kamar yang terlihat samar-samar seperti membuat gambar yang begitu mudah kukenali. Aku memikirkan sosok itu lagi, sosok yang begitu spesial dalam mata dan hatiku, sosok yang namanya selalu ada dalam rapalan doaku. Aku mencoba terpejam lagi, hingga satu suara menggoncangkan detak jantungku. Suara dari ponselku yang ada di meja samping ranjang tidurku, ku lihat ternyata pesan darimu, membuat mataku seoalah terbuka lebar, hampir seharian tak ada gurauan atau barisan tawa kecil kita, jadi satu pesan darimu seolah mengawali tawaku dihari ini.
Langsung ku nyalakan lagi lampu kamarku, kembali kehilangan kantuk karna seceret pesan darimu. Aku lihat jarum jam menunjukkan pukul 19.53 malam, jika aku punya alasan selain rindu pasti sudah kubiarkan pesanmu dan tak kubaca menundanya sampai pagi karna kantuk menjemputku dan membawaku berenang kealam mimpi, namun karna rindu yang minta, aku bisa apa? ☺
Baru beberapa pesan darimu ku balas ternyata kau sudah tak lagi membalasnya, mungkin kau sibuk. Kembali otakku berjalan dan berbisik "aku sudah besar dan dewasa diberi kabar Alhamdulillah, kalau tidak ya cukup berdo'a, berfikir positif dan menahan emosi". Kembali kuletakkan ponselku di meja samping ranjang tidurku, lalu menutup mata. Rasanya ingin segara tidur tapi mata rasanya berat untuk dipejamkan, aku matikan lagi lampu kamar yang tadi sempat kunyalakan.
Sebenarnya aku masih menahan rindu, tapi menahan sudah jadi salah satu kebiasaanku tiap hari. Aku ingin segera di jemput oleh kantuk, agar aku tak merasakan pekatnya malam ini. Kau disana baik-baik saja kan? Tentu, aku yakin itu jawabanmu atas pertanyaanku. Kau baik-baik saja. Selamat malam ya, semoga malammu menyenangkan.
Semoga sinar bulan diluar dapat membuatmu sadar betapa mataku ingin terbuka dan bersinar, sekedar menemani malam sunyimu.
❤with love, ZeteLeN❤

Tidak ada komentar:
Posting Komentar