Senin, 26 Oktober 2015

Mengurai Kegelisahan.


"Kegelisahan itu kadang kala diperlukan dalam hidup, tentu saja dalam batas dosis yang wajar, agar kau bisa terus bermimpi dan terpacu untuk mewujudkan impianmu, agar mimpi-mimpi itu tak hanya berakhir dalam bentuk kegelisahan saja. Namun kegelisahan juga perlu diwaspadai, karena apabila berlebihan bisa meracuni hidupmu akibat ketakutan-ketakutan yang dihasilkannya."

Beberapa waktu belakangan banyak sekali kegelisahan yang menyapai hidup saya lengkap dengan segala wujud kegalauan, kebimbangan dan juga keresahan yang mengiringinya. Satu hal yang selalu saya ingat bila kegelisahan  menyapaimu maka carilah penyebabnya, datangi, hampiri dan sapai, ajaklah sumbernya untuk bersahabat maka niscaya gelisahmu kan berkurang dan mencapai level atau dosis yang bisa kau toleransi. Masalahnya sekarang adalah saya tak tahu dimana letak sumber kegelisahan saya kali ini. Meskipun saya telah mengaduk-aduk semua bagian relung hati dan memori di kepala namun nihil. Sungguh bila dibiarkan lebih lama kegelisahan ini akan semakin merajai dan menguasai seluruh raga dan jiwa dan saya tahu sekali apa akibatnya bila itu terjadi. Tentu saja itu tak akan kuijinkan.

Pada akhirnya saya tiba pada kesimpulan bahwa kegelisahan saya kali ini berasal dari ketakutan-ketakutan kecil yang rasanya sudah lama ingin saya bunuh, namun nyatanya tidak, selama bertahun-tahun mereka bersembunyi dan menyamar, menyatu dan membaur dengan diriku dan tanpa saya sadari mereka sekarang telah beranak, bahkan membentuk sebuah keluarga, anak turunnya banyak dan mereka menyebar dalam relung hati dan pikiran saya. Mereka menyelinap diam-diam dan tanpa saya sadari mulai mengadakan serangan balasan saat pertahanan jiwa ini labil. Perlahan-lahan mereka mulai merangsak dan menyerangi sendi-sendi penting dalam hidup dan sementara ini mereka telah berhasil membuat saya melunglai untuk sesaat. Bermalam-malam mereka berhasil membuat saya terjaga dan tak bisa tertidur lelap. Tak ada yang bisa saya lakukan jika serangan mereka terus saja berlangsung, hingga akhirnya setelah saya berpura-pura menyerah dan merengek meminta ampun mereka menghentikan serangan itu, namun hanya sesaat. Jika sempat mereka mengetahui saya bangkit maka mereka akan menyerang dengan lebih dahsyat. Saya harus pandai berpura-pura lemah di hadapan mereka agar saya bisa berkonsentrasi untuk menyusun siasat dan strategi bagaimana nantinya saya akan mengadakan serangan balik.

Saat waktu luang, saya masih saja mengorek untuk mencari tau apa hal yang dapat membuat saya segelisah ini? Saat itu pula, seorang sahabat menanyai saya kapan terakhir kali saya mengunjungi makam ibunda saya, mungkin karena telah lama dan dia menyarankan saya untuk mengunjungi makam beliau, barangkali itu juga salah satu sumber kegelisahan saya, rindu pada beliau yang lama tak terobati dan juga tak tersampaikan karena telah lama pula saya tak menyambangi makam beliau. Bagi sebagian orang mungkin akan heran dan bertanya bagaimana mungkin menyambangi makam orang yang kita cintai bisa mengurangi kegelisahan? Jawaban saya sederhana saja, makam mungkin memang hanya segunduk tanah dengan penanda batu nisan di atasnya, namun mungkin saja kalian lupa bahwa bagaimanapun itu, disanalah tempat orang yang kita cintai disemayamkan, raga mereka mungkin telah melebur dan menyatu menjadi tanah namun cinta dan kasih mereka tetaplah tertinggal dan menyatu dengan hati kita. Mengunjungi dan menyambangi makam mereka adalah penanda bahwa kita masih mengenangi mereka bahwa bagaimanapun juga mereka adalah orang-orang yang tak akan pernah kita lupakan, cinta mereka akan senantiasa abadi dan berharga untuk dikenang. Meski mungkin mereka tak mungkin lagi mendengar bisikan cinta kasih kita lagi, namun anggap sajalah bahwa mereka masih bisa ikut merasai apa yang kita rasakan dan bisikan cinta kasih kita, itu saja akan membuatmu lega dan merasai kehangatan kasih mereka merasuki buluh nadimu karena memang cinta mereka masih hidup dan tinggal di hatimu.

Sesaat saya mengingat masa silam. Dahulu semasa ibunda saya masih hidup, saat-saat saya merasa gelisah saya akan menghambur ke pelukan ataupun pangkuan beliau. Kemudian sayapun merebahkan kepala saya di bahu atau pangkuan beliau. Tak lama berselang biasanya ibunda saya akan membelai dan memainkan anak rambut saya dengan penuh kasih. Beliaupun akan berbisik lembut, " Ana apa tho Nduk? Kok ra kaya biasane?"* Lalu sayapun akan menyahut, " Gak ana apa-apa kok Mak, mung lagi ngelu ae kok."* Ini adalah jawaban yang saya lontarkan saat saya belum merasa siap bercerita kepada beliau mengenai kegelisahan yang saya rasakan. Lalu beliaupun akan terus membelai kepala saya hingga saya merasa tenang dan rileks. Sebenarnya, selama ada beliau, saya tak memerlukan jasa psikolog manapun di dunia ini untuk mengembalikan kondisi mental dan jiwa saya. Bagi saya jari-jemari beliau yang penuh cinta kasih itu adalah obat yang paling ampuh dan mujarab bagi semua resah dan gelisahku, tak ada tandingannya di seluruh penjuru dunia manapun.

Sesaat akupun tertegun memikirkan saran dari sahabat saya tersebut sambil mengurai kembali kenangan akan beliau. Apa memang kegelisahan saya ini sebab merinduinya? Atau hal lain?

Entahlah, namun aku putuskan untuk segera kesana. Aku ingin tumpahkan apapun jenis kegelisan ini. Karna menyambangi makam beliau. Satu kegelisahan saya paling tidak akan terurai, kegelisahan karena sekian lama saya tak sempat menengoki dan merawati makam beliau akibat keadaan dan waktu yang membentang panjang. Apabila kegelisahan ini terurai sayapun bisa pula berharap bahwa kegelisahan-kegelisahan yang lainpun akan ikut terurai. Paling tidak dengan berharap saya merasa lebih baik.

When your mind says give up, hope whispers one more Try.

❤with love, ZeteLeN❤

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...