Sabtu, 17 Oktober 2015

Aku Air, Namun Bukan Air mata.

Ketika Lelah, letih dan kesal bersaudara, teparpun datang bersilaturrahim ditambah dengan rasa bersalah terasa lengkap, semua datang seolah ada reoni keluarga besar. Masih terfikir dengan hal yang terjadi beberapa hari ini, masih dengan rasa yang entah kuberi dengan nama apa.

Alunan melodi dari Christina Parry yang berjudul "Jar Of Hearts" menemani jariku menari menyusun kata yang tidak terlalu penting. Aku hanya melakukan apa yang ku anggap menyenangkan saat ini, apapun itu. Entahlah.

Masih pada siang yang sama, sebenarnya masih ada rasa takut. Tiba-tiba bayanganku, kau berjalan tepat disampingku lalu dengan sengaja kau menoleh kebelakang atau tiba-tiba apa yang dibelakangmu berubah tepat dihadapanmu. Entah kenapa aku takut, mungkin karna aku sadar dibelakang ada hal istimewa dan lebih dari apa yang ada disampingmu.

Aku takut kau pergi. Tanpa memberi alasan. Dan aku tak bisa lakukan apapun sebab jika seseorang sudah memutuskan untuk pergi, jangankan 1 alasan, 100 alasan baik untuk dia bertahan dan tinggal saja dia tetap memutuskan untuk pergi, berapa banyak pun alasan baik, tidak akan mampu menghalangi dia untuk pergi. Tapi ketika seseorang sudah memutuskan untuk bertahan, maka jangankan 100, 1 alasan baik, atau bahkan ketika dia tak punya alasan lagi, hanya tersisa keyakinan dan harapan, dia akan tetap bertahan. Sedang aku takut jika kau tak punya alasan lagi untuk sekedar bertahan. Mencegah, hanya membuatmu semakin ingin pergi, diam dan berubah menjadi air adalah cara terbaik. 
                   
Kenapa harus seperti air?
Sebab ia bersifat mengalah, namun selalu tidak pernah kalah. Air mematikan api dan membersihkan kotoran. Kalau merasa sekiranya akan dikalahkan, air meloloskan diri dalam bentuk uap dan kembali mengembun. Air merapuhkan besi sehingga hancur menjadi abu. Bilamana bertemu batu karang, dia akan berbelok untuk kemudian meneruskan perjalanannya kembali. Air memberikan jalan pada hambatan dengan segala kerendahan hati, karena dia sadar bahwa tak ada satu kekuatan apapun yang dapat mencegah perjalanannya menuju lautan. Air menang dengan mengalah, dia tak pernah menyerang namun selalu menang pada akhir perjuangannya.

Ada yang pernah berkata padaku, hiduplah seperti air. Mengalir dan bergelombang dengan tenang. Menjadi sumber kehidupan segala hal yang hidup. Tetapi, harus hati-hati dengan air, sebab jika air dibendung, ia mampu meratakan apapun yang dilewatinya, mengancurkan semua yang berpapasan dengannya. Hiduplah seperti air yang membentuk sesuai wadah air itu sendiri, dimana air selalu fleksibel di segala medan lokasi. Dia tidak pernah takut di keadaan apapun, dinamis. Air itu kuat, sekeras-kerasnya batu akan rusak oleh tetesan air. Dirubah dalam bentuk apapun, air tidak akan hilang. Misalnya dipanaskan akan menjadi uap tapi zatnya tidak hilang, didinginkan akan membeku tapi zatnya tidak akan hilang juga dia akan tetap sama seperti sebelumnya.  Air juga selalu mengalir ke muara ketempat yang lebih rendah. Tak peduli seberapa jauh jaraknya dari muara, air pasti akan tiba di sana. Sebenarnya aku kurang setuju dengan orang yang menggunakan pepatah “hiduplah mengalir seperti air” untuk menguatkan gaya hidup yang tidak punya arah dan serampangan. Justru sebenarnya dengan kita meniru air yang mengalir, kita seharusnya punya visi kehidupan. Hal utama yang patut diteladani dari perjalanan air menuju muara adalah sikapnya yang konsisten. Bayangkan, ada berapa banyak hambatan yang dilalui oleh air gunung untuk mencapai muara? Mungkin ia akan singgah di sungai, tertahan karena batu, kemudian bisa saja masuk ke selokan. Tapi toh akhirnya ia tetap mengalir dan tiba di muaranya. Waktu tempuh air untuk sampai ke muara sangat bervariasi. Ada yang hanya beberapa hari, tapi ada juga yang beberapa minggu. Patut diingat, hal terpenting bukanlah waktu tempuh yang akan dilalui, tapi seberapa besar keyakinan untuk menuju muara atau visi atau impian yang akan kita gapai. Itulah kenapa aku ingin seperti air.

Sekedar menjadi air, senyawa yang sederhana dan tak memerlukan hal sulit untuk merubahnya menjadi manis atau pahit, semua tergantung campuran air itu sendiri. Dengan mencampurkan bubuk kopi dan gula lalu memasukkannya kedalam segelas air maka semua akan melebur menjadi satu, menjadi secangkir kopi yang nikmat. Tapi kau juga harus tau jika air tidak mampu mengubah bubuk kopi, tapi bubuk kopi yang dapat mengubah air tersebut. Kau tak keberatan kan jika aku jadi seperti air?. 
Kuharap kau tak keberatan.
Aku tak akan menuangkan diriku dalam keadaan yang terlalu dingin ataupun terlalu panas, sebab aku tau semua itu akan menjadikan gelasku pecah dan akan melukaimu.

Clotehanku,
Oh ..
Maaf untuk perempuan yang terluka karna keputusanku. 
Aku hanya segelas air, tak lebih seperti kau.. ☺

❤with love, ZeteLeN❤

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak Mengetauhi Apa-apa

Untuk beberapa saat, rasanya lebih mudah untuk tidak mengetahui apa-apa. Banyak hal yang berubah seperti perubahan kondisi kita setelah ke...